NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 30.

Malam di atas bianglala itu akhirnya larut, meninggalkan sisa hangat yang tidak mau hilang dari dada Stella.

Saat Lingga mengantarnya pulang, tidak ada kata-kata obral janji atau gombalan murahan. Hanya ada genggaman tangan yang erat di sepanjang jalan dan sebuah lambaian hangat sebelum Stella masuk ke gerbang rumahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Stella bisa tidur nyenyak tanpa perlu memeluk gulingnya erat-erat demi mengusir rasa sepi.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa, atau setidaknya, itu yang Stella kira.

Di sekolah, Lingga tetap menjadi Lingga yang kasual. Tidak ada aksi pamer kemesraan yang bikin satu sekolahan risih.

Mereka tetap mengobrol di kantin bersama yang lain, melempar lelucon sarkas, dan sesekali bertukar pandang yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Ritme itu terasa pas, tidak terburu-buru, dan sangat masuk akal bagi dua remaja yang tahu cara menghargai batasan.

Namun, sepulang sekolah, Lingga menahan tas Stella. "Sore ini kosong, kan? Ikut gue, yuk. Ada satu tempat yang mau gue tunjukin," bisik Lingga, suaranya rendah tapi penuh keyakinan.

Stella hanya tersenyum lalu mengangguk. Sesuatu di dalam dirinya mendadak berdegup lebih kencang, menebak-nebak apa yang direncanakan cowok itu.

Perjalanan sore itu membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk pusat kota. Motor Lingga membelah jalanan menanjak yang dikelilingi pepohonan rindang. Udara perlahan berubah menjadi lebih sejuk, bersih dari polusi. Setelah hampir empat puluh menit berkendara, Lingga memarkir motornya di sebuah area datar di puncak bukit yang tampak sepi.

Begitu Stella turun dari motor dan melepas helmnya, matanya langsung melebar. "Lingga... ini bagus banget."

Tempat itu adalah sebuah area pandang tersembunyi yang ditata dengan sangat apik.

Di bagian atasnya, beberapa untai lampu gantung berwarna kuning hangat melintang di antara tiang-tiang kayu, memancarkan cahaya temaram yang romantis tapi tidak berlebihan.

Di bawah mereka, lanskap kota mulai menyalakan lampu-lampunya satu per satu, bersaing dengan hamparan langit malam yang luar biasa bersih, memamerkan taburan bintang yang berkilau tajam.

"Gue sengaja cari tempat yang agak sepi," kata Lingga sambil berjalan mendekati tepi pagar pembatas. "Biar berisiknya kota nggak mengganggu apa yang mau gue omongin."

Stella berjalan menyusul, berdiri di samping Lingga. Angin malam berembus, membuat Stella sedikit merapatkan jaketnya.

Melihat itu, Lingga bergeser, memposisikan tubuh tegapnya di sisi datangnya angin, menjadi tameng alami bagi Stella dari rasa dingin.

Tindakan kecil yang spontan, tapi selalu berhasil membuat Stella merasa sangat dihargai.

Lingga membalikkan badannya menghadap Stella. Ekspresi wajahnya yang biasa santai kini berubah menjadi lebih serius, tapi matanya memancarkan keteduhan yang luar biasa.

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam.

Saat membukanya, sebuah kalung perak dengan liontin simpel berbentuk lingkaran kecil yang elegan berkilau terkena pantulan cahaya lampu gantung.

Stella menahan napasnya. Jantungnya berpacu cepat.

"Stel," panggil Lingga lembut. Ia tidak langsung memakaikan kalung itu, melainkan menggenggam tangan Stella lebih dulu. "Gue bukan tipe cowok yang pinter ngerangkai kata-kata puitis kayak di novel yang sering lo baca. Tapi gue tahu pasti satu hal, sejak lo masuk ke hidup gue saat itu, semua nya berubah jadi lebih masuk akal."

Lingga menjeda kalimatnya, menatap langsung ke dalam manik mata Stella yang mulai berkaca-kaca karena haru.

"Gue tahu lo punya banyak ketakutan. Gue tahu dunia kadang nggak adil dan bikin lo ngerasa harus selalu pasang dinding pertahanan. Tapi di depan gue, lo nggak perlu pura-pura kuat, Stel. Gue mau jadi orang pertama yang lo cari saat lo seneng, dan gue mau jadi pelukan pertama yang lo tuju saat lo ngerasa hancur," lanjut Lingga, suaranya bergetar tipis namun sarat akan ketulusan. "Gue sayang sama lo. Lo mau, kan, jalan bareng gue? Jadi pacar gue?"

Dunia di sekitar Stella seolah mendadak hening. Kalimat Lingga tidak muluk-muluk, tidak menjanjikan bulan atau bintang, tapi justru karena itulah semuanya terdengar sangat nyata dan jujur. Lingga menerima segala kerapuhannya, dan itu adalah hal paling mewah yang pernah Stella dengar sepanjang hidupnya.

Air mata Stella jatuh satu tetes, bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Ia tersenyum lebar, mengangguk cepat. "Mau, Lingga. Gue mau."

Senyum Lingga merekah sempurna, sebuah ekspresi lega yang jarang sekali ia tunjukkan. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, Lingga mengambil kalung perak itu dari kotaknya.

Stella membalikkan badan, menyibak rambutnya ke samping, membiarkan Lingga melingkarkan rantai perak yang dingin itu di lehernya.

Sentuhan jari Lingga di kulit tengkuknya mengirimkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Setelah kalung itu terpasang sempurna, Stella berbalik kembali. Sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih, Lingga sudah menariknya masuk ke dalam dekapan.

Stella langsung membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di pinggang Lingga dengan erat. Wajahnya dibenamkan di dada bidang cowok itu, menghirup aroma parfum maskulin bercampur wangi sabun yang kini menjadi aroma favoritnya.

Lingga memeluknya protektif, menumpukan dagunya di atas kepala Stella, sesekali mengusap punggung gadis itu dengan lembut.

Di bawah pendar lampu gantung, di atas bukit yang sakral malam itu, dan di bawah kesaksian ribuan bintang yang bertabur indah di langit, mereka resmi mengikat rasa.

Tidak ada kembang api yang meledak heboh, tidak ada sorak-sorai riuh dari orang lain. Hanya ada dua hati yang saling menemukan kenyamanan dan rumah yang sesungguhnya di dalam pelukan satu sama lain.

......................

...****************...

Tbc,

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!