NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - CATATAN ASAL

Pagi setelah Bai berangkat, Lin tiba di toko dengan kepala masih dipenuhi bunyi roda gerobak yang menjauh. Ia membuka catatan dua kolom sebelum Mo datang dari ruang belakang. Di bawah keterangan tentang daun sisik hujan, ia menulis satu pertanyaan: “Ciri apa yang membedakan daun lereng dari daun lembah setelah dikeringkan?”

Ia belum sempat memikirkan jawabannya ketika Mo meletakkan keranjang kecil di meja.

“Ini sisa kiriman dari pemasok utara. Pisahkan yang masih layak dari yang berubah karena lembap. Jangan menimbang sebelum kau memeriksa pembungkusnya.”

Lin membuka simpul tali. Bau daun kering bercampur aroma tanah lembap. Sebagian daun masih utuh, sementara beberapa helai menggulung dan melekat satu sama lain. Ia menyentuh sisi luar bundel, lalu mencatat bahwa kain pembungkusnya dingin dan sedikit basah.

“Daun sisik hujan?” tanyanya.

“Begitu nama yang mereka tulis.”

Lin menahan tangan sebelum mengambil daun paling atas. “Apa ada catatan asalnya?”

“Tidak pada keranjang ini.” Mo menaruh buku inventaris di dekatnya. “Itulah sebabnya kita perlu memeriksanya, bukan menebak.”

Mereka memindahkan isi keranjang ke nampan. Mo meminta Lin memisahkan daun yang hancur, yang berubah warna, dan yang hanya menggulung karena tertekan. Lin bekerja perlahan. Ia menemukan tiga jenis bentuk: helai tipis dengan tepi bergerigi, helai lebar yang masih hijau kelabu, dan beberapa potong batang yang tak dapat ia cocokkan dengan apa pun.

“Yang mana dari lereng?” tanya Lin.

“Kalau aku tahu, aku tidak akan menyuruhmu memeriksa.”

Lin menghela napas dan menulis tiga kelompok sementara, tanpa memberi nama. Ia mencatat warna, tepi daun, keadaan batang, serta kelembapan kain. Setelah itu, Mo menunjukkan bekas tulisan samar pada secarik label yang hampir sobek. Hanya dua kata yang masih terbaca: “utara” dan “hujan”.

“Berarti dari lereng utara?”

“Bisa berarti begitu. Bisa juga nama tempat pengumpulannya. Label ini tidak cukup untuk memastikan.”

Lin menggarisbawahi bagian itu di catatan toko. Kali ini ia menulis “label rusak; asal belum pasti”, bukan sekadar “utara”. Mo mengangguk tipis, lalu menyuruhnya menjemur kain pembungkus, bukan daunnya, agar mereka dapat melihat apakah perubahan bentuk berasal dari air yang terserap.

Menjelang tengah pagi, seorang pemuda kurus membawa keranjang baru ke toko. Umurnya mungkin belum dua puluh. Bajunya berdebu dan kedua tangannya memiliki noda tanah sampai ke kuku.

“Paman Mo, aku membawa sisik hujan,” katanya. “Dari jalur sungai. Baru dipetik dua hari lalu.”

Mo tidak langsung melihat keranjang. “Siapa yang memetik?”

“Aku dan kakakku.”

“Di bagian mana?”

“Lereng utara. Dekat aliran yang melewati batu putih.” Pemuda itu membuka tutup keranjang. “Semua daun ini sama. Aku butuh uangnya hari ini.”

Lin memandang isi keranjang, lalu membandingkannya dengan kelompok pertama yang ia pisahkan. Sebagian helai serupa, tetapi yang lain lebih lebar dan memiliki garis pucat di tengah. Ia tidak tahu apakah itu variasi alami, tanaman berbeda, atau pengaruh cara pengeringan.

“Berapa lama daunnya berada dalam keranjang?” tanya Lin.

“Dari kemarin sore.”

“Apakah keranjangnya tertutup sepanjang perjalanan?”

Pemuda itu mengerutkan kening. “Aku membawanya dari pagi. Kenapa?”

“Bagian bawahnya terasa lembap. Mungkin karena embun atau karena daunnya masih basah saat dimasukkan.”

“Aku tidak punya waktu menunggu sampai kering.” Pemuda itu memandang Mo. “Kalau tidak mau membeli, bilang saja.”

Mo masih diam. Ia memberi Lin isyarat untuk melanjutkan pemeriksaan.

Lin merasa wajahnya memanas. Ia tidak ingin mempermalukan pemuda itu, tetapi ia juga tak bisa menyatakan seluruh keranjang sebagai barang yang sama hanya karena satu nama. “Kami belum bisa menentukan harga sebelum memisahkan jenis dan memeriksa kondisinya. Kalau Anda perlu uang hari ini, kami bisa timbang bagian yang kondisinya dapat diperiksa. Sisanya mungkin tidak diterima.”

Pemuda itu menatapnya tajam. “Kau bahkan tidak tahu nama tanaman yang kau lihat.”

“Benar. Itu sebabnya saya belum memberi harga.”

Hening sebentar. Mo mengambil segenggam daun dari keranjang, memeriksa permukaan dan batangnya, lalu meletakkannya kembali. “Kau bilang dipetik di lereng utara. Bisa tunjukkan tempatnya di peta?”

Pemuda itu menjelaskan jalur yang ditempuh. Ia tidak membawa peta, tetapi dapat menyebut sungai dan batu putih sebagai patokan. Mo bertanya apakah ada orang lain yang bisa memastikan lokasi tersebut. Pemuda itu menjawab bahwa kakaknya dapat datang sore nanti.

“Bawa kakakmu dan jelaskan bagian mana yang dipetik bersama,” kata Mo. “Kita tidak akan membeli keranjang bercampur tanpa pemeriksaan. Untuk bagian yang rusak, aku tidak bisa membayar harga daun utuh.”

Pemuda itu masih tampak kesal, tetapi akhirnya setuju membawa sebagian kecil sampel yang kering keesokan hari. Ia mengangkat keranjangnya kembali.

Sebelum pergi, ia menoleh kepada Lin. “Kalau semua pedagang menunggu bukti, orang kecil seperti kami tidak bisa menjual apa-apa.”

Lin ingin menjawab bahwa catatan dan cerita asal juga punya nilai. Namun ia tak menemukan kata yang terdengar adil. Pemuda itu membutuhkan uang segera, sedangkan toko harus bertanggung jawab atas bahan yang dijual. Keduanya memiliki alasan, dan tidak satu pun membuat masalah itu hilang.

Setelah pemuda itu pergi, Lin menunduk pada keranjang sisa dari pemasok utara. “Saya membuatnya marah.”

“Tidak semua orang akan senang saat diminta menjelaskan barangnya.” Mo memeriksa catatan Lin. “Tapi kau menawarkan bagian yang bisa diperiksa. Dia yang memilih membawa pulang semuanya.”

“Kalau sampelnya cocok, apa kita akan membeli?”

“Kita akan memeriksa sampelnya. Itu belum sama dengan menerima semua keranjang.”

Lin kembali mencatat. Ia menambahkan bagian baru pada daftar pembelian: nama yang digunakan pemasok, tempat dan waktu petik, siapa yang mengumpulkan, lama penyimpanan, keadaan saat datang, dan bagian yang dipisahkan. Daftar itu terasa lebih panjang daripada yang diperlukan untuk sekadar membeli daun, tetapi Mo menyuruhnya menyimpan halaman tersebut.

“Jangan membuat semua pedagang mengisi formulir seperti kantor kerajaan,” kata Mo. “Gunakan pertanyaan yang perlu saja. Catatan ini untuk mengingat apa yang sudah kita tanyakan.”

“Jadi bukan syarat mutlak.”

“Bukan. Orang bisa lupa tanggal, atau tidak tahu nama lerengnya. Tapi mereka tetap bisa menunjukkan jalan, kondisi daun, atau orang yang memetiknya. Informasi yang berbeda tetap berguna selama kita tahu batasnya.”

Lin memandang catatan itu. Di dalam game, bahan biasanya memiliki nama, kualitas, dan jumlah yang sudah pasti. Pemain tinggal menekan tombol beli. Ia tak pernah bertanya siapa yang memetik atau apakah bahan mengering dalam perjalanan. Kini ia mulai mengerti bahwa kekosongan pada daftar tidak selalu berarti kesalahan. Kadang-kadang itu adalah bagian dari kenyataan yang harus dibiarkan kosong sampai ada bukti.

Menjelang sore, Mo membuka lemari kayu dan mengeluarkan satu kotak tipis. Di dalamnya tersimpan daun-daun lama yang sudah rapuh. Ada beberapa bundel dengan label yang lebih lengkap daripada milik kiriman pagi.

“Ini sampel yang dibeli bertahun-tahun lalu,” katanya. “Sebagian sudah terlalu tua untuk dijual. Kau boleh membandingkan bentuknya dengan keranjang tadi, tapi jangan menganggapnya sebagai standar pasti. Pengeringan dan umur mengubah warna.”

Lin menggunakan penjepit untuk mengangkat dua daun. Ia menaruhnya di samping catatan, bukan di samping stok untuk dijual. Salah satunya memiliki tepi bergerigi seperti kelompok pertama; yang lain lebih lebar. Labelnya menyebut “lereng sungai” dan “lembah timur”, tetapi tak mencantumkan nama ilmiah atau kegunaan.

“Apakah ini jenis yang sama seperti milik Shen?”

“Daun lereng mungkin. Aku tidak membeli langsung dari Shen saat itu.”

“Jadi kita punya tiga sumber keterangan, tapi belum ada contoh baru yang bisa dicocokkan.”

“Sekarang kau mulai melihat apa yang belum kita punya.”

Lin menyalin tulisan pada label tanpa menambah kesimpulan. Ia menaruh daun kembali ke kotak, menutupnya, lalu menulis nomor kecil pada daftar agar ia tahu catatan mana yang merujuk pada kotak sampel.

Sebelum toko tutup, Mo memeriksa hasil pemilahan. Sebagian daun dari keranjang lama masih dapat disimpan setelah kainnya dikeringkan. Beberapa helai yang melekat dan berbau apek harus dibuang. Lin mencatat jumlah yang disisihkan dan alasan pemisahannya.

“Kau tidak menyebutnya daun sisik hujan,” kata Mo.

“Saya menulis ‘kelompok A, bentuk tipis, label rusak’ sampai kita punya alasan yang lebih kuat.”

“Bagus. Besok kau bisa menunjukkan catatan ini kepada pemasok kalau dia datang kembali.”

Mo memberinya satu keping tembaga sebagai upah. Makan malam sederhana sudah disiapkan di belakang toko, jadi Lin menyimpan uang untuk tempat tidur. Ia menyelesaikan satu halaman tambahan pada buku pribadinya sebelum berangkat.

Hari itu ia tidak mengetahui nama sebenarnya tanaman dalam keranjang. Ia juga tidak mengetahui apakah daun dari lereng utara cocok dengan bahan yang pernah dipakai dalam resep game. Namun sekarang ia memiliki cara untuk membandingkan sampel, mencatat asal, dan mengingat siapa yang memberikan setiap keterangan.

Di jalan menuju penginapan, ia memikirkan pemuda yang pergi dengan keranjangnya. Barangkali esok ia akan kembali. Barangkali ia akan menjual daunnya kepada orang lain. Lin tidak punya cara untuk mengendalikan pilihan itu.

Yang bisa ia lakukan adalah memastikan bahwa jika keranjang itu kembali ke toko Mo, mereka tidak perlu memulai pemeriksaan dari nol.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!