Spil krisan donk. Masih pemula, tulisan masih berantakan🙏
Novel ini mengandung adegan ehem-ehem, yang merasa takut khilaf minggir dulu.
Embun 25tahun, seorang yatim piatu yang dibesarkan di sebuah Panti asuhan. Menikah dengan Danuarta diusia nya yang masih belia. Mereka dikaruniai anak yang cantik bernama Kayla. Keluarga harmonis itu berubah sejak Danu mengkritik penampilan Embun yang dekil.
Tanpa tahu Danu suaminya telah lama berselingkuh. Demi anaknya Embun mencoba bertahan dengan sikap Danu yang semakin menjadi. Namun Embun tetap diceraikan karena dekil.
Embun yang tersulut amarah merubah diri menjadi wanita cantik dan elegan dengan bantuan seorang pria asing bernama Malvin .
Siapakah Malvin? Kenapa dia mau membantu Embun? dan bagaimana reaksi Danu melihat perubahan Embun mantan istrinya itu?
Penasaran? Lanjut baca.
Like, komen, fav, Vote dan Gift nya ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chap 22 : Restu 2
"Kay!"
"KAYLA!"
Embun mencari di seisi rumah namun tak juga dia temukan.
"Kayla, kamu dimana?"
Embun masih mencari, dalam rumah yang besar itu setiap pintu dia buka setiap pelayan yang dia temui Embun tanyai, namun tak mudah menemukan gadis kecil yang sedang menangis itu. Beberapa kali Embun melewati Malvin yang mengikutinya kesana kemari.
Embun berlari ketaman, tak juga dia temukan. Embun panik, dia frustasi, dan menjambak rambutnya sendiri. Air matanya mengalir begitu saja, sesekali dia menghapusnya.
Malvin menjadi tak sabar, menahan tangan Embun yang barusaja lewat didepannya. Embun berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Aku harus mencari Kayla!"
"Tenangkan dirimu!"
"Lepas! Lepas Mal! Lepaskan aku!" pekik Embun memberontak.
Malvin meraih tubuh Embun dan memeluknya, mendekap erat. tubuh mungil itu.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku Mal!"Embun memukul-mukul dada Malvin. dan mendorongnya hingga pelukannya terlepas, Embun menampar pipi Malvin hingga wajah pria itu terhempas kesamping.
Embun marah tapi juga ada sedikit penyesalan disana. Air matanya masih membanjir dipipinya.
"Sudah lebih baik?" Malvin menegakkan kepalanya,
"Ikut aku!" Malvin menarik paksa tangan Embun.
Embun masih berusaha melepaskan tangannya.
"Lepaskan aku!" tangis Embun.
Malvin membawa Embun keruang pengawasan. Disana ada puluhan layar yang menampakan gambar yang tersambung pada kamera CCTV.
"Kalian sudah menemukannya?" mendekap erat tubuh Embun.
"Gadis itu ada ditaman samping, dekat kolam, bersembunyi dibalik tanaman." ucap kepala keamanan.
"Kamu dengar. Kay ada disana." menatap wajah sendu Embun.
Embun berbalik hendak pergi menghampiri Kay, namun ditahan oleh Malvin.
"Biar aku saja yang bicara dengannya. Kamu bantu aku membujuk Catty. Anak itu juga marah padaku, aku kesulitan membujuknya. Dia pasti akan mendengarkanmu. Tolonglah!"
Embun menatap wajah Malvin dengan lelehan diwajahnya. Mata sembabnya membuat Malvin semakin merasa bersalah. Candaan nya untuk mengganggu anak gadisnya justru menjadi bumerang, karena Kay juga ada disana. Malvin tak menyangka jika Reaksi Kay akan seperti itu.
"Catty ada dikamarnya. Aku yang akan membujuk Kayla." ucap Malvin lagi, meninggalkan Embun diruangan itu.
Embun kembali melihat kearah layar, dimana disana terlihat Kay yang sedang duduk di rerumputan memeluk lututnya. Tak lama Malvin terlihat mendekat.
Mereka terlihat berbincang lalu Malvin memeluk tubuh kecil itu dari samping. Melihat itu Embun sedikit lega. Dia tersenyum kecil. Kini gilirannya untuk membujuk Catty.
Kay memeluk lututnya, menatap kolam yang berisi ratusan ikan koi didalamnya dengan air mancur yang menambah keindahan kolam itu.
"Ini juga menjadi tempat favoritku jika ingin menenangkan diri."suara Malvin yang berdiri disampingnya.
Kay mengusap pipinya, Malvin mengambil duduk disamping Kay. Malvin mengambil sapu tangannya, mengangsurkanya didepan kayla.
Kayla mengambilnya dan membuang ingus di saputangan itu. Kay menyerahkan kembali saputangan Malvin.
"Itu menjijikkan! kenapa mengembalikannya pada Uncle Mal. Kay?"protes Malvin.
Kayla hendak menarik lagi saputangan itu, dengan cepat Malvin mengambilnya.
"Sudahlah! Biar kusimpan."ucap Malvin.
"Kamu keberatan?"
Kayla menoleh,
"Jika Uncle menjadi Daddymu juga?"
Kayla kembali melihat ke arah kolam.
"Apa karena itu Om Malvin mencium Ibu?"
"Tidak!"ucap Malvin."Ibumu yang menggodaku lebih dulu."
Kay menoleh, melayangkan tatapan tak terima.
"Ibu tidak seperti itu."
Malvin tersenyum geli.
"Jadi menurutmu aku yang merayunya?"
"Heemm...."
"Kenapa? Dia jelek. kenapa aku harus merayunya?"
"Tapi ibu baik."
Malvin tersenyum kecil.
"Jangan ambil ibu dari Kay, Uncle! Kay sudah tak punya siapapun. Hanya ibu yang Kayla punya." tangis Kayla pecah lagi.
Malvin memeluk Kay dari samping. menepuk-nepuk lengannya.
"Tidak ada yang bisa mengambil Embun dari mu Kay. kecuali Tuhan." ucap Malvin pelan."Aku tidak akan mengambilnya. Dia tetaplah ibumu. Aku hanya ingin kamu membaginya denganku, dengan Catty. Tentu saja Catty juga akan membagi Daddy Mal padamu."
Sejenak terdiam. Kayla masih dalam dekapan Daddy Malvin.
"Apa kamu mau menjadi saudara Catty, Kay?"
_______
Ditempat yang berbeda, Embun berdiri didepan pintu kamar Catty. Embun menarik nafasnya, lalu mengetuk pintu itu.
Tak ada sahutan dari dalam. sekali lagi Embun mengetuk pintu.
"Ini Aunty Embun."
Hening.
"Aku masuk ya Cat."
Embun memegang handle lalu membukanya. Embun melongok dan masuki perlahan setelah dia menutup kembali pintu.
Catty duduk diam dipinggir ranjang. Embun memarik nafasnya, Catty menatap tajam padanya.
Lucu sekali rasanya ditatap setajam ini oleh anak kecil. batin Embun geli.
"Mmmmm.... Catt..."
"Apa Daddy yang menyuruhmu kemari?"
Tepat! Bagaimana dia bisa tau? batin Embun sedikit terkejut.
"Mmmm...."
"Huuuhh!! Daddy licik!"gumam Catty kesal. "Dia pasti takut berhadapan denganku."
"Hahahhahaa..." Embun tertawa kikuk.
Anak ini mengerikan. batin Embun lagi.
Embun memangkas jarak. Dia duduk ditepian ranjang disampaing Catty.
"Aunty akan duduk disini."
"Apa Aunty sedang meminta ijin?"
"Tidak. Hanya memberitahumu."
"Baguslah! Karena aku tak mengijinkan. Jadi jangan ijin padaku."
Embun terkekeh.
Mengusap rambut Catty.
"Rambutmu bagus. Kamu pernah mengepangnya?"
"Pernah. Daddy yang lakukan."
"Mommy?"
"Mommy tak bisa."
"Benarkah?"sedikit terkejut.
"Aunty sering mengepang Kay. Kamu mau?"
Catty menatap Embun lalu mengangguk. Embun mengambil sisir dan penjepit rambut, juga karet rambut berwarna-warni. Dia mulai mengepang rambut Catty.
"Aunty."
"Heeemm?"
"apa Aunty mencintai Daddy mal?"
Embun terdiam. sejenak menghentikan mengepang rambut Catty lalu ia melanjutkan lagi.
"Kenapa?"ucap Embun pelan."Kamu penasaran?"
Terdiam sejenak.
"Aku senang jika punya saudara Kay." ucap Catty bersemangat,
"Tapi sepertinya Kay tidak." lirihnya.
Embun tersenyum, Catty sebenarnya lebih dewasa dari pada Kay, hanya dia sedikit manja.
"Kay butuh waktu."
"Apa Aunty juga?"
Embun terdiam lama tanpa menjawab Embun menyelesaikan mengepang rambut Catty.
"Kamu sudah sangat cantik Cat."
"Benarkah?" berbalik dengan mata berbinar.
Catty berjalan menuju meja rias dan melihat pantulan di kaca.
"Benar! aku memang cantik!" ucapnya menyombong."mungkin karena mommy yang mengepangnya."
Embun yang semula tersenyum sedikit menurunkan sudut bibirnya, dan Catty menyadari itu lewat pantulan kaca.
"Boleh Cat memanggilmu Mommy Embun?"
kalo ngarep bisa bersinar yah modalnya jg gede...
modal gak mau tp ngarep dpt istri yg glowing maximal