Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Tamu Tak Diundang
Safa berfikir setelah mendapatkan kemewahan itu hidupnya akan berjalan lancar tapi ternyata justru kesulitan tetap dia hadapi.Kemewahan itu terlihat menyulitkan bagi dia yang berasal dari desa kecil yang tak terbiasa dengan hal-hal baru dirumah mewahnya.
Tapi bukan Safa kalau dia menyerahkan begitu saja dihadapkan dengan hal baru.Safa itu pantang menyerah.Pagi ini dia sudah bangun dari jam lima subuh,dia kini sudah bisa menyalakan kompor induksi tanpa membuat alarmnya berbunyi dan dia juga sudah bisa membedakan mana tombol TV dan mana tombol AC.
Namun ternyata semua itu belum cukup karna justru sekarang dia sedang berhadapan dengan musuh barunya.
Sapu robot bulat yang bisa jalan sendiri.
"Wih, kamu pinter banget ya. Nyapunya bersih banget." ucap Safa sambil memperhatikan dan mengikuti robot itu keliling ruang tamu. "Kalau di kampung nyapu ya pake sapa,digerakin tangan sampe encok.Kamu mah enak bisa gerak sendiri." ucap Safa,dia terheran-heran tapi juga merasa lucu dengan segala sesuatu yang serba otomatis dipenthousenya.
Robot itu menabrak kaki meja, lalu berputar balik.
"Pinter!"puji Safa lagi.
Ting... tong...
Bel penthouse berbunyi keras.
Safa langsung berdiri karna terkejut,selama tiga hari di sini, tidak pernah ada tamu. Arga sudah wanti-wanti untuk tidak membukakan pintu untuk siapa pun tanpa seizinnya.
Safa mengendap ke layar interkom kecil di dekat pintu.
Di layar terlihat seorang wanita cantik. Rambutnya panjang dicat pirang, memakai dress merah ketat mengenakan kacamata hitam besar dan membawa tas yang kelihatan itu barang mahal.
"Wah, kayak artis sinetron!"gumam Safa. "Siapa ya?" sambungnya lagi.
Wanita itu menekan bel lagi, lebih lama dan terlihat mulai kesal.
Safa mulai kebingungan." Buka ngga,buka ngga." Gumam Safa seorang diri,namun karena kasihan akhirnya Safa membuka pintunya namun tidak sepenuhnya dibuka,hanya sebagian.
"Selamat pagi ka,maaf cari siapa ya?"
Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya pelan. Matanya yang tajam menatap Safa dari ujung hijab yang agak miring sampai ke daster bunga-bunga yang dipakai Safa.
"Kamu siapa? Pembantu baru? Mana Arga? Panggilkan Arga!" titah wanita itu membuat Safa sedikit heran.
Safa menggeleng cepat. "Bukan pembantu,saya istrinya mas Arga, kebetulan mas Arga lagi di kantor. Maaf kakak siapa ya?"
Seketika wajah cantik itu berubah. Dari bingung jadi kaget kemudian marah.
"Istri? Jangan ngarang kamu ya! Aku ini tunangannya Arga,aku Anita aku baru pulang dari Singapura semalam,cepat katakan dimana Arga!"
Jantung Safa langsung berdegup kencang "Tunangan?" Safa bertanya pada dirinya sendiri didalam hati.
"Tu... tunangan? Tapi Mas Arga bilang dia tidak punya pacar atau calon istri sebelum saya dan kami juga baru menikah tiga hari yang lalu."
Anita mendorong pintu dengan kasar dan masuk tanpa permisi. Sepatu hak tingginya berdecak di lantai marmer yang baru saja disapu robot.
Dia melihat ke sekeliling penthouse bersih dan wangi, lalu matanya berhenti di meja makan. Diatas meja masih ada sisa nasi dan telur dadar sisa sarapan Safa dan Arga.
"Jadi ini alasannya," desis Anita. "Pantas Arga susah dihubungi dua hari ini. Jadi kamu ya penyebabnya? Kamu pakai pelet apa sampai Arga mau nikah sama gadis kampungan seperti kamu?"
Safa mundur selangkah,dia tidak pandai berdebat apalagi jika diajak bertetangga.
" Kaka jangan salah paham,saya memang istri mas Arga tapi kami hanya menikah kontrak selama satu tahun.Ja-jadi saya tidak akan menggangu hubungan kalian.Saya janji!" jelas Safa.
Mata Anita membelalak, lalu dia tertawa keras, tawa yang meremehkan.
"Istri kontrak? Oh my God, Arga sudah segila ini? Demi neneknya yang sakit itu dia sampai nikah kontrak sama kamu?"
Anita melipat tangan di dada. "Denger ya kamu gadis kampung,Aku sama Arga itu sudah pacaran selama lima tahun. Lima tahun!" Amita bahkan mengulangi dan menekankan kata lima tahun." Kami belum menikah bukan karna sudah tidak saling mencintai,tapi karna neneknya aja yang nggak setuju sama aku karena aku nggak bisa masak, nggak bisa ngurus rumah, terlalu modern katanya. Makanya dia cari gadis desa yang penurut kayak kamu buat dipamerin ke neneknya."
Setiap kata Anita seperti paku yang menusuk hati Safa.
"Jadi kamu itu cuma dijadikan alat. Setelah neneknya meninggal, kamu akan diceraikan dan Arga akan kembali ke pelukanku.Jadi mending kamu berkemas saja mulai dari sekarang dan satu lagi,jangan pernah berharap kamu bisa jadi Nyonya Arga Mahendra."
Air mata Safa sudah menggenang di pelupuk mata, tapi dia berusaha menahan agar tidak tumpah.Ibunya selalu memberikan nasehat,jika dia dihina seseorang, direndahkan jangan membalas.Diam saja karna biarkan Allah yang akan membalasnya.
Saat Safa masih menunduk menahan airmata nya, tiba-tiba pintu penthouse terbuka dengan keras.
Arga datang,wajahnya terlihat lelah karena baru selesai meeting dengan klien penting dari luar negri.Namun seketika wajah Arga berubah begitu melihat Anita berdiri dirumahnya dan terlihat seperti sedang mengintimidasi istri kecilnya.
"Anita! Apa yang kamu lakukan disini? Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke penthouse saya?"
Anita langsung berubah 180 derajat dari galak menjelma menjadi wanita manja dan lemah lembut,dia berjalan cepat menghampiri Arga dan memeluk lengan Arga bergelayut manja seolah kehadirannya itu benar-benar diharapkan.
"Mas Arga, akhirnya mas pulang. Aku kangen banget sama Mas.Em,aku denger mas sudah menikah? Itu tidak benar kan mas? Katakan itu hanya cerita bohong dan semua itu tidak benar.Dia,dia pembantu baru kamu mas?" dengan gayanya yang dibuat maja Anita menunjuk Safa yang masih tertunduk.
"Mas kamu itu ngertiin aku banget si,kamu tau aku ngga bisa masak dan secepatnya kamu cari pembantu biar aku ngga capek-capek lagi.Iya kan mas?" imbuh Anita tanpa dia sadari dia tengah membangunkan singa yang sedang tidur.
Arga dengan kasar menghempaskan tangan Anita hingga membuatnya terhempas ke sofa dan tersungkur kelantai. Tatapannya kini langsung mencari Safa yang kini sedang berdiri di pojok dapur dengan mata berkaca-kaca dengan satu tangan meremas gamisnya.
"Safa, kamu tidak apa-apa?" tanya Arga, suaranya pelan tapi terdengar hawatir.
Safa menggeleng pelan, tapi air matanya luruh seketika.
Melihat itu, rahang Arga mengeras. Dia menatap Anita dengan tatapan yang lebih tajam dan dingin dari biasanya.
"Saya sudah bilang kita putus dua bulan lalu,saya tegaskan jangan pernah kamu menginjakkan kaki disini lagi,lalu apa yang kamu lakukan sekarang!"
"Tapi Mas, kita kan udah tunangan, Mas kan janji mau nikahin aku setelah aku pulang dari Singapura."
"Saya tidak pernah melamar kamu. Itu hanya kemauan kamu sendiri. Sekarang keluar dari penthouse saya dan ya satu hal yang kamu harus tau, perempuan yang kamu sebut pembantu itu adalah istri saya,dia hanya tidak suka berpakaian berlebihan seperti kamu jadi jangan pernah samakan dia dengan kamu,jangan pernah datang untuk mengusiknya lagi atau saya akan melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."
Kata-kata arga terdengar begitu menyakitkan di hati Anita.Anita menatap Safa dengan tatapan penuh kebencian yang sangat dalam. "Kamu lihat? Arga itu sebenarnya masih sayang sama aku. Kamu itu cuma pengganti sementara. Jangan pernah kegeeran. Paling lama sebulan, kamu pasti dicerikan!"
Setelah itu Anita keluar sambil membanting pintu dengan keras, suasana penthouse mendadak jadi hening.Hanya terdengar suara robot sapu yang masih muter-muter menabrak kaki meja.
Safa cepat-cepat menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Maaf ya Mas, aku tidak tau kalau dia itu tunangannya Mas. Tadi dia terus menekan bel,aku kasian mas karna dia sudah berdiri lama,aku terpaksa membuka pintu.Maaf ya mas karna ketidaktauanku jadi membuat mas dapat masalah." ucap Safa dengan wajah tertunduk.
Arga berjalan mendekat. Dia melihat mata Safa yang merah dan hidungnya yang ikut merah karena menangis.
"Kenapa masih nangis?"
"Enggak nangis kok, cuma kelilipan debu. Tadi pas robotnya nyapu debunya terbang kena mata." Dusta Safa dengan suara serak.
Arga menghela napas panjang. Dia memang tidak pandai menghibur orang. Selama hidupnya, dia tidak pernah menghibur wanita yang menangis didepan matanya.
"Anita sudah bukan siapa-siapa lag bagi saya Jadi jangan diperdulikan apapun yang tadi dia ucapakan,dia memang begitu."jelas Arga.
Safa mengangguk, tapi masih menunduk menatap lantai.
Arga diam sebentar, lalu berkata dengan suara lebih pelan dari biasanya. "Lagipula, kamu bukan alat seperti yang dia katakan! Kamu istri saya meskipun kita menikah kontrak,tapi dimata agama dan negara kamu itu istri saya yang sah,jangan difikirkan apa yang diucapkan Anita.Dia itu wanita gila!" jelas Arga.
Safa mendongak kaget.
"Dan ingat lagi satu hal Safa, meskipun kamu hanya istri kontrak ,tapi selama kontrak masih berjalan saya tidak akan pernah membiarkan seseorang merendahkan kamu apa lagi sampai menyakiti kamu.Bahkan mantan saya sendiri. Paham!"
Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Safa yang baru saja dihina habis-habisan, kata-kata itu terasa hangat sekali.Apa lagi dengan setatusnya, seketika Safa merasa dirinya dihargai dan dilindungi.
Arga sudah berjalan mau ke kamarnya, tapi berhenti di tengah jalan.
"Dan satu lagi, besok nenek saya mau datang dari London. Nenek saya itu galak dan dia sangat detail. Kalau dia bertanya apa kelebihan kamu ,katakan saja kamu bisa masak rendang, bisa ngaji dan bisa mengurus suami dengan baik. Jangan katakan kamu tidak bisa membedakan garam sama gula dan tidak bisa menyalakan kompor." jelas Arga, kemudian pergi meninggalkan safa sendiri.
Safa langsung panik mendengar apa yang baru saja Agra sampaikan,air matanya langsung mengering seketika.
"Hah? Nenek mau datang? Aku tidak bisa masak rendang, Mas. Aku bisanya masak telur dadar sama sayur bayam saja. Terus ngajinya aku juga masih terbata-bata, belum terlalu lancar."
"Belajar. Malam ini kita belajar." teriak Arga dari kamarnya karna dia mendengar teriakan Safa yang panik.
"Malam ini? Gimana caranya? Rendang itu masaknya lama mas, bumbunya banyak aku ngga bisa mas." keluh Safa terdengar menyerah sebelum mencoba.
Arga keluar dari kamarnya lagi menatap Safa sedikit lama."Makanya saya ajari,saya bisa.Sudah anggap saja masalah rendang selesai.Brisik!"
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara pasutri itu dan malam harinya Arga benar-benar mengajari Safa cara membuat rendang.
Didapur penthouse mewah yang biasanya tidak pernah dipakai untuk masak berat, terjadi pemandangan yang sangat langka.
Seorang CEO dingin yang biasanya hanya rapat dengan klien triliunan, kini berdiri di dapur dengan celemek, mengajari gadis desa cara mengulek bumbu rendang dengan benar.Tangannya terlihat cekatan dan terampil seperti seorang chef profesional.
"Salah, bukan begitu cara nguleknya. Pelan-pelan, jangan pake tenaga dalam begitu, nanti bumbunya muncrat semua!" ucap Arga sambil memegang tangan Safa yang memegang ulekan, mengarahkan tangan Safa bagaimana cara mengulek dengan baik dan benar tanpa membuat bumbu itu berantakan kemana-mana.
Jarak mereka sangat dekat. Safa bisa mencium wangi parfum Arga yang mahal. Jantungnya berdegup kencang sampai terdengar di telinganya sendiri.
"Mas... Mas kok bisa masak rendang?" tanya Safa gugup untuk mencairkan suasana.
"Nenek yang ngajarin dulu waktu saya masih kecil. Sebelum beliau pindah ke London,dulu saya sering bantu nenek masak di dapur."
Safa tersenyum kecil. Ternyata di balik wajah dingin dan judesnya, Arga punya sisi hangat yang dia sembunyikan rapat-rapat.
"Mas, makasih ya tadi sudah mebelaku di depan Kak Anita."
Arga melepas pegangan tangannya dari tangan Safa. "Saya bukan membela kamu,saya hanya berusaha menjaga kamu sebagai istri saya, meksipun kamu istri kontrak.Kalau kamu dihina, sama saja dia menghina pilihan saya."
Bibir sadar mengerucut mendengar jawaban Arga . "Iya deh, iya.Tinggal ngaji aja apa susahnya si, gengsi amat jadi orang." goda safa.
Tapi tetep aja makasih ya Mas. Soalnya selama ini tidak ada yang pernah membela aku seperti itu selain ibu."
Arga tidak menjawab, tapi dia melanjutkan mengulek bumbunya dengan wajah yang sedikit memerah.
Dengan kehangatan itu untuk pertama kalinya Safa merasa nyaman dan aman didekat Arga,Arga tak semenakutkan sperti yang dia pikirkan.
Bersambung