Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara suasana di dalam mobil mewah Lucas diliputi kehangatan dan rasa syukur, atmosfir di markas kepolisian justru terasa amat mencekam dan penuh aura kekalahan.
Siska yang tidak ikut serta dalam aksi nekat menjebak Aira di hotel—tampak berjalan terburu-buru menelusuri koridor kantor polisi.
Wajahnya dipenuhi kepanikan dan rasa malu yang amat sangat.
Sejak kabar penangkapan ibu dan kakaknya menyebar, ponsel Siska tak berhenti berdering dipenuhi pertanyaan dari para kerabat.
Di ruang penyidikan, Siska mendapati ibu dan kakaknya duduk lunglai di kursi pemeriksaan dengan mata sembab dan wajah yang tak lagi memiliki sisa harga diri.
"Ibu! Mas Radit!" pekik Siska dengan suara tertahan, menatap prihatin pada kondisi dua anggota keluarganya itu.
Ibu Radit yang melihat putri bungsunya langsung menangis histeris kembali.
"Siska! Tolong kami, Nak! Tolong keluarkan Ibu dan Masmu dari tempat terkutuk ini! Ibu tidak mau dipenjara!"
Dengan berbekal uang tabungan pribadi dan sertifikat aset tersisa yang ia bawa, Siska bersama pengacara keluarga bernegosiasi mati-matian di hadapan penyidik.
Setelah melalui proses administrasi yang panjang dan rumit, polisi akhirnya menyetujui permohonan penangguhan penahanan yang diajukan Siska untuk Radit dan ibunya.
Klek!
Pintu sel besi dibuka. Radit dan ibunya melangkah keluar dengan tubuh lemas bagai tanpa tulang.
Namun, sebelum mereka sempat menghela napas lega, perwira polisi yang menangani kasus tersebut menatap mereka bertiga dengan raut wajah sangat dingin dan tegas.
"Dengar baik-baik," ujar perwira polisi itu dengan nada menekan.
"Permohonan penangguhan penahanan saudara kami kabulkan dengan jaminan saudari Siska. Namun, kalian berdua berstatus tahanan luar dengan kewajiban lapor dua kali seminggu."
Polisi itu menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada.
"Satu hal lagi yang paling krusial: Kalian berdua dilarang keras meninggalkan area kota sampai seluruh rangkaian sidang berkas perkara pasal berlapis dari pihak kuasa hukum Pak Lucas dan Chef Aira dinyatakan selesai di pengadilan! Jika kalian mencoba kabur atau melanggar aturan ini, jaminan batal dan kalian akan langsung dijebloskan kembali ke dalam sel tanpa penangguhan lagi!"
"I-Iya, Pak. Kami paham. Kami janji tidak akan ke mana-mana," sahut Siska dengan bibir gemetaran, mewakili ibu dan kakaknya yang sudah terlalu lemas untuk bersuara.
Sementara itu, Mila tidak mendapatkan kemewahan penangguhan penahanan tersebut.
Karena bukti keterlibatannya dalam pemalsuan berkas, tuduhan pemerasan, serta pengakuannya terkait janin yang dikandungnya, Mila tetap mendekam dingin di dalam sel tahanan.
Radit melangkah keluar dari kantor polisi dengan pandangan kosong.
Bayangan Aira yang anggun, sukses, dan kini mengandung tiga anak kembar dari pengusaha paling berkuasa terus membakar dadanya dengan penyesalan yang takkan pernah bisa ia perbaiki lagi.
Mobil mewah yang membawa Lucas dan Aira akhirnya memelankan lajunya, berhenti tepat di area lobby VIP hotel bintang lima milik keluarga Lucas.
Randy yang berada di kursi kemudi hendak bersiap turun untuk membukakan pintu, namun gerakan tangannya terhenti saat melihat dari spion tengah sang atasan masih enggan melepas genggamannya.
Aira yang sudah bersiap turun mendadak tertahan. Ia merasakan cengkeraman jemari Lucas di tangannya terasa makin erat dan hangat, bergetar oleh sebuah emosi yang begitu membuncah.
Aira menoleh, menatap wajah tampan pria di sampingnya dengan kening berkerut halus.
"Ada apa, Lucas?" tanya Aira lembut.
Lucas menatap tepat ke dalam manik mata Aira. Pandangan mata pria tegas itu memancarkan kejujuran, kerentanan, sekaligus tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku ingin menikahimu sekarang," ucap Lucas penuh penekanan. Suaranya baritonnya bergetar mantap.
"Aku tidak mau menundanya lagi, Aira."
Aira tersentak pelan, matanya membelalak kaget. "Tapi, Lucas, persiapan pernikahan kita kan belum—"
"Tolong, Aira." potong Lucas cepat, menyela ucapan Aira dengan tatapan memohon yang jarang sekali diperlihatkan oleh seorang CEO dingin seperti dirinya.
Ia meraih kedua tangan Aira dan membawanya ke depan dada.
"Aku tidak bisa menundanya lagi. Aku ingin kamu resmi menjadi istriku, mendampingi hidupku, dan menjadi ibu dari anak-anak kita dengan ikatan yang sah. Soal pesta dan resepsi megah, kita bisa atur kapan saja. Tapi akad pernikahan kita, aku mau secepatnya."
Melihat ketulusan yang meluap-luap dari mata pria yang selalu pasang badan melindunginya itu, sudut bibir Aira perlahan terangkat. Dinding keraguannya runtuh sepenuhnya.
Aira menganggukkan kepalanya dengan anggun dan senyum mengembang manis.
"Iya, Lucas. Aku mau."
"YES!" seru Lucas spontan.
Pria yang biasanya selalu tenang dan berwibawa itu seketika mengepalkan tangannya ke udara dengan raut wajah kegirangan bagaikan anak kecil yang baru mendapat hadiah terbesar dalam hidupnya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lucas langsung meraih ponsel dari saku jasnya.
Jemarinya menekan tombol panggilan cepat menghubungi nomor sang mama.
Hanya dalam dua kali nada dering, suara Mama Lucas terdengar di seberang telepon.
"Hallo, Lucas? Ada apa, Sayang? Kalian sudah sampai di hotel?"
"Ma! Tolong Mama langsung datang ke hotel sekarang juga!" seru Lucas tanpa basa-basi, suaranya dipenuhi nada antusiasme tinggi.
"Lho? Ada apa, Lucas? Ada masalah dengan Aira atau calon cucu-cucu Mama?!" tanya sang mama panik dari seberang sana.
"Tidak ada masalah, Ma! Justru kabar sangat bahagia!" jawab Lucas mantap seraya merangkul pinggang Aira mesra.
"Aira sudah setuju! Kami memutuskan untuk melangsungkan akad nikah secepatnya! Tolong Mama bantu siapkan penghulu dan berkas pernikahan hari ini juga!"
Di seberang telepon, Mama Lucas berteriak histeris hingga suaranya terdengar melengking tinggi menembus speaker ponsel.
"APA?! AKAD NIKAH HARI INI?! Ya Tuhan, Lucas! Aira! Mama bahagia sekali!" jerit sang mama penuh sukacita.
"Kalian tunggu di hotel! Dalam satu jam, Mama akan bawa tim wedding organizer terbaik, gaun pengantin anggun untuk Aira, dan penghulu dari KUA setempat ke hotel!"
Setelah panggilan ditutup, Lucas menggandeng jemari Aira dengan senyum yang tak berhenti mengembang.
Ia menuntun calon istrinya melangkah masuk menembus pintu kaca utama hotel bintang lima tersebut.
Begitu mereka menginjakkan kaki di lobby, Randy—yang sudah diperintahkan Lucas—langsung melangkah ke area pusat informasi dan meraih microphone pengumuman internal hotel.
Suara Randy yang lantang dan mantap seketika menggelegar memecah keheningan seluruh area hotel:
"Perhatian untuk seluruh jajaran staf dan karyawan! Hari ini, pimpinan tertinggi kita, Pak Lucas, dan Head Chef kita, Chef Aira, akan melangsungkan akad pernikahan resmi di Ballroom Utama sekarang juga!"
DEGG!
Pengumuman mendadak itu bagaikan ledakan kebahagiaan yang menyengat seluruh sudut hotel.
Para Staf Front Office, Housekeeping, hingga Staf Keamanan yang mendengarnya langsung bersorak riang dan bertepuk tangan riuh.
Sementara itu di area dapur utama, berita tersebut mendarat bagaikan petir di siang bolong.
Rizal yang sedang memegang kuali sampai hampir menjatuhkannya, sedangkan Arum menjerit histeris sambil melompat-lompat girang.
"DEMI APA?! BOS BESAR SAMA CHEF AIRA NIKAH HARI INI?!" teriak Rizal heboh dengan mata melotot lebar.
"Aaaaa! Chef Aira kita akhirnya jadi Ibu Bos resmi!" jerit Arum terharu, mengusap air mata bahagianya.
"Ayo! Ayo semuanya! Kita harus masak menu paling spesial! Kita siapkan hidangan mi cumi terbaik dan melimpah untuk merayakan hari bahagia ini!"
Seluruh staf dapur langsung sibuk bagaikan lebah di sarangnya, menyiapkan bahan-bahan cumi segar kualitas terbaik dengan semangat membara.
Di ruang rias khusus VIP, Mama Lucas beserta tim wedding organizer profesional sudah tiba dan langsung menyulap ruangan menjadi begitu megah.
Kain-kain dekorasi bunga segar bernuansa putih dan emas dipasang dengan sangat cepat namun sempurna.
Aira didudukkan di depan cermin besar, dikelilingi oleh para perias yang mulai merias wajah cantiknya dengan gaya alami yang sangat anggun.
Di tengah kehebohan perias yang memasangkan tiara kecil di rambutnya, Aira mendadak teringat sesuatu.
"Tolong panggilkan Rizal sebentar," pinta Aira pada salah satu perawat pribadi Mama.
Beberapa menit kemudian, Rizal berlari terengah-engah memasuki ruang rias dengan apron yang masih terpasang rapi di tubuhnya.
"Iya, Chef Aira! Maksud saya, calon Ibu Bos! Ada perintah apa?!" seru Rizal siap siaga sambil memberi hormat heboh.
Aira terkekeh pelan menatap wajah panik sekaligus gembira dari koki andalannya itu.
"Rizal, ingat ya, meskipun hari ini kita semua sibuk dengan akad nikah mendadak ini, jangan sampai lupa dengan pesanan Dokter Ratna!" pesan Aira penuh penekanan.
"Tolong pastikan 20 porsi mi cumi tanpa tepung itu dimasak dengan sempurna dan dikirimkan tepat waktu ke poliklinik kandungan Rumah Sakit Utama, ya."
Rizal menepuk dadanya mantap seraya tersenyum lebar.
"Siap dilaksanakan, Chef! Pesanan Dokter Ratna sudah masuk daftar prioritas utama dapur! Saya sendiri yang akan mengawasi rasanya sampai diantar ke rumah sakit!"
"Terima kasih ya, Rizal," sahut Aira tulus.
"Sama-sama, Chef Aira! Selamat menempuh hidup baru, kami semua staf dapur sangat bahagia untuk Chef!" ujar Rizal terharu sebelum kembali berlari cepat menuju dapur.
Dengan balutan gaun pengantin putih yang sangat anggun dan polesan rias tipis yang memancarkan kecantikan alaminya, Aira menatap pantulan dirinya di cermin.
Hari ini, di balik semua kehebohan dan cinta yang mengelilinginya, ia siap melangkah menuju altar kehidupan baru bersama Lucas dan tiga malaikat kecil di dalam kandungannya.
mestinya Radit dan ibunya jangan dapat penangguhan penahanan yah, enak sekali
waduh... dapat orderan nih menu barunya 🤣🤣
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣