NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab30 — Kapal Pesiar Mewah dan Curiga Sang Gadis Kecil

​Angin laut berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maya yang terlepas dari ikatannya. Namun, bukan angin itu yang membuat Maya mematung di dermaga pelabuhan dengan mulut setengah terbuka.

​Di hadapannya, bersandar sebuah kapal pesiar (yacht) bertingkat tiga yang didominasi warna putih berkilau dan garis perak elegan. Kaca-kacanya gelap dan mengilap. Di dek atas, terlihat deretan kursi berjemur yang empuk dan sebuah jacuzzi kecil. Beberapa petugas berseragam putih bersih berdiri berjejer di dekat tangga masuk, menunduk hormat dengan tangan di belakang punggung.

​Maya memutar kepalanya patah-patah menatap Adrian yang berdiri santai di sebelahnya dengan kacamata hitam murahan yang sengaja ia beli di pinggir jalan.

​"Adrian," panggil Maya pelan.

​"Ya, Gadis Kecil?" sahut Adrian tanpa menoleh, menikmati pemandangan laut.

​"Kamu yakin ini kapal dari perusahaan kita?"

​"Sangat yakin."

​Maya menunjuk kapal raksasa itu dengan telunjuknya yang bergetar. "Perusahaan kita perusahaan apa sebenarnya? Jual beli negara?! Kenapa undian liburan karyawan kelas bawah memakai kapal yang terlihat seperti milik pangeran dari Dubai?!"

​Adrian buru-buru menurunkan kacamata hitamnya. Ia sudah menyiapkan kebohongan ini semalaman. "Ssst, pelankan suaramu! Dengar, ini rahasia internal. Kapal ini sebenarnya barang sitaan perusahaan dari klien yang bangkrut. Daripada menganggur di pelabuhan dan biaya perawatannya mahal, direksi meminjamkannya untuk program CSR ini. Begitu logikanya."

​Maya memicingkan mata, menatap Adrian dengan curiga tingkat tinggi. "Sitaan? Kenapa para pelayannya terlihat sangat profesional dan membungkuk pada kita?"

​"Ah, itu! Mereka... mereka itu mahasiswa perhotelan yang sedang magang! Ya, magang! Mereka disuruh pura-pura hormat untuk nilai ujian praktik!" jawab Adrian ngawur sambil berkeringat dingin. Ia buru-buru mendorong punggung Maya agar segera naik. "Ayo cepat naik, nanti kita ditinggal!"

​Maya melangkah menaiki tangga kapal dengan ransel gunung raksasanya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Setiap kali Maya berbelok, ransel itu menabrak dinding kapal dengan bunyi 'bug!'.

​Seorang kepala pelayan yang mengenakan jas rapi (yang sebenarnya adalah kepala pelayan pribadi keluarga Adrian) mendekat dengan senyum profesional. "Selamat datang, Tuan Muda—"

​Adrian langsung menginjak kaki pelayan itu dengan keras sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

​"Aw!" Pelayan itu membelalak.

​"Terima kasih, Mas Magang!" seru Adrian lantang, mengedipkan sebelah matanya dengan panik ke arah pelayan tersebut. "Tolong antarkan kami ke kamar kami, ya!"

​Sang pelayan senior, yang sudah mengabdi pada keluarga Adrian selama dua puluh tahun, hanya bisa menelan ludah kebingungan dan mengangguk kaku. "B-baik. Silakan ikuti saya... Mas Adrian dan Nona."

​Ketika Maya membuka pintu kamarnya, ia nyaris pingsan. Kamar itu lebih besar dari seluruh rumah petaknya. Kasurnya berukuran king size dengan seprai sutra. Ada televisi layar datar super besar, kulkas kecil penuh camilan, dan jendela kaca lebar yang langsung menghadap ke laut lepas.

​Maya meletakkan ransel monsternya ke lantai dengan bunyi bruk yang keras. Ia berjalan perlahan mendekati kasur, lalu menyentuhnya dengan ujung jari telunjuknya seolah kasur itu akan meledak.

​"Empuk sekali..." bisiknya takjub.

​Adrian yang bersandar di ambang pintu tersenyum lebar melihat reaksi murni gadis itu. "Nikmatilah, Gadis Kecil. Mandilah, lalu kita makan siang di ruang makan utama."

​Satu jam kemudian, mereka duduk berhadapan di sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni. Di atas meja, tersaji hidangan laut paling mewah yang pernah Maya lihat: lobster panggang, tiram, sup salmon, hingga berbagai macam dessert.

​Maya memegang garpu dan pisau peraknya dengan canggung. Ia menatap lobster utuh di piringnya. "Adrian... bagaimana cara makan monster merah ini?"

​Adrian, yang sejak kecil diajari table manner ala bangsawan Inggris, dengan sangat luwes membedah cangkang lobster itu hanya dalam tiga gerakan pisau yang mulus. Ia meletakkan daging lobster yang sudah bersih ke piring Maya.

​Maya menatap daging itu, lalu menatap Adrian. "Untuk seorang cleaning service yang gajinya pas-pasan dan suka merebut telur dadarku, caramu memotong lobster ini terlalu profesional."

​Adrian membeku. Sial. Ia lupa berakting kampungan.

​"A-aku sering menonton tutorial memasak di YouTube saat sedang mengepel lobi!" elak Adrian cepat, lalu dengan sengaja memakan potongan lobsternya menggunakan tangan kosong hingga sausnya belepotan di mulutnya untuk meyakinkan Maya. "Tuh kan! Aku aslinya kampungan kok! Nyam nyam!"

​Maya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Adrian yang cemong oleh saus. Ketawanya begitu lepas hingga ia memegangi perutnya. "Kamu ini benar-benar aneh, Adrian."

​Kapal terus berlayar membelah ombak, membawa mereka menuju sebuah pulau pribadi milik keluarga Adrian yang disamarkan sebagai "Pulau Fasilitas Perusahaan". Sore itu dihabiskan dengan tawa, kebodohan-kebodohan Adrian yang sengaja dibuat-buat, dan Maya yang akhirnya bisa melupakan semua beban hidupnya. Tidak ada bentakan, tidak ada sapu, tidak ada pelanggan. Hanya laut, langit senja, dan senior menyebalkan yang entah bagaimana membuat hatinya selalu berdebar hangat.

​

​Pagi hari kedua di pulau itu terasa seperti potongan surga yang jatuh ke bumi.

​Vila kayu mewah yang menghadap langsung ke pantai pasir putih itu benar-benar sunyi. Tidak ada tamu lain selain mereka berdua. Maya bangun pagi-pagi sekali, mengenakan celana pendek dan kaus oblong yang nyaman. Ia menyeduh kopi di dapur vila, bersenandung pelan sambil melihat ombak yang bergulung tenang.

​Adrian keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan, menggosok matanya. "Pagi, Gadis Kecil. Aromanya enak sekali. Bikin telur dadar gosong lagi?"

​Maya mendengus sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja beranda. "Tidak ada telur dadar gosong hari ini. Di kulkas ini isinya daging semua. Aku buatkan roti lapis saja. Cepat cuci mukamu."

​Adrian tersenyum. Ia melangkah menuju pagar beranda, meregangkan tubuhnya menghadap lautan lepas. Ia menghirup udara dalam-dalam. Rencananya hari ini adalah mengajak Maya berkeliling pulau menggunakan mobil golf, melihat penangkaran penyu, lalu mungkin... mungkin ia akan mulai mencari cara untuk memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya.

​Namun, ketenangan surga itu hancur dalam hitungan detik.

​Pendengaran Adrian yang sudah terlatih sejak kecil menangkap sesuatu yang ganjil. Suara deru mesin berkecepatan tinggi. Ia menyipitkan matanya ke arah cakrawala.

​Tiga buah speedboat hitam tanpa logo sedang melaju kencang, membelah ombak lurus menuju dermaga pribadi pulau tersebut.

​Senyum santai di wajah Adrian luntur seketika. Matanya menyipit tajam. Tidak ada jadwal kapal logistik hari ini. Dan kapal keamanan keluarganya selalu menggunakan prosedur sandar yang pelan dan memberikan sinyal radio. Kapal-kapal ini melaju ugal-ugalan.

​Dor!

​Sebuah suara letusan senjata api membelah udara pagi, disusul oleh kepulan asap kecil dari salah satu speedboat yang memberi tembakan peringatan ke arah menara jaga.

​Cangkir kopi yang baru saja diangkat Maya terlepas dari tangannya, jatuh pecah berantakan di lantai kayu. "Suara apa itu?!" Maya memekik panik, tubuhnya gemetar melihat belasan pria berpakaian taktis hitam dan bersenjata laras panjang melompat turun dari kapal ke atas dermaga.

​Di detik itu juga, seluruh postur tubuh Adrian berubah. Tidak ada lagi sisa-sisa pemuda cleaning service yang konyol dan suka merengek. Matanya berubah dingin, mematikan, dan penuh perhitungan layaknya seekor predator yang sudutnya terancam.

​Adrian berbalik cepat, mencengkeram lengan Maya dengan kekuatan yang membuat gadis itu meringis.

​"Adrian, sakit! Mereka siapa?!" Maya berteriak panik, kakinya gemetar.

​"Lari ke hutan. Sekarang!" perintah Adrian dengan suara bariton yang berat dan mutlak, sebuah nada suara yang belum pernah Maya dengar seumur hidupnya.

​"Hutan?! Tapi—"

​"Jangan banyak tanya, Gadis Kecil! Ambil tas ransel gila milik ibumu itu dan lari lewat pintu belakang!" bentak Adrian sambil mendorong tubuh Maya.

​Maya tidak punya pilihan. Didorong oleh adrenalin dan ketakutan yang mencekik, ia berlari ke dalam kamar, menyambar ransel raksasanya yang seberat batu bata, dan menyandangkannya di punggung. Adrian sudah menunggunya di pintu belakang vila. Pemuda itu membawa sebilah pisau dapur panjang di tangannya.

​Mereka berlari menembus halaman belakang vila, menerobos masuk ke dalam batas vegetasi hutan tropis yang lebat tepat saat suara dobrakan keras menghancurkan pintu depan vila mereka.

​"Cari di seluruh sudut! Target harus ditangkap hidup-hidup, tapi habisi siapa pun yang bersamanya! Jangan tinggalkan saksi mata!" Terdengar teriakan parau dari komandan penculik itu, suaranya menggema mengerikan.

​Maya yang sedang berlari tersandung akar pohon saat mendengar kalimat itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Target hidup-hidup? Habisi yang bersamanya?

​Adrian menarik tubuh Maya yang nyaris jatuh, membawanya terus berlari menerobos semak berduri. Napas mereka memburu cepat. Kicau burung di hutan itu digantikan oleh suara langkah-langkah sepatu bot militer yang mulai menyebar mengepung mereka dari belakang. Surga telah berubah menjadi neraka, dan liburan konyol ini kini menjadi arena perburuan nyawa.

​

​Mereka terus berlari selama nyaris empat puluh menit tanpa henti menembus kanopi hutan hujan yang rapat. Hutan pulau ini masih liar, penuh dengan lintah, akar-akar gantung yang menjebak, dan kontur tanah yang menanjak curam.

​Maya akhirnya ambruk bertumpu pada lututnya di balik sebuah akar pohon beringin raksasa. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Napasnya tersengal-sengal, air matanya mulai menggenang karena rasa takut yang teramat sangat.

​Adrian merendahkan tubuhnya, berlutut di depan Maya. Pemuda itu mengintip waspada ke arah arah belakang mereka. Tidak ada suara langkah kaki untuk saat ini, mereka berhasil memberi jarak.

​"K-kita... kita mau dibunuh?" isak Maya, seluruh tubuhnya gemetar. Ia menatap Adrian dengan mata membulat ketakutan. "Adrian, mereka itu siapa? Kenapa mereka mengejar kita?!"

​Adrian menatap wajah gadis yang menangis itu. Ada rasa bersalah yang luar biasa besar menghantam dadanya. Rencana liburannya justru membawa Maya ke ambang kematian.

​"Dengar aku," Adrian memegang kedua bahu Maya dengan kuat, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam. "Mereka tidak mengejar kita. Mereka mengejarku."

​Maya berhenti terisak, keningnya berkerut bingung. "Mengejarmu? Kenapa preman bersenjata mengejar seorang tukang pel lantai?"

​"Aku bukan tukang pel, Maya," suara Adrian pelan namun tegas. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi yang perlu kamu tahu adalah, mereka butuh aku hidup-hidup untuk negosiasi tebusan. Tapi mereka akan membunuhmu kalau melihatmu bersamaku."

​Dunia Maya serasa berputar. Kenyataan ini terlalu gila untuk dicerna. Pemuda konyol yang selalu berebut telur dadar dengannya ini adalah incaran kelompok bersenjata profesional?

​Tiba-tiba, langit di atas mereka menggelegar. Awan hitam yang sejak tadi berkumpul akhirnya pecah. Hujan badai tropis turun dengan sangat lebat, mengguyur hutan dengan air yang dingin membekukan.

​Maya mulai menggigil hebat, bibirnya membiru. Adrian mengumpat dalam hati. Hujan ini bagus untuk menghapus jejak kaki mereka di tanah, namun suhu dingin bisa membunuh Maya karena hipotermia.

​"Kita harus mencari tempat bernaung, tapi kita akan kedinginan," gumam Adrian frustrasi, mengusap air hujan dari wajahnya.

​Di saat itulah, Maya teringat sesuatu. Dengan tangan gemetar, ia menarik ritsleting ransel gunung raksasanya yang sedari tadi memberatkan punggungnya.

​Ia merogoh ke dalam, dan menarik keluar dua buah jas hujan tebal berwarna kuning menyala, dan... sebuah payung motif bunga.

​Adrian melongo melihat barang-barang itu. Di tengah situasi hidup dan mati, pemandangan jas hujan kuning dan payung bunga itu terlihat sangat absurd.

​"Ibuku bilang... laut tetaplah laut," ucap Maya dengan gigi bergemeretak menahan dingin, menyodorkan satu jas hujan pada Adrian.

​Adrian terdiam sekian detik, lalu tawa pendek tak percaya keluar dari mulutnya. "Ya Tuhan, ibumu adalah seorang cenayang." Adrian segera memakai jas hujan itu, yang seketika menahan angin dan menstabilkan suhu tubuhnya.

​Maya hendak membuka payung bunganya, namun Adrian langsung menahan tangannya. "Jangan buka payungnya, Gadis Kecil. Warna terang dari atas akan membuat kita terlihat mencolok kalau mereka pakai drone."

​Maya mengangguk patuh, memasukkan kembali payungnya. Ia merogoh tasnya lagi dan mengeluarkan sebuah kompas militer tua. "Kita harus berjalan ke arah mana?"

​Adrian menatap kompas di tangan gadis itu dengan kekaguman yang nyata. Barang-barang yang kemarin ia tertawakan habis-habisan di pelabuhan kini menjadi penentu hidup dan mati mereka.

​"Arah utara," jawab Adrian cepat. "Di sebelah utara ada gua-gua karang yang menyempit, tempat persembunyian yang ideal. Dan mereka pasti mengira kita akan lari ke arah barat menuju pelabuhan kedua."

​Maya membuka kompasnya, matanya yang tadi penuh air mata kini memancarkan ketegasan. Pengetahuannya membaca peta dan instrumen dari buku-buku ensiklopedia bekas di tokonya kini berguna. Ia menunjuk ke arah celah di antara dua bukit kecil. "Utara ke arah sana."

​Adrian tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Maya dengan sangat erat, menautkan jari-jari mereka. Telapak tangan pemuda itu terasa hangat dan memberikan rasa aman yang luar biasa di tengah badai.

​"Ayo kita bergerak, Gadis Kecil. Aku berjanji, tak akan kubiarkan sehelai pun rambutmu disentuh oleh mereka."

​Maya mengangguk. Dengan tas raksasa peninggalan kebrutalan protektif Clara di punggungnya, dan tangan yang digenggam erat oleh pewaris misterius di sisinya, Maya melangkah menembus badai hutan, siap menghadapi apa pun yang menanti mereka di depan sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!