Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Tamu Tak Diundang,Pelampung Bebek Dan Ancaman Sang Mafia
Malam telah sepenuhnya melingkupi pulau privat di perairan Mediterania. Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang terdengar begitu tenang, terbias oleh pendar cahaya lilin dari area teras overwater villa yang bernuansa romantis.
Aira baru saja selesai mengeringkan rambutnya yang setengah basah di dalam kamar mandi master. Mengenakan piyama sutra tidur berwarna merah muda lembut yang memberikan kesan manis dan anggun, ia melangkah keluar menuju area teras terbuka. Namun, bukannya menemukan Gabriel yang biasanya sudah siap menyambutnya dengan senyuman konyol dan pelukan hangat, teras itu justru tampak sepi.
Hanya ada Felix yang berdiri tegap di sudut ruangan dekat pintu geser kaca, memegang sebuah tablet taktis bercahaya biru dengan raut wajah yang sangat dingin, kaku, dan penuh konsentrasi tingkat tinggi.
Dahi Aira berkerut. Ia menghentikan langkahnya, menatap asisten kepercayaan suaminya itu dengan tatapan menyelidik. "Felix? Di mana Gabriel?"
Felix seketika tersentak kecil. Asisten utama itu langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat dengan sigap. "Nyonya Aira. Tuan Gabriel sedang melakukan... sedikit penyesuaian keamanan di area dermaga selatan."
"Penyesuaian keamanan malam-malam begini?" gumam Aira menyelidik. Alisnya terangkat sebelah.
Aira memiliki ingatan yang sangat tajam tentang bagaimana heningnya suasana sore tadi dan kode-kode rahasia melalui isyarat tangan yang sempat disampaikan Felix kepada suaminya sebelum makan malam. Mengabaikan larangan terselubung dari ekspresi tegang Felix, Aira meraih jubah luar piyamanya, membalut tubuhnya dengan hangat, lalu melangkah mantap menuju arah jalan setapak yang menghubungkan villa utama menuju dermaga selatan.
"Nyonya, tunggu! Tempat itu berbahaya..." cegah Felix setengah berbisik dengan panik, namun Aira sudah berjalan cepat mendahuluinya. Felix hanya bisa mengelus dada, merutuki nasibnya, lalu berjalan cepat menguntit di belakang.
Sementara itu, di area dermaga kayu tersembunyi yang tertutup rapat oleh rindangnya pepohonan kelapa dan tebing batu karang.
Suasana di area ini terasa begitu mencekam, dingin, dan dipenuhi aroma mesiu yang tertiup angin laut. Lima buah perahu karet hitam milik penyusup dari sindikat Viper Group telah tertambat kaku di tepi pasir putih. Belasan pria bertubuh kekar dengan pakaian taktis serba hitam, mengenakan rompi anti-peluru, dan memegang senjata laras panjang kini terkunci rapat dalam posisi berlutut di atas pasir basah dengan tangan terikat ke belakang.
Di depan belasan penyusup berdarah dingin yang kini gemetaran hebat hingga gigi mereka bergemeretuk ketakutan, berdiri sosok Gabriel Blackwood.
Pria itu tidak mengenakan seragam tempur atau rompi taktis berat layaknya seorang komandan perang. Ia hanya mengenakan celana pendek linen putih dan kemeja santainya yang tidak dikancingkan sama sekali, memperlihatkan dada bidangnya yang berotot. Namun, pendar aura Dark Lord yang membeku pekat dari sepasang mata cokelat gelapnya sanggup membuat pimpinan penyusup menahan napas, merasa ajal mereka sudah berada di ujung tanduk.
"Siapa yang memberimu izin menginjakkan kaki di pulau ini, Victor?" suara bariton Gabriel terdengar sangat rendah, tenang, dingin, namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak dan mengerikan.
Pria bernama Victor—kapten tim penyusup Viper Group yang terkenal kejam di dunia bawah tanah Eropa—kini menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya.
"Tuan Blackwood... kami... kami hanya menjalankan perintah untuk mengambil dokumen penting rahasia jaringan pelabuhan—" ucap Victor terbata-bata, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya.
"Dokumen?" Gabriel menyela dengan dengusan dingin yang mencemooh. Ia melangkah satu titik lebih mendekat, bayangan tubuh tingginya menutupi sosok Victor sepenuhnya. "Kamu pikir aku peduli soal dokumen sampah perusahaan itu di saat aku sedang cuti? Yang membuatku sangat murka sampai ingin merobek leher kalian adalah... kalian datang dan mengganggu waktu honeymoon privat aku dan istriku!"
DEG!
Victor dan seluruh anak buahnya melotot tak percaya. Mitos mengenai kejamnya pemimpin tertinggi Blackwood yang tidak memiliki belas kasihan ternyata memang nyata, tetapi alasan di balik kemarahannya malam ini benar-benar di luar nalar: ia murka besar hanya karena liburan romantisnya bersama sang istri terganggu!
"Tuan! Tolong ampuni nyawa kami! Kami tidak tahu Anda sedang berlibur! Kami akan segera pergi sekarang juga!" ratap Victor panik luar biasa, memohon ampun dengan suara bergetar.
"Pergi?" Gabriel menyunggingkan senyuman miring yang mematikan—sebuah senyuman tipis penuh keangkuhan seorang penguasa mutlak. "Setelah membuat suara mesin perahu yang berisik, merusak ketenangan malam, dan hampir membuat istriku terbangun karena cemas? Tidak semudah itu, Victor."
Gabriel mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tegas. Puluhan pengawal elite Blackwood yang sejak tadi bersembunyi di balik kegelapan malam langsung bergerak serentak, melucuti seluruh senjata lawan dalam hitungan detik.
"Ikat mereka semua lebih kencang," perintah Gabriel dengan nada santai namun absolut. "Lalu... pakaikan pelampung bebek kuning menyala dan kacamata renang hiu hijau stabilo milikku ke kepala mereka masing-masing. Biarkan mereka berenang kembali ke kapal induk mereka di tengah laut sebagai oleh-oleh dari pulauku."
Para pengawal elite sempat tertegun kaku selama lima detik, mencerna perintah absurd bos mereka. Namun, karena itu adalah titah mutlak dari sang ketua, mereka segera mengeksekusinya tanpa berani membantah sepatah kata pun.
"Gabriel Blackwood!"
Suara panggilan jernih nan tegas yang memecah keheningan malam dari arah jalan setapak kayu membuat seluruh tubuh tegap Gabriel seketika membeku kaku di tempat. Aura monster bawah tanah yang tadinya membekukan lautan mendadak hancur berkeping-keping tanpa sisa dalam hitungan mikrodetik.
Gabriel berbalik dengan gerakan patah-patah. Di bawah pendar lampu taman yang temaram, Aira berdiri dengan kedua tangan melipat anggun di dada, menatap tajam ke arah suaminya dengan alis terangkat tinggi. Di belakang Aira, Felix berdiri sambil menepuk jidatnya sendiri, merasa pasrah melihat bosnya tertangkap basah.
"A-Aira?!" pekik Gabriel gagap setengah mati. Wajah sang ketua mafia yang tadinya garang mendadak pucat pasi. "Kamu... kamu kenapa bangun, Sayang? Angin malam di dermaga ini dingin banget lho, nanti kamu masuk angin!"
Aira tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati suaminya dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Matanya melirik ke arah belasan anggota mafia rival kelas kakap yang kini duduk kepayahan di atas pasir basah sambil mengenakan pelampung bebek kuning menyala dan kacamata renang hiu hijau stabilo di kepala mereka. Pemandangan itu begitu surealis, absurd, dan sangat konyol hingga Aira harus menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan ledakan tawa di tenggorokan.
Aira menatap Gabriel lekat-lekat. "Jadi ini bentuk 'penyesuaian keamanan' yang kamu maksud, Tuan Aristha?"
Gabriel mendadak memegangi dadanya secara dramatis. Pria berotot itu melangkah mendekati Aira dengan raut wajah dibuat-buat paling pusing, tertekan, dan manja sejagat raya.
"Aira... dengarkan dulu pembelaanku! Mereka duluan yang mencari masalah dan merusak suasana malam kita!" rengek Gabriel manja, lalu tanpa rasa malu langsung menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher sang istri, memeluk pinggang Aira erat-erat seperti anak kecil yang takut dihukum ibunya. "Aku cuma memberikan mereka sedikit pendidikan karakter lewat pelampung bebek biar mereka jera dan tidak berani datang lagi!"
Aira menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan menepuk punggung kokoh Gabriel dengan lembut. Rasa gemas, jengkel, dan lucu bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
"Kamu ini ya..." omel Aira lembut sambil menggelengkan kepala. "Kalau menangkap musuh selalu saja ada cara-cara ajaib dan konyol yang kamu keluarkan."
Aira melepaskan pelukan Gabriel dengan lembut, lalu menangkup wajah suaminya yang masih tampak cemas. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Gabriel. "Sudah selesai kan urusannya? Sekarang suruh Felix membereskan sisa-sisa 'pasukan bebek' ini, dan kamu wajib ikut aku kembali ke villa. Suami konyolku ini tidak boleh berkeliaran di luar tanpa jaket di tengah angin malam."
Mendengar perhatian tulus dan nada bicara lembut dari istrinya, pendar di mata cokelat gelap Gabriel seketika berubah cerah, memancarkan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Siap, Istri Tercinta! Perintah dilaksanakan!" seru Gabriel riang gembira tanpa beban sedikit pun. Ia langsung merangkul pundak Aira posesif. "Felix! Urus semua bebek-bebek itu sampai bersih! Aku mau pulang dan tidur nyenyak dipeluk Permaisuriku!"
Felix yang berdiri di dekat tumpukan koper hanya bisa menghela napas panjang menatap langit malam Mediterania, merutuki takdirnya sebagai tangan kanan dari seorang ketua mafia paling bucin di muka bumi.
Keesokan paginya, matahari pagi kembali menyapa pulau privat dengan hangat.
Aira terbangun lebih dulu dari tidurnya. Ia meregangkan kedua tangannya, merasakan kesegaran yang luar biasa setelah tidur nyenyak di dalam pelukan suaminya sepanjang malam. Namun, ketika ia menoleh ke sebelah ranjang, sisi tempat tidur itu sudah kosong.
Dahi Aira berkerut. Bau harum yang sangat lezat—sekaligus sedikit aroma gosong yang mencurigakan—tercium samar-samar dari arah dapur terbuka.
Aira tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan bilang... dia mencoba memasak lagi?"
Aira beranjak dari tempat tidur, mengenakan jubah piyamanya, lalu melangkah keluar kamar menuju area dapur. Dan benar saja, di depan kompor listrik mewah, Gabriel berdiri mengenakan topi koki putih di kepalanya, memegang spatula dengan wajah penuh konsentrasi tinggi, sementara di pipinya terdapat noda jelaga hitam arang.
Melihat kehadiran Aira, Gabriel tersenyum lebar dengan cengiran paling manisnya. "Selamat pagi, Sayang! Kali ini pancake buatan suamimu dijamin tidak gosong!"
Aira tertawa renyah, melangkah mendekat, dan memeluk pinggang suaminya dari samping. Di bawah langit pulau pribadi yang damai, babak baru kehidupan rumah tangga mereka berjalan begitu hangat, dipenuhi tawa, cinta, dan perlindungan mutlak dari sang ketua mafia.