Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Mode Pro-Player Aktif: Analisis Jaringan Otak Geser
Kringgg!
Suara peluit dari guru olahraga berbunyi dengan sangat nyaring membelah udara siang yang teramat terik itu. Suara nyaring tersebut menandakan bahwa duel satu lawan satu antara sang pangeran sekolah dan kapten basket resmi dimulai detik ini juga.
Seisi lapangan semen SMA Internasional Garudatama langsung menahan napas berjamaah karena tegang. Mereka semua bersiap menyaksikan pembantaian fisik secara sepihak yang tampaknya sudah berada di depan mata mereka.
Dimas langsung memasang kuda-kuda kokoh dengan seulas seringai meremehkan yang sangat lebar di wajah rupawannya. Tatapan matanya merendahkan Rendra secara terang-terangan di depan umum.
"Mundur aja lo sekarang dari lapangan, Rendra! Sebelum reputasi cowok cool lo hancur total di depan cewek-cewek satu angkatan!" ejek Dimas sengaja memprovokasi dengan suara lantang.
Rendra tidak menjawab ejekan tersebut dengan kata-kata sepatah pun. Dia tetap berdiri tegap di posisinya, memantulkan bola basket ke permukaan semen dengan ritme yang sangat teratur.
Wajah blasterannya dipasang sedatar mungkin laksana tembok semen bangunan baru. Saklar di dalam otaknya sudah bergeser penuh ke mode dark-analitis setelah mendengar ancaman hukuman ban dari pawang mentalnya.
Di mata Rendra, pergerakan fisik Dimas yang hendak maju merebut bola tidak lagi terlihat seperti gerakan manusia nyata di dunia asli.
Insting pro-player e-sports top global nomor satu miliknya langsung melihat setiap gestur tubuh Dimas sebagai barisan coding visual dan pattern game yang bergerak dalam tempo yang sangat lambat.
"Gaya bertahan lo terlalu terbuka, Senior," bisik Rendra pelan dengan suara berat fabrikasinya tepat di depan muka Dimas yang sedang menghadangnya.
"Apa lo bilang, kunyuk?! Sini lo kalau berani ngelewatin gue!" gertak Dimas kasar, langsung melesat maju hendak melakukan steal dengan tangan kanannya yang kekar.
Sret!
Dengan refleks makro tingkat tinggi yang biasa dia asah di depan layar PC, Rendra melakukan gerakan crossover rendah di belakang punggungnya dengan sangat mulus. Bola basket berpindah tangan dengan kecepatan kilat yang hampir tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang manusia biasa.
Dimas melotot syok saat tangan kanannya yang kekar hanya meraih angin kosong di udara terbuka. Keseimbangan tubuh atletisnya langsung goyah akibat momentum gerakannya sendiri yang terlalu bernafsu merebut bola.
"Anjir! Cepat banget gerakannya! Keren gila si Rendra!" teriak Aldi dari pinggir lapangan sampai melompat heboh dari kursi tribun penonton kelas XI-A.
"Wah, gila! Si Dimas langsung dilewatin dalam satu detik!" sahut siswa lain di sebelah Aldi dengan muka melongo tak percaya.
Rendra tidak membuang waktu sepeser pun untuk merayakan gerakan pertamanya. Langkah kakinya bergerak secara analitis dan presisi, melewati sisi kiri Dimas yang sudah mati kutu karena kehilangan posisi defensif terbaiknya.
Tap! Tap! Wusss!
Rendra melompat tinggi ke udara, melakukan teknik lay-up dengan postur tubuh yang teramat sangat sempurna laksana model profesional di majalah olahraga dunia internasional.
Bola meluncur mulus masuk ke dalam ring basket tanpa menyentuh papan pantul atau besi ring sama sekali. Plop! Suara jaring yang bergetar terdengar begitu memuaskan di telinga.
Skor pertama untuk kemenangan Rendra resmi tercipta di papan nilai buatan guru olahraga. Sorak-sorai dari tribun penonton langsung bergemuruh hebat memecah keheningan siang hari yang membara itu.
"Wah, Rendra bisa main basket sekeren itu gila! Gue kira dia cuma jago baca buku doang!" teriak salah satu siswi dari kelas XII-IPS dengan wajah memerah padam.
"Ganteng banget pas melayang di udara tadi, kayak malaikat!" sahut temannya yang sibuk merekam aksi Rendra menggunakan kamera ponselnya secara diam-diam.
"Kapten basket kita dilewatin kayak manekin pajangan toko baju yang ga bisa gerak!" ejek siswa lain dari barisan belakang tribun yang membuat suasana semakin bising.
Dimas mendidih mendengar teriakan-teriakan bernada memuja dari tribun penonton yang ditujukan untuk rivalnya itu. Wajah rupawannya langsung memerah padam karena menahan rasa malu dan amarah yang membubung tinggi ke ubun-ubunnya.
"Kebetulan doang lo, kunyuk kaku! Sini bolanya, giliran gue yang nyerang lo sampai tumbang dan nangis di lantai!" gertak Dimas kasar sambil merebut bola dari tangan wasit dengan emosi yang sudah meluap-luap.
"Silakan coba kalau lo ngerasa sanggup menembus pertahanan gue, Senior," tantang Rendra, kembali memasang wajah sekaku keramik rumah sakit untuk menjaga gengsi pangerannya di depan publik.
Dimas mulai memantulkan bola dengan agresif, mencoba melakukan drive cepat ke arah kanan lapangan basket. Dia sengaja menggunakan berat badannya yang lebih besar untuk menabrak dan mengintimidasi Rendra secara fisik agar cowok kaku itu terjatuh ke lantai semen.
"Rasain lo! Jangan sok jagoan lo di depan gue!" teriak Dimas sambil menabrakkan bahu kekarnya dengan sekuat tenaga ke arah dada Rendra.
Namun, Rendra tetap berdiri kokoh tanpa ekspresi wajah sedikit pun laksana batu karang raksasa di tengah laut yang dihantam ombak badai. Otaknya yang ranking satu paralel sedang sibuk menghitung kecepatan pantulan bola dan sudut pergerakan tangan Dimas.
"Prediksi gue ga pernah meleset, Senior," gumam Rendra dengan nada yang sangat dingin di tengah benturan fisik mereka.
Plak!
Tangan kiri Rendra bergerak dengan akurasi presisi gila yang di luar nalar sehat manusia biasa. Dia menepis bola dari genggaman Dimas dengan satu gerakan potong yang bersih, tepat saat kapten basket itu bersiap mengangkat bola untuk melakukan shooting.
"Sialan! Tangan lo cepet banget?! Lo pake trik gaib apa, hah?!" umpat Dimas panik setengah mati saat menyadari bola di tangannya sudah melambung liar di udara.
"Fokus lo terlalu gampang dipecah cuma karena emosi remeh," balas Rendra dingin sambil melompat tinggi menangkap bola yang melambung liar tersebut dengan kedua tangannya.
Rendra langsung membawa bola mundur ke luar garis tiga angka dengan langkah kaki yang teratur dan elegan, menjauh dari jangkauan area bertahan Dimas.
Dimas yang tidak mau dipermalukan kedua kalinya buru-buru berlari mengejar dengan napas yang sudah memburu panik. "Jangan harap lo bisa melakukan shoot dari jarak sejauh itu, Rendra!" teriak Dimas sambil melompat tinggi dengan kedua tangan menjulur ke atas untuk melakukan block total.
"Jarak sejauh ini terlalu dekat untuk ukuran akurasi menembak analitis gue," gumam Rendra pelan, menatap lurus ke arah ring basket di depannya tanpa ada rasa ragu sedikit pun.
Dia melakukan teknik jump shoot dengan gerakan tubuh yang teramat sangat tenang, seimbang, dan elegan. Ujung jarinya melepaskan bola dengan putaran backspin yang sangat indah membelah udara siang yang terik.
Swish!
Bola masuk dengan sangat bersih tanpa menyentuh ring besi sama sekali, membuat jaring gawang kembali bergetar nyaring untuk kedua kalinya. Lapangan SMA Garudatama resmi berubah menjadi lautan histeria massal dari para siswi yang menonton.
"Gila! Tiga poin langsung tanpa menyentuh ring!" tergah Aldi sampai menganga lebar di pinggir lapangan, memegangi kepalanya yang pusing melihat kejeniusan fisik Rendra.
"Rendra! Rendra! Rendra!" teriak seisi tribun penonton berulang kali, meneriakkan nama sang pangeran sekolah laksana pahlawan baru yang memenangkan kejuaraan dunia.
Pak Tono, guru olahraga yang bertindak sebagai wasit, sampai lupa meniup peluitnya selama beberapa detik karena ikut terpaku melongo melihat teknik basket tingkat tinggi yang diperagakan oleh murid yang biasanya terkenal kaku dan pendiam itu.
Kringgg! Peluit panjang tanda babak duel lima menit berakhir akhirnya dibunyikan oleh guru olahraga dengan lantang ke udara.
Dimas langsung jatuh terduduk di atas semen lapangan yang panas dengan lutut yang mendadak lemas tak bertenaga sama sekali. Skor akhir duel tersebut mutlak dimenangkan oleh Rendra dengan angka telak tanpa memberi kesempatan bagi Dimas untuk mencetak satu poin pun.
"Lo... lo beneran cowok kaku yang jarang tanding fisik di luar kelas?!" tanya Dimas terengah-engah dari atas lantai semen, menatap Rendra dengan pandangan mata yang penuh rasa syok, terpukul, dan tidak percaya atas kekalahan telak yang baru saja dialaminya.
Rendra tidak memedulikan pertanyaan dari Dimas yang sedang meratapi harga dirinya di atas lantai. Dia membalikkan tubuh tingginya sepenuhnya menghadap ke arah tribun penonton dengan gaya angkuh khas pangeran sekolahnya yang biasa.
Namun, di balik topeng jagonya yang berhasil menipu satu angkatan sekolah itu, bagian dalam tubuh Rendra sebenarnya sudah tremor tingkat dewa sampai ke ulu hatinya yang terdalam.
“ANJIRRR! DEMI APA GUE BISA MENANG?! JANTUNG GUE RASA MAU COPOT DAN JATUH KE SEMEN! Untung refleks macro gaming top global gue bisa dikonversi ke dunia nyata lewat bantuan adrenalin panik digital! Kalau kagak, gue udah pingsan dan ngompol di depan ratusan mata manusia asli siang ini!” jerit Rendra histeris di dalam batin wibu cemasnya yang sedang menggelar konser musik cadas penuh ketakutan brutal.
Rendra buru-buru menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila, lalu mengarahkan pandangan matanya lurus ke arah tribun barisan tengah.
Sepasang mata hitam legam miliknya mendadak berkilat bersinar pekat di bawah terik matahari siang yang menyengat. Dia menatap lurus ke arah satu-satunya cewek yang duduk cuek di sana: Kanaya Putri.
Dia memberikan tatapan intens yang teramat sangat dingin dan tajam seolah sedang menuntut janji keselamatan atas ancaman maut mengenai eksistensi akun digitalnya yang diancam ban semalam.
Naya yang sejak tadi duduk manis menyaksikan seluruh adegan bantaian analitis dari atas tribun hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah sambil menghela napas panjang melihat kegilaan cowok itu.
"Gimana, Nay? Akun Discord gue ga jadi di-ban permanen dari server, kan?" tanya Rendra lirih dari tengah lapangan dengan gerakan bibir minimalis yang hanya bisa dibaca dan dipahami oleh Naya seorang dari kejauhan.
Naya mengetuk-ngetuk permukaan pembatas tribun dengan ujung jarinya, lalu meniup balon permen karet stroberinya lagi sampai membentuk bulatan besar sebelum akhirnya meletus dengan bunyi plop kecil yang renyah di wajahnya.
"Aman, budak obsesif. Akun lu selamet hari ini karena main lo bersih dan ga bikin malu nama besar server kita," gumam Naya pelan dari atas tribun penonton sambil menahan seulas senyum kemenangan yang terukir tipis di bibir manisnya.
Naya tidak habis pikir, saklar di dalam otak pangeran sekolah yang aslinya serapuh kerupuk soto itu beneran bisa berubah menjadi monster mengerikan di dunia nyata hanya demi mempertahankan statusnya sebagai shortcut desktop di dalam kehidupan digital sang admin galak pojok kelas. Duel siang ini resmi ditutup dengan kemenangan mutlak sisi obsesif Rendra Adijaya di bawah saksi ratusan mata manusia sekolah.