Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otoritas Terlarang!Tantangan terhadap Penguasa Kota Terbalik
Aula Utama Reruntuhan Gerbang Sunyi
BOOOOM!
Seluruh struktur batu Reruntuhan Gerbang Sunyi berguncang hebat!
Pilar-pilar batu raksasa pelindung aula runtuh berturutan, menumpahkan reruntuhan batu berukuran masif. Pendar merah kehitaman menyapu seisi ruangan saat pintu hitam di sisi kiri terbuka kian lebar.
Di balik celah dimensi yang terbuka itu, terhampar pemandangan kota kuno raksasa yang menggantung terbalik di angkasa berbintang. Dan tepat di puncak menara hitamnya, mata merah raksasa itu menatap lurus ke dalam ruangan!
Tatapan masa lalu itu tidak memancarkan hawa kemarahan atau kebencian, melainkan ketidakpedulian mutlak. Bagi entitas di balik menara tersebut, para kultivator di dalam aula ini tak lebih dari sekadar debu tak berarti.
Namun saat tatapan mata merah itu melintasi wujud Lu Mingseng, gerakannya mendadak terhenti!
KRENG!
Cakram kelabu di balik jubah Mingseng membara panas secara mendadak. Mingseng mendapati dadanya seolah dihantam palu besi raksasa! Tubuhnya terlempar beberapa meter, memuntahkan darah segar dari sudut bibirnya di balik topeng.
'Mingseng! Jangan biarkan matanya mengunci jiwamu!' seru Kaisar Abadi memecah kesadaran Mingseng. 'Alihkan pandanganmu sekarang!'
Mingseng menundukkan kepalanya dalam-dalam ke atas tanah. Tekanan masif yang mencengkeram dadanya perlahan berkurang, namun belum sempat ia menata napasnya—
"AAAAHHH! Tolong aku!" jerit Gao Renshan histeris.
Bayangan hitam yang melilit kaki Gao Renshan telah menjelma menjadi rantai energi merah pekat, menarik pimpinan penjelajah itu secara paksa menuju celah pintu hitam! Dua pengawal tersisa berusaha menarik pakaiannya, namun begitu jemari mereka menyentuh rantai tersebut, gelombang kejutan spiritual memotong tenaga mereka hingga terpelanting.
Mingseng menatap ke arah pintu hitam, lalu melirik ke arah lorong putih di sisi kanan yang baru saja terbuka.
Di atas lorong putih, terukir barisan piktogram kuno berpendar:
SATU JALAN MENUJU KESELAMATAN.
Sementara di atas pintu hitam tempat mata merah bersemayam, piktogram lain terbentuk:
SATU JALAN MENUJU KEBENARAN.
Suara gaib nan serak bergema dari kedalaman dimensi:
"PILIHLAH... SELAMATKAN DIRIMU, ATAU RAIH KEBENARAN YANG TELAH TERKUBUR."
Mingseng menyunggingkan senyum dingin penuh cemooh di balik topengnya. "Pilihan konyol apa ini?"
Ia memandang Gao Renshan yang tubuhnya makin dekat dengan celah pintu hitam. "Jika kebenaranmu menuntutku membiarkan orang mati konyol di depan mataku... simpan saja kebenaran busukmu itu!"
WUSH!
Mingseng melesat secepat bayangan, mengerahkan seluruh potensi fisik Teknik Tubuh Naga Darah. Otot-ototnya memadat, energi panas melesat dari pinggang menuju bahunya.
'Gila! Mingseng, jangan mendekati pintu itu!' pekik sang penjaga Balai Penempaan Darah dari dalam jiwanya.
Mingseng tidak peduli. Ia menerobos tumpukan batu yang berjatuhan, tiba di samping Gao Renshan dalam sekejap, lalu mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat!
"Pegang tanganku!" bentak Mingseng.
Gao Renshan menggertakkan giginya yang berdarah. "Jangan lepaskan aku, Mingseng!"
Mingseng menancapkan kedua kakinya lurus ke lantai batu. KRAAAK! Jubin di bawah tumpuannya hancur berkeping-keping.
Rantai energi merah itu menarik dengan daya puluhan ribu kati! Tulang-tulang lengan Mingseng berderit hebat, rasanya bagaikan hendak dicabut paksa dari persendiannya.
"Sial... kuat sekali!" geram Mingseng. Tumit kakinya terseret perlahan di atas tanah menuju kegelapan pintu hitam.
Gao Renshan memandang Mingseng dengan tatapan putus asa. "Lepaskan aku, Mingseng! Kalau kau terus menahanku, kau akan ikut terseret masuk ke neraka itu!"
"Diamlah! Kau terlalu banyak bicara!" desis Mingseng dingin dari balik topengnya.
Mingseng tidak membuang tenaga untuk menarik secara buta. Sepasang matanya yang tajam mengamati pergerakan pendar merah di lantai batu. Ia menyadari sebuah pola penting: setiap kali mata merah di balik menara berkedip, daya tarik rantai energi itu melonjak masif!
Kekuatan rantai ini terikat langsung dengan ritme kedipan mata merah itu! batin Mingseng paham.
Mingseng berteriak pada dua pengawal yang terpental di belakang: "Hancurkan jubin formasi di bawah rantainya! Jangan serang rantainya secara langsung!"
Dua pengawal itu ragu sejenak, namun tak punya pilihan lain. Mereka menghunus pedangnya dan menghantamkan Qi mereka ke arah jubin yang berpendar di lantai!
KLANG! KLANG!
Tepat saat dua tebasan itu meretakkan jubin formasi, mata merah di balik menara berkedip. Sirkulasi energinya terganggu sesaat!
Rantai merah yang melilit Gao Renshan mengendur selama sepersekian detik!
"Sekarang!" seru Mingseng melepaskan seluruh daya ledak fisik Tubuh Naga Darah-nya!
BOOM!
Mingseng memutar pinggangnya, menarik Gao Renshan keluar dari jangkauan lingkaran merah dengan lemparan kuat! Gao Renshan terlempar selamat ke area aman, sementara Mingseng berguling cepat menghindari sabetan rantai yang menghantam tanah hingga hancur!
***
Namun tindakan Mingseng rupanya memicu kemarahan entitas di balik pintu hitam.
Gemuruh dahsyat bergetar dari kota terbalik di langit:
"MANUSIA KERDIL YANG TAK TAHU DIRI... BERANI MENOLAK TAKDIRKU?!"
DUUUUM!
Tekanan gravitasi masif meluncur turun dari menara hitam, menghantam seluruh isi ruangan! Dua pengawal langsung tumbang berlutut memuntahkan darah, Gao Renshan pingsan seketika, dan Mingseng berlutut menahan beban yang sanggup meremukkan tulang rusuknya.
Di dalam kesadaran Mingseng, ketiga guru kunonya berteriak serentak meminta Mingseng melindungi diri.
Namun di tengah tekanan luar biasa itu, Mingseng merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan cakram kelabu.
Begitu cakram logam itu terpapar pendar merah aula, Penjaga Kuno Berzirah Hitam yang tadi berlutut mendadak menoleh tajam.
"Benda itu..." suara mekanis Penjaga Kuno bergetar heran. "Dari mana kau mendapatkan lambang itu?!"
Mingseng tidak menjawab. Tiba-tiba, cakram kelabu di tangannya terlepas secara mandiri, melayang melintasi udara menuju pilar hitam di tengah aula!
KLIK!
Cakram kelabu itu menempel sempurna pada cekungan pilar hitam. Tiga titik merah pada cakram menyatu presisi dengan tiga titik di permukaan pilar!
Syuuuung...!
Garis-garis pendar merah menyala membentuk piktogram bundar yang sempurna!
BOOOOOOM!
Pendar cahaya merah memancar dahsyat menembus atap reruntuhan! Di dalam ruang kesadaran Mingseng, tablet hitam warisan Balai Penempaan Darah bergejolak hebat melepaskan barisan tulisan bercahaya:
JEJAK PERTAMA: TERHUBUNG.
OTORITAS GERBANG: PEMULIHAN SEBAGIAN.
PEMILIK JEJAK: IDENTITAS BELUM TERKONFIRMASI.
Kaisar Abadi dan penjaga balai terhenyak kaku. Pendar pilar hitam itu bukannya membakar Mingseng, melainkan sedang memulihkan otoritas kendali situs kuno ini!
Mata merah raksasa di balik menara kota menggantung seketika membelalak lebar. Untuk pertama kalinya, raut ketidakpeduliannya pecah menjadi guncangan takjub!
"Mustahil...!" suara gaib itu menggetarkan dimensi. "Jejak itu... bukankah seharusnya telah musnah bersama zaman—"
Kalimat itu terputus mendadak, seolah-olah ada hukum alam yang membungkam mulutnya. Mata merah itu menatap Mingseng dengan pandangan intens yang mencekam.
"Siapa kau sesungguhnya, Pemuda Bertopeng?!"
Mingseng berdiri dengan susah payah. Darah menetes dari tangannya, namun sepasang matanya menatap lurus ke arah mata merah raksasa di angkasa.
Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menjawab dingin di balik topengnya:
"Aku? Aku cuma orang yang tidak suka dipaksa memilih oleh wujud asing yang bahkan tak berani menampakkan mukanya!"
Mata merah raksasa itu terdiam sejenak, lalu tawa bergelora yang menggetarkan langit berbintang meledak dari kota terbalik tersebut:
"MENARIK! SANGAT MENARIK!"
"JIKA BEGITU, BUKTIKAN BAHWA KAU PANTAS MEMBAWA JEJAK TERLARANG ITU!"
Satu jari raksasa dari kegelapan terulur keluar dari celah pintu, menunjuk tepat ke arah aula!
Awal dari Ujian Kedua
BOOOOM!
Seluruh atap dan lantai aula batu runtuh total!
'Lari Mingseng!' seru Kaisar Abadi.
Mingseng meraih jubah Gao Renshan dengan tangan kiri dan mencoba menyambar cakram kelabu yang terlepas dari pilar. Namun sebelum jemarinya menyentuh cakram, sebuah tangan hitam dingin bagai es merayap keluar dari retakan lantai dan mencengkeram pergelangan tangannya!
Mingseng menunduk terkejut. Di dalam kegelapan retakan lantai yang runtuh, sesosok prajurit berzirah kuno dengan lambang unik yang berbeda menatap Mingseng dari balik celah helmnya.
Prajurit itu berbisik serak dengan suara yang tertahan ribuan tahun:
"Jangan biarkan dia... membangunkan kota terbalik itu..."
KRAAASH!
Lantai aula hancur lebur! Mingseng, Gao Renshan, dan cakram kelabu jatuh terperosok ke dalam kegelapan jurang bawah tanah yang tak berdasar.
Di atas mereka, pintu hitam raksasa itu tertutup kembali dengan ledakan energi yang memusnahkan pendar mata merah dari pandangan.
Sebelum Mingseng kehilangan kesadarannya di dalam kegelapan yang menelan tubuhnya, sebaris tulisan terakhir dari tablet warisan mengukir benak jiwanya:
UJIAN PERTAMA: SELESAI.
UJIAN KEDUA: DIMULAI.
PERINGATAN: ANOMALI DI DALAM TUBUHMU TELAH MEMBALAS PANGGILAN MASA LALU!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳