Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Giliran Nayla
Pesan dari Bayu masih menyala di layar ponsel Nayla.
**Kamu pikir ini berakhir hanya karena Raka diselamatkan?**
Di bawahnya, pesan kedua muncul.
**Sekarang giliran kamu.**
Nayla tidak bergerak.
Tangannya terasa dingin, sementara seluruh tubuhnya dipenuhi ketegangan. Ia baru saja mendengar bahwa Raka selamat. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya ia bisa bernapas lebih bebas.
Namun ancaman Bayu membuat rasa lega itu langsung menghilang.
Bayu belum tertangkap.
Dan sekarang, pria itu mengatakan bahwa dirinya adalah sasaran berikutnya.
“Bu Nayla?” panggil Inspektur Wina.
Nayla menyerahkan ponselnya.
Petugas itu membaca pesan tersebut, lalu segera mengambil tangkapan layar dan meneruskannya kepada petugas siber.
“Jangan balas,” katanya.
Nayla mengangguk.
“Apakah dia tahu saya ada di sini?”
“Kemungkinan besar.” Inspektur Wina menatap Pak Hendra dan Bu Ratih. “Untuk sementara, kami sarankan seluruh keluarga tidak keluar rumah. Kami juga akan menempatkan pengamanan di sekitar lokasi.”
Pak Hendra mengangguk tegas.
“Lakukan apa pun yang diperlukan.”
Nayla duduk perlahan. Napasnya terasa pendek.
“Kenapa dia mengincar saya?” tanyanya.
“Karena dia mungkin menganggap Ibu bagian dari penyebab masalahnya dengan Raka,” jawab Inspektur Wina. “Atau dia ingin memancing Raka keluar dari perlindungan perusahaan.”
Nayla menunduk.
Bayu sudah memakai Arga dan Siska.
Ia menculik Raka.
Ia menyebarkan foto dan ancaman.
Mungkin sekarang, ia ingin menggunakan Nayla sebagai umpan.
Ponsel Inspektur Wina berdering. Setelah berbicara sebentar, wajahnya berubah serius.
“Pak Raka sudah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.”
Nayla langsung mengangkat wajah.
“Saya ingin ke sana.”
“Tidak sekarang.”
“Tapi saya harus memastikan dia baik-baik saja.”
“Rumah sakit bisa menjadi tempat yang mudah dilacak. Jika Bayu tahu Raka berada di sana, dia mungkin mencoba datang.”
Nayla mengepalkan tangan.
“Saya hanya ingin melihatnya.”
“Saya mengerti. Tapi keselamatan Ibu juga penting.”
Nayla memejamkan mata.
Ia tahu permintaan itu masuk akal. Namun setelah mendengar Raka terluka karena membelanya, ia tidak bisa hanya duduk diam.
“Boleh saya berbicara dengannya lewat telepon?”
Inspektur Wina menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
“Kita tunggu sampai dia selesai diperiksa.”
***
Di rumah sakit, Raka duduk di ruang pemeriksaan dengan luka kecil di pelipis dan goresan tipis di leher. Dokter sudah membersihkan lukanya dan memastikan tidak ada cedera serius.
Dimas berdiri di samping pintu.
“Pak, polisi meminta Bapak tidak meninggalkan rumah sakit sebelum pemeriksaan selesai.”
“Saya tahu.”
“Bu Nayla ingin berbicara dengan Bapak.”
Raka langsung menoleh.
“Dia aman?”
“Masih di rumah orang tuanya. Polisi menjaga rumah itu.”
Raka menghela napas lega.
“Hubungkan.”
Dimas memberikan ponselnya.
Beberapa detik kemudian, suara Nayla terdengar.
“Pak Raka?”
“Iya.”
Nayla terdiam. Raka bisa mendengar napasnya yang tidak teratur.
“Bapak baik-baik saja?”
“Saya baik.”
“Jangan bohong.”
Raka hampir tersenyum, tetapi luka di bibirnya membuat wajahnya sedikit meringis.
“Saya hanya mendapat luka ringan.”
“Bapak diculik.”
“Saya tahu.”
“Bapak bisa saja terluka parah.”
“Nayla.”
Suara Raka terdengar tenang, tetapi lebih lembut dari biasanya.
“Saya baik-baik saja.”
Nayla tidak menjawab.
Raka bisa membayangkan wajahnya. Mata yang berkaca-kaca, tangan yang saling menggenggam, dan kebiasaan Nayla menahan tangis agar tidak terlihat lemah.
“Maaf,” ucap Nayla.
Raka langsung mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Karena semua ini terjadi setelah Bapak membantu saya.”
“Bayu melakukan ini karena pilihannya sendiri.”
“Tapi dia menyebut nama saya.”
“Dia menyebut nama saya juga.” Raka menarik napas. “Jangan mengambil tanggung jawab atas tindakan orang lain.”
Nayla terdiam.
“Saya takut kehilangan Bapak,” katanya akhirnya.
Kalimat itu keluar begitu pelan, tetapi tetap terdengar jelas.
Raka memejamkan mata.
Dada pria itu terasa berat.
Ia tahu Nayla sedang berbicara karena takut. Karena baru saja menyaksikan seseorang yang dikenalnya diculik. Namun mendengar kalimat itu tetap membuat sesuatu dalam dirinya bergerak.
“Saya tidak pergi,” jawab Raka.
“Bapak tidak bisa menjanjikan itu.”
“Benar.” Raka mengakui. “Tidak ada orang yang bisa menjanjikan keselamatan setiap saat. Tapi saya bisa berjanji akan berhati-hati.”
Nayla menarik napas bergetar.
“Bayu mengirim pesan. Dia bilang sekarang giliran saya.”
“Saya sudah diberi tahu.”
“Bapak jangan datang ke rumah saya.”
“Saya tidak akan.”
“Jangan mencoba mencari Bayu sendiri.”
“Saya juga tidak akan.”
“Bapak harus berjanji.”
Raka diam sejenak.
“Saya berjanji.”
Nayla tidak langsung menjawab.
“Terima kasih,” katanya.
Raka menatap jendela ruang pemeriksaan.
“Nayla.”
“Iya?”
“Kamu harus tetap di rumah orang tua. Jangan keluar tanpa pengawalan. Dan kalau ada pesan baru, jangan balas.”
“Saya mengerti.”
“Bagus.”
Panggilan berakhir.
Raka menyerahkan ponsel kepada Dimas.
“Pak,” kata Dimas hati-hati, “saya belum pernah melihat Bapak begitu khawatir pada seseorang.”
Raka menatapnya.
“Jangan mulai.”
Dimas mengangkat tangan. “Saya tidak mengatakan apa-apa.”
Namun Raka tahu Dimas tidak sepenuhnya salah.
Ia memang khawatir.
Bukan hanya sebagai atasan yang merasa bertanggung jawab.
Bukan hanya karena Nayla adalah istri Arga.
Kekhawatiran itu sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum ingin ia akui.
***
Sore hari, polisi menempatkan dua petugas berjaga di depan rumah orang tua Nayla.
Bu Ratih menutup seluruh tirai. Pak Hendra memeriksa ulang kunci pintu dan pagar. Rumah yang biasanya terasa hangat kini berubah seperti tempat perlindungan.
Nayla duduk di ruang tengah sambil memandang ponselnya.
Tidak ada pesan baru dari Bayu.
Justru ketiadaan pesan itu membuatnya semakin gelisah.
“Cobalah makan sedikit,” kata Bu Ratih sambil meletakkan semangkuk sup di depannya.
Nayla mengangguk, lalu mengambil sendok.
Ia baru makan beberapa suap ketika terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Semua orang langsung menoleh.
Salah satu petugas keluar ke teras untuk memeriksa. Beberapa saat kemudian, ia kembali.
“Kurir paket,” katanya. “Ada kiriman untuk Ibu Nayla.”
Nayla mengerutkan kening.
“Aku tidak memesan apa pun.”
Petugas membawa sebuah kotak kecil berwarna cokelat. Tidak ada nama pengirim. Hanya nama Nayla dan alamat rumah orang tuanya.
“Jangan dibuka,” kata Pak Hendra cepat.
Petugas meletakkan kotak itu di meja.
Inspektur Wina yang masih berada di rumah mendekat. Ia memeriksa bagian luar kotak dengan sarung tangan.
“Apakah ada yang menunggu di luar?” tanyanya kepada petugas.
“Kurir sudah pergi.”
“Kamera rumah tetangga bisa diperiksa?”
“Kami akan minta rekamannya.”
Nayla menatap kotak itu dengan dada berdebar.
“Bagaimana kalau isinya—”
“Jangan menyentuhnya,” kata Inspektur Wina.
Petugas siber memeriksa label pengiriman. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah.
“Alamat pengirim palsu.”
Kotak tersebut dibuka dengan hati-hati menggunakan alat khusus.
Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lama, satu foto, dan selembar kertas putih.
Nayla tidak perlu melihat lama untuk mengenali benda dalam foto itu.
Itu foto dirinya sedang keluar dari rumah orang tuanya pagi tadi.
Di belakang foto, ada tulisan tangan:
**Kamu selalu diawasi.**
Pak Hendra langsung berdiri.
“Bagaimana mungkin?”
Inspektur Wina mengambil foto tersebut. Wajahnya mengeras.
“Pelaku mungkin mengikuti keluarga sejak pagi.”
Nayla merasa tubuhnya dingin.
Di dalam kotak, ponsel lama tiba-tiba menyala.
Layar menampilkan video.
Inspektur Wina memberi tanda agar semua mundur sedikit. Petugas siber menekan tombol pemutar.
Video itu memperlihatkan Arga sedang duduk di sebuah ruangan yang tidak dikenal.
Wajahnya lebam.
Tangannya tidak terikat, tetapi ia tampak ketakutan. Di belakangnya ada dinding semen dan lampu redup.
Nayla menutup mulutnya.
“Arga?”
Video berjalan.
Arga menatap kamera.
“Nayla,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau kamu melihat ini, jangan percaya siapa pun dari perusahaan Arunika. Mereka semua—”
Video berhenti mendadak.
Layar ponsel berubah hitam.
Nayla berdiri dengan wajah pucat.
“Arga diculik juga?” tanyanya.
Inspektur Wina segera mengambil ponsel itu.
“Kami belum bisa memastikan kapan video ini direkam.”
“Tapi dia terluka.”
“Benar. Kami akan lacak perangkatnya.”
Nayla menatap foto dirinya yang baru saja dikirim.
Bayu bukan hanya mengancamnya.
Ia mengikuti keluarganya.
Ia mungkin menculik Arga untuk membuat Nayla semakin takut.
Dan video itu berisi satu pesan penting.
*Jangan percaya siapa pun dari perusahaan Arunika.*
Apakah Bayu hanya ingin menuduh Raka?
Atau memang ada orang lain di perusahaan yang terlibat?
Ponsel lama itu kembali menyala.
Sebuah pesan otomatis muncul di layar.
**Nomor tidak dikenal:* Pilih satu.**
**Raka atau Arga.*****
Pesan berikutnya muncul.
**Nomor tidak dikenal:** Besok pagi, bawa salah satu dari mereka ke Gudang Puri Sagara. Kalau tidak, kamu akan kehilangan keduanya.