Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dibalik Pintu Kamar Pengantin
Riuh tepuk tangan dan denting gelas kristal dari deretan tamu VIP akhirnya memudar saat pintu lift privat menuju penthouse suite lantai teratas hotel menutup rapat.
Gemerlap resepsi pernikahan paling mewah tahun ini yang dihadiri para pejabat, taipan bisnis, hingga sorotan kamera media tanpa henti resmi usai.
Di dalam kabin lift yang dilapisi marmer dan kaca itu, keheningan mendadak menyapu udara. Naya menyandarkan punggungnya ke dinding lift, helaan napas panjang lolos begitu saja dari bibirnya. Senyum anggun yang ia pasang selama lima jam penuh di atas pelaminan runtuh seketika, menyisakan rasa kebas di otot-otot wajah dan pegal yang luar biasa di badannya.
Di sampingnya, Arka berdiri tegak sembari melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan satu tangan. Jas tuksedonya sudah ia lepas dan tersampir santai di lengan.
“Lelah?” tanya Arka datar, matanya menatap pantulan Naya di dinding kaca lift.
“Pegal sekali, Pak. Ternyata berakting senyum seharian jauh lebih menguras tenaga daripada kerja shift malam,” aku Naya jujur. Sepatu heels delapan sentimeter yang dikenakannya terasa menyiksa kaki.
Arka tidak menanggapi, namun sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak terlihat.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung menyajikan lorong elegan menuju pintu ganda master suite. Doni sudah berdiri di sana, bersandar santai sembari memegang kartu kunci dan tablet kerjanya. Begitu melihat Arka dan Naya keluar, raut wajah formal Doni langsung runtuh, berganti cengiran lebar khas kawan lama.
“Mantap, Bro! Selamaat... akhirnya sah juga lu jadi suami orang!” seru Doni agak tertahan, menyenggol lengan Arka pelan lalu menyalami Naya dengan ramah.
“Gilak, Ar, muka lu pas ijab kabul tadi kaku amat kayak kanebo kering. Untung kaga kepleset lidah lu!”
Arka hanya mendesis pelan sembari melirik Doni tajam. “Mulai kan lu. Mumpung kaga ada Oma aja gaya lu tengil lagi.”
“Elah, tensi lu tinggi amat, Bosku. Lu kan abis 'menang' banyak hari ini,” goda Doni terkekeh, lalu menoleh ke Naya. “Naya, aman kan? Kalau Arka mulai rese atau sok kaku, jitak saja kepalanya. Saya yang izinin.”
“Don, kunci,” potong Arka datar, menyodorkan tangannya.
“Iya, sabar, napas dulu napa,” Doni menyerahkan kunci kartu tebal dan dokumen laporan. “Tamu udah bersih semua, wartawan juga udah gue suruh cabut sama tim security. Oiya, kabar nyokapnya Naya dari RS baru masuk nih. Tadi abis evaluasi malam, kondisi Beliau stabil banget dan udah dipindah ke kamar VIP.”
Mendengar kabar ibunya, mata Naya langsung berbinar lega. Rasa lelah di tubuhnya mendadak menguap. “Terima kasih banyak ya, Pak Doni.”
“Santai saja, Naya! Semua aman terkendali kalau saya yang urus,” sahut Doni menepuk dadanya bangga.
Arka mengambil kunci kartu dari tangan Doni. “Udah kan? Lu mending balik gih. Tidur. Muka lu udah kayak kaleng rombeng.”
“Yeeu, bukannya makasih udah digawangi dari pagi, malah diusir,” Doni terkekeh pelan sembari melangkah mundur menuju lift.
“Yaudah deh, met 'malam pertama' ya kalian berdua! Jangan bisik-bisik doang, nanti garing. Dadah!” Doni melambaikan tangan sebelum pintu lift menutup, meninggalkan Arka yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Arka menempelkan kartu kunci pada sensor pintu suite. Bunyi klik nyaring terdengar, dan pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka.
Ruangan di balik pintu itu terhampar begitu luas dan mewah. Lampu gantung berpendar remang memberikan suasana hangat. Sebuah tempat tidur berukuran king-size yang ditaburi kelopak mawar putih mendominasi tengah ruangan, lengkap dengan pemandangan panoramic gemerlap lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca raksasa.
Naya melangkah masuk dengan ragu-ragu. Gaun pengantin A-line yang megah itu membuat langkahnya melambat. Begitu masuk, rasa canggung yang masif mendadak memenuhi dadanya. Ini adalah malam pertama mereka, bukan sebagai pasangan kasmaran, melainkan sebagai dua orang yang terikat perjanjian bisnis bernilai miliaran rupiah.
Arka melempar jas tuksedonya ke atas sofa kulit, lalu berjalan menuju meja konsol untuk menuangkan air mineral ke dalam gelas. Ia meminumnya sedikit sebelum berbalik menghadap Naya.
“Ganti pakaianmu. Kamar mandi ada di sebelah kiri,” kata Arka santai sembari menunjuk sebuah pintu kaca buram.
Naya mengangguk canggung. “I-iya, Pak.”
Ia berjalan menuju lemari pakaian besar yang sudah diisi oleh tim penata gaya Dirgantara. Di sana terpajang beberapa gaun malam dan pakaian santai. Naya mengambil sebuah piyama sutra lengan panjang yang paling tertutup, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Proses melepas gaun rancangan Madam Chloe ternyata menjadi perjuangan tersendiri. Deretan kancing mutiara di bagian belakang gaun sangat sulit dijangkau oleh tangannya sendiri.
Setelah berulang kali mencoba meliukkan badannya di depan cermin kamar mandi, jemarinya tetap tak sanggup membuka kancing-kancing di area tengah punggung.
Dengan napas terengah dan rasa malu yang mulai membakar pipinya, Naya membuka sedikit pintu kamar mandi.
“Pak Arka...?” panggilnya pelan.
Arka yang sedang memeriksa tablet kerjanya di tepi tempat tidur mendongak.
“Ya?”
“Bisa... bisa minta tolong sebentar? Kancing gaunnya tidak bisa saya lepas sendiri.”
Arka meletakkan tabletnya. Tanpa bersuara, ia bangkit dan melangkah mendekati Naya.
Naya berbalik membelakangi Arka, menyingkap rambut panjangnya yang sudah terlepas dari sanggul ke samping bahu.
Keheningan kembali menyergap. Naya bisa merasakan kehangatan tubuh Arka yang berdiri sangat dekat di belakangnya. Jemari panjang pria itu mulai menyentuh kancing mutiara pertama di bagian atas punggungnya.
Kulit jari Arka yang hangat dan sedikit kasar menyentuh kulit punggung Naya secara tak sengaja, mengirimkan sensasi desiran halus yang membuat Naya menahan napas. Gaun itu perlahan terbuka, mengeposkan garis punggung Naya yang mulus.
Arka melepas kancing terakhir dengan gerakan tenang dan berjarak, menjaga profesionalitasnya.
“Sudah,” kata Arka pelan, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
“Te-terima kasih, Pak,” bisik Naya tanpa berani berbalik. Ia segera menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
Di dalam kamar mandi, Naya menyandarkan dahinya di pintu. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat berada di panggung resepsi tadi. Ia membilas wajahnya dengan air dingin, berusaha menetralkan gejolak emosi aneh di dadanya.
Lima belas menit kemudian, Naya keluar dari kamar mandi dengan piyama sutra longgar berwarna krem. Arka sudah mengganti pakaiannya dengan kaus hitam santai dan celana panjang kain. Pria itu sedang berdiri di dekat jendela kaca, menatap garis cakrawala malam.
Naya berdiri kikuk di dekat tepi tempat tidur yang dipenuhi kelopak mawar.
“Pak Arka... untuk tidur...”
Arka berbalik, menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tidak lagi setajam saat di depan media, melainkan lebih tenang.
“Kamu tidur di tempat tidur,” potong Arka seakan bisa membaca pikiran Naya yang kebingungan. “Saya akan tidur di sofa.”
Naya tertegun. Tempat tidur itu sangat besar, cukup untuk tiga orang sekalipun, dan sofa di sudut ruangan, meski mewah, jelas kurang nyaman untuk postur tubuh Arka yang tinggi tegap.
“Tapi Pak, kasurnya sangat luas. Kalau Bapak mau, kita bisa—” Naya mendadak menghentikan kalimatnya, menyadari betapa salahnya nada kalimat itu. Pipinya memerah seketika.
Arka menyunggingkan senyum tipis, senyum tipis pertama yang terlihat tulus, bukan senyuman formal untuk kamera.
“Jangan memancing, Naya. Saya masih pria normal,” ujar Arka dengan nada bergurat humor dingin. “Tidur dan istirahatlah. Hari ini berat untukmu.”
Arka mengambil satu bantal dan selimut cadangan dari dalam lemari, lalu berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan. Ia mematikan lampu utama melalui panel sentuh di dinding, menyisakan lampu tidur temaram yang menyinari ruangan.
Naya naik ke atas tempat tidur empuk itu, menyibakkan kelopak-kelopak mawar ke samping. Ia menarik selimut hingga ke dada, menatap sosok Arka yang kini berbaring membelakanginya di sofa.
“Pak Arka?” panggil Naya lirih di dalam kegelapan remang.
“Hm?”
“Terima kasih... untuk pengobatan Ibu. Dan untuk hari ini.”
Hening sejenak, sebelum suara rendah Arka membalas dari kegelapan.
“Tidurlah, Naya. Besok hidupmu yang sebenarnya di rumah Dirgantara baru saja dimulai.”
Naya memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah akhirnya mengambil alih tubuhnya. Di balik kemewahan sangkar emas ini, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sedikit kehangatan di tengah dinginnya takdir yang ia pilih.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak