NovelToon NovelToon
CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Komedi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.

Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.

Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!

Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah Sang Kapten

Sirine mobil dinas kepolisian meraung-raung membelah gerimis sore di kawasan industri pinggir kota. Bau tanah basah bercampur aroma karat besi pabrik-pabrik tua menusuk hidung saat jip hitam Fikri merapat di garis kuning police line.

Briptu Dimas langsung berlari mendekat seraya memegang payung hitam di atas kepala sang Kapten. "TKP di dalam gudang terbengkalai nomor empat, Kapten. Korban ditemukan oleh penjaga malam sekitar satu jam yang lalu."

Fikri melangkah cepat menembus genangan air hujan. Sepatu larsnya menghentak tegas di atas lantai semen yang dingin. Begitu melintasi pintu seng yang berkarat, pendar lampu sorot tim forensik menerangi sebuah pemandangan yang membuat dada Fikri seketika bergemuruh hebat oleh amarah yang membakar.

Di sudut gudang yang lembap, terbaring tubuh kaku seorang gadis belia dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Pakaian sekolahnya robek tak beraturan, penuh noda tanah dan bercak darah kering. Tim dokter forensik yang sedang mengemas barang bukti menoleh dan memberi hormat singkat pada Fikri.

"Laporan sementara, Dok?" tanya Fikri dengan suara rendah dan dingin. Matanya memicing tajam menatap jasad korban, menahan gejolak di dadanya.

"Korban berusia sekitar delapan belas tahun, Kapten. Ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual yang amat kasar sebelum akhirnya korban dicekik hingga tewas," terang dokter forensik dengan nada prihatin. "Estimasi waktu kematian sekitar enam jam yang lalu. Kami menemukan identitasnya di dalam tas yang terlempar tak jauh dari sini, namanya Aulia, siswi kelas XII dari SMA sebelah."

Delapan belas tahun... Seusia Seruni, batin Fikri.

Dada Fikri serasa dihantam beban berat. Bayangan korban yang malang ini seketika berkelebat menjadi bayangan istri kecilnya di rumah. Betapa rentannya seorang gadis muda di mata para predator jahat yang tak berprikemanusiaan. Gejolak amarah yang mendidih di dalam darahnya bukan lagi sekadar tugas dinas, melainkan sebuah sumpah perlindungan yang membara.

Seruni harus bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak boleh ada satu pun penjahat keparat yang bisa menyentuhnya, ikrar Fikri dalam hati, makin mantap dengan keputusannya untuk melatih Seruni bela diri tanpa ampun.

Fikri berbalik menatap Dimas dengan mata elangnya yang menyala pekat. "Dimas, periksa seluruh kamera CCTV di sepanjang koridor jalan industri ini dari rentang waktu jam sepuluh pagi sampai jam satu siang! Saya tidak mau ada satu pun kendaraan atau pergerakan yang terlewat!"

"Siap, Kapten!" tegas Dimas.

Satu jam berlalu dalam ketegangan. Fikri menyusuri setiap sudut gudang, menyisir bekas jejak sepatu di atas lumpur basah. Dengan ketelitiannya yang luar biasa, mata tajam Fikri menangkap kilatan benda kecil yang terselip di celah tumpukan kayu bekas dekat tempat korban ditemukan.

Menggunakan pinset steril, Fikri mengambil benda tersebut, sebuah kancing kemeja bahan tebal warna cokelat tua dengan guratan goresan unik.

"Tolong periksa bahan ini," perintah Fikri pada tim identifikasi. "Dan periksa sidik jari yang tertinggal di area leher serta pergelangan tangan korban."

Tak sampai tiga jam kemudian, tim bergerak cepat. Di dalam mobil komando, Dimas menyodorkan hasil rekaman CCTV dan data pencocokan sidik jari dari Mabes.

"Kapten! Visual CCTV mengonfirmasi sebuah mobil pikap tua warna hitam melintas keluar dari area gudang pukul setengah satu siang. Plat nomornya sempat tertutup lumpur, tapi sidik jari di leher korban cocok dengan residivis kasus penganiayaan yang baru keluar tiga bulan lalu bernama Burhan!" melapor Dimas seraya menunjukkan foto tersangka di layar tablet.

Dalam foto itu, tampak pria paruh baya berwajah kasar dengan tato naga melingkar di lehernya. Yang membuat napas Fikri makin memburu, dalam rekaman foto identitas kepolisian, Burhan tampak mengenakan kemeja bahan tebal warna cokelat tua, dengan kancing yang persis sama seperti barang bukti di kantong sampelnya!

"Di mana posisinya sekarang?" suara Fikri sangat dingin, menahan gejolak amarah yang mendalam.

"Sinyal ponselnya terdeteksi berada di sebuah dermaga nelayan kecil di pinggiran dermaga timur, Kapten! Tampaknya dia bersiap melarikan diri menggunakan kapal nelayan menuju pulau sebelah!"

"Siapkan Tim Busa! Lakukan penyergapan detik ini juga!" perintah Fikri mutlak.

Gerimis berubah menjadi hujan deras yang mengguyur Pelabuhan Nelayan Timur. Suara deru ombak yang menghantam tiang-tiang kayu dermaga menyamarkan langkah kaki Fikri dan enam anggota tim khususnya. Fikri memegang senapan serbu di dadanya, bergerak cepat dan senyap menembus kegelapan di balik tumpukan peti kemas.

Di ujung dermaga yang remang-remang, terlihat sosok pria berbadan kekar berpakaian serba gelap sedang terburu-buru menyerahkan segepok uang tunai pada seorang juru mudi kapal kayu.

"Jangan bergerak! Polisi!" teriak Fikri menggelegar membelah deru hujan dan ombak!

Juru mudi kapal langsung terperanjat dan melompat ke dalam air, sementara Burhan yang panik merogoh pinggangnya dan mencabut sebilah pisau sangkur yang mengilap!

"Jangan mendekat keparat! Atau saya potong leher kalian!" jerit Burhan histeris, matanya merah liar bagaikan binatang buas yang tersudut.

Tanpa gentar sedikit pun, Fikri menyerahkan senapannya pada Dimas. Sang Kapten justru melangkah maju sendirian dengan dada tegap, menembus air hujan yang membasahi wajahnya. Pendar mata Fikri memancarkan kemarahan seorang suami dan perwira yang tak terampuni.

"Pria pemerkosa dan pembunuh gadis tak berdaya..." pangkas Fikri dengan nada rendah yang menusuk jiwa. "Kamu tidak pantas sebut dirimu manusia."

"Mati kamu!" teriak Burhan seraya menerjang maju, mengayunkan pisau sangkurnya lurus menusuk ke arah dada Fikri dengan kecepatan penuh!

SRAK!

Dengan refleks kilat yang sangat presisi, Fikri menggeser sedikit tubuhnya ke kiri. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan Burhan yang memegang pisau, sementara siku kanannya menghantam telak rahang Burhan hingga terdengar bunyi gemeretak tulang!

BUKH!

"Aaghh!" ringis Burhan kesakitan, pisau sangkurnya terlepas dan jatuh ke laut.

Belum sempat Burhan itu memulihkan keseimbangannya, Fikri memutar tubuhnya dan menyarangkan tendangan memutar yang amat keras tepat di ulu hati Burhan!

DUAK!

Tubuh kekar Burhan terpelanting hebat membentur tumpukan kayu dermaga, terkapar memegangi perutnya sambil muntah darah. Burhan meringis ketakutan setengah mati saat melihat Fikri melangkah mendekat dengan tatapan mata yang seolah sanggup mencabut nyawanya di tempat.

Fikri menekuk lututnya, mencengkeram kerah baju Burhan dengan kasar lalu menariknya hingga berjarak beberapa senti dari wajahnya.

"Gadis yang kamu bunuh itu punya masa depan, punya orang tua yang menunggunya pulang!" seru Fikri dengan gertakan napas memburu dan mata yang memerah menahan murka. "Kamu telah menghancurkan hidupnya!"

"A-Ampun, Pak... Ampun..." cicit Burhan gemetar hebat, tak ada lagi sisa keberanian di wajah sang residivis bengis itu saat berhadapan dengan murka Kapten kepolisian di hadapannya.

CTAK!

Dengan gerakan cepat dan dingin, Fikri mengunci kedua tangan Burhan di belakang punggung menggunakan borgol besi. Ia menghempaskan tubuh tersangka ke atas tanah basah.

"Bawa dia ke markas. Masukkan ke sel isolasi dan proses hukum maksimal tanpa ampun!" perintah Fikri tegas pada Dimas.

"Siap, Kapten!" balas Dimas seraya menyeret Burhan masuk ke mobil tahanan.

Hujan deras masih mengguyur pelabuhan. Fikri berdiri kaku di tepi dermaga, membiarkan air hujan membasahi tubuhnya yang lelah. Luka jahitan di perutnya terasa sedikit berdenyut akibat gerakan keras tadi, namun pikirannya sepenuhnya melayang pada Seruni.

Fikri merogoh saku dalam jaketnya yang kedap air, mengeluarkan ponsel dinasnya. Ia menekan nomor Briptu Mayang.

"Lapor, Kapten. Mbak Seruni sudah selesai belajar dan sekarang sedang tidur pulas di rumah dinas. Keadaan aman terkendali," ujar Mayang di seberang telepon.

Fikri menghembuskan napas lega yang amat panjang, rasa sesak di dadanya mendadak mengurai. "Terima kasih, Mayang. Saya kembali ke rumah dinas sekarang."

Fikri mematikan sambungan telepon, menatap langit malam yang gelap. Di dalam benaknya, satu janji terpatri semakin kuat, Ia akan melakukan apa pun untuk melatihnya, menjaganya, dan menjadi perisai hidupnya, agar Seruni, istri kecilnya, selalu aman di bawah pelukannya.

1
English Lesson
lucu dan bagus❤️❤️
Ariany Sudjana
semangat belajar yah Runi
Pujiastuti
serasa melayang ke awan ya Seruni dicium sama Aa kapten 🤭🤭
Dini Anggraini
Cyndi kan masih ada briptu dimas yang single pokoknya jangan kapten fikri karena dia sudah punya seruni gak boleh kamu gaet lagi. Seruni buktikan bila prestasimu tetap bagus meskipun sudah menikah.
Nur Asiatun
Alhamdulillah...tenang ya seruni,ada mas Fikri yg akan selalu melindungimu
Ariany Sudjana
bagus Fikri, kamu suami yang bijak. harusnya kepala sekolah juga seperti itu, cari dulu kebenarannya seperti apa, jangan mudah terpancing gosip murahan
Nur Asiatun
Alhamdulillah...lanjut Author
Ayu Padi
up yg bnyk Thor...lucu seru sekali
Ariany Sudjana
betul seruni, kamu jangan bodoh, kalian itu suami istri, jadi jangan panggil suami kamu itu paman
Erizani
lanjut habis ceritanya seru banget
Ariany Sudjana
hahaha benar seruni, hantu ganteng namanya Fikri 😂😂🤣🤣
Irni Yusnita
seruni kocak sungguh senang dengan kepolosan dan apa ada tanpa ada yg dibuat"😍
Ariany Sudjana
wah semangat yah seruni 🤣🤣
Nur Asiatun: ceplas ceplos yg bikin sayang
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Fikri, seruni harus belajar kalau Fikri itu suami sah, jadi jangan panggil paman, kan akhirnya Bagas nekat, dasar bodoh seruni
Ariany Sudjana
tapi benar sih kata seruni, bagaimana pun seruni itu perempuan mandiri, jadi lebih nyaman cari uang sendiri, walaupun Fikri memperhatikan semua kebutuhannya
Ariany Sudjana
bagus seruni, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Farida itu 🤣🤣😂😂
tiara
Karya ini bagus dan menghibur,semangat upnya thor sehat selalu
Nur Asiatun
Alhamdulillah...di tunggu updete nya thor
Nur Asiatun
wa'alaikumussalam Author...
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alur ceritanya bagus, lucu dan sangat menarik dan selalu ditunggu² up nya ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!