Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Berhantu?
Galih menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang remang. Niat awal untuk mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi umum langsung menguap begitu saja. Membayangkan harus melintasi lorong gelap dan melewati kamar lelaki jangkung itu lagi dalam keadaan telanjang dada membuat tengkuknya meremang. Dengan menghela napas pasrah, Galih memutuskan untuk menunda mandinya hingga besok pagi. Ia melepaskan kemejanya, menggantinya dengan kaos oblong kusam yang longgar, lalu merebahkan diri di atas kasur lantai.
Namun, baru beberapa menit mata Galih terpejam mencoba mengurai kelelahan, suara ketukan pelan mendadak terdengar dari luar.
Tok... Tok... Tok...
Galih seketika menegakkan tubuhnya. Jantungnya kembali berdebar kencang. Bayangan wajah lelaki berkaos hitam dengan tatapan kosong tak berkedip itu mendadak melintas di kepalanya. Galih menelan ludah dengan susah payah, beranjak dari kasur dengan langkah yang sangat pelan. Ia menempelkan telinganya ke pintu papan kayu, mendengarkan keheningan di luar sejenak sebelum memberanikan diri memutar gagang kunci.
"Si-siapa ya?" tanya Galih ragu seraya membuka pintu sedikit saja.
Saat daun pintu terbuka melingkar, rasa lega membanjiri dada Galih. Sosok di balik pintu ternyata bukan lelaki misterius itu, melainkan Fika. Wajah cantiknya malam ini tampak pucat dan gelisah, tangannya yang memegang tepi pintu terlihat sedikit gemetar.
"Galih... Maaf banget ya mengganggu malam-malam gini," ucap Fika pelan, nada suaranya terdengar cemas. "Aku... aku nggak bisa tidur. Suamiku hari ini kena shift malam dan harus lembur sampai pagi. Dari dulu aku paling nggak bisa dan selalu takut kalau harus tidur sendirian di kamar."
Galih tersenyum kecut, merasa iba sekaligus canggung melihat tetangga sebelahnya itu. "Eh, iya, Mbak Fika... Nggak apa-apa kok."
Galih melangkah mundur dan membiarkan Fika masuk ke kamarnya. Niat awal Galih ingin mendorong pintu agar tertutup, namun ia buru-buru menahannya. Ia membiarkan pintu kayu itu tetap terbuka lebar beberapa jengkal. Rasa takut akan prasangka buruk atau fitnah dari penghuni kostan lain jauh lebih dominan di kepalanya, mengingat ia hanyalah seorang pendatang baru.
Sambil berdiri dekat ambang pintu, Galih menyempatkan diri melirik ke arah lorong luar, tepatnya menuju kamar berjarak dua pintu dari kamarnya. Kursi kayu kecil di ambang pintu itu kini sudah kosong. Lelaki berkaos hitam yang tadi menatapnya intens sudah tidak ada lagi di sana.
Fika yang menyadari gerak-gerik Galih ikut melongokkan kepalanya. "Kamu lagi ngelihatin apa sih, Galih? Kok kayak yang cemas gitu?"
Galih menoleh seraya menggaruk tengkuknya. "Itu, Mbak... Tadi pas aku baru pulang, ada lelaki jangkung pakai kaos hitam duduk di depan kamar sana. Dia natap aku aneh banget, nggak berkedip sama sekali sampai aku masuk kamar. Mbak Fika tahu nggak dia siapa?"
Fika terkekeh pelan, rasa gelisah di wajahnya sedikit berkurang. "Oh, itu... Itu Mas Adit. Dia memang penghuni paling lama di sini. Orang-orang memang suka mikir dia aneh karena perawakannya yang agak tinggi dan pendiam banget. Tapi aslinya Mas Adit itu orangnya baik kok, cuma memang agak kaku kalau sama orang baru. Jangan terlalu dipikirkan ya."
"Oh... begitu ya, Mbak," sahut Galih mengangguk-angguk paham, meski rasa aneh di dadanya belum sepenuhnya sirna.
Saat Galih membalikkan badan untuk duduk di sudut kasur lantai, pandangannya tak sengaja berbenturan dengan penampilan Fika. Pemuda itu seketika membuang muka, pura-pura merapikan letak bantal. Lagi-lagi wanita itu mengenakan pakaian yang sangat minim, sebuah tank top ketat bertali tipis warna krem dengan celana pendek santai. Lekuk tubuh serta belahan dadanya yang montok terekspos jelas, membuat suasana ruangan berukuran dua kali tiga meter itu terasa mendadak gerah.
Galih berdeham pelan untuk menutupi rasa canggungnya. "Anu, Mbak Fika... Kenapa nggak ngetuk kamar Mbak Indri atau cewek lain di kostan ini aja buat nemenin? Kan sesama cewek biasanya lebih enak kalau mau ngobrol atau numpang tidur."
Fika mendesah pelan, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu kostan seraya melipat kedua tangannya di bawah dada, sebuah gerakan yang secara tak sengaja makin mempertegas bentuk tubuhnya.
"Duh, Galih... Kamu kan baru di sini, jadi belum tahu," tutur Fika dengan nada agak sewot namun bernada bisikan. "Aku itu nggak pernah akur sama cewek-cewek di kostan ini, termasuk si Indri. Mereka itu suka nyinyir dan julid sama aku. Makanya aku malas berhubungan sama mereka."
"Oh... begitu," jawab Galih singkat, tak berani mendalami intrik antar penghuni kos.
Fika lalu memajukan tubuhnya sedikit, memandangi Galih dengan raut muka yang mendadak berubah sangat serius dan misterius. "Lagipula... Kamu tahu nggak alasan utama kenapa aku takut banget tidur sendirian kalau suamiku nggak ada?"
"Kenapa, Mbak?"
"Sebenarnya... kostan ini berhantu, Galih," bisik Fika pelan, suaranya terdengar sangat dramatis di tengah kesunyian malam. "Sebelum kamu pindah ke kamar ini, penghuni lama sebelum kamu itu sering banget diganggu. Kadang ada suara langkah kaki di lorong, atau suara ketukan dari bawah lantai papan. Makanya aku selalu merinding kalau sendirian."
Bukannya takut, Galih justru tak tahan untuk tidak menahan tawa. Kekehannya yang pelan lolos begitu saja dari bibirnya.
"Lah, kok kamu malah ketawa sih?" protes Fika seraya memukul pelan bahu Galih.
"Habisnya Mbak Fika ada-ada saja," ujar Galih seraya menyapu sudut matanya yang agak berair karena tertawa. "Mana ada hantu zaman sekarang, Mbak. Dari tadi siang aku di sini rasanya biasa-biasa aja kok, tenang dan nggak ada yang aneh. Mungkin itu cuma perasaan Mbak Fika aja karena kecapekan atau ketakutan duluan."
Fika memelototkan matanya, berpura-pura kesal atas ketidakpercayaan tetangga barunya itu. "Ih, dibilangin nggak percaya! Nanti kalau kamu sendiri yang denger atau ngelihat, baru tahu rasa ya!"
Galih hanya mengumbar senyum tipis. Bagi seorang pemuda yang baru saja meloloskan diri dari siksaan dan bentakan nyata seorang ayah kandung, bayangan tentang hantu atau sosok gaib sama sekali tidak menakutkan baginya. Dunia nyata tempat manusia tinggal jauh lebih keras dan mengerikan daripada sekadar cerita mistis di rumah kost.