Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Beda Tangan Beda Rasa
"Percuma kalau suami yang terus dikekang sama istrinya. Jadi kamu sekarang ikut perkumpulan suami-suami takut istri dong," cibir Mayang.
"Aku gak ada masalah dicap begitu. Aku justru lebih takut kalau gak dikasih jatah ranjang sama Janitra. Bisa-bisa kepalaku pusing tujuh keliling kalau sampai harus puasa dalam tempo lama urusan main teh celup dengannya," balas Kresna sengaja ingin memukul mundur Mayang yang terlihat jelas mendekatinya.
"Kamu pasti paham maksudku. Jangan sampai aku mengulang perkataanku," sambungnya.
Kresna segera masuk ke kamarnya tanpa menunggu Mayang berbicara kembali.
Sejak kemarin ia melihat perubahan sikap Janitra hingga membuat dada_nya sesak dan merasa bersalah karena istrinya itu jatuh sakit, Kresna berusaha membatasi diri dengan Mayang.
"Dasar menyebalkan!" batin Mayang kesal.
Beberapa saat kemudian di dalam kamar, Kresna melakukan panggilan ke Panca karena teringat sesuatu yang penting.
"Halo, Ca. Gimana permintaanku kemarin? Apa sudah kamu dapat?" tanya Kresna.
"Sudah, Gusti. Saya kirim filenya ke email Gusti,"
"Oke. Nanti aku buka," jawab Kresna. "Apa benar Mayang melakukannya seperti kata Janitra?" imbuhnya.
"Benar, Gusti. Resepsionis kantor hari itu memang menerima telepon masuk dari Gusti Janitra. Lalu terhubung ke ruangan Gusti. Pesan di ponsel Gusti setelah saya cek, benar sudah dihapus Mbak Mayang. Gusti Janitra berkata jujur," jelas Panca.
Kresna memejamkan kedua matanya sejenak. Ia menghela nafas beratnya. Sungguh, ia merasa bersalah pada Janitra karena telah berburuk sangka. Bahkan ia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati istrinya itu.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf," batin Kresna.
Detik selanjutnya, kedua mata Kresna pun terbuka.
"Makasih, Ca."
"Untuk air rendaman dan wedang kayu manis sudah disiapkan sama pihak hotel di kamar mandi. Semua menggunakan ramuan yang diberikan Gusti Kanjeng Ayu tadi pagi sebelum kita berangkat," ucap Panca.
"Hem,"
☘️☘️
Kresna segera berjalan masuk ke kamar mandi dan melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya hingga polos.
Kali ini Kresna memilih untuk masuk ke bathtub terlebih dahulu. Biasanya ia sering minum wedang dulu ketimbang berendam. Namun saat ini, entah mengapa tubuhnya seakan ingin masuk ke dalam air rendaman.
Setelah lima menit berendam, Kresna merasakan sesuatu yang berbeda.
"Kenapa kali ini beda lagi rasanya? Apa ibu atau abdi dalem salah racikan dari resep Janitra?" batin Kresna.
Ia tetap mencoba berendam hingga durasi lima belas menit. Namun, masih tetap. Tubuhnya seakan tidak rileks seperti biasanya. Seakan ada sesuatu yang kurang.
Kresna memilih untuk bangkit. Lalu, ia membilas sebentar tubuhnya dengan shower. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dalam kondisi memakai jubah.
Tangan Kresna segera mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang. Detik selanjutnya, ia menghubungi sang ibu.
"Semoga ibu masih belum tidur," gumam Kresna.
Tak butuh waktu lama, telepon Kresna pun diangkat oleh Bu Ayu.
"Ada apa Ngger malam-malam telepon ibu?" sapa Bu Ayu secara to the point dengan suara terdengar mengantuk.
"Maaf kalau aku ganggu waktu tidur ibu dan rama. Aku cuma mau tanya. Kok aku coba berendam air kembang dan rempah-rempah resep dari Janitra kenapa beda rasanya?" tanya Kresna.
"Maksudmu?"
"Ya rasanya beda saja. Tubuhku jadinya kurang rileks kayak biasanya setelah berendam. Kata Panca, ramuan itu tadi yang berikan dari ibu pagi-pagi sebelum kita berangkat. Apa isi ramuannya kurang bahan atau salah takar?"
"Ibu bilang juga apa! Seharusnya kamu itu pergi ke luar kota bawa Janitra daripada repot begini kayak bocah!" omel Bu Ayu.
"Aku gak paham, Bu."
"Yang lalu pas awal nikah, kamu juga mengeluh hal yang sama. Sekarang kejadian lagi," jawab Bu Ayu.
"Asal kamu tau, Ngger. Yang lalu kamu nyuruh ibu minta resep racikan rendaman dan wedang kayu manis milik Janitra. Ibu sudah coba, tapi ujungnya kamu gak cocok. Akhirnya tanpa kamu tau, ya setiap malam ibu suruh saja Janitra yang bikin itu semua dari tangannya langsung. Jadi bukan abdi dalem yang ngerjakan, tapi Janitra langsung."
"Maksud ibu, setiap malam sebelum saya pulang kerja, Janitra sendiri yang menyiapkan semua itu di dalam kamar?"
"Betul, Ngger. Buktinya kamu gak pernah protes lagi kan perkara mandi malam di Kasepuhan. Sekarang resepnya sama tapi beda tangan yang kerjakan, ujungnya kamu gak cocok."
"Lain kali omongan ibu tuh didengerin toh. Kalau disuruh bawa istri ya bawaen. Kalau begini, apa Panca bisa handle?" cibir Bu Ayu.
Beda tangan maka beda rasa.
Terkadang resepnya sama, tetapi koki yang masak berbeda, maka rasa makanan yang disajikan cenderung tak bisa sama persis.
Tanpa sepengetahuan Kresna, Janitra setiap hari masuk ke dalam kamar suaminya itu. Wanita itu meracik sendiri ramuan rendaman mandi Kresna dan wedang kayu manis dengan tangannya langsung tanpa bantuan orang lain. Setelah urusannya selesai, Janitra bergegas keluar dari kamar Kresna.
Alhasil Kresna sama sekali tak tau jika Janitra setiap malam masuk ke kamarnya untuk melakukan hal tersebut. Sebab, Kresna yang lalu sempat memberi aturan agar Janitra tidak masuk ke kamarnya tanpa seizin darinya.
Janitra tentu tidak bisa menolak perintah dari Bu Ayu. Akhirnya Janitra melakukannya sebagai wujud bakti seorang istri pada suaminya secara diam-diam.
Kepala Kresna semakin pusing karena tubuhnya masih terasa pegal akibat seharian mengurus bisnis barunya di sini.
"Ya udah, itu urusanmu. Ibu sekarang ngantuk, mau tidur. Jangan ganggu!" tegur Bu Ayu sebelum mengakhiri panggilannya.
Bip...
Panggilan pun selesai.
"Astaga, malam ini beneran aku gak bisa tidur kalau begini!" gerutu Kresna dalam hatinya.
☘️☘️
Satu jam berlalu.
Di depan pintu kamar hotel Kresna, Mayang sudah berdiri sembari memegang sebuah kartu semacam kunci kamar hotel.
"Akhirnya aku bisa dapatin kartu duplikat untuk akses kamar Kresna. Selamat datang Sayangku," batin Mayang seraya tersenyum licik memandang sebuah kartu yang ada di genggaman tangannya.
Ya, Mayang baru saja menyo_gok salah seorang pegawai hotel agar ia mendapat kartu akses kamar Kresna. Berhasil.
Lalu, Mayang melihat penampilannya kembali sebelum masuk ke kamar Kresna. Saat ini Mayang telah menggunakan jubah tidur berwarna pink. Di balik jubah itu, tubuh Mayang terbalut linge_rie sek_si dengan warna senada.
"Kira-kira Kresna masih di kamar mandi atau sudah naik ke atas ranjang ya?" batin Mayang.
"Aku jadi gak sabar pengin rasain gigitan ularnya Kresna. Pasti ukurannya gede dan perka_sa," gumamnya.
Ceklek...
Perlahan derit pintu kamar Kresna didorong dan dibuka oleh Mayang tanpa permisi.
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄