Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat perpisahan
Suara deru mesin mobil mewah Radhit menderu pelan sebelum akhirnya mati di garasi rumah mewahnya. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul sembilan pagi di hari Minggu. Udara sisa hujan semalam masih meninggalkan hawa dingin yang menusuk kulit, berpadu dengan aroma tanah basah yang menyeruak di halaman luar.
Radhit keluar dari mobilnya dengan langkah santai. Kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu gelap tampak sedikit kusut di bagian lengan, menampakkan jejak kelelahan setelah dua hari mengurus kekacauan bisnisnya di luar kota.
Rasa penat masih menggelayuti pikirannya. Namun, di dalam kepalanya yang dipenuhi ego dan keangkuhan, pria itu sudah membayangkan suasana rumah yang biasa menyambutnya: keheningan yang patuh, cangkir teh hangat yang mungkin disiapkan di meja dapur, dan sosok Vivian yang akan menunduk takut melayaninya.
Dalam benak Radhit, kejadian tragis pada Sabtu malam kemarin tak lebih dari sekadar emosi sesaat. Dia yakin betul Vivian hanya sedang berakting menyedihkan atau merajok di dalam kamar tamu mencari perhatian seperti yang sering dituduhkannya selama ini.
Radhit menempelkan sidik jarinya pada smart lock pintu depan.
Bip.
Pintu kayu jati yang tebal itu terbuka pelan, mengayun masuk ke dalam ruang tengah yang luas.
Namun, tidak ada aroma wangi teh hangat yang menyapa. Tidak ada suara langkah kaki pelan yang tergesa-gesa menyambut kedatangannya.
Yang menyambut Radhit pertama kali adalah keheningan yang teramat pekat sebuah keheningan yang aneh, dingin, dan tak berpenghuni. Seolah-olah seluruh pasokan kehidupan di dalam rumah mewah dua lantai itu telah disedot habis tanpa sisa.
Radhit mengernyitkan dahi. Rasa tidak nyaman yang samar mulai merayap naik di tengkuknya.
"Vivian," panggil Radhit. Suaranya bergema datar dan dingin di antara dinding-dinding ruang tengah yang tinggi.
Tidak ada jawaban. Sama sekali tidak ada gaung balasan selain gema suaranya sendiri.
Radhit melangkah masuk lebih dalam. Namun, saat tatapan matanya jatuh ke atas lantai marmer di batas ruang tengah, langkah kaki pria itu mendadak terhenti kaku.
Di atas marmer putih yang bersih itu, terdapat bercak merah pekat yang sudah mengering dan membeku. Noda darah itu membias membentuk pola usakan dan seretan bekas tubuh seorang wanita yang berjuang merayap di antara batas hidup dan mati di tengah malam yang kelam.
Jantung Radhit mendadak berdesir aneh. Ada denyut ketakutan asing yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, mendadak berdenyut pelan di dalam dadanya.
"Vivian!" panggil Radhit lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih keras, menyisakan intonasi ketegangan yang coba ditepiskannya.
Dengan langkah yang mulai terburu-buru, Radhit melangkah menuju kamar tamu di lorong bawah—ruangan sempit yang selama bertahun-tahun ini menjadi penjara bagi istrinya.
Dia mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar.
"Vivian, jangan berpura-pura"
Kalimat Radhit terhenti di udara.
Kamar tamu itu kosong melompong.
Kasur busa tipis di sudut ruangan tertata begitu rapi, tanpa ada lipatan selimut. Tidak ada baju-baju murah milik Vivian yang biasanya tergantung di balik pintu. Lemari kayu kecil di sudut ruangan terkunci dan menyisakan kekosongan yang nyata.
Aroma ruangan itu steril dan hampa. Tidak ada lagi bekas keberadaan seorang wanita yang pernah menangis meraung-raung di sana setiap malam.
Radhit mengepalkan tangannya rapat-rapat. Egonya yang tinggi mendadak merasa tersentil dan marah. Dia berpikir Vivian sedang mencoba bermain-main dengannya, melarikan diri untuk membalas dendam atas kekasarannya semalam.
"Kurang ajar... Berani-beraninya kamu pergi tanpa izin saya," geram Radhit rendah.
Pria itu berbalik kasar menuju meja nakas kecil di samping tempat tidur. Pandangan matanya mendadak tertangkap oleh dua benda yang diletakkan berdampingan di atas permukaan kayu yang bersih.
Sebuah cincin perak murah yang sudah agak kusam... dan sebuah buku diari kecil bersampul kulit cokelat yang tergeletak terbuka di halaman terakhir.
Radhit mendekat dengan napas yang mulai tak teratur. Tangannya yang biasanya selalu terkontrol kini agak bergetar saat terangkat meraih cincin perak itu.
Cincin pernikahan mereka. Cincin murah yang dulu dibeli Vivian dengan uang simpanannya sendiri karena Radhit enggan memasangkan cincin mewah di jarinya saat pernikahan formalitas mereka.
Radhit menggenggam cincin dingin itu rapat-rapat, lalu mengalihkan tatapan matanya pada lembaran kertas diari yang berisi goresan tinta hitam yang sedikit kabur akibat resapan air mata.
Tulisan tangan Vivian. Tegas, rapuh, namun memancarkan keteguhan yang sangat asing bagi Radhit.
Mas Radhit...
Pernikahan ini sudah mati sejak lama, dan semalam kamu sendiri yang membunuh sisa-sisa rasaku sampai tak tersisa.
Kamu tidak perlu khawatir lagi. Mulai detik ini, aku dan anak yang kamu sebut beban ini tidak akan pernah menampakkan diri lagi di depan matamu.
Aku kembalikan rumah mewahmu, kemewahanmu, dan seluruh kebebasan yang kamu inginkan.
Jangan pernah mencari kami. Karena bagi kami... kamu sudah tidak pernah ada.
DEG.
Dada Radhit serasa dihantam oleh bongkahan es yang luar biasa besar.
Napas pria itu mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya terbelalak menatap barisan kata-kata di atas kertas itu berkali-kali, berharap pandangannya salah membaca.
Anak yang kamu sebut beban...
Bagi kami... kamu sudah tidak pernah ada...
Setiap kata meluncur bagai anak panah beracun yang menghantam dan meremukkan ego kebanggaannya. Kata-kata itu begitu tenang, tanpa makian, namun efeknya terasa jauh lebih mengerikan dibanding jeritan tangis Vivian yang biasa didengarnya.
"Nggak mungkin..." bisik Radhit pada keheningan kamar yang dingin.
Rasa percaya dirinya yang tebal mencoba membentengi diri. Radhit tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang terdengar hampa di dalam ruangan kosong itu.
"Kamu pikir kamu bisa hidup di luar sana tanpa uang saya, Vivian?" ucap Radhit sendirian, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Vivian hanya sedang menggertaknya.
"Paling lusa kamu sudah merangkak pulang ke rumah ini sambil mengemis maaf."
Namun, saat Radhit melangkah keluar dari kamar tamu dan kembali menatap bercak darah kering di atas lantai marmer ruang tengah, ketenangannya seketika runtuh.
Bayangan malam semalam mendadak terputar ulang di dalam kepalanya dengan sangat jelas:
Wajah pucat pasi Vivian yang bersimbah keringat dingin... Isak tangis memelas yang memohon pertolongan... Telapak tangan Vivian yang berdarah mencengkeram rahimnya... Dan tatapan mata Vivian yang redup menatapnya di antara genangan darah sebelum dia memalingkan wajah dan pergi berkunci diri di kamar.
Rasa bersalah yang selama ini terkunci rapat mendadak pecah, merayap dingin menggerogoti dasar jiwanya.
Radhit merogoh ponsel di saku jasnya dengan gerakan panik yang jarang sekali ditunjukkannya. Jarinya yang tremor menekan nomor telepon Vivian.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Radhit mematikan sambungan, lalu mencoba menelponnya lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...
Satu kali. Lima kali. Puluhan kali.
Hasilnya tetap sama. Suara operator wanita yang dingin terus mengulang kalimat yang sama, menegaskan bahwa wanita yang selama ini dipenjarakannya di dalam rumah ini... telah benar-benar memutuskan seluruh akses dengannya.
Radhit menyandar pada dinding marmer yang dingin. Ponsel di tangannya terasa meluncur lemas.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidupnya, Radhit Gezha Revandhana berdiri di tengah rumah mewahnya yang luas dan megah... dengan rasa hampa dan ketakutan aneh yang mulai mencengkeram dadanya hingga menyiksa napasnya sendiri.
Vivian tidak sedang menggertaknya. Vivian telah benar-benar pergi.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian