NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Aisha menghempaskan punggungnya ke sofa apartemen dengan helaan napas berat.

"Astagfirullah... capek banget hari ini," gumam Aisha sendirian di ruang tengah.

Ponselnya di atas meja berdering. Nama 'Tari' tertera di layar.

"Halo, Tar! Kamu harus tanggung jawab, ya!" Ujar Aisha tanpa basa-basi.

"Lah? Kenapa tiba-tiba aku disuruh tanggung jawab? Kadonya nggak ada sha?" suara Tari terdengar heran dari seberang telepon.

"Dapet! Boneka beruang rajut pesanan kamu udah aku bawa pulang!" sembur Aisha sambil meluruskan kakinya ke atas meja kaca. "Tapi gara-gara nyariin tuh boneka, aku hampir aja kena pasal penganiayaan berat!"

"Ha?! Penganiayaan gimana maksud kamu, Sha?Kamu berantem sama bule di sana?!"

"Bukan bule! Orang Indonesia! Ganteng sih kayak eksekutif muda di drama Korea," racot Aisha megebu-gebu. "Tapi kelakuannya? Masya Allah... es kutub bercampur macan tutul! Galak banget!"

"Bentar, bentar... kok bisa berantem sih? Ceritain dulu kronologinya yang jelas!"

"Selesai kamu telfon, aku fokus nyari-nyari letak boneka itu. Kurang fokus ngeliat depan. Troli meluncur di lorong agak turunan, terus... JLEB! Nabrak kursi yang dinaikin tuh cowok," terang Aisha sambil memeragakan dengan tangannya di udara.

"Dia lagi atraksi manjat kursi mau ambil boneka di etalase paling atas. Yaa... jatuhlah dia beserta puluhan boneka beruang menimpa badannya."

"Hahaha! Ya ampun, Aisha! Terus, terus?" Tari tertawa terpingkal-pingkal di ujung telepon.

"Gak usah ketawa, ya! Belum selesai!" potong Aisha gemas. "Aku panik lah, niat hati mau narik troli mundur, eh aku malah dorong trolinya ke depan. Rodanya ngelindas kaki dia, dan sepatu bot gue sukses menginjak jarinya!"

"AHAHAHA! Ya Allah, Sha! Kasihan banget tuh cowok! Terus dia ngamuk?"

"Ngamuk banget! Dia berdiri terus bentak -bentak aku, Tar. 'Kamu jalan pakai mata atau pakai jidat?!' gila gak tuh?!" tiru Aisha dengan suara diberat-beratkan.

"Awalnya aku sudah merasa bersalah banget, udah minta maaf sopan-sopan. Tapi pas dia bentak-bentak, langsung keluar jiwa bar-barnya Aisha!"

"Kamj bentak balik?"

"Pasti dong! Tapi dia ngomel-ngomel terus, ngalahin ibu-ibu kompleks"

"Kayak adegan FTV benci jadi cinta aja kalian berdua," goda Tari terkekeh.

"Cinta gundulmu!" sergah Aisha cepat.

"Tapi ganteng gak, Sha?"

"Ganteng sih... hidungnya mancung, rahangnya tegas, alisnya tebal. Tapi mukanya itu lho, cemberut terus kayak orang belum makan seminggu. Kalau senyum dikit mungkin cakep, tapi sayangnya jutek parah. Pokoknya aku doain tuh Om-om Es Kutub kakinya gak kapok jalan-jalan ke toko suvenir!" tandas Aisha.

Sementara itu, di sebuah mansion megah berdesain minimalis modern di kawasan elit Edinburgh...

Zavran baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Jas mewahnya sudah berganti dengan kaos kasual hitam, namun raut wajahnya masih seseram awan mendung. Tangan kanannya yang agak memar diusap-usap kasar sambil berjalan menuju ruang kerjanya.

Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di mansion tersebut, melangkah mendekat sambil membawa segelas teh hangat dan kantong es batu.

"Pak Zavran... itu tangannya kenapa memar begitu?" tanya Bi Inah cemas.

"Kecelakaan kecil di toko suvenir, Bi," sahut Zavran dingin seraya mendudukkan diri di kursi kerjanya.

"Duh, kok bisa, Pak? Tertimpa barang?"

"Bukan tertimpa barang," jawab Zavran datar.

"Ditabrak trus diinjak wanita gila!"

"Di-diinjak, Pak?! Kok ada orang setega itu sama Pak Zavran?"

"Wanita itu benar-benar tidak punya sopan santunnya, Bi!" Ucap Zavran, meluapkan seluruh emosi yang sejak tadi ditahannya.

"Dia mendorong troli tanpa melihat jalan. Kursi yang saya naiki ditabrak sampai roboh! Puluhan boneka menimpa saya, terus sepatu bot tebalnya tanpa rasa bersalah menginjak jari saya sampai memar begini!"

"Aduh... kasihan banget Pak Zavran. Terus wanitanya tidak minta maaf?" tanya Bi Inah sambil pelan-pelan menempelkan kompres es ke jari Zavran.

"Awalnya minta maaf! Tapi begitu saya tegur karena kecerobohannya, dia malah membalas bentakan saya!" cetus Zavran menggebu-gebu.

"Kamu tahu apa yang dia katakan, Bi? Dia bilang saya 'Pak Es Kutub', dia suruh saya pasang otak daripada cuma gengsi, dan dia tuduh saya atraksi sirkus hanya karena saya memanjat kursi!"

Bi Inah menahan tawa yang hampir meledak mendengar julukan Pak Es Kutub, cepat-cepat memalingkan wajah agar tidak ketahuan.

"M-masa sih, Pak? Tapi bapak tidak apa-apa kan?"

"Tangan saya memar, kaki saya kesemutan, dan harga diri saya jatuh di depan petugas toko!" sungut Zavran sengit.

"Mana ada wanita berhijab kelakuannya seperti itu? Wajahnya saja yang kelihatan kalem, tapi mulutnya... luar biasa tengil"

"Tapi, Pak... boneka yang Bapak beli tadi bikin Tuan Muda seneng banget, lho," potong Bi Inah lembut, mencoba meredakan emosi majikannya. "Dari tadi Tuan Muda meluk boneka itu terus sambil nyebut-nyebut 'Mama'."

"Iya, Bi... cuma itu hiburan saya sore ini," bisik Zavran pelan. "Devan begitu bahagia memeluk boneka itu. Katanya wanita yang memberikan dia boneka kecil tadi siang juga pakai kain di kepala... berhijab."

Bi Inah mengangguk-angguk. "Siapa tahu wanita berhijab di toko tadi itu orang yang sama, Pak?"

"Tidak mungkin!" tegas Zavran cepat, menepis dugaan itu.

"Wanita tengil dan bar-bar seperti dia tidak mungkin punya kelembutan untuk bikin Devan merasa nyaman. Devan anak yang sangat sensitif. Mana mungkin Devan suka sama wanita yang hobi menabrak orang?"

"Yah... siapa tahu kan, Pak? Kadang orang yang kelihatan galak di luar, hatinya lembut," goda Bi Inah tersenyum tipis.

"Tidak, Bi. Jangan mendoakan saya bertemu dia lagi," pangkas Zavran dingin sambil memalingkan muka.

"Kalau sampai saya melihat wajah wanita itu sekali lagi di kota ini, saya pastikan dia harus bertanggung jawab atas biaya rontsen tangan saya!"

Bi Inah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat majikannya yang masih terus komat-kamit mengutuki insiden sore itu.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!