NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Orang yang Dibunuh Sebelum Memiliki Nama

Gu Chen tidak langsung menjawab.

Di hadapannya berdiri seseorang yang mengenakan pakaiannya, memiliki postur tubuhnya, bahkan membawa bekas luka yang sama. Namun, wajah sosok itu hanyalah permukaan putih tanpa mata, hidung, ataupun mulut. Satu kalimat hitam tertulis di sana, seolah seseorang sengaja mengukirnya menggunakan tinta yang tidak akan pernah mengering.

AKU ADALAH ORANG YANG KAU BUNUH SEBELUM KAU MEMILIKI NAMA.

Gu Chen melirik meja batu di antara mereka. Di atasnya terdapat dua cangkir teh. Uap tipis masih mengepul dari salah satunya, sementara cangkir lainnya kosong.

“Kalau aku membunuhmu sebelum memiliki nama,” katanya santai, “berarti kau juga tidak punya nama saat itu. Jadi, bagaimana kau tahu bahwa orang yang membunuhmu adalah aku?”

Sosok tanpa wajah itu terdiam.

Kemudian ia tertawa.

Bukan tawa yang keras, melainkan tawa pendek seperti seseorang yang baru menyadari bahwa lelucon lama masih bisa menghibur.

“Tidak berubah sama sekali.”

“Sayangnya, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang wajahmu.”

“Aku tidak memiliki wajah karena kau mengambilnya.”

Gu Chen menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk. Ia memeriksa bagian bawah meja, kaki kursi, dan lantai di sekitarnya. Tidak ada lingkaran sihir, benang pengamat, atau tanda yang biasa digunakan para pemain untuk mengawasi bidak.

Tempat ini terasa terlalu nyata.

“Kalau begitu, kembalikan wajahmu sendiri,” jawab Gu Chen. “Jangan menyalahkan orang lain atas masalah penampilanmu.”

Sosok itu kembali tertawa.

Di belakang Gu Chen, Lin Yue mengangkat busurnya. Bai berdiri dengan wajah tegang, sedangkan Gu Yuan tidak bergerak sedikit pun sejak melihat sosok tersebut.

“Gu Yuan,” panggil Gu Chen tanpa menoleh. “Kau mengenalnya?”

“Aku pernah melihatnya.”

“Jawaban yang sangat berguna.”

“Aku tidak tahu siapa dia.”

Gu Chen akhirnya menoleh. “Kau mengenali sesuatu tentang dirinya, tetapi tidak tahu siapa dia?”

Gu Yuan mengangguk pelan. “Aku mengenali kesalahan yang pernah kulakukan.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Sosok tanpa wajah mengangkat tangannya dan menunjuk kursi di seberangnya.

“Duduklah, Gu Chen. Kita tidak memiliki banyak waktu.”

“Kenapa?”

“Karena setelah percakapan ini selesai, salah satu dari kita akan kehilangan hak untuk tetap ada.”

Gu Chen tersenyum tipis. “Kau selalu membuat percakapan terdengar menyenangkan.”

Ia duduk, tetapi tidak menyentuh cangkir teh di hadapannya.

“Mulai dari awal. Siapa kau?”

“Aku adalah dirimu sebelum kau menjadi dirimu.”

“Penjelasan yang buruk.”

“Aku adalah identitas yang kau bunuh agar bisa hidup.”

“Masih buruk.”

Sosok itu memiringkan kepalanya, meskipun ia tidak memiliki kepala yang bisa memperlihatkan ekspresi.

“Kau ingin jawaban sederhana untuk sesuatu yang tidak pernah sederhana.”

“Aku ingin jawaban yang bisa diperiksa kebenarannya.”

Untuk pertama kalinya, sosok tanpa wajah itu tidak segera membalas.

Lalu ia mengangkat cangkir teh dan menuangkan isinya ke lantai.

Tidak ada cairan yang jatuh.

Sebaliknya, lantai berubah menjadi permukaan hitam yang memperlihatkan sebuah pemandangan.

Sebuah kota kuno berdiri di bawah langit merah. Menara-menara tinggi runtuh, jalanan dipenuhi abu, dan sebuah papan raksasa menggantung di atas kota seperti bayangan yang tidak mengenal matahari.

Di tengah kota, seorang pemuda berambut panjang berlutut di hadapan seorang anak kecil.

Pemuda itu memiliki wajah Gu Chen.

Anak kecil tersebut tidak memiliki wajah.

“Ini bukan ingatanku,” kata Gu Chen.

“Benar.”

“Lalu kenapa kau menunjukkannya kepadaku?”

“Karena ini adalah ingatan yang kau tinggalkan di dalam diriku.”

Pemandangan berubah.

Pemuda berambut panjang itu berdiri di hadapan sembilan sosok berjubah. Mereka mengelilinginya dengan lingkaran cahaya, sementara rantai hitam menembus bayangannya dan mengikat kedua tangannya.

Salah satu sosok mengucapkan sesuatu.

Suara itu tidak terdengar, tetapi Gu Chen dapat membaca gerakan bibirnya.

HAPUS IDENTITASNYA.

Pemuda berambut panjang tersebut tersenyum.

Kemudian seluruh sembilan sosok menghilang.

Bukan terbunuh. Bukan dihancurkan.

Mereka sekadar tidak pernah berada di sana.

Pemandangan itu lenyap sebelum Gu Chen sempat melihat kelanjutannya.

“Siapa pemuda itu?” tanyanya.

Sosok tanpa wajah meletakkan cangkir kosongnya.

“Kau.”

“Dan anak kecil itu?”

“Kau seharusnya tidak mengingatnya.”

Gu Chen mengetuk meja dengan jarinya.

“Kalau setiap jawabanmu diikuti larangan untuk mengingat sesuatu, kita tidak akan selesai sampai dunia ini kiamat.”

“Dunia pernah kiamat karena kau mengingat terlalu banyak.”

Kali ini, Gu Chen tidak membalas dengan lelucon.

Ia menatap sosok di hadapannya, berusaha menemukan celah dalam setiap kata yang diucapkan. Sosok itu mengetahui masa lalunya, tetapi pengetahuan bukan bukti. Ia bisa saja merupakan ciptaan Papan Kesepuluh, jebakan dari Pemain Pertama, atau sesuatu yang sengaja dibentuk menggunakan ingatan Gu Chen sendiri.

“Aku punya tiga pertanyaan,” kata Gu Chen akhirnya.

“Ajukan.”

“Pertama, apakah kau benar-benar diriku?”

“Ya.”

“Kedua, apakah aku benar-benar membunuhmu?”

“Ya.”

“Ketiga, apakah kau ingin aku mati?”

Sosok tanpa wajah itu terdiam cukup lama.

“Tidak.”

Jawaban tersebut justru membuat Gu Chen semakin waspada.

“Kenapa?”

“Karena jika kau mati sekarang, orang yang membunuhku akan mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya.”

“Siapa orang itu?”

Sosok tersebut mengangkat tangan dan menyentuh tulisan pada wajahnya.

Huruf-huruf hitam itu mulai bergerak, berubah menjadi bentuk yang menyerupai sebuah nama. Namun, sebelum nama tersebut selesai terbentuk, seluruh permukaan wajahnya retak.

Dari celah-celah itu keluar cahaya putih.

Sebuah pesan muncul di udara.

\[PERINGATAN: INFORMASI YANG DILARANG SEDANG DIUNGKAPKAN.\]

\[IDENTITAS PEMBICARA: TIDAK DAPAT DIPULIHKAN.\]

\[PROSES PENGHAPUSAN DIMULAI.\]

Tubuh sosok itu mulai memudar.

Gu Chen langsung berdiri.

“Berhenti bicara!”

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Justru itu masalahnya. Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku dengan benar!”

Sosok itu tertawa untuk terakhir kalinya.

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Kau tidak membunuhku karena membenciku.”

Tubuhnya semakin transparan.

“Kau membunuhku karena aku meminta—”

Suaranya terputus.

Seluruh ruangan bergetar.

Sebelum sosok itu benar-benar menghilang, ia mengulurkan tangan dan meletakkan sesuatu di atas meja.

Sebuah kunci hitam.

“Kau harus menemukannya sebelum Gu Yuan menemukannya lebih dahulu.”

Kemudian sosok tanpa wajah itu lenyap.

Tidak ada ledakan. Tidak ada sisa tubuh. Bahkan kursi yang didudukinya ikut menghilang, seolah tidak pernah ada seseorang di sana.

Gu Chen menatap kunci hitam di atas meja.

Lalu menoleh perlahan kepada Gu Yuan.

“Kurasa kau punya sesuatu untuk dijelaskan.”

Gu Yuan tidak menjawab.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Desa Qingyuan, Gu Chen melihat ketakutan yang nyata di mata orang yang selama ini ia panggil ayah.

Kunci hitam itu tidak memiliki lubang untuk dimasuki anak kunci lain. Bentuknya menyerupai potongan logam pipih dengan sembilan garis pada satu sisi dan sebuah lingkaran kosong pada sisi lainnya.

Lin Yue mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya.

“Simbol yang sama dengan gelang itu.”

Gu Chen mengeluarkan dua gelang kayu yang mereka temukan sebelumnya. Begitu salah satunya didekatkan pada kunci, sembilan garis di permukaan logam memudar. Lingkaran kosongnya justru memancarkan cahaya redup.

Bai mengerutkan kening.

“Itu bukan kunci pintu.”

“Lalu kunci apa?” tanya Lin Yue.

Bai menatap Gu Yuan.

“Kunci untuk mengunci seseorang.”

Gu Chen memutar kunci tersebut di antara jarinya.

“Bagus. Kita sudah punya lonceng berwajah manusia dan kunci untuk mengurung seseorang. Koleksi barang aneh kita semakin lengkap.”

“Gu Chen,” ujar Gu Yuan dengan suara berat.

“Aku mendengarkan.”

“Berikan kunci itu kepadaku.”

Gu Chen berhenti memutar kunci.

“Kenapa?”

“Karena benda itu berbahaya.”

“Semua benda yang berhubungan denganku selalu berbahaya. Kau perlu memberikan alasan yang lebih baik.”

Gu Yuan mengulurkan tangannya.

“Aku tidak memintamu mempercayaiku. Aku memintamu menyerahkannya.”

“Dan aku tidak menolak karena ingin membuatmu kesal. Aku menolak karena orang yang baru saja menghilang mengatakan bahwa aku harus menemukan kunci ini sebelum kau menemukannya.”

Wajah Gu Yuan mengeras.

Bai langsung menoleh kepada Gu Chen. Lin Yue pun menurunkan busurnya sedikit, menyadari bahwa masalah ini jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

“Dia mengatakan itu?” tanya Gu Yuan.

“Ya.”

“Apa lagi yang dia katakan?”

“Bahwa aku membunuhnya karena dia meminta sesuatu kepadaku. Sayangnya, dia menghilang sebelum menyelesaikan kalimatnya.”

Gu Yuan memejamkan mata.

Untuk beberapa saat, ia tampak seperti orang yang baru saja mendengar kabar tentang seseorang yang telah lama dianggapnya mati.

“Aku sudah berharap benda itu tidak akan pernah kembali,” gumamnya.

Gu Chen memasukkan kunci ke dalam saku.

“Kalau begitu, kita berada di pihak yang sama. Aku juga berharap banyak hal tidak kembali. Sayangnya, dunia tampaknya tidak peduli pada keinginanku.”

Ia berjalan menuju pintu keluar ruangan.

Namun, sebelum mencapai ambang pintu, lonceng hitam di tangannya tiba-tiba bergetar.

Bukan berdering.

Bergetar, seolah sesuatu di dalamnya sedang berusaha keluar.

Gu Chen mengangkat lonceng itu.

Pada permukaannya muncul wajah yang sama seperti sebelumnya. Kali ini, mata di balik wajah tersebut tertutup.

Sebuah suara berbisik.

“Jangan berikan kunci itu kepada Gu Yuan.”

Gu Chen tidak bergerak.

Suara itu melanjutkan, kali ini lebih pelan.

“Dia bukan orang yang ingin menguncimu.”

Gu Chen memandang Gu Yuan dari sudut matanya.

“Dia adalah orang yang pernah membukakan pintu untukmu.”

Lonceng itu kembali diam.

Gu Yuan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa ia mendengar suara tersebut.

Gu Chen menggenggam kunci di dalam saku.

Sekarang ia memiliki dua peringatan yang saling bertentangan.

Satu datang dari sosok yang mengaku sebagai dirinya sendiri. Satu lagi datang dari lonceng yang menyimpan sesuatu di balik wajahnya.

Keduanya menyuruhnya berhati-hati terhadap Gu Yuan, tetapi dengan alasan yang berbeda.

Gu Chen menarik napas panjang.

“Sepertinya,” katanya sambil menoleh kepada Gu Yuan, “kita perlu membicarakan masa lalu kita sekali lagi.”

Gu Yuan menatapnya tanpa berkedip.

“Tidak ada lagi yang bisa kukatakan kepadamu.”

Gu Chen tersenyum tipis.

“Kalau begitu, aku akan mencari orang yang bisa.”

Ia mengangkat kunci hitam itu.

Dan tepat ketika logam tersebut terkena cahaya, sebuah tulisan baru muncul pada permukaannya.

\[KUNCI ASAL TELAH DIKEMBALIKAN.\]

\[PEMILIK SEBELUMNYA: GU YUAN.\]

\[PEMILIK BERIKUTNYA: TIDAK DAPAT DITENTUKAN.\]

Di bawah tulisan itu, muncul satu baris tambahan.

\[ORANG YANG DIKUNCI MASIH HIDUP.\]

Gu Chen menatap pesan tersebut cukup lama.

Kemudian ia mengangkat wajahnya.

“Gu Yuan,” katanya pelan. “Siapa yang kau kunci?”

Untuk pertama kalinya, Gu Yuan tidak mencoba mengelak.

Ia hanya menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Dirimu.”

Dan jauh di balik sepuluh papan, di sebuah ruangan yang tidak tercatat dalam sejarah, seseorang membuka mata.

Tangannya terikat pada kursi batu.

Di hadapannya berdiri sembilan sosok berjubah, sementara satu kursi kosong menunggu pemiliknya.

Orang yang terikat itu tersenyum ketika sebuah suara mengumumkan bahwa kunci telah kembali kepada pemilik berikutnya.

“Bagus,” bisiknya.

“Sekarang, biarkan dia datang untuk membunuhku sekali lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!