NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 22

BAB 22

Ruang kerja Victor di lantai teratas menara bisnisnya dirancang untuk menegaskan dominasi mutlak. Dinding kaca tebal membentang lebar memperlihatkan hamparan lampu kota di bawah naungan malam, sementara meja kerja kayu mahoni berukuran besar dipenuhi oleh tumpukan laporan analisis pasar mode serta berkas pemetaan kompetitor.

Victor berdiri di balik mejanya, memutar-mutar pena berujung emas dengan gerakan teratur. Di depannya, Clarissa Arum duduk menopang dagu dengan raut wajah tidak sabar, sementara Baskoro berdiri tegap bersama seorang konsultan hukum bisnis utama mereka.

Di layar monitor besar yang menempel di dinding, logo merek REN terpampang jelas, dikelilingi oleh kurva grafik tren mode dan deretan skor akumulatif kompetisi yang menempatkan merek tersebut kokoh di peringkat pertama dengan nilai 94,8.

"Aku tidak butuh penjelasan soal betapa hebatnya presisi ukiran logam milik merek REN," kata Victor memecah keheningan ruangan dengan nada dingin. "Yang aku butuhkan adalah siapa orang di balik nama itu dan bagaimana cara menghentikannya."

Baskoro menggeser satu langkah ke depan, membuka map dokumen tebal di tangannya. "Tim hukum kami sudah melacak jalur pendaftaran karya merek REN sejak tahap awal, Pak Victor. Namun, struktur kepemilikannya dilindungi oleh nominee trust dan lembaga wali amanat independen yang sangat tertutup. Merek REN terdaftar atas nama yayasan nirlaba pengembang kerajinan nasional, dengan seluruh korespondensi ditangani oleh kantor hukum eksekutif."

"Konsultan hukum sebesar kita juga tidak bisa menemukan celahnya?" sela Clarissa gusar. Ia menatap Victor dengan mata berbinar cemas. "Victor, REN itu ancaman mutlak! Selisih skor gaunku dengan Maya memang 0,5 poin, tapi kita berdua berada jauh di bawah angka 94,8 milik REN! Kalau REN tetap melenggang di panggung final, kemenangan Arum House tidak akan pernah terlihat mengesankan!"

Victor mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Clarissa tenang. Matanya menyipit menatap monitor.

"Setiap seniman punya titik lemah, Clarissa," ujar Victor tenang, meski ada kilat keangkuhan yang memancar di matanya. "REN sengaja menjaga jarak dari hiruk-pikuk industri untuk menaikkan nilai tawar karyanya. Pria itu membangun reputasi eksklusif agar penawaran yang masuk ke mejanya selalu bernilai fantastis."

Victor beralih menatap konsultan hukumnya. "Siapkan draf perjanjian kompensasi pengunduran diri dan akuisisi hak komersial merek REN atas nama konsorsium Victor Group. Sediakan dana lima miliar rupiah tunai. Syarat utamanya sederhana: REN harus menarik diri dari panggung final kompetisi ini dengan alasan fokus pada pameran tunggal internasional, lalu menyerahkan hak komersial karya pahatan logamnya untuk diproduksi eksklusif bersama Arum House."

Clarissa tersenyum culas saat menangkap arah pikiran Victor.

"Jika REN mundur secara resmi dari kompetisi, skor 94,8 itu gugur... dan posisi Arum House otomatis naik ke peringkat pertama!" kata Clarissa dengan rasa percaya diri tinggi.

"Tepat," puji Victor dengan senyum tipis yang tajam. "Aturan kurasi menyebutkan bahwa jika peserta peringkat atas mengundurkan diri sebelum verifikasi berkas final, maka peserta di bawahnya naik mengisi posisi puncak. Maya Nilakandi tidak akan pernah menyusul angka kita, dan kita mendapatkan hak komersial karya merek REN sekaligus."

Baskoro membungkuk hormat, sebelum kemudian menyela. "Draf penawaran lima miliar dan klausul pengunduran diri tersebut sudah dikirimkan langsung ke kantor hukum perwakilan REN satu jam lalu, Pak. Kami memberi batas waktu konfirmasi hingga esok sore."

Sementara itu, di sebuah galeri seni independen di kawasan pusat kebudayaan, sosialisasi pameran seni malam itu berlangsung tenang. Di sudut area terbuka yang sepi, sebuah mobil sedan hitam elegan terparkir di bawah naungan pohon tua.

Di dalam mobil, perwakilan hukum resmi REN baru saja menutup panggilan telepon rahasia, lalu menyerahkan sebuah perangkat digital kepada sosok pria berkemeja gelap yang duduk di kursi belakang.

"Perusahaan Victor menyerahkan penawaran lima miliar rupiah, Pak," ujar pengacara itu pelan. "Dia meminta Anda menandatangani kesepakatan pengunduran diri dari [kompetisi] esok hari, agar Arum House bisa naik ke peringkat pertama."

Pria di kursi belakang—sosok yang dikenal dunia kurasi sebagai perupa di balik nama REN—menatap layar perangkat digital itu dengan wajah tenang dan tatapan mata yang tajam berwibawa. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya ada pendar dingin yang mengintimidasi.

Jemarinya menekan beberapa tombol di layar. Bukan hanya menolak penawaran tersebut secara permanen, ia juga menginstruksikan sistem keuangan yayasannya untuk mengalirkan dana hibah sebesar dua ratus juta rupiah malam itu juga ke rekening bantuan pengerajin lokal yang sebelumnya sempat diancam dihentikan pasokannya oleh pihak Victor.

"Orang seperti Victor selalu berpikir bahwa integritas dan panggung karya bisa dibeli dengan lembaran uang," kata REN dengan suara berat yang tertata rapi. "Kirim balik draf itu dengan stempel penolakan mutlak. Dan pastikan tim legal kita mengunci seluruh celah hukum agar Victor tidak bisa menekan panitia kurasi."

"Baik, Pak. Instruksi dilaksanakan," jawab pengacaranya tegas.

Pria itu kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju pelataran luar galeri seni untuk menghirup udara malam. Langkah kakinya tenang, membawakan aura ketegasan seorang maestro yang disegani di lingkaran perupa tingkat tinggi.

Saat melangkah di selasar galeri yang remang, langkah REN terhenti sejenak. Di dekat area pameran kain tradisional yang sudah tutup, seorang wanita berdiri sendirian di bawah pendar lampu taman yang temaram. Wanita itu adalah Maya. Ia tampak memangku buku sketsa tua dan memegang erat lembaran sampel sutra organza. Wajahnya membayangkan kelelahan yang berat, namun matanya tetap menatap arsitektur gedung dengan keteguhan yang pantang runtuh.

Pria itu mengamati Maya dari jarak sepuluh langkah, memperhatikan jemari sang desainer yang meremas halus tepi sutranya. Di mata REN, kelelahan Maya bukan tanda kelemahan, melainkan pertanda dari seorang pencipta yang siap mempertaruhkan seluruh jiwa demi karyanya. Tanpa ragu, REN melangkah perlahan mendekati selasar tempat Maya berdiri.

Di saat yang sama, tanpa disadari oleh keduanya, sesosok pria berjaket kulit hitam merayap di balik pilar taman seberang seraya menyiapkan kamera telefoto berlensa Panjang.

Dengan napas tertahan dan gerakan sehalus kucing liar di tengah kegelapan, ia menyusup makin dalam ke balik rerimbunan tanaman hias. Pria itu dengan teliti mencari sudut tembak yang paling presisi agar wajah REN dan Maya bisa tertangkap utuh dalam satu bingkai cahaya. Sambil menyapu bayangan malam yang temaram, ia perlahan mengatur jarak fokus lensa tingginya hingga pendar redup lampu taman memantulkan ekspresi kedua target secara begitu jelas dan kontras.

Setelah mengunci posisi dan memastikan bayangan pilar tak lagi menghalangi pandangan, jemari pria itu menegang. Ibu jarinya menempel kaku di atas tombol pemotret, siap mengeksekusi rekaman visual paling berharga yang akan diserahkan langsung kepada Baskoro. Rekaman rahasia ini bukan sekadar foto biasa, melainkan bahan konspirasi liar yang siap dikirimkan tangan kanan Victor itu untuk meledakkan panggung final dan melumat reputasi Maya dalam hitungan detik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!