"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ciuman paksa
Danu menatap layar itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan.
"Ya, sayang?" Suaranya langsung berubah lembut, sangat berbeda dengan nada dingin yang baru saja digunakannya padaku.
Perubahan itu terasa begitu menusuk. Dulu, sebagai sahabat yang diam-diam menyimpan perasaan, aku selalu merasa terpukul setiap kali mendengar percakapannya dengan Belinda. Namun kini, setelah pernikahan mereka, rasa sesak itu berubah menjadi ketidakberdayaan. Aku sudah menjadi istrinya, tetapi tetap saja aku merasa seperti seseorang yang tidak pernah memiliki tempat di hati Danu, bahkan untuk sesaat.
Saat perhatian Danu teralihkan oleh telepon, aku mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Namun baru beberapa langkah, tanganku sudah lebih dulu ditangkap olehnya. Genggamannya begitu erat hingga aku langsung berusaha menarik tanganku, tetapi sia-sia.
Dari ponselnya, suara Belinda terdengar samar, tetapi masih cukup jelas untuk kudengar.
"Sayang, kamu di mana? Aku menunggumu di kamar. Apa kamu menemukannya?"
Aku menatap Danu dengan perasaan campur aduk antara sakit dan marah. Suara Belinda yang begitu lembut justru membuat hatiku semakin sesak. Aku kembali mencoba menarik tanganku, tetapi genggamannya semakin kuat.
"Danu, aku peringatkan kamu untuk segera melepaskan aku. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya," ancamku dengan suara bergetar. Aku berusaha tetap tegar meskipun rasa sakit mulai menjalar dari pergelangan tanganku.
Danu mengabaikanku. Bahkan genggamannya terasa semakin kuat ketika dia hendak menjawab Belinda. Entah dorongan dari mana, aku sengaja mengubah nada suaraku menjadi sedikit menggoda, menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya kurasakan.
"Ah... Danu, ini sakit. Apa kamu tidak bisa lebih pelan?"
Aku melihat perubahan pada wajah Danu. Sementara dari ponselnya, suara Belinda langsung terdengar lebih tegang.
"Sayang, kamu sedang apa di sana? Kamu bersama Dinda?"
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu kira. Aku bisa menjelaskannya..." Danu mulai berbicara, tetapi suaranya terdengar tidak meyakinkan.
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku kembali memotong dengan suara yang sengaja kubuat terdengar pasrah. "Danu, aku tahu kamu takkan pernah melepaskan aku. Baiklah, aku akan pasrah, meskipun ini menyakitkan."
Aku tahu kalimat itu bisa membuat Belinda salah paham, tetapi saat itu aku tidak peduli. Untuk pertama kalinya, aku ingin membuatnya merasakan sedikit saja sakit yang selama ini harus kutanggung.
"Dinda, kamu benar-benar keterlaluan!" teriak Danu sambil semakin mempererat cengkeraman tangannya.
Aku tersentak ketika rasa sakit di pergelangan tanganku semakin kuat. Namun, sakit di hatiku terasa jauh lebih parah.
"Danu, sakit... Ahh... Aku mohon pelan-pelan, ya!" jeritku dengan nada yang semakin kubuat-buat.
Danu langsung menutup teleponnya. Setelah itu, tatapannya beralih padaku. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengatup erat, dan aku bisa merasakan amarah yang semakin kuat dari caranya menatapku.
"Dinda, apa yang kamu pikirkan?" suaranya rendah, tetapi setiap katanya terdengar penuh amarah. "Kamu ingin membuat Belinda salah paham?"
Aku menahan napas. Tubuhku terasa kaku di bawah cengkeramannya. Aku kembali mencoba menarik tanganku, tetapi dia justru menahannya lebih kuat.
"Aku tidak bermaksud begitu, Danu... kamu yang memulai ini semua," jawabku pelan. Suaraku bergetar, tetapi aku tetap berusaha tegar meskipun ada sedikit rasa takut yang mulai muncul.
Danu mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku. "Kamu selalu membuat semuanya lebih rumit, kan?" desisnya sinis. "Jangan pernah pikir kamu bisa mempermainkan aku seperti ini. Aku tidak punya waktu untuk drama yang tidak berguna."
Aku memalingkan wajah sambil menahan air mata yang kembali menggenang. Perasaan tertekan ini bukanlah sesuatu yang baru. Lagi-lagi aku yang disalahkan, seperti biasa. Sejak awal aku sudah memperingatkannya, tetapi lelaki ini terus menantangku seolah aku akan tetap menjadi sosok yang lemah dan mudah disalahkan. Namun kali ini, aku tidak ingin menyerah begitu saja.
"Kamu yang tak pernah melepaskan aku, Dan," suaraku berubah tajam meskipun rasa sakit terus menjalar dari pergelangan tanganku yang terasa panas akibat genggamannya. "Aku sudah memperingatkan kamu, tapi kamu memilih untuk tidak mendengarkan. Jadi jangan salahkan aku."
Danu terdiam sesaat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tetapi dari sorot matanya, aku bisa melihat amarah yang belum juga mereda. Lelaki itu mendengus pelan lalu kembali melangkah mendekat, membuatku tanpa sadar mundur beberapa langkah hingga punggungku akhirnya membentur dinding dingin.
Aku terkesiap ketika tubuhku terjepit di antara dinding dan Danu. Tanpa memberiku celah, dia mengangkat kedua tangannya dan menahannya di sisi tubuhku, seolah memenjarakanku dalam ruang yang sempit. Wajahnya berada sangat dekat, membuat napasku kembali tersendat.
"Kamu pikir kamu bisa terus bicara seperti itu tanpa konsekuensi?" desis Danu dengan nada rendah yang terdengar mengancam.
Namun, aku tidak mau menunjukkan rasa takutku. Aku tahu jika aku tampak goyah, Danu akan merasa menang. Karena itu, meskipun jantungku berdetak semakin kencang dan bibirku sedikit bergetar, aku tetap menatapnya.
"Aku hanya bicara apa adanya. Kamu selalu begitu, Danu. Kamu selalu merasa benar sendiri," sindirku.
Danu terdiam. Aku bisa melihat matanya semakin tajam sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang justru membuatku semakin waspada.
"Berani sekali kamu," katanya dengan suara serak yang masih dipenuhi amarah.
Dia kembali mendekat hingga jarak wajah kami hanya beberapa inci. Aku mendongak, menatapnya penuh perlawanan meskipun dalam hati aku tahu aku sedang berada di ujung batas.
"Apa? Kamu mau menyalahkanku lagi? Seperti kemarin? Ayo, Danu. Aku tahu kamu itu egois dan otoriter!"
Tatapan Danu semakin tajam. Aku tidak tahu apa yang sedang berputar di kepalanya, tetapi aku bisa merasakan ketegangan di antara kami semakin kuat.
"Sudah cukup, Dinda," katanya tegas.
Namun, aku tidak berhenti.
"Kenapa? Tidak bisa menghadapi kebenaran? Atau kamu memang terlalu pengecut untuk mengakui kalau kamu..."
Kalimatku terputus ketika Danu tiba-tiba menundukkan wajahnya dan menciumku.
Aku terkejut. Tubuhku sempat membeku karena sama sekali tidak menyangka dia akan melakukan itu. Ciuman itu bukan ciuman yang lembut atau penuh kasih sayang. Yang kurasakan justru kemarahan dan frustrasi yang sejak tadi memenuhi dirinya. Namun, di tengah keterkejutan itu, perasaan lama yang selama ini berusaha kukubur kembali muncul. Ada rasa sakit, kemarahan, sekaligus kerinduan yang selama ini tidak pernah benar-benar berhasil kuhapus.
Aku akhirnya menarik diri. Wajahku terasa panas dan napasku tersengal-sengal. Aku menatap Danu dengan mata berkaca-kaca, terbelah antara amarah dan perasaan yang membuatku semakin membenci diriku sendiri.
"Kamu..."
Aku tidak mampu melanjutkan kalimatku. Tanganku bergetar, sementara Danu hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Aku tidak tahu apa yang ada di balik tatapannya, tetapi kemarahan itu masih jelas terlihat.
"Jangan pernah berpikir kamu bisa memprovokasi aku tanpa konsekuensi, Dinda," katanya dengan suara berat.
Dia kembali mendekat, seolah hendak menciumku lagi. Aku spontan menahan napas dan menegang, tetapi sebelum dia sempat melakukan apa pun, suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat kami sama-sama menoleh.
"Danu!"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...