Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 019 - Pembagian Giliran Jaga Gua
Hembusan angin lembah yang basah meniup kabut percikan air terjun menjadi tirai putih tebal yang melayang di antara celah tebing batu hitam. Gu Yuan tidak langsung mencabut belati baja hitam yang tertancap di dinding batu kapur tepat di samping kepalanya. Setiap gerakan mendadak yang ceroboh hanya akan mengundang lemparan belati kedua dari arah semak-semak lereng atas.
Suara gesekan rantai baju zirah terdengar menjejak permukaan batu cadas di belakangnya. Sosok seorang pria bertubuh kurus jangkung melangkah keluar dari balik rimbunnya semak cemara lereng atas dengan langkah yang ringan dan terlatih. Pria itu mengenakan jubah abu-abu gelap dengan lapisan rompi kulit tebal berlapis pelat besi tipis—pakaian seragam khusus yang hanya dikenakan oleh para pengawal senior penjaga pos gua terlarang. Di sabuk kulitnya yang berminyak, tergantung tiga bilah belati lempar serupa dan sebuah kantong kain kanvas tebal berwarna abu-abu kusam.
“Siapa di sana?!” seru penjaga senior itu dengan nada penuh selidik sambil mencabut sebilah belati lempar kedua dari sabuknya. Matanya yang tajam menatap punggung jubah abu-abu Gu Yuan yang basah kuyup oleh kabut air. “Luo Biao? Kenapa kau berkeliaran di tebing air terjun sendirian tanpa membawa lentera minyak atau regu pengawal barakmu? Dan untuk apa kau membuka pintu formasi air terjun saat lonceng tanda bahaya sedang berdentang keras di bawah?!”
Gu Yuan perlahan memutar tubuhnya menghadap sang penjaga. Topi jerami bambu tetap ia miringkan rendah menutupi kening, pelipis, dan separuh wajahnya dari terpaan langsung cahaya siang, sementara tangan kirinya tersembunyi rapat di balik lipatan jubah abu-abunya yang dingin.
“Tutup mulutmu dan simpan belatimu itu, Kakak Bai,” dengus Gu Yuan dengan suara parau yang berat dan serak, meniru nada bicara ketus, kasar, dan angkuh khas Luo Biao saat menegur sesama rekan pengawas barak luar. “Apa kau tuli tidak mendengar dentang lonceng di menara induk sejak tadi? Barak luar sedang kacau balau! Ada rombongan tahanan yang mencoba menjebol saluran limbah barat dan membakar tumpukan kayu bakar di pelataran!”
Penjaga senior bernama Bai itu mengerutkan keningnya, namun tangannya yang memegang belati lempar tidak langsung diturunkan ke sisi tubuhnya. “Kalau barak bawah sedang kacau, tugasmu adalah memimpin regu barak timur mengunci pintu keluar lembah, bukan naik ke tebing air terjun sendirian seperti ini. Tetua Mo melarang siapa pun mendekati aula altar darah sebelum ritual tengah malam dimulai!”
“Justru Tetua Mo sendiri yang mengirimku ke sini!” balas Gu Yuan dengan nada membentak yang sarat kepanikan yang dirancang rapi. Ia melangkah maju dua tindak dengan langkah tergesa-gesa seolah membawa kabar genting. “Tetua khawatir getaran pembobolan di barak bawah akan merambat ke simpul formasi di dalam gua! Beliau memerintahkan penutupan darurat terhadap seluruh simpul formasi air terjun dari dalam sebelum ada penyusup yang mendekat ke tebing ini!”
Penjaga bernama Bai itu masih tampak ragu. Matanya yang sipit menatap sandal jerami Gu Yuan yang kotor oleh lumpur parit, lalu menatap tangannya yang tersembunyi di balik lipatan jubah. “Penutupan darurat? Mana pelat segel tetua? Tanpa pelat pengendali perunggu balai dalam, aku tidak akan membiarkanmu melangkah masuk satu jengkal pun ke dalam gua terlarang!”
Pada saat yang sama, lempengan cermin perunggu di balik saku jubah Gu Yuan seketika bergetar halus.
Getaran itu adalah resonansi indra taktis dari cermin yang memindai benda-benda berenergi spiritual di sekitar tubuh sang penjaga. Getaran cermin itu memusatkan perhatian kesadaran Gu Yuan pada kantong kanvas abu-abu kusam yang tergantung di pinggang kanan penjaga tersebut.
Di dalam kantong kanvas itu, tercium aroma asin tajam yang bercampur bau belerang dingin dan serbuk batu mesiu purba. Itu adalah kantong garam pemadam formasi—mineral khusus yang ditambang dari dasar kawah belerang mati Pegunungan Hitam. Garam ini biasa digunakan oleh para ahli formasi sekte untuk memadamkan atau menetralisir sementara aliran energi spiritual pada garis rajahan rune jika terjadi ketidakseimbangan tenaga di dalam tiang altar.
Bagi Gu Yuan yang sedang merencanakan sabotase terhadap tiang ketujuh dan kedua belas di dalam gua, garam pemadam formasi ini adalah bahan baku yang jauh lebih mematikan daripada senjata tajam mana pun di dunia.
“Kau pikir aku berani naik ke tebing ini tanpa perintah resmi Tetua?!” seru Gu Yuan sambil merogoh sabuk pinggangnya dengan gerakan tegas.
Ia menarik keluar pelat perunggu segi delapan bertatahkan batu giok merah darah yang memancarkan pendaran cahaya merah samar di bawah temaramnya kabut tebal, lalu menyodorkannya ke arah dada sang penjaga dengan kedua tangan terangkat seolah hendak memperlihatkan keaslian ukiran simpulnya.
“Lihat sendiri kalau matamu masih bisa membaca ukiran segel balai dalam!”
Melihat pelat perunggu segi delapan yang asli terpampang jelas di depan matanya, seluruh keraguan di wajah penjaga senior itu seketika runtuh. Di Sekte Lembah Giok Hitam, pelat pengendali formasi altar adalah pusaka pribadi milik Tetua Mo Cheng yang tidak akan pernah diserahkan kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menerima instruksi paling rahasia dan mendesak.
Penjaga itu menyarungkan belati lemparnya ke sabuk kulit, lalu melangkah maju mendekat sambil menundukkan kepalanya untuk memeriksa keaslian ukiran batu giok merah di tengah pelat perunggu tersebut.
“Kenapa Tetua Mo memberikan pelat master ini padamu…” gumam penjaga itu sambil memiringkan wajahnya ke arah pelat perunggu yang dipegang Gu Yuan.
Itulah celah fatal yang telah dinanti Gu Yuan sejak langkah pertama.
Begitu leher dan pelipis sang penjaga terbuka lebar tanpa perlindungan senjata, tangan kanan Gu Yuan yang menyembunyikan belati berkarat bergerak secepat kilat dari balik lipatan kain lengan jubahnya. Alih-alih menggunakan bilah tajam yang bisa menimbulkan suara sabetan angin, Gu Yuan membalikkan genggamannya dan menghantamkan bongkol besi gagang belati yang berat sekuat tenaga Tulang Besinya tepat ke pelipis kiri penjaga tersebut.
Brak!
Suara benturan tumpul bergema tertahan di tengah deburan gemuruh air terjun. Mata penjaga senior itu seketika mendelik kaku, napasnya terputus saat gelombang benturan meremukkan tulang pelipis dan melumpuhkan seluruh kesadarannya dalam hitungan detik. Tubuh kurus jangkung itu limbung tak bertenaga, lalu roboh tersungkur ke dalam rimbunnya semak-semak tanaman berduri di tepi jurang batu cadas tanpa sempat mengeluarkan erangan sedikit pun.