NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Sampah Di Dasar Jurang & Nama Baru*

SENJATA BARU: PEDANG JURANG

Nama: *Hei Feng - Angin Hitam*

Bukan pedang dewa. Itu pedang patah yang 7000 tahun lalu dipakai Leluhur pertama untuk memotong leher Naga Hei Yan Long. Pedangnya patah jadi dua karena leher naga terlalu keras, setengahnya tertinggal di leher naga di dasar Jurang Besar, setengahnya tertancap di dinding jurang, berkarat, dianggap sampah oleh Xiao Chen selama 1000 tahun menyapu.

Saat Xiao Chen jadi setengah naga, pedang itu memanggilnya.

Jurang Besar Pegunungan Tujuh Pedang, malam.

1000 tahun Xiao Chen menjaga di sini, dia tidak pernah turun sampai dasar yang paling dalam. Dasar yang dia sapu hanya sampai 80 meter. Di bawah 80 meter, ada kegelapan yang bahkan sapunya tidak sampai, kegelapan yang dia anggap dasar jurang.

Tapi setelah dia menjadi setengah naga, dia bisa melihat dalam gelap.

Dia melompat. Tidak pakai teknik ringan. Jatuh bebas 100 meter, 200 meter, 300 meter.

Angin jurang yang biasanya berbau darah, kini berbau seperti... napas. Napas besar yang tidur.

Di kedalaman 500 meter, kakinya menginjak bukan tanah, bukan tulang, tapi sisik. Sisik hitam sebesar rumah, masih hangat.

Itu leher Naga Hei Yan Long yang terpotong 7000 tahun lalu. Tubuh utamanya masih di sini, tidur, belum bangkit karena jantungnya masih di 7 jurang kecil.

Dan di tengah sisik leher itu, tertancap sebuah pedang patah.

Pedang itu tidak berkilau. Bilahnya hitam kusam, gagangnya hanya kayu yang dililit kain goni yang sudah lapuk - kain goni yang sama seperti karung teh Xiao Chen. Panjangnya hanya 70 cm, patah di ujung, seperti pisau dapur yang dipakai 1000 tahun.

Xiao Chen mengenal pedang itu. Saat dia pertama kali dibuang ke jurang umur 8 tahun, dia menemukan pedang itu, dia pakai untuk mengaduk teh pertama kali, lalu dia buang karena menganggap itu sampah, terlalu tumpul untuk potong kayu, lalu dia ganti dengan pedang kayu pengaduk teh.

Ternyata itu bukan sampah.

Saat tangan bersisik Xiao Chen menyentuh gagang kain goni itu, pedang itu bergetar.

_WUNG..._

Suara bukan logam, tapi suara napas lega.

Dari bilah hitam kusam itu, keluar tulisan kecil yang hanya bisa dibaca oleh mata naga:

_Hei Feng - Aku memotong kesepian, bukan leher._

Pedang itu adalah pedang Leluhur Xiao pertama. Leluhur itu tidak ingin membunuh naga karena benci, tapi karena kasihan. Naga itu kesepian 10.000 tahun sendirian, minta dipotong biar tidak kesepian lagi. Jadi pedang itu dipotong dengan kasih, bukan benci.

Xiao Chen mencabutnya.

Ringan. Sangat ringan. Lebih ringan dari sendok teh kayu.

Saat tercabut, sisik naga raksasa di bawah kakinya bergetar, dan dari retakan sisik itu keluar... teh. Teh hitam keemasan yang sudah mengendap 7000 tahun, mengalir seperti air terjun kecil.

Xiao Chen menyeruput teh 7000 tahun itu dengan tangan.

Pahit. Sepi. Hangat.

Di saat itu, taring sapu patah di pinggangnya hancur sendiri menjadi debu, karena sudah tidak pantas.

Dia mengikat dot sendok teh kayu Bos Kecil 1 yang gosong ke gagang pedang Hei Feng, sebagai jimat.

"Mulai hari ini, kau bukan sapu lagi," bisiknya ke pedang itu, "Kau seduhan terakhir."

Pedang Hei Feng menjawab dengan dengungan pelan, bilah hitamnya yang kusam kini ada urat emas hitam mengalir, seperti daun teh.

Di atas jurang, 500 meter di atasnya, terdengar suara.

Xiao Potian sudah menunggu di bibir jurang, bersama semua pengikut lama Xiao Chen yang sudah dicuci otak.

Ling'er, Su Qing'er, Mo Sha, Si Kecil Hitam, 2 iblis baru, dan 2 Bos Kecil yang kini sudah agak besar, umur 3 tahun dalam 1 hari karena darah naga, semua berdiri di belakang Xiao Potian, mata mereka emas hitam kosong, tidak kenal Xiao Chen lagi.

Xiao Potian melihat Xiao Chen naik dari dasar jurang dengan pedang patah sampah itu, tertawa.

"Kau ambil sampah itu? Pedang patah yang gagal membunuhku 5000 tahun lalu? Chen-er, kau masih..."

Xiao Potian tidak selesai.

Xiao Chen sudah di depannya. Tidak terbang, tapi jurang yang mengangkatnya - sisik naga di bawah mendorongnya ke atas.

Pedang Hei Feng di tangan Xiao Chen tidak ditebas.

Xiao Chen hanya menempelkan sisi tumpul pedang itu ke dada Xiao Potian, seperti menempelkan cangkir teh hangat ke dada orang kedinginan.

"Minum," kata Xiao Chen, dengan suara yang masih pelan, sesuai peraturan jangan berisik, bahkan saat balas dendam.

Xiao Potian ingin menepis, tapi tidak bisa. Dari pedang patah itu, keluar uap teh 7000 tahun yang langsung masuk ke pori-pori Xiao Potian.

Xiao Potian yang 5000 tahun tidak merasakan hangat, yang hatinya sudah jadi rantai darah, tiba-tiba merasakan... hangat yang menusuk.

Darahnya yang selama ini dia pakai untuk mengikat 7 telur naga, mulai menguap menjadi daun teh.

Bukan mati meledak. Mati pelan-pelan, hangat, mengenaskan.

"Apa... apa yang kau lakukan... pedang sampah..." bisik Xiao Potian, berlutut, tubuhnya mulai mengering menjadi daun teh merah seperti 12 Tetua Klan Xiao kemarin, tapi daunnya lebih besar, lebih harum, karena darah Leluhur 5000 tahun.

Xiao Chen menatap semua pengikut lamanya yang mata kosong.

"Ling'er, tutup mata. Ini tidak enak dilihat," katanya pelan.

Ling'er yang dicuci otak, menutup mata secara refleks, karena tubuhnya masih ingat perintah Bos Teh.

Xiao Potian, dalam 5 menit, menjadi tumpukan daun teh hitam merah terbesar, masih mengepulkan uap hangat.

Xiao Chen mengambil daun-daun itu, tidak dimasukkan ke karung, tapi ditaburkan ke dalam Jurang Besar.

"Jadi pupuk untuk naga di bawah. Biar dia tidak kesepian. Kau yang mengurungnya 5000 tahun, sekarang kau temani dia."

Saat daun terakhir jatuh, 7 telur naga di rantai Xiao Potian yang terjatuh, retak.

Dari dalam telur, bukan bayi naga, tapi... tangisan.

Tangisan 7 Bos Kecil lain yang masih terjebak.

Dan dari balik jurang, suara Mo Sha yang pertama kali sadar, karena uap teh dari pedang Hei Feng mengenai mahkota uapnya:

"Bos... Bos Teh...?"

Mata emas hitam kosong Mo Sha, kembali merah normal.

Balas dendam pertama selesai. Leluhur yang mengorbankan ibunya, mati menjadi pupuk teh untuk naga yang dia kurung.

Tinggal 6 jurang lagi, dan 1 Dewa di atas langit yang menyuruh semua ini.

Xiao Chen mengangkat pedang patah Hei Feng, dot kayu di gagangnya bergoyang.

"Selanjutnya, kita bersih-bersih 6 jurang sisa. Bukan untuk jadi bersih. Untuk panen daun teh.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!