Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Batas Waktu dan Gerbang Algojo Kota Jing'an
Badai Salju Utara dan Ledakan Tiga Elemen di Ibu Kota
Gumpalan salju pertama musim dingin berjatuhan lebat di atas Padang Karang Utara, memutihkan daratan gersang yang baru saja menyaksikan perdamaian tak berdarah. Namun, di tengah badai putih yang membutakan pandangan itu, sesosok penunggang kuda tunggal memacu hewan tunggangannya dengan kecepatan yang teramat gila.
Jenderal Song Qian merapatkan jubah hitamnya yang mulai basah oleh lelehan salju. Kuda perang hitam miliknya mendengus kasar, napasnya memburu membentuk kepulan uap tebal di udara malam. Jarak ratusan mil dari perbatasan utara menuju ibu kota Jing'an membentang bagaikan mimpi buruk yang tak berujung.
Namun, di dalam kepala Song Qian, hanya ada satu bayangan yang memacunya melampaui batas kewarasan fana: Putri Gu Qian, diikat di tiang gantungan Lapangan Algojo saat fajar menyingsing.
"Lebih cepat! Aku mohon, lebih cepatlah!" jerit Song Qian seraya mencambuk pelan paha kudanya.
Naluri fana dan keputusasaannya bergolak hebat. Tiba-tiba, tanpa disadari oleh pikiran fananya, sisa-sisa kebangkitan Tiga Elemen Semesta yang mendadak muncul di Lembah Tengkorak kembali bereaksi. Pendar tipis cahaya keemasan dari Petir Surgawi menjalar keluar dari pori-pori kulit Song Qian, merambat menyusuri bulu-bulu kuda hitamnya.
Dalam sekejap mata, kuda fana itu mendadak memancarkan pendar keemasan redup. Kelelahan fisik hewan tersebut menguap sirna, dan laju kakinya melonjak tiga kali lipat melampaui kecepatan hewan normal mana pun, melesat bagaikan bayangan kilat membelah malam menuju selatan!
Sementara itu, di ibu kota Kota Jing'an...
Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun langit timur telah memancarkan semburat kelabu kemerahan yang muram. Hujan gerimis tipis kembali turun membasahi alun-alun batu Lapangan Algojo yang terletak tepat di luar gerbang utama istana.
Suasana di lapangan tersebut begitu mencekam. Ratusan prajurit Pengawal Zirah Hitam berdiri mengelilingi panggung kayu raksasa tempat berdirinya tiang gantungan yang basah oleh air hujan. Di sisi kanan panggung, duduk Menteri Perang Zhao Biao di bawah tenda kehormatan, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat licik sambil meminum teh hangatnya.
Di tengah-tengah panggung kayu tersebut, berdirilah Putri Gu Qian.
Tubuh mungil sang putri terikat kuat pada tiang gantungan dengan tali tambang kasar yang melilit lehernya. Jubah hitam milik Song Qian, satu-satunya sumber kehangatan dan kekuatan batinnya, telah dirampas paksa oleh para prajurit saat ia diseret keluar dari penjara.
Kini, ia hanya berbalut gaun sutra putih tipis yang basah kuyup dan ternoda oleh kotoran lantai penjara. Wajahnya amat pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat menahan hawa dingin yang menusuk tulang.
Namun, meskipun ia diperlakukan bagaikan penjahat paling hina, sepasang mata bening milik Putri Gu Qian sama sekali tidak memancarkan ketakutan akan kematian. Pandangannya tetap tegap, sedingin dan seanggun Mahadewa yang terlelap di dalam jiwanya.
Menteri Zhao Biao berdiri perlahan, melangkah ke tepi panggung seraya mengangkat gulungan dekrit istana.
"Dengarkan baik-baik, wahai Putri Pembawa Sial!" seru Menteri Zhao dengan suara lantang yang memecah keheningan fajar. "Ibu Suri dan Yang Mulia Raja telah mencabut gelarmu secara resmi! Karena penolakan keras kepalamu untuk dinikahkan dengan Raja Barbarian, dan karena jenderal bodoh Song Qian yang bertaruh nyawa untuk melindungimu tak kunjung kembali, kerajaan menetapkan kalian berdua sebagai pengkhianat negara!"
Menteri Zhao menyeringai culas. "Tiga hari batas waktu yang dijanjikan jenderal sombong itu telah berakhir bersamaan dengan terbitnya fajar pagi ini. Jenderalmu itu pasti sudah menjadi santapan serigala di Lembah Tengkorak! Sebagai gantinya... nyawamu-lah yang akan dipenggal pagi ini untuk menenangkan murka para dewa perang!"
Mendengar nama Song Qian disebut telah tewas, getaran halus meretakkan kebekuan di wajah Putri Gu Qian. Setetes air mata hangat meluncur jatuh dari sudut matanya, bercampur dengan tetesan hujan.
Song Qian... Apakah kau benar-benar telah tiada? rintih jiwa Gu Qian dalam kepedihan fana yang amat dalam. Jika memang takdir kematian yang menunggumu di utara... biarlah nyawaku menyusulmu menyusuri Sungai Kuning pagi ini.
"Algojo! Bersiap!" teriak Menteri Zhao dengan suara membahana.
Sesosok algojo bertubuh raksasa melangkah maju, mengangkat golok besar bergagang cincin yang berkilat mengerikan di bawah cahaya fajar. Ia berdiri tepat di belakang Putri Gu Qian, mengukur jarak sabetan ke leher putih sang putri yang pucat.
"Tunggu aba-abaku!" pekik Menteri Zhao, matanya memancarkan rasa puas luar biasa karena akhirnya berhasil menyingkirkan dua paku berkarat yang selalu menghalangi ambisi politiknya. "Satu... Dua..."
Cahaya matahari pagi perlahan menyembul dari balik awan kelabu.
"TIGA! PANCUNG KEPALANYA!"
Golok raksasa diayunkan tinggi-tinggi membelah udara, meluncur deras mengincar leher Putri Gu Qian! Sang putri memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menyambut rasa sakit fana terakhirnya.
Namun, tepat pada sepersekian detik sebelum mata baja itu menyentuh kulitnya...
BUMMMMMMMMMMMMM!
Sebuah ledakan dahsyat yang tak masuk akal menghancurkan gerbang utama Kota Jing'an hingga serpihan batunya berterbangan ke udara.
Suara gemuruh bagaikan badai petir purba menggelegar memekakkan telinga seluruh penghuni Lapangan Algojo. Menteri Zhao dan ratusan prajurit terperanjat kaget setengah mati, refleks menoleh ke arah sumber ledakan.
Dari balik kepulan debu tebal dan serpihan gerbang yang hancur, melesat sesosok bayangan penunggang kuda yang dipenuhi pendar kilatan Petir Keemasan yang membutakan mata.
"HENTIKANNNN!"
Jeritan murka yang menggetarkan jiwa meledak dari sosok tersebut.
Sebelum algojo sempat menghentikan ayunan goloknya, sebilah pedang perak melesat terbang bagai meteor cahaya dari arah gerbang, menghantam telak sisi golok sang algojo.
TANGGGGG! CRASH!
Benturan pedang Song Qian mematahkan golok raksasa algojo menjadi dua bagian. Pendar kekuatan fana yang dilapisi percikan Petir Emas itu membuat sang algojo terhempas sejauh sepuluh meter, menabrak tiang kayu panggung hingga pingsan seketika.
Menteri Zhao terhuyung mundur hingga jatuh terduduk di kursinya. "A-Apa?! S-Song Qian?! Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin kau bisa hidup dan berada di sini?!"
Di tengah keheningan yang membeku, kuda perang hitam yang telah kehabisan tenaga itu tersungkur ke tanah. Namun, Song Qian melompat turun dengan tegap. Jubah kelabunya basah kuyup dan penuh lumpur utara, wajahnya memancarkan kelelahan ekstrem, namun sepasang matanya menyala merah oleh amarah murni yang sanggup membakar lautan.
Song Qian berjalan pelan menaiki anak tangga panggung kayu, mengabaikan ratusan tombak Pengawal Zirah Hitam yang bergetar ketakutan menodongnya dari segala arah.
Song Qian melangkah mendekati tiang gantungan. Ia menarik pedang peraknya yang tertancap di kayu, lalu dengan satu tebasan presisi, ia memutus tali tambang kasar yang melilit leher Putri Gu Qian.
Putri Gu Qian yang terkejut hebat mendongak, matanya terbelalak tak percaya. Tubuhnya yang mati rasa oleh hawa dingin kehilangan tumpuan dan ambruk ke depan.
Dengan sigap, Song Qian merengkuh tubuh mungil sang putri ke dalam pelukannya. Ia mendekap Putri Gu Qian erat-erat di dadanya, memancarkan kehangatan tubuhnya yang tersisa untuk mengusir rasa beku dari kulit sang putri.
"Aku kembali, Gu Qian... Aku menepati janjiku," bisik Song Qian dengan suara serak, napasnya memburu menahan emosi yang meluap. "Maafkan aku... maafkan aku membuatmu harus menderita kedinginan di tempat seperti ini."
Putri Gu Qian menangis terisak di dada Song Qian. Tangan mungilnya yang gemetar mencengkeram erat jubah sang jenderal. "Kau masih hidup... Kau kembali, Song Qian..."
Menteri Zhao Biao yang baru tersadar dari syoknya tiba-tiba bangkit berdiri. Rasa malu dan murkanya meledak. Ia menunjuk wajah Song Qian dengan jari gemetar.
"Song Qian! Kau terlambat!" teriak Menteri Zhao dengan suara culas yang memutarbalikkan fakta. "Fajar telah sepenuhnya menyingsing! Tiga hari batas waktu telah berakhir! Kau tidak hanya gagal, tetapi kau juga merusak eksekusi titah istana! Pengawal! Tangkap pengkhianat ini dan pancung dia di tempat!"
Ratusan Pengawal Zirah Hitam ragu-ragu, namun perintah menteri membuat mereka perlahan maju merapatkan barisan tombak.
Song Qian tak melepaskan pelukannya pada Gu Qian. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Menteri Zhao dengan tatapan seolah menatap mayat. Tangan kanannya merogoh ke dalam jubah dadanya yang basah, lalu menarik keluar gulungan kulit domba emas yang berlumuran darah kering.
Dengan satu ayunan keras, Song Qian melemparkan gulungan tersebut tepat ke wajah Menteri Zhao.
"Baca isi gulungan berdarah itu baik-baik, Menteri Zhao!" gertak Song Qian dengan suara berat yang membahana hingga ke pelosok lapangan.
Menteri Zhao menangkap gulungan itu dengan gemetar. Saat ia membukanya, matanya melotot nyaris copot dari rongganya tatkala melihat Stempel Kepala Serigala Agung milik Raja Wu Li tercap sempurna dengan darah merah di bawah deretan kata penyerahan diri.
"P-Perjanjian damai tanpa syarat... dari Suku Barbarian Utara?!" gagap Menteri Zhao dengan wajah seputih mayat. Pikirannya buntu, tak sanggup mencerna bagaimana seorang pemuda fana bisa mendapatkan perjanjian sakral tersebut dalam semalam!
"Surat itu ditandatangani tepat di pertengahan malam sebelum fajar ini terbit!" tegas Song Qian nyaring. "Suku Barbarian Utara telah menyerah tanpa syarat dan tak akan berani menyentuh gerbang Kerajaan Jing selama lima puluh tahun ke depan! Kemenangan mutlak ini kupersembahkan bagi rakyat, bukan bagi para pengecut berbulu sutra di Istana!"
Seluruh prajurit yang tadinya menodongkan tombak seketika menjatuhkan senjata mereka ke tanah. Keajaiban dan kepahlawanan Song Qian telah meluluhkan nyali mereka.
Namun, di tengah kemenangan fana tersebut, Song Qian tidak menyadari bahwa pengorbanan dan letupan Tiga Elemen tak sadar yang dipaksakannya untuk memacu kudanya tadi telah menghabiskan esensi vital tubuh manusianya.
Dada Song Qian mendadak terasa nyeri luar biasa. Pandangan matanya mengabur, dan sebuah rintihan tertahan lolos dari bibirnya.
"Song Qian? Ada apa denganmu?!" jerit Putri Gu Qian panik tatkala merasakan tubuh sang jenderal melemas parah dalam pelukannya.
Bilah pedang di tangan Song Qian terlepas dan jatuh berdenting di atas lantai kayu. Song Qian terbatuk keras, memuntahkan darah fana segar yang membasahi gaun putih Putri Gu Qian. Sisa-sisa racun iblis dari Lembah Tengkorak yang belum sepenuhnya tuntas ditambah kelelahan absolut membuat tubuh fana reinkarnasinya tak sanggup lagi menahan beban jiwanya.
"Gu Qian..." rintih Song Qian pelan seraya tersenyum tipis di tengah pandangannya yang menggelap. "Aku... tidak menyesal sedetik pun... melindungimu..."
Tubuh Jenderal Song Qian ambruk pingsan di pelataran Lapangan Algojo, menyisakan tangisan histeris Putri Gu Qian yang memeluk tubuhnya di bawah gerimis pagi Kota Jing'an.
Jenderal Song Qian sekarat di puncak kemenangannya! Bagaimanakah gejolak kesedihan Putri Gu Qian saat menyadari pria yang paling dicintainya berada di ambang kematian fana?
Dan keajaiban purba seperti apakah yang akan dipicu oleh air mata cinta sejati sang putri yang sanggup merobek sebagian kunci ingatan mereka sebagai Mahadewa Semesta dan Pelindung Tiga Elemen?
Bersambung........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!