NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. TAMENG DI BAWAH UMUR

"APA-APAAN INI?!"

Amel ingin menuntut penjelasan rasional detik itu juga. Memang benar dia naksir berat sejak pertama kali melihat ketampanan dokter galak ini di desa, tetapi status menjadi "pacar" dadakan ini benar-benar berjalan di luar nalarnya.

Namun, suara ancaman Rahsya sebelumnya kembali terngiang di telinga: Turuti apa kata saya! Jangan aneh-aneh!

Amel menelan ludahnya paksa. Ia berusaha keras mengatupkan kembali mulutnya dan merapatkan posisi duduk silanya, meskipun warna wajahnya sekarang sudah merah padam perpaduan antara malu, kaget, dan ingin meledak emosi.

"I-iya... Tante, Om... saya Kamelia," ucap Amel dengan nada suara yang mendadak mencicit kecil seperti seekor tikus yang terjepit pintu, berusaha keras mengembalikan aktingnya di tengah badai kejutan.

Marsel menyandarkan punggung tegapnya ke sofa, sepasang matanya menyipit tajam menatap putranya seolah-olah sedang menginterogasi seorang tersangka kasus kriminal kelas kakap.

"Kamu serius?" tanya Marsel dengan satu alis yang terangkat tinggi, sebuah kode keras yang sukses membuat bulu kuduk di leher Rahsya berdiri meremang.

Rahsya yang biasanya selalu tampil tenang, kini mendadak gagal fokus. Ia membalas tatapan mata papanya dengan kerutan mendalam di dahi—benar-benar tidak paham kenapa papanya terlihat begitu skeptis, seolah-olah sudah mengetahui rahasia besar di balik pertemuan sandiwara ini.

"Ehem!"

Deheman berat Marsel seketika membelah kecanggungan di ruang tamu.

"Maaf sebelumnya, Amel. Apa orang tuamu... atau mungkin kakekmu, tahu kalau kamu berpacaran dengan anak saya?"

Mendengar kata 'kakek' disebut, Amel merasa tubuhnya seperti baru saja tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Keringat dingin mulai merembes

basah di balik gaun pink-nya.

Rahsya pun ikut membeku di tempat; bagaimana bisa papanya tahu sebutan nama panggilan 'Amel' dan bahkan menyinggung soal sosok kakeknya?

Amel melirik tajam ke arah Rahsya dengan tatapan mata meminta pertolongan medis. Rahsya sempat melotot galak—sebuah perintah bisu agar Amel tetap bersikap tenang—sebelum akhirnya ia melempar senyum tipis ke arah orang tuanya seolah berkata: Ikuti saja permainannya!

"Sudah, Om. Mereka... mereka semua sudah tahu kok," jawab Amel dengan nada suara yang dipaksakan mantap.

Padahal, di dalam batinnya sedang menjerit histeris ketakutan: 'Mampus gue! Boro-boro dikenalin ke keluarga, pacaran saja harus sembunyi-sembunyi kayak buronan polisi!'

Marsel mengangguk pelan, meskipun gurat ketidakpuasan masih tercetak sangat jelas di fitur wajah sangarnya. "Kalau begitu, saya mau bicara sebentar dengan Rahsya di luar. Kamu bisa mengobrol dulu dengan istri saya di sini."

Marsel bangkit berdiri dari sofa, memberikan sebuah isyarat mata yang tidak terbantahkan agar Rahsya berjalan mengikutinya menuju ke arah halaman depan mansion.

Rahsya bangkit dari duduknya dengan langkah kaki yang terasa sangat berat, merasa dirinya seperti seekor domba yang sedang digiring ke tempat jagal hewan. Sementara itu, Amel tertinggal merana di atas sofa, berhadapan langsung dengan Miranti yang sudah siap sedia dengan tatapan mata penuh selidik yang jauh lebih "berbahaya" daripada proses interogasi Marsel.

****

Di area halaman depan mansion, Marsel menghentikan langkah kakinya tepat di bawah sebatang pohon kamboja besar yang rindang. Ia berbalik badan dengan cepat, menatap tajam ke arah sepasang mata Rahsya seolah-olah ingin menembus masuk ke dalam batok kepala anaknya sendiri. Marsel menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan sangat kasar ke udara, bersiap untuk meluapkan seluruh kekesalannya.

"Rahsya, jujur sama Papa," desis Marsel.

Nada suaranya terdengar rendah namun sangat mengancam. "Apa kamu sadar siapa sebenarnya kakek dari gadis itu sampai kamu nekat membawa dia ke rumah ini?"

Rahsya tersentak kaget sedikit. Kedua bahunya mendadak menegang kaku saat mendengar nama kakek Amel dibawa-bawa ke dalam masalah.

Namun, ia buru-buru menganggukkan kepalanya, berusaha bersikap sesantai mungkin walaupun hatinya sudah mulai mencelos jatuh. "Tahu, Pa. Dia cucunya Pak Cahyanto. Pemegang saham terbesar di rumah sakit tempat Papa bekerja, kan?"

"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu malah nekat membawa dia ke sini?! Kamu mau cari masalah besar sama Pak Cahyanto, hah?!" suara Marsel seketika naik satu oktav, membuat daun-daun pohon kamboja di atas mereka seolah-olah ikut berguguran ketakutan.

Rahsya mendengus keras, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Pa, bukannya Papa sendiri yang kemarin ngebet banget pengen punya cucu sampai menyuruh Rahsya cepat mencari calon istri sendiri? Kenapa pas sekarang sudah dapat, Papa malah berakting seperti tidak suka begitu?" Rahsya melangkah satu langkah maju, membela diri.

"Mau itu cucunya Pak Cahyanto, atau cucu Presiden sekalipun, Rahsya sama sekali enggak peduli. Lagian ini bagus, kan? Rahsya enggak salah memilih calon menantu buat Papa. Latar belakang keluarganya hampir setara dengan keluarga kita," cecar Rahsya membalas logika papanya, lalu ia memicingkan mata curiga.

"Lagian, kok Papa bisa tahu banget kalau Amel itu cucunya Pak Cahyanto?"

"Ya jelas Papa tahu! Pak Cahyanto itu tipe orang tua yang hobi pamer cucu di setiap rapat direksi. Apalagi si Amel itu, dia cucu bungsu perempuan kesayangannya!" sahut Marsel dengan nada suara yang tidak terbantahkan lagi. Ia menunjuk tepat ke arah wajah Rahsya menggunakan jari telunjuknya.

"Mending kamu cari wanita lain saja. Coba lagi kencan dengan 14 wanita cantik di dalam daftar pilihan Mama kamu itu."

"Enggak mau, Pa. Rahsya sudah capek," tolak Rahsya mentah-mentah.

"Percuma saja dilanjutkan. Ujung-ujungnya pasti bakal gagal total, berantakan, membuang-buang waktu, dan menghabiskan tenaga saya saja. Lagian, kenapa sih tidak boleh berpacaran sama Amel? Ada yang salah dengan gadis itu?"

Marsel menghela napas panjang dalam-dalam, menatap lurus ke arah wajah putranya dengan sebuah pandangan mata lelah tipe 'kamu-ini-bodoh-atau-apa'.

"Kalau kamu kukuh mau berpacaran sama dia, Papa yang bakal kena masalah hukum dan sosial, Rahsya. Memangnya kamu mau dicap sebagai seorang pedofil di rumah sakit?" tanya Marsel pelan. Sepasang matanya melirik waspada ke arah dalam rumah, takut jika suara mereka terdengar oleh Amel.

Rahsya tersentak hebat, rahangnya hampir saja jatuh ke bawah karena terkejut. "Hah? Maksud Papa apa?"

"Jangan bilang kamu sama sekali tidak tahu berapa usia asli dari gadis itu?"

Marsel menaruh curiga besar. Ia menduga kuat anak lak-lakinya ini cuma memanfaatkan Amel sebagai tameng pelarian instan agar tidak ditagih menantu lagi oleh ibunya.

"Dia sudah lulus SMA, Pa. Berarti usianya sudah legal secara akademis. Enggak ada masalah, dong?" jawab Rahsya santai tanpa beban pikiran.

"Jelas jadi masalah besar, Rahsya!" seru Marsel gemas setengah mati melihat kebebalan anaknya.

"Dia itu baru genap berusia 16 tahun bulan kemarin! Pak Cahyanto sendiri yang menceritakannya kepada Papa saat janji temu bisnis. Bahkan beliau dengan bangganya menunjukkan foto kue ulang tahun beserta lilin angka 16 tahun milik Amel kepada Papa!"

Marsel melangkah lebih dekat, menekankan setiap suku kata dengan tegas ke wajah anaknya.

"Anak itu pintar, makanya umur 15 tahun sudah lulus SMA. Rencananya sebentar lagi mau kuliah di London. Nah, sekarang... kamu masih berani ngeyel atau mau lanjutin hubungan sama anak remaja yang belum punya KTP itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!