Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palang Pintu dan Telepon Melayang
Pagi itu, suasana di perkampungan halaman rumah Inayah terasa riuh dan semarak. Tenda megah bernuansa putih keemasan dipenuhi oleh para tetangga, kerabat, hingga warga sekitar yang penasaran menyaksikan pesta pernikahan unik yang menyatukan dua latar belakang budaya berbeda.
Di dalam kamar pengantin, Inayah dan Abiyan sedang dirias oleh MUA. Abiyan tampil begitu gagah dan mempesona dalam balutan busana akad bernuansa putih bersih khas pria Sunda. Garis wajahnya yang tegas serta tatapannya yang tajam membuat ketampanannya makin memancar. Sementara itu, Inayah tampak sangat anggun dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya secara sempurna, dipadukan dengan riasan wajah yang natural namun memesona.
Kakek Sudirja dan sang Nenek yang duduk santai di teras tak berhenti mengulas senyum bahagia. Mereka terkagum-kagum melihat ketampanan cucunya yang menyatu sangat serasi dengan kecantikan khas Betawi milik Inayah.
Acara dibuka dengan ijab kabul formalitas secara agama sesuai keinginan Pak Pirman. Suasana yang tadinya dipenuhi canda tawa mendadak hening dan khidmat saat Pak Pirman menjabat erat tangan Abiyan. Tanpa ada keraguan sedikit pun, Abiyan mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu tarikan napas yang mantap, lantang, dan tegas. Begitu kata "Sah!" menggelegar dari para saksi, derai air mata keharuan dan rasa lega seketika menyelimuti seluruh ruangan.
Setelah prosesi sakral tersebut selesai, kehebohan acara kirab pengantin adat Betawi pun dimulai di pekarangan rumah. Pak Pirman dan Abraham berdiri di barisan paling depan untuk memandu tradisi Palang Pintu.
Namun, kegilaan dua bapak-bapak yang kembali merasa muda itu langsung meledak. Abraham, yang notabene adalah pria Sunda tulen dan biasanya tampil tenang serta kaku, justru ikut-ikutan menimpali pantun Betawi dari rombongan pengantin pria dengan gaya yang sangat heboh.
"Buah cempedak di luar pagar, diambil galah sama penjahit!" seru Abraham penuh semangat sambil melebarkan kedua tangannya. "Kalau Abiyan kagak diizinkan masuk sekarang juga, nih bapaknya siap ajak gelut!"
"Bocah ngapa ya!" potong Pak Pirman sambil berkacak pinggang di depan pintu gerbang tenda. "Pantun lu kagak ada rima dan nyambungnya sama sekali, Bram! Tapi ya udah lah, demi menantu tampan gua yang kagak kalah keren dari bapaknya, jalur aman dibuka!"
Gelak tawa para tamu undangan pecah seketika melihat aksi tengil dan kocak dari Abraham serta Pak Pirman. Mereka berdua lebih mirip pasangan komedian yang sedang beradu sketsa ketimbang dua orang tua mempelai. Kakek Sudirja bahkan sampai memegangi perutnya yang mulas akibat tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan anak tunggalnya yang telah kembali ceria, konyol, dan bebas.
Di sela-sela riuhnya atraksi silat dan adu pantun yang makin memanas di pelataran, nada dering nyaring mendadak terdengar dari saku jas mahal yang dikenakan Abraham. Abraham merogoh sakunya dan melirik layar ponsel pintarnya. Di sana tertera jelas nama sang pemanggil: Lusi, istri keduanya alias ibu tiri Abiyan yang licik.
Dahi Abraham berkerut parah, menghentikan aksinya sejenak. Pak Pirman yang berdiri tepat di sampingnya ikut melirik ke arah layar ponsel tersebut. Mengetahui siapa sosok di balik panggilan itu, wanita parasit yang selama ini memanipulasi sahabatnya dan berniat jahat pada Abiyan,mata Pak Pirman seketika membelalak galak. Emosinya mendadak mendidih.
Tanpa mengucap sepatah kata pun dan tanpa memberi peringatan, Pak Pirman dengan gerakan silat secepat kilat merebut ponsel mahal milik Abraham dari genggamannya.
SRAKKK!
"Eh, Pirman! Kenapa HP gua diambil?!" teriak Abraham kaget setengah mati.
Dengan posisi kuda-kuda yang kokoh dan gaya lemparan lempar cakram khas atlet profesional, Pak Pirman memutar badannya seratus delapan puluh derajat, lalu melempar ponsel mahal itu melayang tinggi melintasi atap rumah kayu...
PLUNGGG!
Suara benturan air terdengar cukup keras. Ponsel canggih bernilai belasan juta rupiah itu mendarat telak di tengah-tengah empang lele berlumpur milik tetangga sebelah rumah!
"Pergi ke laut aja tuh Mak Lampir!" seru Pak Pirman santai tanpa beban seraya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu. "Hari bahagia anak-anak kita kagak boleh dikotorin sama racun dan gangguan orang gila!"
Abraham terbelalak melongo menatap empang lele, lalu memutar kepalanya menatap Pak Pirman yang tak merasa dosa sama sekali. Namun, bukannya marah atau jengkel, detik berikutnya tawa lepas Abraham justru pecah menggelegar sampai matanya berair.
"Wajah lu pas melempar tadi asli kocak dan sangar banget, Man! Ya sudah lah, biarkan aja HP itu hanyut dipatok lele!" ujar Abraham sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
Dari atas pelaminan mini tempat mereka berfoto sementara, Inayah dan Abiyan menyaksikan adegan spektakuler lempar ponsel itu dari jarak dekat. Inayah tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya, sementara Abiyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan ulasan senyum lebar yang amat sangat langka di wajah tampannya.
"Bapak kamu beneran mantan atlet lempar tebing atau lempar cakram ya, Nay?" bisik Abiyan yang sangat terhibur.
"Kagak, Mas! Itu murni bakatan emosi murni emak-bapak Condet kalau udah gedek sama orang!" sahut Inayah penuh kebanggaan seraya menyikut pelan lengan suaminya.
Sang Nenek mengusap air mata bahagianya menggunakan tisu, menggenggam erat jemari Kakek Sudirja yang duduk setia di sampingnya. "Lihat itu, Pak... Bram benar-benar sudah kembali pulang. Dia sudah lepas dari bayang-bayang masa lalunya."
Kakek Sudirja mengangguk mantap dengan raut penuh rasa syukur, menatap lurus ke arah anak, cucu, dan menantunya yang kini bersatu erat. Hari itu, pekarangan rumah kayu yang sederhana tidak hanya dihiasi oleh riuhnya musik tradisional Betawi, alunan pencak silat, dan indahnya busana adat pesta pernikahan, tetapi juga dipenuhi oleh tawa lepas, kehangatan keluarga yang hakiki, dan musnahnya bayang-bayang kelam yang pernah menghantui mereka.
lanjut kak semangat 💪
lanjut kak 💪💪