Menjadi wanita single parent untuk anak laki-laki yang ditemukan di depan kosnya saat kuliah dulu membuat Hanum dijauhi oleh orang-orang terdekatnya bahkan keluarganya karena mereka mengira jika anak itu adalah anak Hanum dari hasil perbuatan di luar nikah.
Hanum hanyalah sosok figuran bagi orang di sekitarnya. Terlihat namun diabaikan begitu saja oleh mereka. Walau begitu Hanum tak mempermasalahkannya karena menurutnya cukup ada anak laki-laki itu di hidupnya itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Menjadi sosok figuran ternyata terus berlanjut di hidup Hanum saat ia memutuskan menerima permintaan menikah dengan seorang pria anak dari Dekan fakultasnya yang telah membantunya menyelesaikan studynya saat kuliah dulu.
"Bagaimana bisa Mama memintaku menikahi wanita beranak satu itu?!" Pertanyaan berupa hinaan itu terdengar oleh telinga Hanum dari pria yang berstatus sebagai calon suaminya.
Kehidupan rumah tangga yang ia harapkan dapat bahagia ternyata justru sebaliknya karena pria yang telah menjadi suaminya itu hanya menganggapnya sosok figuran yang hanya terlihat tapi tidak dianggap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia tidak akan pergi
Bu Shanty tersenyum lega mendengarkan jawaban dari Dio. Ternyata Dio sudah mempersiapkan sekolah untuk Divan tanpa ia perintahkan lebih dulu. Bu Shanty pun dapat menebak jika Dio memasukkan Divan bersekolah di yayasan milik keluarga Daniel yang berarti nantinya Divan akan satu sekolah dengan Zeline putri kecil Daniel.
Melihat senyuman merekah di wajah mamanya entah mengapa membuat Dio merasa sedikit senang karena akhirnya Mamanya itu tersenyum karena bangga pada dirinya bukan tersenyum karena ia mau mengikuti perkataan mamanya.
Tuan Mahesa dan Digo yang duduk di kursi depan pun turut tersenyum karena Dio mau mempersiapkan sekolah untuk Divan setelah berada di ibu kota nanti.
Tanpa terasa kini mobil yang dikendarai Tuan Mahesa telah sampai di depan kediaman Nenek Eno. Dio segera turun dari dalam mobil diikuti Tuan Mahesa, Bu Shanty dan Digo setelahnya.
Di depan rumah Nenek Eno nampak sudah berdiri di sana sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya calon pengantin datang juga." Ucap Nenek Eno pada Dio.
Dio hanya tersenyum kecut membalasnya lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang Nenek Eno.
"Apa kita mau berangkat nanti sore?" Tanya Nenek Eno pada anak dan menantunya.
"Iya, Ma. Kita langsung berangkat saja nanti sore agar tidak mengundur waktu lebih lama." Jawab Bu Shanty sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang ayo masuk dulu biarkan Dio dan Digo memasukkan barang-barang Mama lebih dulu ke dalam mobil." Ucap Nenek Eno.
Bu Shanty mengangguk mengiyakannya diikuti oleh Tuan Mahesa.
*
Keesokan harinya, Dio dan keluarganya telah tiba di kediaman Bu Shanty dan Tuan Mahesa yang ada di kota Bandung. Dio yang merasa bosan berada di rumah kediaman orang tuanya memilih pergi dari rumah untuk menyegarkan pikirannya dengan berjalan-jalan menggunakan mobilnya mengelilingi kota Bandung.
Tentu saja kepergian Dio dari rumah membuat Bu Shanty merasa awas takut-takut jika Dio nantinya kabur dan sulit untuk ditemukan.
"Mama tenang saja, anak itu tidak mungkin kabur. Dia hanya ingin menyegarkan pikirannya. Sebulan ini pemikirannya sudah terlalu suntuk karena permintaan kita." Ucap Tuan Mahesa.
Bu Shanty mengangguk saja mengiyakannya. Mungkin suaminya itu benar jika Dio putranya membutuhkan waktu untuk jalan-jalan agar menyegarkan hati dan pemikirannya.
"Apa Mama mau Digo mengikuti Kakak selama berada di luar?" Tawar Digo yang ternyata sejak tadi mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Tidak perlu. Kau cukup di rumah saja." Jawab Tuan Mahesa.
Digo mengangguk saja walau dalam hatinya saat ini ia sangat menginginkan untuk mengikuti Kakaknya agar bisa keluar dari rumah.
Sementara mobil Dio yang sudah berada di jalan raya kota nampak terus melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Dio menatap ke kiri dan ke kanan untuk melihat pemandangan di luar mobilnya yang mungki menarik untuk ia singgahi.
Sepuluh menit berlalu, Dio nampak memelankan laju mobilnya saat melihat sosok wanita yang sangat dikenalinya tengah duduk bersama seorang anak laki-laki di sebuah taman yang berada tidak jauh dari jalan yang sedang ia lalui.
"Sedang apa mereka di sana?" Tanya Dio pada dirinya sendir. "Ck. Tentu saja mereka sedang bermain di sana." Jawab Dio kemudian merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri.
Dio pun memilih memarkirkan mobilnya tidak jauh dari wanita itu berada karena ia merasa tertarik dengan apa yang wanita itu lakukan saat ini.
***
Kalau Cita harus diwaspadai lho Richard kau nanti terjebak ranjaunya Cita
memang selayaknya begitu kamu sedang hamil jadi hatimu damai semoga putrimu kelak mempunyai pribadi sebaik dirimu.