Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ketika keduanya saling berhadapan, Revan langsung dibuat bingung.
“Hah?”
Suara air dari kamar mandi memang terdengar jelas, tetapi kenapa sekarang ada seorang wanita berdiri di depannya hanya dengan balutan handuk mandi, sementara rambutnya masih basah dan meneteskan air?
Apa dia baru saja selesai mandi?
Wanita itu juga sama terkejutnya. Begitu melihat pria asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya hanya mengenakan celana dalam, dia langsung menjerit kaget.
Saking paniknya, tangannya bahkan kehilangan pegangan pada handuk yang membungkus tubuhnya.
Bruk!
Handuk itu jatuh begitu saja ke lantai.
Revan sontak membeku.
Sekilas melihat, rasa bingungnya langsung berubah menjadi keterkejutan.
“Wow...”
Tubuh wanita itu benar-benar sempurna. Bahkan kecantikan si Naya yang masih muda saja rasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita di depannya.
“Tunggu... dia bukan Naya.”
Sial!
Kalau wanita ini Naya, Revan masih bisa mencoba menjelaskan semuanya. Tapi masalahnya, dia sama sekali bukan Naya!
Dia sudah menerobos masuk ke rumah orang, lalu melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia lihat.
Ini gawat.
Benar-benar gawat!
Kesalahpahaman!
Terlalu banyak kesalahpahaman!
Namun, sementara wanita itu terus berteriak, Revan malah berdiri mematung dan mulai menyalahkan Sistem Keajaiban dalam hati.
“Woy Sistem, petualangan macam begini penuh kesalahpahaman. Masa semua ini juga sudah diatur oleh mu? Jangan-jangan memang sengaja mau mempermainkanku?”
Revan benar-benar tidak habis pikir.
Setelah wanita itu berteriak selama kurang lebih dua puluh detik, dia sendiri akhirnya mulai merasa aneh.
Kenapa pria mesum ini belum melakukan apa-apa?
Menurut bayangannya, seorang penyusup yang menerobos masuk ke rumah seorang wanita seharusnya sudah langsung menyerang atau berbuat macam-macam.
Tapi pria di depannya justru hanya berdiri diam.
Tatapannya bahkan seperti sedang menikmati pemandangan.
Wanita itu mulai merasa curiga.
Dia pun memperhatikan Revan lebih saksama.
Pria itu hanya memakai celana dalam, tidak memakai alas kaki, dan tubuhnya juga terlihat kotor.
Jangan-jangan...
Orang gila?!
“Tunggu!”
Wanita itu tiba-tiba menatap wajah Revan lebih dekat.
Matanya langsung membesar.
“Kok kamu?!”
“Mbak, ini kecelakaan!”
Revan buru-buru menyatukan kedua tangannya, berusaha menjelaskan sebelum situasinya semakin kacau.
“Saya tetangga Anda, Revan. Tadi saya terkunci di rumah sendiri. Saya pikir rumah Anda kosong, jadi saya mencoba lewat dari rumah Anda untuk masuk ke rumah saya. Saya tahu biasanya sekitar jam segini tidak ada orang di rumah. Saya benar-benar tidak tahu Anda sedang ada di sini. Ini murni kecelakaan.”
Revan menarik napas.
“Saya polisi, bukan orang mesum. Kalau Anda tidak percaya, saya bisa menunjukkan kartu identitas dan lencana saya.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, Revan baru memperhatikan ekspresi wanita tersebut.
Dia menatap wajah wanita itu lebih saksama.
Dan...
Revan langsung terkejut.
“Eh?! Kok bisa kamu?”
Bukankah wanita ini...
SiMatre?!
Kalimat itu hampir saja terlontar dari mulut Revan, tetapi buru-buru ditelannya kembali.
Benar.
Wanita di depannya adalah perempuan yang pernah Revan temui di sebuah bar, perempuan yang hampir menjadi korban dalam Kasus Pemerkosaan Taser.
Untungnya, Revan berhasil menangkap pelakunya tepat waktu.
Bisa dibilang, dia adalah orang yang menyelamatkan wanita ini.
Tidak heran aroma parfumnya terasa begitu familiar.
Ternyata memang parfum miliknya.
“Kenapa... kamu?” Revan menunjuk wanita itu dengan wajah masih linglung.
Wanita itu salah mengira Revan sedang menunjuk tubuhnya yang terbuka.
Dia buru-buru mengambil handuk tadi dan kembali menutupi tubuhnya.
Namun handuk kecil itu jelas tidak mampu menyembunyikan semuanya dengan sempurna.
Revan bisa merasakan wajahnya mulai panas.
Tenggorokannya pun terasa kering.
“Bukankah ini... kebetulan yang keterlaluan?” Wanita itu menggelengkan kepala. “Naya baru bilang kepadaku kemarin kalau punya tetangga polisi yang agak gila. Jangan-jangan orang yang dia maksud itu kamu?”
“Sial...”
Revan menelan ludah.
Jadi selama ini Naya melihatnya seperti itu?
Begitulah kalau seseorang terlalu suka bercanda dengan wajah datar.
“Saya... saya juga tidak menyangka,” jawab Revan pasrah.
Dia kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kemudian bertanya, “Saya sudah bertemu empat wanita cantik di sini. Tapi kenapa sebelumnya saya tidak pernah melihat Anda?”
“Haha, duduklah.”
Karena hubungan mereka sebagai penyelamat dan orang yang diselamatkan, wanita itu sudah tidak terlalu waspada terhadap Revan.
Dia berjalan menuju kamar tidur dan mempersilakan Revan duduk di atas tempat tidur.
“Harusnya ada lima wanita cantik, bukan empat. Tiga orang tinggal di lantai bawah. Aku dan Naya tinggal di sini.”
“Oh...”
Revan akhirnya mengerti.
Rupanya lantai dua juga disewakan sebagai tempat tinggal, sedangkan lantai satu hanya digunakan sebagai tempat laundry.
“Pak Polisi Revan, nama Anda benar Revan?” Wanita itu mengambil sebungkus rokok dari meja dan menyerahkannya kepada Revan. “Sebenarnya, waktu itu aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Aku baru sadar setelah bangun. Aku sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung, tapi... kamu tahu situasiku.”
“Ana... siapa? Hana?”
Revan mencoba mengingat kembali daftar orang yang terlibat dalam Kasus Pemerkosaan Taser.
“Ya, Hana,” jawab wanita itu sambil mengangguk.
“Sudahlah, jangan terlalu formal. Itu memang tugasku.”
Revan menerima rokok tersebut, tetapi tidak langsung menghisapnya.
Sejak menghubungkan kebiasaan merokok dengan Sistem Keajaiban, dia sudah tidak terlalu tertarik dengan rokok.
Ketika Hana mencoba menyalakan rokoknya, Revan buru-buru mengangkat tangan dan menolak dengan sopan.
Namun Hana tetap menyalakan rokoknya sendiri.
“Apa pun yang terjadi, terima kasih.”
Nada suaranya terdengar tulus.
“Kalau pelakunya benar-benar berhasil lolos waktu itu, aku... aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menghadapi semuanya.”
“Jangan bilang begitu.”
Revan bisa merasakan kesedihan dalam suara Hana. Dia pun segera mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kebetulan sekali hari ini. Anda tidak pergi ke mana-mana?”
“Sejak kejadian itu, aku masih sedikit tidak nyaman.”
Hana mengembuskan asap rokok perlahan.
“Hari ini aku memang berencana istirahat. Tadinya sedang tidur nyenyak, tapi tiba-tiba ada orang menggedor pintu dan membangunkanku.”
Ternyata semua kekacauan ini memang merupakan efek berantai dari ulah Siska.
Setelah Hana selesai berbicara, keduanya kembali terdiam.
Suasana di kamar itu perlahan menjadi canggung.
“Pak Polisi Revan.”
Akhirnya Hana yang lebih dulu memecah keheningan.
“Aku sebenarnya selalu penasaran. Waktu itu... ada begitu banyak orang di bar. Kenapa kamu justru memperhatikanku? Apa kamu sudah tahu kalau pelakunya akan memilihku?”
“Itu...”
Revan sudah cukup berpengalaman menghadapi pertanyaan semacam ini.
Dari cara Hana bertanya, dia langsung menangkap maksud tersembunyinya.
Revan tersenyum.
“Sejujurnya, saya terpesona oleh Anda. Tidak ada yang lebih cantik dari Anda malam itu. Sepertinya selera saya sama dengan selera pelakunya.”
Hana langsung tertawa kecil.
“Seperti yang kuduga. Pak Polisi Revan ternyata memang ahli merayu.”
Dia menatap Revan dengan ekspresi menggoda.
“Karena hari ini kebetulan sekali, bagaimana kalau saya tidak meminta bayaran Rp3.000.000 dan malah memberikan bonus gratis? Menurutmu bagaimana?”
Jelas sekali Hana sedang menggoda Revan.
Revan menatap wanita di depannya.
Ada sedikit gejolak dalam dirinya, tetapi dia masih berusaha mempertahankan ekspresi tenang.
“Kalau begitu... bagaimana kalau hotel bintang empat?”
Ucapan itu langsung membuat Hana tertawa terbahak-bahak.
Setelah cukup lama tertawa, dia memberikan tatapan menggoda kepada Revan.
“Pertemuan yang tidak sengaja seperti ini justru lebih istimewa, menurutku. Lagipula, di sini juga tidak masalah. Naya tidak akan pulang sampai sore.”
Dia berhenti sejenak.
“Dan kamu tadi masuk lewat balkon, bahkan tidak membawa kunci. Bagaimana kamu mau kembali ke rumah?”
Revan bahkan tidak mampu menahan rasa senangnya.
Mana mungkin dia mengaku kalau sebenarnya masih ada kunci cadangan yang disimpan di bawah keset rumahnya?
Tanpa menunggu Hana mematikan rokoknya, Revan langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Sudah terlalu lama Revan tidak menyentuh seorang wanita.
Saat itu pikirannya benar-benar dikuasai oleh suasana.
Dia tidak lagi sempat memikirkan banyak aturan.
Namun gerakannya terlalu tergesa-gesa.
Ketika mereka bergerak di atas tempat tidur, ponsel Hana yang berada di dekat bantal tiba-tiba terlempar ke udara.
Prang!
Ponsel itu jatuh ke lantai.
Suara benturannya cukup keras hingga membuat keduanya berhenti sejenak.
“iPhone 15-ku...”
Hana menjilat bibirnya dan bergumam pelan.
“Maaf...”
Revan buru-buru bangkit, mengambil ponsel tersebut dari lantai.
Untung saja ponselnya cukup kuat.
Tidak ada retakan ataupun goresan berarti.
Ketika Revan mengangkat ponsel itu untuk memperlihatkannya kepada Hana, layar ponsel tiba-tiba menyala.
Wallpaper-nya menampilkan foto Hana sendiri.
Namun yang membuat Revan terdiam bukan karena foto itu.
Dalam foto tersebut, Hana terlihat sedang duduk di depan sebuah piano.
Jari-jarinya berada di atas tuts, sementara ekspresinya terlihat sangat serius dan fokus.
“Piano lagi?”
Revan menatap layar dengan tidak percaya.
“Apa?” Hana menunjuk foto dirinya yang terlihat jauh lebih muda. “Tidak mengenaliku? Waktu itu aku masih sekolah.”
“Kamu... bisa bermain piano?” tanya Revan hati-hati.
“Haha, tidak menyangka, kan?”
Nada suara Hana terdengar sedikit bangga.
“Jakarta memang bukan kota piano, tapi sejak kecil ibuku sudah memaksaku belajar piano. Sejak aku masih ingat, hampir setiap hari aku harus latihan.”
Dia tersenyum.
“Bahkan aku sudah mencapai tingkat sepuluh. Waktu SMA, aku juga pernah mengikuti kompetisi piano paling bergengsi di Jakarta.”
Mendengar itu, Revan tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya.
Bulu kuduknya bahkan berdiri.
“Jadi...” suara Revan hampir bergetar. “Kompetisi yang kamu ikuti waktu itu... yang mana?”
“Yang kesepuluh.”
Jawaban Hana keluar tanpa ragu.
“Kenapa?”
Tangan Revan tiba-tiba gemetar.
Bruk!
iPhone 15 yang baru saja dia selamatkan kembali terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.