Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri di Atas Kertas
Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar penthouse. Di atas meja ruang tengah, beberapa dokumen pernikahan telah disiapkan.
Seorang petugas pencatatan sipil duduk di hadapan Devan Mahendra dan Aira Kirana. Arga berdiri tidak jauh dari mereka, ditemani dua staf hukum Mahendra Group yang membawa berkas pendukung.
Aira mengenakan gaun terusan berwarna krem dengan lengan panjang. Rambutnya disanggul rapi, sementara wajahnya hanya diberi sedikit riasan. Di sampingnya, Devan tampil rapi dengan kemeja biru gelap. Wajah pria itu tetap dingin, seolah-olah urusan yang sedang mereka hadapi tidak lebih dari pekerjaan biasa.
"Baik, Tuan Devan Mahendra dan Nona Aira Kirana, semua dokumen sudah lengkap," ujar petugas tersebut setelah memeriksa berkas mereka. "Silakan menandatangani dokumen yang telah disiapkan."
Devan mengambil pena di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu. Setelah selesai, ia meletakkan pena itu di hadapan Aira.
"Giliranmu."
Aira mengambil pena tersebut. Jemarinya sedikit gemetar saat melihat namanya tercetak berdampingan dengan nama Devan.
Mulai hari ini, hidupnya akan berubah. Ia tidak lagi hanya menjadi Aira Kirana, gadis dari Desa yang berjuang membantu keluarganya. Ia akan menjadi istri seorang pria yang bahkan belum benar-benar dikenalnya.
Aira teringat ibunya yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Bayangan itu membuatnya kembali menguatkan hati.
Ia menarik napas, kemudian menandatangani dokumen tersebut.
Setelah memeriksa tanda tangan mereka, petugas itu mengangguk.
"Baik, pernikahan Anda berdua telah tercatat secara resmi. Selamat, Tuan dan Nyonya Mahendra."
Devan hanya mengangguk singkat. Ia menerima dokumen yang diserahkan petugas, kemudian memberikannya kepada Arga untuk disimpan.
"Terima kasih sudah datang. Arga akan mengantar Anda kembali ke kantor."
Petugas tersebut berpamitan bersama kedua staf hukum. Begitu pintu tertutup, suasana penthouse kembali sunyi.
Aira menatap jari manisnya yang masih polos. Tidak ada cincin, tidak ada pesta, dan tidak ada keluarga yang menyaksikan pernikahannya. Semuanya berlangsung sederhana, sesuai kesepakatan yang telah mereka buat.
Devan merapikan kancing kemejanya sebelum menoleh kepada Aira.
"Pernikahan kita sudah sah secara hukum," katanya. "Untuk sementara, aku belum akan mengenalkanmu kepada keluarga besarku. Berita pernikahan ini mungkin akan tersebar di kalangan internal Mahendra Group, jadi kau harus siap jika suatu saat ada yang bertanya."
Aira mengangguk pelan.
"Saya mengerti, Tuan Devan."
Devan terdiam sesaat, lalu berkata, "Ada satu hal lagi."
Aira mengangkat wajahnya.
"Panggil aku Mas Devan mulai sekarang. Jangan panggil aku Tuan lagi."
Aira terdiam sejenak. "Baik, Tuan Devan."
Devan mengernyit. "Kau baru saja memanggilku apa?"
Aira tersadar. "Maaf, Mas Devan."
Devan mengangguk singkat. "Biasakan dirimu. Aku tidak ingin kau salah memanggilku di depan orang lain."
"Baik, Mas Devan."
Devan mengangguk, lalu menatapnya dengan serius.
"Ingat, status kita sebagai suami istri tidak mengubah apa pun di antara kita. Jangan berharap lebih dari apa yang sudah tertulis dalam perjanjian."
Aira meremas jemarinya sendiri. Meski ucapan itu terasa menyakitkan, ia berusaha tetap tenang.
"Saya akan menjalankan peran saya sesuai perjanjian, Mas Devan."
Devan menatapnya beberapa saat sebelum berbalik menuju ruang kerjanya.
"Pastikan kau menepati ucapanmu."
Setelah itu, ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Aira masih berdiri di tempatnya. Ia menarik napas perlahan. Pernikahan ini memang hanya sebuah kesepakatan bagi Devan. Namun, bagi Aira, ada kehidupan keluarganya yang harus ia perjuangkan di balik semua itu.
Ia tidak tahu bagaimana tiga tahun ke depan akan berjalan. Untuk saat ini, ia hanya bisa menjalani keputusan yang telah diambilnya dan berharap pengorbanannya tidak sia-sia.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,