NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Semangat Baru di Sudut Pabrik

​Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela kontrakan, membiaskan cahaya hangat yang menenangkan. Pagi ini terasa berbeda. Beban berat yang biasanya menghimpit dadaku setiap kali membuka mata seolah terangkat sebagian. Ucapan dan kehangatan keluarga Pak Bambang semalam masih berbekas jelas di benakku, memberikan rasa aman yang sudah lama tak kurasakan.

​Rayan tampak sedang merapikan tas sekolahnya di ruang tamu. Wajahnya berseri-seri, jauh lebih ceria dibanding minggu-minggu sebelumnya.

​"Mas Reno," panggil Rayan sambil mengikat tali sepatunya. "Mbak Kareen sama Pak Bambang baik banget, ya. Rayan senang banget semalam."

​Aku tersenyum, menghampirinya lalu mengusap kepalanya lembut. "Iya, Dek. Mereka orang-orang yang sangat tulus. Karena itu, kita harus belajar makin giat dan bekerja makin keras biar tidak mengecewakan kebaikan mereka."

​"Siap, Mas! Rayan janji bakal belajar yang rajin," jawabnya penuh semangat.

​Melihat senyum lepas dari bibir adikku adalah obat terbaik bagi seluruh rasa lelahku. Perjalanan panjang untuk pulih ini perlahan-lahan mulai memperlihatkan buahnya.

​Setibanya di area pabrik, suasana riuh mesin produksi dan kesibukan para pekerja menyambut ku seperti biasa. Namun, ada cara pandang baru dalam diriku hari ini. Aku tidak lagi merasa sendirian atau terasing dalam memikul tanggung jawab tim.

​Saat berjalan menyusuri koridor menuju ruang supervisor, aku berpapasan dengan Pak Bambang yang sedang meninjau lini produksi bersama beberapa staf senior. Langkahku sempat tertahan sejenak, timbul sedikit rasa canggung karena ingatan makan malam semalam.

​Namun, Pak Bambang menoleh dan memberikan anggukan kecil yang mantap dengan senyum hangat khasnya—sebuah gestur profesional tanpa mengurangi rasa keterikatan yang telah terbangun.

​"Selamat pagi, Reno. Tolong persiapkan laporan evaluasi efisiensi lini tiga untuk rapat jam sepuluh nanti, ya," ucap Pak Bambang tegas namun bernada mengayomi.

​"Baik, Pak. Laporannya sudah siap dan tinggal dicetak," jawabku lugas dan sigap.

​"Bagus. Tetap fokus," balas beliau sebelum melanjutkan langkahnya bersama tim manajemen lain.

​Sikap profesional Pak Bambang di tempat kerja membuatku semakin menghormatinya. Beliau bisa memisahkan peran dengan sangat bijaksana: sebagai atasan yang tegas di pabrik, dan sosok pengayom yang hangat di luar jam kerja.

​Jam istirahat siang tiba. Aku duduk di kafetaria pabrik sambil memeriksa ulang beberapa data di tablet kerja. Kareen melangkah mendekat membawa secangkir teh hangat dan duduk di kursi kosong di seberang mejaku.

​"Gimana hari pertamamu setelah rahasia Ayah terbongkar?" goda Kareen pelan dengan binar mata jahil.

​Aku terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Jujur, awalnya sempat bingung harus bersikap bagaimana di depan Pak Bambang pagi tadi. Tapi beliau sangat profesional, jadi aku bisa cepat menyesuaikan diri."

​"Ayah memang begitu, Reno. Beliau sangat menghargai profesionalisme," ujar Kareen lembut. Wajahnya berganti serius, menatapku penuh empati. "Tapi yang paling penting, gimana perasaanmu hari ini? Suasana hatimu kelihatan jauh lebih tenang."

​Aku menghentikan jemariku di atas layar tablet, menatap mata Kareen dengan rasa syukur yang tak terhingga.

​"Jauh lebih baik, Reen," jawabku tulus. "Selama ini aku selalu merasa harus menanggung semuanya sendirian demi Rayan. Tapi kepedulian kamu dan Ayahmu buat aku sadar ... aku tidak berjalan sendirian lagi."

​Kareen tersenyum manis, mengangguk pelan. "Proses pulih itu memang butuh waktu dan tempat yang aman, Reno. Dan kamu berhak mendapatkan rasa aman itu."

​Pernyataan Kareen menutup percakapan kami siang itu dengan kehangatan yang meresap dalam ke relung hati. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku yakin bahwa masa depan yang lebih baik bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang sedang aku bangun langkah demi langkah.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!