NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - PAPA BALIKAN MAMA PINDAH KE JAKARTA

Jam tujuh pagi, suasana Rumah Biru terasa berbeda dari biasanya.

Mama masih mengenakan daster kuning kesayangannya. Sejak tadi dia sibuk membungkus tiga kotak test pack dengan lakban hitam bertuliskan BUKAN GARAM! BUKAN IKAN ASIN! Bahkan bagian atasnya dilapis dua kali supaya tidak mudah lepas.

Aku yang sedang berdiri di dekat tangga bambu sampai geleng-geleng kepala.

"Ma, itu test pack apa paket kiriman ekspedisi? Lakbannya banyak banget."

Mama menoleh sambil tersenyum kecil.

"Ini bukan barang biasa, Lili. Ini kenangan. Mama nggak mau sampai rusak."

Aku tertawa. Namun, tawaku berhenti ketika suara klakson Alphard hitam terdengar dari halaman.

TIT! TIT! TIT!

Papa turun dari mobil sambil membawa dua rantang makanan dan sebuah koper hitam berukuran besar. Wajahnya terlihat serius, berbeda dengan biasanya yang selalu sibuk bercanda soal sup buntut dan harga bunga tiga puluh lima ribu.

Mama langsung berdiri.

"Pa, kamu mau ke mana? Kok bawa koper?"

Papa meletakkan rantang di dekat pintu, kemudian memandang Mama cukup lama.

"Papa mau bicara. Boleh kita duduk sebentar?"

Aku dan Damian saling pandang. Ibu yang sedang menyapu halaman ikut menghentikan pekerjaannya.

Kami akhirnya berkumpul di atas tikar pandan, tempat yang sama ketika keluarga kecil ini pernah tidur berdesakan karena rumah belum selesai diperbaiki.

Papa membuka koper hitamnya.

"Papa mau balikan, Ma. Tapi ada sesuatu yang harus kita bicarakan dulu."

Mama mengernyit.

"Balikan bagaimana? Bukannya kita sudah mulai baik-baik saja?"

Papa mengangguk.

"Justru karena sekarang sudah baik, Papa nggak mau semuanya kembali seperti dulu."

Papa memandang sekeliling rumah.

Dinding bilik bambu yang cat birunya mulai mengelupas, dapur sederhana milik Ibu, jemuran di samping rumah, dan atap seng baru yang sekarang tidak lagi bocor ketika hujan turun.

"Rumah ini bukan rumah Papa, Yuni. Ini rumah Ibu Lili."

Mama menunduk.

Aku tahu Papa tidak sedang mengusir Mama. Tetapi aku juga tahu ada sesuatu yang selama ini Mama pikirkan.

Lima tahu setelah perceraiannya, Mama meninggalkan rumah besar di Jakarta. Rumah dengan empat kamar tidur, lantai marmer, dan pendingin ruangan yang selalu menyala pada suhu enam belas derajat.

Rumah itu memang mewah, tetapi terlalu sepi.

Di Rumah Biru, Mama menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya. Ada Ibu yang suka mengajaknya mengobrol, ada Pak RT yang selalu datang membawa cerita, bahkan ada kucing oren yang sering tidur di depan pintu.

Hal-hal sederhana itu membuat Mama merasa punya keluarga lagi.

Ibu mendekat lalu menggenggam tangan Mama.

"Bu Yuni, jangan salah paham. Ibu senang ada teman di rumah. Kalau nggak ada Ibu Yuni, siapa lagi yang mau mendengarkan Ibu ngomel soal harga pisang?"

Mama tertawa kecil.

"Rumah ini memang kecil. Lili juga punya kehidupan sendiri. Ibu nggak mau suatu hari nanti Ibu Yuni merasa tidak punya tempat di sini."

Mama terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

Papa kemudian mengeluarkan sebuah gantungan kunci dari dalam koper.

"Papa sudah menyiapkan rumah untuk kita di Jakarta."

Mama mengangkat wajah.

"Rumah yang dulu?"

"Bukan. Papa tidak mau kembali ke rumah besar itu."

Papa memperlihatkan foto sebuah rumah sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar, memiliki dua kamar tidur, dapur yang cukup luas, dan balkon kecil.

"Papa ingin kita memulai lagi dari awal. Tidak perlu rumah besar, tidak perlu AC di setiap ruangan. Yang penting ada tempat untuk kita makan bersama dan pulang setiap malam."

Mama memandangi foto itu cukup lama.

"Di dapurnya ada kompor?"

Papa tersenyum.

"Ada. Bahkan Papa sudah menyiapkan panci besar. Kalau Mama mau masak sup buntut jam lima pagi, Papa siap jadi pemotong wortel."

Damian yang duduk di sebelahku langsung berbisik.

"Bu Damian, ternyata Papa balikan pakai rumah kecil, bukan pakai bunga mahal."

Aku menyikut lengannya.

"Diam. Ini lagi adegan penting."

Papa kemudian menggeser duduknya mendekati Mama.

"Yuni, Papa tahu dulu Papa banyak salah. Papa terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bahwa rumah bukan cuma bangunan. Papa juga pernah membuat Mama merasa sendirian."

Mama mengusap pipinya.

"Papa pikir Mama nggak pernah kesepian? Lima tahun itu lama. Mama punya semuanya, tapi nggak punya teman bicara."

"Papa tahu. Makanya kali ini Papa nggak mau sekadar mengajak Mama pulang. Papa mau belajar menjadi suami yang lebih baik."

Papa menarik napas sebelum melanjutkan.

"Yuni, maukah kita mencoba lagi? Kita tinggal di Jakarta, membangun kehidupan yang lebih sederhana. Kalau Mama kangen Rumah Biru, kita bisa datang setiap akhir pekan."

Mama menangis. Kali ini bukan karena lakban yang sobek atau test pack yang hampir terjatuh.

Dia memegang tangan Papa, lalu mengangguk.

"Iya. Mama mau ikut. Tapi ada satu syarat."

Papa langsung tersenyum.

"Apa saja."

"Tiga test pack itu tetap di sini. Jangan dibawa ke Jakarta."

Papa tertawa kecil.

"Kenapa harus tetap di sini?"

"Karena semuanya punya cerita. Mama ingin kalau kita pulang ke Rumah Biru, kita masih bisa melihatnya. Itu pengingat bahwa kita pernah menemukan kebahagiaan di tempat sederhana ini."

Ibu langsung mengambil lakban hitam yang tersisa.

"Kalau begitu, biar Ibu yang menjaga. Tulisan BUKAN GARAM! BUKAN IKAN ASIN! MILIK MAMA YUNI! Jangan sampai tertukar sama bumbu dapur."

Kami semua tertawa.

Pak RT yang kebetulan lewat ikut masuk setelah mendengar keributan kecil di dalam rumah.

"Jadi benar Pak, mau pindah?"

Papa mengangguk.

"Benar, Pak RT. Saya dan Yuni mau kembali ke Jakarta."

Pak RT membuka buku catatannya.

"Wah, harus dicatat ini. Peristiwa penting. Papa balikan, Mama pindah Jakarta, tiga test pack tetap di Rumah Biru."

Damian ikut menambahkan, "Saksi kaos tiga puluh lima ribu dan bando delapan belas ribu!"

"Sudah, kamu jangan ikut-ikutan," tegurku sambil tertawa.

Pukul sembilan pagi, koper akhirnya dimasukkan ke bagasi Alphard. Dua rantang sup buntut juga ikut dibawa Mama.

Sebelum masuk mobil, Mama kembali menghampiri Ibu dan memeluknya erat.

"Terima kasih sudah menerima Mama selama ini."

Ibu membalas pelukannya.

"Jangan bilang begitu. Rumah ini memang kecil, tapi pintunya selalu terbuka untuk Bu Yuni."

Mama kemudian memelukku.

"Lili, jangan lupa makan. Jangan terlalu sibuk bekerja. Kalau ada apa-apa, telepon Mama."

Aku mengangguk sambil menahan air mata.

"Iya, Ma. Mama juga jangan lupa pulang. Jangan sampai rumah Jakarta membuat Mama lupa sama Rumah Biru."

Papa membuka pintu mobil.

"Ayo, Ma. Nanti sup buntutnya dingin."

Mama tertawa, lalu duduk di kursi penumpang.

Alphard perlahan meninggalkan halaman.

Aku, Damian, dan Ibu melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.

Hujan turun beberapa menit kemudian. Aku berdiri di depan rumah sambil memandangi atap seng yang baru.

SRRRRRRR!

Air hujan mengalir melewati atap tanpa satu tetes pun masuk ke dalam rumah.

Ibu kemudian masuk ke dapur untuk menyiapkan pisang. Damian duduk di tikar pandan sambil membuka bungkus kaos tiga puluh lima ribunya.

Aku berjalan mendekati kulkas.

Mama punya rumah baru di Jakarta, Papa punya kesempatan kedua, sedangkan kami tetap memiliki tempat sederhana yang menyimpan begitu banyak kenangan.

Ternyata keluarga tidak selalu harus tinggal di bawah satu atap untuk tetap saling menyayangi.

Kadang, seseorang harus pergi supaya rumah bisa kembali menjadi milik penghuninya. Dan kadang, seseorang harus pulang supaya hati yang lama sepi bisa menemukan tempat beristirahat.

**Mama memang pindah ke Jakarta, tetapi Rumah Biru akan selalu menjadi rumahnya juga.**

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!