Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
POV: Laras
Kirana menutup telepon tepat di telingaku, tanpa sepatah kata. Kuletakkan lagi ponsel Rendra di atas nakas, persis di tempatnya, seakan aku tak pernah menyentuhnya.
Namaku Larasati Prasetyo. Keluarga Bramantyo mengambilku dari panti asuhan ketika aku berumur sembilan tahun, memberiku nama, sekolah, dan nama belakang yang sekadar kulit luarnya. Eyang Kartika senang mengatakan bahwa ia menampungku karena belas kasihan. Sejak kecil aku sudah belajar bahwa belas kasihan punya tanggal kedaluwarsa, dan punyaku habis di hari Mas Raditya terkena serangan jantung.
Aku tidak mencintai Mas Raditya. Aku menikah dengannya karena Eyang Kartika memutuskan, di sebuah makan siang hari Minggu, bahwa anak yatim yang ia besarkan cocok untuk cucu sulungnya. Tak ada yang bertanya padaku. Aku terlalu berutang budi untuk menolak dan terlalu berambisi untuk mengeluh. Aku tersenyum, memakai gaunnya, menandatangani suratnya. Mas Raditya baik padaku, dengan cara orang bersikap baik pada perabot yang indah.
Hatiku selalu milik Rendra. Sejak sebelum Kirana, sejak sebelum semuanya. Dan sekarang Mas Raditya terbaring di bawah taburan bunga, sementara Eyang Kartika sudah mulai bicara, dengan nada khidmat ala orang pengajian, bahwa mungkin lebih baik aku menenangkan diri beberapa waktu di luar negeri, di apartemen keluarga di Singapura, "supaya pulih."
Aku tahu apa arti "pulih". Artinya lenyap. Artinya tanpa Mas Raditya aku tak lebih dari janda yang merepotkan, dan begitu aku berbalik, mereka akan mengganti kunci pintu.
Aku duduk di tepi ranjang dan mulai berhitung.
Kalau aku pergi, aku kehilangan nama, perusahaan, dan Rendra sekaligus. Kalau aku tinggal tanpa alasan, aku jadi beban mati dan akan tetap disingkirkan, hanya lebih pelan. Aku butuh akar yang tak bisa dicabut siapa pun.
Seorang anak.
Anakku dengan Rendra mengikat segalanya. Tak ada yang bisa mengusir ibu dari seorang Bramantyo. Bu Wulan, yang menyayangiku, akan berperang demi cucu itu. Eyang Kartika, sekeras apa pun, tak akan memisahkan anak dari ibunya. Dan Rendra, yang menanggung rasa bersalah atas kakaknya yang meninggal seperti tali kekang di leher, akan melakukan apa saja yang kuminta dengan suara yang tepat.
Suara yang tepat adalah segalanya. Seumur hidup aku melatih suara itu.
Itulah sebabnya, di balik pintu tadi, aku bicara lirih dan membiarkan air mataku turun sebatas yang pas. Aku mengucapkan "beri aku anak" tepat di saat ia paling lembek oleh iba.
Lalu, seolah tak sengaja, kulontarkan bahwa Kirana tidak akan memberi cucu lagi, bahwa katanya sendiri begitu karena penyakit anaknya. Entah ia pernah bilang atau tidak. Tak penting. Rendra percaya. Kulihat wajahnya berubah, kulihat keraguan masuk. Hanya satu kalimat, tapi aku tahu persis di mana harus menyelipkannya.
Termos itu sentuhan dariku. Kuambil dari meja kerjanya, termos yang setiap pagi diisi teh oleh Kirana, lalu kubawa berkeliling koridor kantor sambil mengaku itu hadiah dari Rendra. Kuucapkan terima kasih atas "dukungan" Kirana di depan semua orang, dengan senyum termanis yang kupunya.
Kini seluruh tim mengira akulah yang dijaga Rendra, dan istrinya hanya menonton, manis dan diam. Setiap gerakanku ada alamatnya.
Batuk di telepon tadi pagi disengaja, dengan Nindy berada di dekatnya supaya anak itu membawa ceritanya pulang ke rumah. "Aku tidak enak badan" semalam menarik Rendra dari meja makan mereka sebelum sempat duduk. Pingsan kusimpan untuk nanti, untuk penonton yang lebih besar, saat hasilnya lebih banyak. Pingsan tak boleh dihambur-hamburkan.
Dengan Eyang Kartika lebih sulit. Nenek tua itu tak pernah termakan air mataku. Dialah yang membawaku dari panti asuhan dan dialah yang ingin mengembalikanku, dan kedua hal itu muat dalam satu perempuan tanpa mengganggu hati nuraninya.
Menghadapi Eyang Kartika aku tak memakai tangisan. Aku memakai Rendra. Selama ia membelaku di depan neneknya, Eyang tak bisa mengusirku tanpa membelah keluarga menjadi dua, dan Eyang Kartika akan melakukan apa saja asal nama Bramantyo tak retak di hadapan seluruh Jakarta.
Satu-satunya gangguan dalam rencanaku adalah Kirana.
Harus kuakui, aku selalu meremehkannya. Gadis baik-baik yang dicarikan Rendra secara tergesa enam tahun lalu, saat Eyang Kartika menuntut seorang pewaris. Pilihan kedua. Yang membuat teh, mengurus anak, tersenyum di jamuan makan malam dan tak pernah mengganggu. Aku tak pernah membuang semenit pun untuk memikirkannya.
Tapi di rumah duka, saat Rendra berpidato, aku menoleh ke seberang ruangan dan Kirana sedang menatapku. Dan itu bukan tatapannya yang biasa.
Tatapannya bersih, tanpa tabir. Tatapan orang yang akhirnya melihat sesuatu yang selalu ada di depan matanya dan tak pernah ia lihat.
Kutahan tatapan itu setengah detik lalu menyandarkan wajah di bahu Bu Wulan, gerakan yang tak pernah gagal bagiku. Tapi ada yang mengganjal. Nyonya Bramantyo yang manis itu menatapku dengan cara baru. Dan tatapan itu memberitahuku bahwa ia akan melawan.
Tak apa. Biarkan dia melawan.
Aku punya Bu Wulan di pihakku, belas kasihan Rendra, dan enam tahun keunggulan dalam hal menunggu. Dan dia? Sebuah laboratorium, anak yang sakit, dan suami yang tidur di rumah neneknya supaya tak perlu tidur bersamanya.
Aku berbaring lagi. Menarik selimut. Dalam gelap, kususun kepingan-kepingannya satu per satu, seperti yang kulakukan sebelum tidur sejak kecil.
Anak dulu. Lalu perusahaan. Proyek turunan yang ia kembangkan tiga tahun sudah dirakit ulang dengan namaku di paling atas dan namanya sebagai "pendukung farmakologi". Tinggal menunggu direksi menandatangani.
Kalau besok dia buka mulut di rapat, aku menangis. Kukatakan bahwa seorang janda yang sedang berduka dikejar-kejar iparnya, dan kuserahkan sisanya pada Bu Wulan dan Rendra. Tiga bulan lagi lini riset itu milikku, beserta lantainya dan kreditnya. Setelah itu Rendra seutuhnya, tanpa Kirana di tengah. Lalu nama belakang itu, terukir selamanya pada seorang anak yang tak bisa dirampas siapa pun dariku.
Anak, perusahaan, dan Rendra akan jadi milikku.
Dan Kirana, kalau sudah tak berguna, pergi seperti datangnya. Tanpa suara, tanpa meninggalkan rindu.
Aku memejamkan mata sambil tersenyum. Besok aku bangun dalam keadaan rapuh lagi.