Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan
Sudut Pandang Dante
Keheningan masih terasa berat di ruangan itu. Tapi kini… bukan lagi soal keraguan. Melainkan soal perlawanan.
Henrique yang pertama memecahnya. Tentu saja. Aku sudah menduganya. Ia menatapku. Langsung. Tanpa takut. Tanpa saringan.
"Dan memang kau bisa dipercaya?" Pertanyaan itu datang tajam. Tanpa dilembutkan. "Karena bukan tanpa alasan ibu kami menyembunyikan kami darimu."
Itu dia. Tantangan itu. Gamblang. Mentah.
Aku mengamatinya. Dengan tenang. Tanpa langsung bereaksi. Karena jenis perlawanan semacam itu… kukenal betul. Tapi datang darinya… rasanya berbeda. Terasa pribadi.
"Bisa," jawabku. Sederhana. Mantap. Tanpa meninggikan nada. Tanpa terlalu banyak menjelaskan.
Tapi sebelum ia sempat membuka mulut lagi…
"Henrique." Suara Heitor memotong. Pelan. Tapi cukup.
Saudaranya terdiam sesaat. Dan aku melihatnya. Di sana. Kendali itu. Heitor bukan yang paling berisik. Tapi dialah yang meredam kekacauan. Menarik. Sangat menarik.
Aku mengembalikan pandangan pada keduanya. "Kalian ikut aku," ujarku. Langsung. Tanpa ruang untuk negosiasi.
Heitor sedikit mengernyit. Tapi tak langsung bereaksi. "Rebecca ikut juga?" tanyanya.
Tentu saja. Kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuknya.
Aku melirik cepat ke arah Rebecca di belakang mereka. Lalu kembali pada Heitor. "Ikut," jawabku. Tanpa ragu.
Ia mengangguk. Menerima.
Sedangkan Henrique… menghela napas lewat hidung. Jelas tak puas. "Dan kami di sana mau ngapain?"
Kuabaikan nada bicaranya. Aku langsung ke pokoknya. "Aku akan memindahkan sekolah kalian."
Hening. Sebentar. Tapi cukup.
"Tidak." Henrique langsung menjawab. Tanpa berpikir. "Nggak akan."
Tatapanku terpaku pada tatapannya. "Akan."
Ia maju selangkah. "Kami punya kehidupan. Teman. Rutinitas. Kau nggak bisa tiba-tiba muncul sekarang terus—"
"Bisa." Aku memotong. Tanpa meninggikan suara. Tapi dengan bobot. Cukup untuk membuatnya terdiam sesaat. "Dan akan kulakukan," tuntasku. "Kalian akan dijaga. Sepanjang waktu. Sampai semua ini berakhir."
Henrique tertawa tanpa humor. "Dijaga? Kau pikir kami anak kecil?"
"Tidak," jawabku. Tenang. "Aku tahu persis siapa kalian." Aku maju selangkah. Kini lebih dekat. "Dan justru karena itulah kalian akan menuruti apa yang kukatakan."
Tatapannya mengeras. Siap membantah lagi. Tapi sebelum ia sempat…
"Henrique." Suara Rebecca datang. Tegas. Berbeda dari sebelumnya. Lebih kuat. Lebih berwibawa.
Ia langsung terdiam. Memalingkan wajah padanya. Dan Rebecca hanya menatap. Tanpa perlu mengulang.
"Ke kamar," ujarnya. Sederhana. "Beresi barang-barangmu."
Sedetik hening. Lalu…
"Siap, Nyonya."
Itu menarik perhatianku. Bukan apa yang ia ucapkan. Tapi cara ia mengucapkannya. Tanpa sindiran. Tanpa perlawanan. Tanpa cibiran. Ia menurut. Berbalik. Dan pergi.
Heitor menatapku sesaat. Lalu menatap Rebecca. Dan mengikuti saudaranya. Tanpa membantah. Tanpa mendebat. Tanpa apa pun.
Dan di sanalah… pada momen sesederhana itu… aku mengerti. Mereka tak mengenalku. Tak percaya padaku. Tapi padanya… mereka percaya sepenuhnya. Menghormatinya. Menurutinya. Dialah pusatnya. Titik keseimbangan itu. Otoritas yang sesungguhnya.
Aku menatap Rebecca. Sungguh-sungguh. Dan untuk pertama kalinya… yang kulihat bukan sekadar perempuan yang putus asa. Melainkan seseorang yang menanggung semuanya seorang diri. Membesarkan dua remaja. Di tengah kekacauan. Dan meski begitu… mereka menghormatinya sedemikian rupa.
Hal seperti itu tak bisa dipura-purakan. Tak mudah dibangun.
"Mereka mendengarkanmu," ucapku. Lebih sebagai pernyataan ketimbang pertanyaan.
Ia melipat tangan. Masih tegang. "Mereka segalanya bagiku." Sederhana. Langsung. Tanpa kesombongan. Tanpa drama. Hanya kebenaran.
Aku mengangguk pelan. "Kalau begitu mari kita lakukan ini dengan benar," ujarku.
Tatapannya terpaku pada tatapanku. Karena kini… ini bukan lagi hanya soal aku. Bukan juga hanya soal mereka. Ini soal kita.
Dan itu… akan menuntut lebih dari sekadar kendali. Itu akan menuntut kepercayaan. Meski tak satu pun dari kami yang benar-benar siap untuk itu.