JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Cinta dari Masa Lalu
# Bayang-Bayang Cinta dari Masa Lalu #
Suasana kamar utama Istana Teluk Bayangan bawah laut mendadak lengang dan begitu hening. Pangeran Nataniel telah tertidur lelap di atas ranjang koral hitamnya dengan napas yang teratur. Perban sutra yang terikat di dadanya bergerak naik-turun perlahan, menandakan bahwa racun pembusuk dari cakar Siren liar telah berhasil dinetralkan oleh ramuan obat ajaib yang kuberikan.
Aku memperhatikan garis-garis tegas wajah tampannya yang kini tampak sedikit rileks tanpa ada senyum kecurigaan, tatapan mengintimidasi, atau kilat mata keemasan yang menakutkan. Pangeran duyung yang ditakuti seluruh lautan itu kini tampak bagaikan prajurit biasa yang keletihan setelah melewati pertempuran berdarah.
Aku perlahan memundurkan langkahku, lalu duduk bersandar di atas alas tidur sutra yang dingin di sudut kamar. Aku mengelus lembut jemari tanganku sendiri, meresapi sisa rasa hangat dan getaran halus yang baru saja tercipta saat jemariku menyentuh permukaan kulit dadanya yang mulus.
("Dia pikir aku wanita lugu yang bertindak murni karena belas kasihan?") bisik batinku seraya menyunggingkan senyuman sinis dan tipis di tengah kegelapan kamar. ("Nataniel... kau memang teramat tangguh dan tak terkalahkan di medan perang, tetapi dalam urusan memahami pikiran wanita dan menjinakkan ego pria berkuasa, kau hanyalah mangsa empuk yang sangat mudah dibaca.")
Trik kelembutan, perhatian telaten, serta cara memainkan intonasi suara yang mendayu-dayu untuk menjinakkan Nataniel tadi bukanlah ide spontan yang muncul tiba-tiba. Setiap usapan kain sutra dan setiap detik tatapan mata memuja yang kuberikan adalah hasil dari pelajaran pahit yang terukir membekas di jiwa dan ingatanku.
Pikiranku melayang jauh melintasi ribuan mil samudra, menembus batas waktu menuju beberapa tahun silam di daratan ke sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau tempatku pernah tumbuh, belajar, dan mengenal arti kata cinta.
---
*(Flashback)*
Tujuh tahun yang lalu, aku hanyalah Alessia, seorang gadis desa sederhana yang memiliki impian sederhana, mencintai dan dicintai oleh pria yang ku kagumi.
Di desa tempat tinggalku saat itu, ada seorang tuan tanah muda yang teramat tampan, kaya raya, dan memiliki pengaruh yang sangat besar bernama Dainan. Seluruh warga desa menghormatinya, dan hampir setiap gadis desa mendambakan perhatian darinya. Dainan adalah tipe pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia congkak, berkuasa, dan selalu memandang rendah orang-orang yang status sosialnya berada di bawahnya.
Namun, seperti kebanyakan gadis muda yang naif dan polos, aku jatuh cinta padanya. Ketika Dainan mulai melirikku, memberiku perhatian manis, dan berjanji akan menjadikanku satu-satunya wanita dalam hidupnya, aku menyerahkan seluruh hatiku tanpa sisa. Aku menganggap bualan manisnya sebagai takdir indah yang akan membawaku dan keluarga keluar dari penderitaan ekonomi.
Tetapi impian manis itu hancur berkeping-keping dalam satu malam yang teramat kelam.
Saat konflik perebutan lahan pertanian meletus di desa, Dainan menunjukkan wajah aslinya yang sangat kejam. Ia tidak ragu mengusir puluhan warga desa yang tak berdaya dari tanah mereka sendiri demi menambah kekayaan keluarganya. Ketika Ayahku mencoba membela hak warga dan memohon belas kasihan padanya, pria yang kucintai itu justru memerintahkan pengawalnya untuk menghajar Ayahku hingga terbaring kritis dan lumpuh!
Aku berlari malam itu ke kediaman megah Dainan dengan air mata bercucuran, berlutut di depan kakinya untuk memohon belas kasihan dan pertolongan obat bagi Ayahku.
Namun apa yang didapatkan oleh gadis naif ini?
Dainan hanya duduk di atas kursi jati megahnya, menatapku dengan sudut mata yang penuh dengan cemoohan dingin. Ia tertawa rendah, sebuah tawa yang mirip sekali dengan cara Nataniel menatap para tawanan di kubangan eksekusi.
"Alessia, kau dan ayahmu hanyalah sampah tak bernilai," ujar Dainan malam itu seraya mengungkit daguku secara kasar dengan ujung tongkat kayunya yang berukir emas. "Kalian merasa memiliki harga diri hanya karena kalian hidup di tanah yang sama denganku? Jika kau ingin ayahmu selamat dan mendapatkan bantuan obat dariku... berlutut lah, jilat ujung sepatu kulitku, dan buktikan betapa kau sangat membutuhkanku sebagai penguasamu!"
Malam itu, di atas lantai marmer dingin milik Dainan, hatiku yang naif dan penuh cinta, mati seketika. Cinta yang semula berkembang mekar berubah menjadi keputusasaan dan rasa benci yang teramat pekat.
Demi menyelamatkan nyawa Ayahku, aku menelan bulat-bulat seluruh harga diriku. Aku berlutut, mengabaikan rasa malu, dan menuruti setiap kehendak gila Dainan. Dan dari malam kelam itulah, aku menyadari sebuah kenyataan teramat berharga tentang psikologi para pria berkuasa:
Pria berkuasa, apakah ia seorang tuan tanah kaya di daratan atau seorang Pangeran Siren di dasar lautan, selalu dipimpin oleh dua hal utama: ego yang teramat melangit dan hasrat untuk mendominasi total.
Mereka tidak bisa dijinakkan dengan perlawanan kasar atau makian terang-terangan. Jika kau melawan mereka secara langsung saat mereka memegang kendali, mereka akan meremukkanmu tanpa ragu. Tetapi jika kau berpura-pura tunduk total, memberondong ego mereka dengan pemujaan setinggi langit, dan memberikan sentuhan kelembutan di saat mereka sedang berada di titik terlemah mereka... mereka akan dengan senang hati menyerahkan kendali tanpa mereka sadari!
Selama bertahun-tahun setelah kejadian itu, aku belajar mengamati, memanipulasi, dan memainkan emosi Dainan. Aku berpura-pura menjadi wanitanya yang paling patuh, membuatnya merasa bagaikan dewa yang paling perkasa, hingga akhirnya aku berhasil mendapatkan obat-obatan untuk Ayah, dan dokumen penting yang berhasil memulihkan kembali tanah milik warga desa, sebelum akhirnya aku melarikan diri membawa Ayah ke tempat yang jauh!
*(End of Flashback)*
---
Aku menghela napas panjang, mengusap sudut mataku yang terasa hangat oleh kenangan pahit itu.
Pelajaran berdarah dari masa lalu itulah yang kini menjadi senjata paling mematikan bagi ku di dunia Istana Siren ini!
Nataniel mungkin memiliki sihir pembunuh yang sanggup meremukkan batu karang dan pasukan perak yang menakutkan, tetapi ia memiliki celah emosi yang persis sama dengan Dainan dan pria-pria berkuasa lainnya. Ia angkuh, haus akan rasa hormat mutlak, dan tidak pernah merasakan kehangatan tulus dari siapa pun karena semua orang di sekitarnya mendekatinya dengan rasa takut.
Ketika aku memuji keagungannya di atas tebing kemarin, aku sedang memberi makan egonya yang lapar. Ketika aku berteriak memandu pasukannya dari atas celah karang sempit, aku sedang membuktikan nilai gunaku agar aku tidak dibuang sebagai babu tak berguna. Dan ketika aku menyentuh lukanya dengan sangat lembut dan telaten tadi... aku sedang menanamkan benih ketergantungan emosional di dasar hatinya yang membeku!
Sentuhan lembut dan desiran aneh yang dirasakan Nataniel tadi malam bukanlah kebetulan semata. Itu adalah jebakan psikologis yang ku rancang dengan teramat rapi. Aku sengaja membiarkan nafas dan helai rambutku mengusap kulitnya untuk mengacaukan konsentrasi sang pangeran. Seorang pria yang terbiasa hidup di dalam kekerasan dan darah akan sangat mudah lumpuh ketika dihadapkan pada kelembutan yang kontras!
("Nataniel, Nataniel...") gumamku pelan seraya menatap figur tegap pria itu dari kejauhan. ("Kau pikir kau adalah majikan yang memegang kendali atas Mutiara Laut Dalam dan leherku? Tanpa kau sadari, kau sedang berjalan masuk ke dalam jaring-jaring permainan kata dan kelembutan racun yang kususun. Kau akan menjadi pelindung terbaikku di lautan ini sampai aku berhasil mendapatkan kembali mutiara itu dan pulang ke daratan!")
Rasa lelah yang amat sangat akhirnya mulai menguasai seluruh otot dan saraf tubuhku. Perang panjang, ketegangan batin, dan teriakan histeris selama sejam penuh tadi membuat kelopak mataku terasa teramat berat. Aku memiringkan tubuhku di atas sutra dingin, membiarkan kesadaranku perlahan-lahan tenggelam dalam lelapnya tidur malam.
---
Keesokan paginya, pendaran cahaya kristal bawah laut yang memancar terang menembus celah-celah kamar utama membangunkanku dari tidur nyenyak.
Aku mengucek mataku perlahan, meregangkan otot-otot tubuhku yang masih terasa sedikit pegal. Saat aku menoleh ke arah ranjang koral hitam, tempat itu telah kosong. Pangeran Nataniel tidak ada lagi di sana. Perban sutra yang kuikatkan di dadanya tadi malam tergeletak rapi di atas meja kristal, sudah bersih dari bercak darah beracun.
"Sudah bangun, Serangga?"
Sebuah suara berat, tenang, namun bernada teramat tegang dan dingin mendadak menggema dari arah pintu balkon raksasa yang terbuka lebar.
Aku tersentak pelan, segera bangkit berdiri dan merapikan selendang tipis serta bikini perakku. Aku melangkah cepat menuju ke arah balkon istana yang menghadap langsung ke panorama Teluk Bayangan.
Di sana, Nataniel berdiri tegap dengan telanjang dada. Luka sabetan di dadanya telah mengering dan membentuk bekas luka memanjang yang samar berkat sihir pemulihannya dan obat ajaib yang kuberikan. Jubah perak barunya melambai megah ditiup arus laut yang berhembus kencang.
Namun, pemandangan yang terhampar tepat di bawah balkon istana tempat kami berdiri seketika membuat seluruh aliran darah di tubuhku membeku kaku!
Di dasar pelataran utama istana yang luas, berjejer tumpukan raksasa barang-barang jarahan dan harta karun milik korban pembantaian pertempuran kemarin. Baju-baju zirah yang hancur, pedang-pedang emas, perhiasan mutiara hitam, serta patung-patung kristal bernilai tinggi menumpuk menggunung bagaikan bukit kecil.
Dan yang paling mengerikan... di antara tumpukan harta yang berkilauan itu, terikat puluhan tengkorak dan potongan sisik raksasa milik para pemimpin Siren liar yang tewas dipenggal kemarin! Darah hitam yang mengering melapisi harta-harta itu, menyebarkan bau amis pembunuhan yang teramat menyengat.
Nataniel tidak memutar tubuhnya saat aku mendekat. Ia tetap melayangkan pandangannya ke arah tumpukan harta korban pembantaian tersebut dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman angkuh, dingin, dan sarat akan pamer kekuatan mutlak.
"Lihatlah ini, Alessia," ujar Nataniel dengan suara beratnya yang mengintimidasi, sengaja melirikku dari balik bahu tegapnya untuk memperhatikan reaksiku saat melihat tumpukan harta dan tengkorak berdarah di depan matanya. "Ini adalah hasil dari mereka yang berani menantang kekuasaanku di Teluk Bayangan."
Darah di tubuhku terasa berhenti mengalir saat tatapan emas Nataniel terkunci padaku, menantikan reaksi terbaik dari babu manusianya ini!
⭐⭐⭐⭐⭐
Waduh!! Ternyata Alessia punya masa lalu yang kelam banget ya sama Dainan! 😱 Pelajaran berdarah itulah yang bikin dia jadi mastermind hebat buat menjinakkan pangeran iblis seperti Nataniel!
Tapi lihat tuh di akhir bab, Nataniel sengaja memamerkan tumpukan harta berdarah dan tengkorak musuh dari atas balkon! Gimana reaksi Alessia menghadapi ujian kejam Nataniel ini di Bab 15 nanti?
Jangan lupa klik **LIKE**, tinggalkan **KOMENTAR** heboh kalian, dan **VOTE** cerita ini ya! Siap lanjut ke Bab 15? ✨