Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tok tok tok.
Suara ketukan keras di pintu gerbang Istana Penguasa Kota terdengar bertubi-tubi memecah kesunyian tengah malam.
Beberapa kereta kuda berlambang bangsawan terparkir berantakan di pelataran luar istana.
"Buka gerbangnya! Kami membawa apa yang diminta oleh Penatua Yang!" teriak seorang pria tua dengan suara panik.
Itu adalah Penguasa Kota Angin Selatan yang datang dengan pakaian tidur yang masih melekat di tubuhnya.
Kriet.
Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan, dijaga oleh puluhan pasukan Asosiasi Alkemis yang memancarkan aura membunuh.
Para penjaga itu menatap para bangsawan yang ketakutan itu layaknya serigala yang melihat kawanan domba gemuk.
Tap tap tap.
Penguasa Kota Angin Selatan dan tiga penguasa kota lainnya berlari tergesa-gesa memasuki pelataran istana.
Mereka membawa beberapa peti kayu tebal yang dijaga ketat oleh pengawal pribadi mereka masing-masing.
"Tolong pertemukan kami dengan Tuan Yang Zhen secepatnya!" mohon seorang ketua sekte dengan keringat membasahi dahinya.
"Nyawa kami sedang di ujung tanduk jika invasi dari ibu kota itu benar-benar terjadi besok pagi."
Mulan yang berdiri di depan pintu aula utama menyilangkan tangannya di dada dengan senyum meremehkan.
"Guru sudah menunggu kalian di dalam," ucap gadis tomboi itu menunjuk ke arah pintu pualam yang terbuka.
Para bangsawan itu bergegas masuk ke dalam aula utama yang diterangi oleh puluhan lilin berukuran besar.
Di ujung ruangan, Yang Zhen duduk santai di atas singgasana pualamnya sambil memutar cangkir teh di tangannya.
"Selamat malam, Tuan-tuan yang terhormat," sapa Yang Zhen dengan senyum ramah yang sangat menipu.
"Aku sangat menghargai kecepatan kalian dalam merespons undangan daruratku ini."
Keempat penguasa kota itu langsung menjatuhkan diri dan berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
Bruk bruk.
"Tuan Yang Zhen, kami sudah membawa seluruh sisa batu spiritual tingkat tinggi dari brankas darurat keluarga kami!" lapor Penguasa Kota Angin Selatan dengan suara bergetar.
"Tolong katakan bahwa Formasi Pertahanan Mutlak yang kau janjikan itu benar-benar bisa menahan amarah Sekte Pedang Langit."
Yang Zhen memberi isyarat kepada Wang Hao dengan lirikan matanya.
Pemuda botak itu langsung berjalan mendekati peti-peti kayu yang dibawa oleh para pengawal bangsawan tersebut.
Brak brak.
Wang Hao membuka tutup peti itu satu per satu dengan kasar.
Cahaya spiritual yang sangat menyilaukan langsung memancar dari ratusan ribu batu kristal berukuran kecil di dalam peti tersebut.
"Woah, ini benar-benar panen besar, Bos," lapor Wang Hao bersiul pelan melihat kekayaan absolut di depannya.
"Jumlahnya pasti mencapai lebih dari lima ratus ribu batu spiritual tingkat tinggi."
Yang Zhen tersenyum puas dan meletakkan cangkir tehnya.
"Kalian telah melakukan investasi yang sangat cerdas untuk memperpanjang usia hidup kalian, Tuan-tuan," puji Yang Zhen kepada para bangsawan itu.
Pemuda itu kemudian berdiri dan berjalan menuruni tangga pualam dengan langkah pelan yang mengintimidasi.
"Tapi sayang sekali, lima ratus ribu batu spiritual ini hanya cukup untuk biaya pengaktifan formasi intinya saja," lanjut Yang Zhen dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
Pernyataan itu langsung membuat wajah keempat penguasa kota itu memucat seperti mayat.
"H-hanya biaya pengaktifan?!" seru ketua sekte lainnya dengan suara tercekat.
"Itu adalah seluruh sisa harta cair kami! Jika formasi itu tidak bisa digunakan, kami semua akan mati besok pagi!"
Yang Zhen berhenti tepat di depan para bangsawan yang sedang berlutut dan menatap mereka dari atas.
"Aku tidak bilang formasi itu tidak bisa digunakan," koreksi Yang Zhen dengan senyum iblis.
"Formasi ini adalah mesin penggiling daging raksasa. Mesinnya bisa menyala dengan batu spiritual kalian."
Yang Zhen mencondongkan tubuhnya ke depan dan merendahkan suaranya.
"Tapi sebuah mesin penggiling daging tidak akan bekerja tanpa adanya pisau penggiling."
Para bangsawan itu saling memandang dengan raut wajah kebingungan sekaligus ketakutan.
"P-pisau penggiling? Apa maksudmu, Tuan Yang Zhen?" tanya Penguasa Kota Angin Selatan dengan bibir gemetar.
Wang Hao yang berdiri di dekat peti tertawa terbahak-bahak mendengar kebodohan mereka.
Hahaha.
"Kalian tidak mengerti bahasa kiasan, ya?" ejek Wang Hao menepuk salah satu peti kayu tersebut.
"Bos kami sedang merancang Formasi Gravitasi Sepuluh Ribu Pedang."
Pemuda botak itu menyeringai lebar.
"Kami butuh sepuluh ribu pedang, pisau, atau logam tajam apa pun dari gudang persenjataan kota kalian malam ini juga."
Mendengar permintaan tambahan tersebut, para bangsawan itu hampir saja pingsan di tempat.
Menyerahkan batu spiritual adalah satu hal, tetapi menyerahkan seluruh senjata kota berarti mereka benar-benar melucuti pertahanan terakhir mereka.
"Menyerahkan seluruh persenjataan?! T-tapi bagaimana pasukan kami akan bertarung jika sisa Kultus Bayangan menyerang kota kami?!" protes seorang bangsawan dengan putus asa.
Yang Zhen langsung melepaskan sedikit tekanan Sub Bending Gravitasinya ke arah bangsawan yang memprotes tersebut.
Bum.
"Aaaargh!" jerit bangsawan itu saat wajahnya dipaksa membentur lantai marmer dengan sangat keras.