NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Tambang Di Bawah Rumah

Pagi itu Langgur tidak biru seperti tiga hari terakhir. Jam tujuh pagi, kabut tipis berwarna kuning kecoklatan menggantung rendah di atas atap-atap rumah warga. Baunya bukan bau besi seperti kabut merah dulu, tapi bau solar dan oli alat berat. Dari arah jalan utama desa, terdengar suara deru mesin diesel yang sangat keras, disusul suara klakson truk besar yang panjang.

Ara terbangun karena suara itu. Dia masih memakai jaket hitam Revan yang kebesaran. Semalam dia tidur di bale-bale bambu di belakang rumah, menjaga pohon mangga raksasa itu sendirian karena Mama Ino demam lagi. Di tangannya masih ada map hitam milik Dion yang dia pungut semalam.

Mama Ino keluar dari dalam rumah dengan wajah panik. "Ara, itu suara apa? Kayak suara beko banyak sekali."

Ara berlari ke depan rumah. Di jalan tanah depan rumahnya, ada iring-iringan kendaraan besar yang belum pernah masuk ke Langgur sebelumnya. Dua buah beko besar berwarna kuning, tiga truk pengangkut tanah, satu mobil polisi patroli, dan di belakangnya ada mobil hitam mewah yang kemarin dipakai Dion. Debu kuning tebal beterbangan menutupi seluruh jalan.

Semua warga Langgur keluar dari rumah masing-masing. Pak RT Unus, Bu Ani, Pak Karim, Jali, Edo, dan puluhan warga lainnya berdiri di pinggir jalan dengan wajah bingung dan takut. Anak-anak kecil menangis karena berisik.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah Ara. Dion keluar dengan kacamata hitam dan kemeja putih bersih seperti kemarin, tapi kali ini dia tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang polisi berseragam lengkap dan seorang laki-laki tua berambut putih memakai batik yang Ara kenal sebagai Kepala Dinas Pertambangan dari kota.

Dion tersenyum melihat Ara dan mengangkat map hitam baru, sama seperti yang dirobek Ara kemarin.

"Selamat pagi warga Langgur. Sesuai jadwal yang sudah saya beritahukan semalam ke adik kecil ini, hari ini kami akan mulai pembersihan lahan untuk proyek tambang emas PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA. Ini proyek nasional, sudah dapat izin dari provinsi. Jadi saya minta semua warga yang rumahnya masuk dalam peta tambang, segera kosongkan rumah dalam waktu 24 jam. Nanti akan dapat ganti rugi," kata Dion dengan suara keras, menggunakan pengeras suara kecil.

Warga langsung ribut. Ibu-ibu berteriak, bapak-bapak mengumpat.

"Ganti rugi berapa? Tanah kami tanah adat, tidak bisa dibeli!" teriak Pak RT Unus dengan tongkat kayunya.

Kepala Dinas yang berbatik itu maju. "Pak RT, ini demi kemajuan Maluku. Di bawah desa ini ada kandungan emas terbesar di Maluku Tenggara. Kalau ditambang, Langgur akan jadi kaya, jalan akan diaspal, anak-anak bisa sekolah gratis. Jangan halangi pembangunan."

"Bohong! Kalau ada emas, kenapa baru sekarang dibilang ada? Kenapa pas resort hancur baru bilang ada emas?" balas Bu Ani dengan berani.

Polisi yang ada di samping Dion mengangkat tangannya. "Warga harap tenang. Kami hanya menjalankan tugas. Yang melawan akan kami amankan."

Ara melihat semua itu dengan darah mendidih. Dia maju ke depan kerumunan warga, masih memakai jaket hitam Revan yang kebesaran.

"Bohong semuanya! Di dalam map ini ada foto satelit, titik emas terbesar ada tepat di bawah rumahku dan di bawah pohon keramat kami! Kalian mau keruk rumah kami! Kalian mau bunuh kami lagi seperti kalian bunuh Revan!" teriak Ara sambil mengangkat map hitam yang dia pungut semalam tinggi-tinggi.

Dion terkejut melihat map itu masih ada di tangan Ara. Wajahnya langsung merah marah.

"Kamu curi dokumen perusahaan! Polisi, tangkap anak ini, dia curi dokumen rahasia negara!" teriak Dion panik.

Polisi itu mendekati Ara ingin merebut map itu, tapi sebelum tangannya sampai ke map itu, tanah di bawah kaki polisi itu tiba-tiba retak.

Retakan kecil yang kemarin ada di dapur Ara, sekarang menjalar dengan sangat cepat ke jalan depan. Dari dalam retakan itu, keluar akar-akar merah besar, sebesar lengan orang dewasa, yang langsung melilit ban beko paling depan. Beko itu yang mesinnya masih menyala, tiba-tiba mati total. Sopir beko berteriak ketakutan dan lompat keluar.

Semua orang terdiam melihat akar merah itu bergerak sendiri seperti ular. Akar itu merambat, melilit satu per satu ban truk, lalu naik ke atas, melilit pintu-pintu truk.

Dari arah pohon mangga raksasa di halaman belakang rumah Ara, terdengar suara gemuruh keras. Pohon itu bergoyang sangat kencang, meski tidak ada angin. Buah-buah mangga busuk yang kemarin jatuh, sekarang tumbuh lagi dengan cepat, tapi buahnya bukan merah, buahnya hitam legam dan mengeluarkan asap tipis.

Di atas pohon itu, Revan muncul lagi. Kali ini dia tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang perempuan tua berambut panjang putih, memakai pakaian adat Kei lengkap dengan hiasan kepala dari bulu burung. Wajahnya sangat mirip dengan Mama Ino, tapi lebih tua. Itu adalah nenek moyang keluarga Ara, penjaga tanah pertama Langgur.

Revan mengangkat tangannya. Semua akar merah yang melilit alat berat langsung menegang dan menarik alat-alat berat itu ke dalam tanah. Tanah di jalan depan terbelah menjadi lubang besar seperti mulut yang menganga. Satu beko besar perlahan tenggelam masuk ke dalam lubang itu, ditelan bumi Langgur.

Dion dan Kepala Dinas berteriak histeris dan lari ke mobil hitamnya. Polisi juga lari. Sopir-sopir truk meninggalkan truknya dan lari tunggang langgang ke arah hutan.

Dalam waktu sepuluh menit, jalan depan rumah Ara yang tadinya ramai alat berat, sekarang hanya tinggal lubang besar yang dalam, dan di dalam lubang itu terlihat kilauan kuning yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

Warga mendekati lubang itu dengan hati-hati. Pak RT mengambil batu dan melempar ke dalam lubang. Batu itu mengenai sesuatu yang keras dan berbunyi nyaring.

"Emas! Itu emas beneran! Banyak sekali!" teriak Jali yang mengintip dari atas.

Tapi Ara tidak melihat emas itu. Dia hanya melihat Revan yang masih berdiri di atas pohon mangga raksasa, menatapnya dengan mata sedih.

Revan menunjuk ke arah lubang emas itu, lalu menunjuk ke arah jantungnya sendiri, lalu menunjuk ke arah semua warga.

Ara mengerti. Emas itu adalah jantung tanah Langgur. Kalau diambil, Langgur akan mati. Pohon mangga itu, arwah-arwah penjaga tanah, semua hidup karena emas itu ada di dalam tanah, menjaga keseimbangan.

Revan perlahan menghilang lagi, masuk kembali ke dalam pohon. Pohon mangga raksasa itu berhenti bergoyang. Akar-akar merah yang melilit truk perlahan masuk kembali ke dalam tanah, dan lubang besar itu menutup sendiri, seperti tidak pernah ada. Alat berat yang tenggelam juga hilang ditelan bumi, tidak ada bekasnya sama sekali.

Jalan kembali rata seperti semula.

Dion yang sudah masuk ke mobilnya, melihat dari dalam mobil dengan wajah pucat. Dia melihat lubang itu menutup sendiri dan bekonya hilang. Dia langsung tancap gas pergi meninggalkan Langgur dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu tebal.

Warga bersorak. Mereka menang lagi untuk hari ini.

Tapi Ara tidak bersorak. Dia berjalan kembali ke halaman belakang, duduk di bawah pohon mangga raksasa, dan memeluk jaket hitam Revan erat.

Dia tahu Dion pasti akan kembali lagi besok dengan alat yang lebih besar dan orang yang lebih banyak. Perang tambang ini baru saja dimulai, dan Revan tidak bisa menjaga mereka selamanya sendirian.

Dia harus cari cara lain, cara manusia, untuk melawan perusahaan besar itu.

Di dalam map hitam yang masih dia pegang, ada satu lembar kertas yang belum dia baca kemarin. Kertas itu berisi nama-nama warga Langgur yang sudah tanda tangan menjual tanahnya ke PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA, dengan cap jempol darah.

Dan nama pertama di daftar itu adalah nama Kepala Desa Langgur sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!