"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'Perhatian Kecil' Rendy 27.
Jarum jam di dinding ruang OSIS sudah menunjuk angka sembilan malam.
Aroma gabungan antara kertas fotokopi, kopi instan yang mulai dingin, dan sisa AC yang terlalu menusuk membuat atmosfer ruangan terasa pekat.
Di luar, hujan gerimis mulai membasahi lapangan SMA Veteran, menyisakan suara ketukan air yang konstan pada kaca jendela.
Nawang memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku.
Matanya perih akibat menatap baris-baris angka di layar laptop selama empat jam terakhir. Proposal "Veteran Youth Festival" sudah di tahap finalisasi, namun kolom anggaran untuk perizinan kepolisian dan sewa barikade masih menyisakan selisih beberapa ratus ribu rupiah.
"Tinggal dikit lagi, Wang. Jangan tumbang dulu," suara Rendy terdengar berat dan serak.
Ketua OSIS itu duduk di lantai, bersandar pada lemari arsip dengan tumpukan dokumen hardcopy di pangkuannya.
Kemeja putihnya sudah tidak lagi rapi.
Dua kancing teratasnya terbuka, dan dasi OSIS-nya sudah tergeletak entah di mana.
Namun, fokus di matanya sama sekali belum pudar.
Nawang mengembuskan napas panjang. "Gue gak tumbang, Ren. Cuma... ini vendor barikade kenapa bisa naikin harga sepihak sih? Angka di nota kesepakatan awal sama tagihan drafnya beda lima ratus ribu. Kalau sekertaris lo lihat besok pagi, dia pasti ngamuk."
Rendy meletakkan dokumennya, lalu berdiri memanjangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dia berjalan mendekati meja Nawang, membungkuk sedikit untuk melihat baris angka yang dimaksud.
"Mereka masukin biaya bongkar pasang pasca-acara secara terpisah," kata Rendy, jarinya menunjuk ke sudut kanan bawah layar. "Vendor nakal biasanya emang main di celah itu. Besok biar gue yang telepon manajernya. Lu gak usah pusingin bagian ini. Masukin aja angka awalnya."
Nawang mendongak, menatap Rendy dari samping. Profil wajah cowok itu terlihat tajam di bawah pendar lampu neon yang mulai berkedip. "Emang bisa didebat?"
"Bisa. Kontrak awal itu hukumnya mutlak. Kalau mereka macam-macam, gue putus kontrak dan kita pindah ke vendor langganan bokapnya Gita. Mereka tahu kita punya posisi tawar," jawab Rendy tenang, penuh kalkulasi yang rasional. Dia kemudian menegakkan tubuhnya, menyadari Nawang yang sedikit menggigil saat embusan angin malam menerobos masuk dari celah jendela yang agak renggang.
Tanpa berkata apa-apa, Rendy melangkah ke kursinya sendiri. Dia mengambil jaket parka hitam berlogo OSIS miliknya yang tergantung di sandaran kursi.
Rendy kembali ke meja Nawang. Dengan gerakan yang sangat kasual—hampir tanpa beban—dia menyampirkan jaket tebal itu ke atas bahu Nawang.
Nawang sempat tersentak kecil. Kehangatan kain jaket itu langsung membalut tubuhnya, membawa serta aroma khas Rendy yang entah kenapa terasa menenangkan.
"Ren, lu gak kedinginan?" tanya Nawang, tangannya refleks memegang kerah jaket tersebut.
"Gue pakai kaus dalam. Aman," sahut Rendy singkat. Dia menarik kursi kosong di sebelah Nawang dan duduk di sana. "Lagian, kalau lu sakit besok, kerjaan divisi acara bakal mandek. Gue gak mau rugi."
Nawang mendengus pelan, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Dasar kapitalis OSIS. Perhatiannya selalu dibalut untung rugi."
Rendy terkekeh, suara tawa rendah yang jarang dia perlihatkan di depan umum. "Itu namanya manajemen risiko, Wang. Tapi... ya, anggap aja itu ucapan terima kasih karena lu mau bertahan sampai jam segini."
Perhatiannya cair melalui tindakan yang nyata.
Rendy tahu Nawang butuh kehangatan saat ini, maka dia memberikan jaketnya. Dia tahu Nawang lelah menghadapi angka saat ini, maka dia mengambil alih tanggung jawab negosiasi besok hari. Rendy tahu Nawang butuh kesibukan untuk menangkal kesedihannya, maka dia membuat Nawang sibuk agar kesedihan itu 'lupa'
Nawang kembali mengetik, memasukkan koreksi anggaran sesuai arahan Rendy.
Keheningan kembali merayap, namun kali ini tidak terasa canggung atau menekan. Ada kenyamanan baru yang terbangun di antara ketukan keyboard dan suara hujan di luar.
"Lu emang selalu se-terstruktur ini ya, Ren?" tanya Nawang memecah kesunyian, matanya tetap tertuju pada layar. "Maksud gue... lu kayak punya rencana buat segala hal. Gak pernah kelihatan panik."
Rendy terdiam sejenak. Dia melipat tangannya di dada, menyandarkan punggung ke kursi. "Panik itu gak menyelesaikan masalah, Wang. Di OSIS, atau bahkan di hidup, kalau lu nunjukin celah sedikit aja, orang bakal pakai itu buat ngejatuhin lu. Gue cuma terbiasa memetakan kemungkinan terburuk."
Nawang menghentikan ketikannya. Dia menoleh penuh ke arah Rendy. "Kedengarannya capek banget. Harus selalu kelihatan kuat di depan semua orang."
Rendy menatap balik Nawang. Untuk pertama kalinya, Nawang melihat ada kilat kerapuhan yang sangat tipis di mata cowok dingin itu. Rendy menatapnya bukan sebagai ketua OSIS kepada staff magangnya saat ini, melainkan sebagai seorang remaja laki-laki yang juga memiliki batas lelah.
"Capek, pasti," aku Rendy pelan. Suaranya turun satu oktav. "Makanya, punya partner yang bisa diajak mikir selevel kayak lu... itu lumayan ngurangin beban di kepala gue."
Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik. Ada ketegangan emosional yang mendalam namun dewasa yang mendadak melingkupi mereka.
Nawang bisa merasakan detak jantungnya sedikit berakselerasi. Ini bukan jenis debaran yang sama seperti saat dia bersama Timy—yang penuh drama dan validasi sepihak dari Naya.
Bersama Rendy, debaran itu muncul dari rasa dihargai yang teramat sangat sebagai seorang manusia utuh.
Rendy memalingkan wajahnya lebih dulu, berdeham pelan untuk menetralkan suasana. "Udah jam setengah sepuluh. Selesaiin bab terakhir, habis itu kita pulang. Gue gak mau dikira nyulik anak orang."
"Tinggal klik save, Kapten," ujar Nawang, menyembunyikan senyumnya di balik kerah jaket parka Rendy yang besar. Dia menekan tombol kombinasi di keyboard.
Bunyi klik pelan menandakan draf proposal festival terbesar SMA Veteran tahun ini akhirnya rampung.
Saat Nawang mulai merapikan barang-barangnya ke dalam tas, Rendy sudah berdiri di dekat pintu, memegang kunci ruangan dengan sabar.
Nawang bermaksud melepas jaket parka di bahu nya, namun Rendy menahannya dengan isyarat tangan.
"Pakai aja sampai parkiran. Di luar masih gerimis," kata Rendy.
Nawang tidak membantah. Dia merapatkan jaket itu ke tubuhnya, berjalan beriringan dengan Rendy menyusuri koridor sekolah yang gelap gulita. Langkah kaki mereka menggema beraturan di lantai tegel.
Malam itu, di bawah rintik gerimis dan pelukan jaket yang hangat, Nawang menyadari sesuatu yang mendasar.
Patah hati kemarin mungkin telah menghancurkan dunianya, namun berada di ruangan yang sama dengan Rendy, menyusun masa depan untuk sekolah mereka, perlahan-lahan menyatukan kembali kepingan dirinya yang sempat hilang. Mereka bergerak maju, bukan dengan janji-janji kosong, melainkan dengan langkah-langkah nyata yang masuk di akal.
......................
...****************...
Tbc,