Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerobos
Aris memanfaatkan jeda tembakan para pembunuh bayaran itu dengan melompat dari parit selokan.
Dia menarik gagang pintu kanan Toyota Corolla DX miliknya dengan sentakan kuat. Krieeek. Pintu mobil terbuka, membuat tubuh Januar yang tadinya bersandar pada setir perlahan merosot ke samping.
Aris dengan sigap menahan pundak rekannya itu agar tidak jatuh ke atas tanah merah yang kotor. Di bawah keremangan malam, tangan kiri Aris meraba leher Januar, mencari denyut nadi yang tersisa.
Napas Januar tersengal-sengal, dangkal dan pendek. Jaket dinasnya di bagian perut tampak basah kuyup oleh darah.
Dia tidak tertembak peluru M16 yang baru saja menyalak, melainkan telah ditikam dari belakang menggunakan sebilah pisau komando sebelum jip militer itu menyalakan lampu jauhnya.
"Aris..." bisik Januar, matanya terbuka sedikit, menatap seniornya dengan pandangan yang mulai kabur. "Ada... ada orang ketiga... di dalam kompleks sebelum jip itu datang. Dia yang menikamku..."
"Diam dulu, Jan. Jangan banyak bicara," potong Aris, menekan luka di perut Januar menggunakan sapu tangan kain dari sakunya untuk menahan pendarahan.
Bramantyo berhasil merangkak menyusul Aris ke balik perlindungan bodi mobil Corolla DX. Wajah wartawan senior itu pucat melihat kondisi Januar yang kritis.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang, Aris! Jika tidak, dia tidak akan bertahan sampai fajar!"
Namun, situasi di depan mereka tidak memungkinkan untuk bergerak bebas.
Dari arah jip militer yang lampunya telah hancur, Para pembunuh bayaran itu kini bergerak maju secara taktis dalam formasi menjepit, memanfaatkan kegelapan untuk mendekati mobil Aris.
Mereka tahu target mereka terluka dan terjebak di area parkir tersebut. Aris melirik sisa peluru di dalam silinder revolver .38 miliknya. Hanya tersisa empat peluru.
Sementara di balik jaketnya, buku kas berdarah 1959 berharga itu seolah menjadi beban yang kian berat. Dia harus membuat keputusan instan untuk menyelamatkan Januar sekaligus mengamankan bukti terbesar konspirasi Kota Marunda ini.
Aris tidak akan membiarkan Januar mati di tangannya. Dia mendorong tubuh Januar ke kursi penumpang di sampingnya, lalu naik ke kursi kemudi.
Kunci kontak Corolla DX yang masih menggantung segera dia putar dengan sentakan kasar.... Bat! Vreeeeem!Mesin mobil yang ringsek pasca-tabrakan di proyek tanah, meraung liar seolah mengeluarkan tenaga terakhirnya.
Aris menginjak pedal kopling, memasukkan gigi mundur secara paksa hingga tuas transmisi berderit keras.
"Bram! Masuk ke belakang! Tiarap!" teriak Aris menggelegar di dalam kabin mobil.
Bramantyo masuk lewat pintu belakang yang terbuka dan langsung merebahkan badannya di lantai kabin, mendekap erat tas kanvasnya. Begitu pintu belakang dibanting menutup, Aris menginjak pedal gas dalam-dalam dan melepas kopling secara mendadak.Ckiiiiiit!Ban belakang Corolla DX slip di atas aspal, memutar bodi mobil mundur dengan liar.
Para pembunuh bayaran yang sedang bergerak maju terkejut melihat seonggok besi tua berasap itu meluncur mundur ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Tembakan M16 kembali menyalak dari arah jip militer.
Peluru-peluru tajam merobek kap mesin depan, menghancurkan kaca belakang, dan menembus langit-langit kabin. Aris tetap merunduk serendah mungkin, tangan kanannya mencengkeram erat roda kemudi sementara mata kirinya mengintip spion samping yang tersisa untuk mengarahkan laju mobil.
BRAAAAK!Bagian belakang menghantam salah satu pembunuh hingga terpental ke atas kap jip mereka.
Aris segera mengoper transmisi ke gigi satu, memutar setir penuh, dan menginjak gas untuk melesat maju melewati celah sempit di samping jip militer yang kini terhalang oleh jasad temannya sendiri.
Mobil tua itu melesat keluar dari jalanan kompleks perumahan nomor 42, meninggalkan kepungan pembunuh bayaran yang masih menembak buta ke arah kegelapan.
Asap hitam dan cairan radiator yang bocor menetes di sepanjang aspal jalan raya suburban. Aris menatap Januar yang mulai kehilangan kesadaran di sampingnya, lalu meraba buku kas berdarah 1959 di balik jaket kulit cokelatnya.