NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 32.

Bunyi decit sepatu yang bergesekan kasar dengan lantai lapangan futsal dalam ruangan terdengar seperti jeritan frustrasi.

Cowok-cowok dari tim utama SMA Pancasila saling lirik. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi menegur. Di tengah lapangan, Gibran menggiring bola dengan brutal. Dia melewati Joni dengan gerakan mengecoh yang terlalu agresif, lalu menendang bola sekuat tenaga.

Brak!

Bola menghantam tiang gawang hingga bergetar hebat. Gibran tidak peduli. Dia membalikkan badan, menyeka keringat di dahinya dengan kasar menggunakan ujung jersi.

Napasnya memburu, tapi dadanya masih terasa sesak. Bukan karena lelah, melainkan karena bayangan sialan di koridor pagi tadi yang terus berputar seperti kaset rusak di otaknya.

Tangan yang bertautan. Gelang couple. Senyum Lingga.

"Woi, Gib! Santai dong, ini cuma latihan biasa, bukan final!" teriak Joni sambil terengah-engah.

Gibran tidak menyahut. "Sini bolanya," geram Gibran, nadanya rendah dan dingin.

"Gib, lo udah main dua jam tanpa istirahat—"

"Gua bilang sini bolanya!"

Gibran merebut paksa bola dari kaki temannya yang lain. Dia kembali berlari. Kali ini gerakannya makin tidak terkendali. Pikirannya kacau. Logikanya mati. Dia hanya ingin rasa panas di dadanya pindah ke fisiknya. Dia ingin lelah sampai tidak bisa berpikir lagi.

Saat Gibran mencoba melakukan pivoting tajam untuk melewati dua bek sekaligus, tumpuan kaki kanannya slip. Lapangan yang agak licin karena keringat gabungan dari anak-anak berpadu dengan beban tubuhnya yang tidak seimbang.

Krek.

"Argh!"

Gibran ambruk seketika. Dia memegangi pergelangan kaki kanannya. Rasa sakit yang tajam dan panas langsung menjalar hingga ke lutut. Wajahnya memucat dalam hitungan detik.

"Gib! Lo gapapa?!" Joni dan anak-anak futsal langsung berlarian mengerumuninya.

"Minggir, kasih ruang! Gotong ke pinggir lapangan cepat!"

Gibran meringis, menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah demi menahan erangan.

Di tengah rasa sakit yang mendera kakinya, ada satu bagian kecil di otaknya yang justru merasa... lega. Gibran tersenyum sinis di dalam hati. 'Bagus' pikirnya. 'Sakit ini nyata. Senggaknya rasa sakit di kaki ini bisa mengalihkan otak gua dari Stella.'

Berita tentang cedera sang kapten futsal menyebar cepat. Sore itu, koridor UKS SMA Pancasila tampak sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat setengah jam yang lalu.

Gibran duduk di tepi ranjang UKS dengan kaki kanan yang sudah dibalut perban elastis tebal. Petugas UKS sudah pulang setelah memberinya es batu dan obat pereda nyeri.

Pintu UKS berderit terbuka.

Jantung Gibran sempat mencelos. Detak dadanya mendadak melompat tinggi. Harapan bodoh yang sempat dia kubur pagi tadi tiba-tiba merayap naik. Dulu, setiap kali Gibran lecet sedikit saja saat tanding, Stella adalah orang pertama yang bakal heboh. Gadis itu pasti akan datang membawa sekotak plester bergambar kartun, mengomel panjang lebar tentang betapa cerobohnya Gibran, sambil tangannya dengan telaten mengobati luka nya.

Gibran menoleh ke arah pintu dengan mata berbinar.

Namun, binar itu redup seketika. Yang muncul di ambang pintu bukanlah Stella dengan kuncir kudanya yang familier. Itu Joni, yang membawa tas ransel milik Gibran.

"Nih tas lo," Joni melempar tas itu ke kasur. Joni menatap Gibran dengan pandangan prihatin yang paling Gibran benci. "Anak-anak udah pada balik. Lo bisa jalan gak? Mau gua pesenin taksi online?"

Gibran memaksakan diri tersenyum tipis, menggeleng. "Gak usah Jon. Gua bisa pesen sendiri nanti. Lo balik aja duluan."

Joni sempat ragu, tapi akhirnya menepuk bahu Gibran. "Gua tahu lo lagi kacau gara-gara kejadian pagi tadi. Tapi jangan ngerusak diri sendiri, Gib. Lapangan futsal gak salah apa-apa." Setelah kalimat itu, Joni pamit dan menutup pintu.

UKS kembali senyap. Gibran menyandarkan kepalanya ke dinding medis yang dingin. Dia mengeluarkan ponselnya. Layarnya bersih. Tidak ada notifikasi pesan, tidak ada panggilan tak terjawab dari nama yang dia harapkan.

Setengah jam berlalu.

Gibran memutuskan untuk pulang. Dengan bertumpu pada kaki kirinya dan menggunakan dinding sebagai sandaran, dia tertatih-tatih keluar dari UKS. Langkahnya lambat dan menyakitkan.

Saat berbelok di koridor dekat laboratorium biologi yang mengarah ke gerbang utama, Gibran menghentikan langkahnya.

Matanya terpaku pada dua sosok yang berdiri di dekat loker ujung koridor.

Stella dan Lingga.

Mereka belum pulang. Lingga sedang menyandang tas ranselnya di satu bahu, sementara Stella berdiri di depannya sambil tertawa kecil—jenis tawa lepas yang belum pernah Gibran lihat sebelumnya dari gadis itu.

Lingga merapikan anak rambut Stella yang keluar dari ikatannya dengan gerakan yang sangat natural, seolah mereka sudah melakukan itu ribuan kali.

Jarak Gibran dengan mereka hanya sekitar sepuluh meter.

Koridor itu sepi, dan suara decit sepatu Gibran yang cedera seharusnya terdengar jelas.

Stella sempat menoleh ke arah koridor tempat Gibran berdiri. Mata mereka bertemu. Gibran menahan napas. Dia sengaja sedikit meringis, membiarkan tubuhnya bersandar lemas pada dinding, memperlihatkan pergelangan kakinya yang dibalut perban tebal.

Gibran tahu ini menyedihkan, tapi ego remajanya berharap Stella akan menghentikan tawa itu, berjalan ke arahnya, dan bertanya, "Gibran, kaki lo kenapa?"

Namun, kenyataan menghantam Gibran lebih keras daripada bola futsal mana pun.

Stella hanya menatap perban di kaki Gibran selama dua detik. Tatapannya datar. Tidak ada riak kepanikan, tidak ada rasa bersalah, bahkan tidak ada rasa kasihan.

Gadis itu langsung memalingkan wajahnya kembali ke arah Lingga, menarik lengan jaket cowok itu pelan, dan berkata, "Lingga, yuk balik sayang. Keburu mendung."

Lingga sempat melirik Gibran datar—sebuah tatapan dari pemenang yang tidak perlu menyombongkan diri—lalu merangkul pundak mungil Stella dan menjauh.

Mereka berdua berjalan melewati koridor seberang, meninggalkan Gibran yang terpaku di tempatnya.

Suara langkah kaki mereka berdua perlahan menghilang, digantikan oleh suara rintik hujan pertama yang mulai membasahi lapangan sekolah di luar. Gibran menunduk, menatap kakinya sendiri yang dibalut perban.

Ternyata, rasa sakit fisik akibat cedera di lapangan tidak ada apa-apanya.

Rasa sakit yang sesungguhnya adalah menyadari bahwa bagi seseorang yang selama ini menjadi pusat semesta nya, Gibran kini resmi menjadi sebuah latar belakang yang sama sekali tidak penting.

Gibran frustrasi, menghajar tembok tak bersalah yang sedang di sandarnya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!