Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 16
Zemima menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Arsyad dengan ekspresi teduh yang amat berlawanan dengan gejolak di dadanya. Senyum tipis yang tak sampai ke mata masih terpatri indah di wajahnya.
"Lho, Mas? Kok beda ya sama yang dibilang Ibu kemarin?" tutur Zemima santai seraya menyuap sepotong kecil roti tawar ke dalam mulutnya.
Ia mengunyah pelan, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka beberapa detik sebelum kembali bersuara.
"Ibu tegas banget lho bilang kalau Mas sudah tahu wanita itu tinggal di sana sejak empat bulan lalu. Namanya Dina, Mas. Kandungannya sudah enam bulan. Malah Siska sama Rika ikut membenarkan kalau Mas sering komunikasi sama Ibu soal keberadaan Dina di sana."
Piring di hadapan Arsyad berdentang pelan karena tangannya yang bergetar hebat saat berusaha memegang sendok.
"Ibu itu... Ibu mendadak pikun paling, Dek! Atau Ibu asal ceplos karena panik kamu datang tiba-tiba!" cecar Arsyad, suaranya naik setengah oktav, terdengar begitu defensif dan penuh desakan.
Ia memajukan tubuhnya, berusaha meraih kedua tangan Zemima di atas meja, menatap mata istrinya dengan raut memelas yang dipaksakan.
"Percaya sama Mas, Dek. Kamu tahu sendiri kan Ibu sama adik-adik Mas kalau bicara suka ngelantur? Mana pernah Mas ke rumah Ibu tanpa kamu? Kalau Mas ke Jakarta, Mas pasti langsung pulang ke rumah kita, peluk kamu, cium kamu... Mas nggak pernah mampir ke rumah Ibu tanpa ngajak kamu, Sayang!"
Zemima tidak menarik tangannya, biarlah jemari dingin Arsyad menggenggamnya. Namun, sorot mata Zemima tetap lurus dan jernih, menguliti setiap kepalsuan di raut wajah pria di hadapannya.
"Jadi Ibu bohong? Siska dan Mbak Rika juga bohong?" tanya Zemima polos, alisnya terangkat sebelah.
"Aneh ya, Mas. Untuk apa mereka bertiga kompak menyusun alibi kalau wanita itu cuma 'sepupu jauh dari istrinya teman Mas Hendra' yang menumpang karena suaminya dinas luar pulau? Kalau memang Mas nggak tahu apa-apa, kenapa mereka harus sampai sepanik itu pas aku tanya-tanya soal Dina?"
Keringat dingin kini benar-benar menetes dari pelipis Arsyad, jatuh ke atas taplak meja. Lidahnya mendadak terasa kelu. Jawaban yang saling bertolak belakang antara dirinya dan sang ibu kini justru menjadi bumerang yang menghantam mukanya sendiri.
"Mungkin... mungkin Ibu sama adik-adik takut kamu salah paham, Dek!" Arsyad beralasan gagap, mengusap pelipisnya kasar dengan punggung tangan.
"Kamu kan tahu sendiri, kamu itu dari dulu agak sensitif kalau soal keluarga Mas. Jadi... jadi mungkin mereka panik pas kamu datang, terus asal jawab biar nggak memperpanjang masalah! Apalagi selama empat bulan ini keuangan juga kan Mas batasi untuk mereka. Dan semua kamu yang pegang. Bahkan Mas juga jarang komunikasi sama mereka, kecuali menanyakan kesehatan ibu, itu pun sesekali,"
Zemima terkekeh pelan. Suara terkekehnya begitu halus, merdu, namun sukses membuat Arsyad semakin merinding ketakutan.
"Ah... begitu ya? Jadi Ibu panic buying alibi, ya?" goda Zemima manis, mengibaskan tangannya pelan seolah melepas masalah sepele.
Ia menarik tangannya dari genggaman Arsyad, lalu berdiri anggun dari kursinya. Zemima mengitari meja makan, melangkah pelan hingga berdiri tepat di samping kursi Arsyad. Jemari lentiknya mendarat di bahu Arsyad, meremasnya lembut, sebuah sentuhan yang dirasakan Arsyad mirip seperti cengkeraman es yang membekukan darahnya.
"Aku percaya kok sama Mas Arsyad," bisik Zemima tepat di dekat telinga suaminya, nadanya begitu lembut bercampur racun yang terselubung.
"Mas kan suami yang sangat bertanggung jawab. Nggak mungkin Mas tega membohongi aku yang sudah berjuang bareng Mas dari nol. Nggak mungkin juga Mas punya simpanan uang dingin beratus-ratus juta untuk beli SUV, motor baru, atau... barang-barang mewah lainnya tanpa sepengetahuan aku, kan?"
Tubuh Arsyad menyentak kaku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Barang mewah apa maksud kamu, Dek?"
Zemima tersenyum menawan. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Arsyad yang tegang sebelum melangkah mundur dan mengambil tas genggamnya dari atas meja.
"Bukan apa-apa, Mas. Cuma mikir aja, betapa beruntungnya aku punya suami yang jujur dan setia seperti Mas," sahut Zemima santai. Ia melirik jam tangan mewahnya seraya merapikan gaun kerjanya.
"Ya sudah, Mas lanjutkan sarapannya. Nanti terlambat ke kantor. Mas kan harus membuktikan kinerja terbaik supaya promosi Jabatan Pimpinan Cabang melalui proyek Surabaya itu benar-benar kan, Mas?"
Arsyad hanya bisa mengangguk kaku bagai robot, tenggorokannya terlalu kering untuk sekedar mengeluarkan suara.
Zemima mendekat sekilas, mengecup pipi kiri Arsyad yang terasa dingin, lalu berbalik arah. Dengan langkah kaki yang terdengar mantap dan anggun, Zemima berjalan meninggalkan ruang makan menuju pintu depan, di mana mobil dan Maya sudah menunggunya.
"Kalau Mas tidak sibuk dan belum kembali ke Surabaya, kita ke rumah ibu. Jangan sampai ibu semakin tidak suka sama aku, karena anak laki-laki kebanggaannya jarang ke rumah untuk menengok dia,"
"Ah iya, Sayang... Nanti pulang kerja kita ke rumah Ibu... Mas jemput kamu di kantor..."
"Tidak usah, Mas. Hari ini aku akan pulang lebih cepat dan ke toko kue untuk membeli kue sebagai ucapan maaf aku kepada ibu karena kemaren membuat ibu kaget dengan kedatangan aku..." jawab Zemima.
"Iya sayang... Kamu benar-benar perhatian sama ibu..."
"Iya, Mas. Ibu kamu adalah ibu aku. Aku juga tidak enak karena kemarin bertanya tentang Dina yang katanya membuat darah tinggi ibu kambuh. Seharusnya aku nggak usah banyak tanya kan ya? Karena aku hanya seorang menantu, jadi gak harus selalu tahu urusan keluarga suami aku..."
"Sayang, bukan begitu.... Jangan marah, mas..."
"Aku berangkat dulu, Mas! Mas juga memangnya nggak akan ke kantor? ini sudah siang, jangan sampai Mas terlambat dan gagal mendapatkan promosi jabatan yang amat Mas impikan..." Zemima memilih pergi dari rumah, meninggalkan Arsyad.