Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Alya
Hannah akhirnya tiba di studio. Namun, bukan itu tujuan utamanya hari ini. Ia datang untuk menemui seseorang di Coffee Aroma Waktu.
Arif yang melihat kedatangannya segera menghampiri.
"Bagaimana kabarmu? Sudah baikan?" tanyanya cemas.
Hannah menatap Arif sejenak. Sorot matanya seolah mempertanyakan maksud di balik pertanyaan itu.
"Oh, aku dengar dari Riri kalau kamu sempat sakit," jelas Arif, seakan memahami kebingungannya.
Padahal, Arif tahu ada sesuatu yang sedang membebani pikiran Hannah. Tentu saja, ia mendapat kabar lebih banyak dari Farah, adiknya.
"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik," jawab Hannah sambil melangkah masuk ke Coffee Aroma Waktu.
"Kamu tidak membuka studio hari ini?"
"Tidak. Aku ada janji bertemu seseorang."
"Oh, begitu. Mau aku siapkan minuman seperti biasa?"
"Tidak usah. Nanti saja."
Arif mengangguk.
Hannah kemudian duduk di kursi yang biasa ditempatinya. Setelah memperhatikan sekeliling, ia baru menyadari bahwa suasana Coffee Aroma Waktu cukup sepi.
"Kamu sendiri?" tanyanya.
"Fuad sedang ke kamar mandi. Sementara satu lagi tidak masuk karena sakit," jelas Arif seraya duduk di hadapannya.
"Bagaimana rencana pemotretannya?" tanya Arif kemudian.
Hannah mengembuskan napas pelan.
"Entahlah. Aku bahkan belum tahu apakah masih sanggup melanjutkannya atau tidak."
"Ada masalah?"
Hannah tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, membuat Arif mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Sepertinya, perempuan itu memang belum siap menceritakan apa yang sedang terjadi.
Tak lama kemudian, seseorang yang mereka tunggu akhirnya datang.
Seorang perempuan muda dengan rambut hitam panjang bergelombang melangkah mendekat. Senyum manis terukir di wajahnya.
"Assalamu'alaikum, Han."
"Wa'alaikumussalam," jawab Hannah.
Arif segera berdiri.
"Hendak memesan apa?" tanyanya ramah.
"Sama dengan Hannah saja." Jawab perempuan itu.
"Baik. Seperti biasa, Han?" Arif menoleh kepada Hannah.
Hannah mengangguk. Arif pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Riri sebentar lagi datang," ujar Hannah.
Perempuan itu menarik kursi, lalu duduk di hadapan Hannah.
"Riri masih berhubungan baik denganmu, ya. Kalian memang seperti sahabat yang tidak bisa dipisahkan."
Ia menggelengkan kepala, seolah masih takjub melihat kedekatan keduanya.
Hannah hanya tersenyum tipis di balik cadarnya.
"Atau karena Riri tidak menyaksikan kejadian malam itu?"
Senyum Hannah perlahan menghilang.
"Aku ingin kita bicara baik-baik, Al. Biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin kamu terus memancing emosiku," ucap Hannah tegas.
Alya terdiam sejenak.
"Baiklah. Maaf."
Belum sempat percakapan berlanjut, seseorang datang menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum."
Riri akhirnya tiba.
"Wa'alaikumussalam," jawab Hannah dan Alya hampir bersamaan.
Arif datang membawa pesanan mereka. Ia meletakkan minuman di atas meja, lalu menoleh kepada Riri.
"Mau minum apa, Ri?"
"Seperti biasa saja Rif."
"Oke."
Arif kemudian meninggalkan mereka bertiga.
Hannah menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Aku langsung ke inti pembicaraan saja."
"Aku sebenarnya tidak ingin memaksamu, Han," sela Alya, berusaha menenangkan suasana.
"Kalau begitu, jangan paksa aku, Al."
"Aku tidak bermaksud memaksamu. Aku hanya penasaran."
"Tapi kamu terus saja mengusik Hannah, Al." Kali ini Riri ikut bicara. Nada suaranya terdengar kesal.
Alya menunduk.
"Maaf, Han. Bukan maksudku membuatmu tidak nyaman."
"Jadi, apa sebenarnya yang ingin kamu ketahui?" tanya Hannah.
Alya menghela napas.
"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Bagaimanapun, aku yang membawamu ke sana."
Riri menggeleng pelan.
"Al, justru kalau kamu merasa bertanggung jawab karena sudah membawa Hannah ke tempat itu, seharusnya kamu bisa memahami keadaannya. Tidak semua hal harus dibicarakan kembali. Apalagi kalau itu hanya akan membuka luka yang susah payah dia coba sembuhkan."
Alya terdiam. Kali ini ia tidak berusaha membantah.
Hannah menatapnya cukup lama sebelum kembali bersuara.
"Al, kita masih berteman, bukan?"
"Tentu," jawab Alya mantap.
"Kalau begitu, aku minta satu hal. Jangan pernah lagi membahas malam kelulusan kita. Bagiku, itu bukan kenangan indah. Ada hal-hal yang ingin sekali aku lupakan dari malam itu."
Suara Hannah terdengar tenang, tetapi ada ketegasan yang sulit dibantah di dalamnya.
"Aku ingin pekerjaan ini berjalan lancar. Aku juga ingin hubungan kita tetap baik. Namun, pertanyaan-pertanyaanmu tentang masa lalu benar-benar mengusikku."
Alya mengangguk pelan.
"Baiklah. Aku mengerti. Sekali lagi, maafkan aku, Han."
Hening sejenak.
"Boleh aku bertanya satu hal lagi?" pinta Alya.
Hannah mengangguk kecil.
"Kamu sudah mengenal Faz sebelum bekerja dengannya?"
Hannah kembali mengangguk.
"Baiklah. Cukup itu saja."
Hannah menatapnya.
"Kamu tidak akan menceritakan hal ini kepada Faz, kan?"
Alya menggeleng.
"Aku tidak sejahat itu, Han. Aku tahu ini bukan sesuatu yang boleh kuceritakan kepada orang lain."
Hannah mengangguk. Setidaknya, ia berharap Alya benar-benar memegang ucapannya.
Setelah itu, mereka berbincang tentang beberapa hal lain. Percakapan berlangsung lebih santai, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan kecanggungan yang sempat hadir di antara mereka.
Tak lama kemudian, Alya berpamitan.
"Alhamdulillah, satu urusan akhirnya terselesaikan," ucap Riri lega setelah Alya pergi.
Hannah tersenyum tipis.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Pertemuan dengan Alya memang telah menyelesaikan satu persoalan, tetapi bukan berarti semua masalahnya ikut berakhir.
Terlebih, masih ada satu nama yang belum mampu ia hadapi dengan tenang.
Faz.
Dan Hannah belum tahu sampai kapan ia harus terus menghindar dari kenyataan yang semakin mendekat itu.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊