NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ziva dan Rian Resmi Pacaran 32.

Rian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merapatkan kembali tubuh Ziva, memeluk cewek itu begitu erat hingga tidak ada celah bagi angin siang pemakaman untuk menyelip di antara mereka. Jawaban Rian adalah kecupan lama di pelipis Ziva, sebuah janji tanpa suara yang tercetak di atas kulit cewek itu yang dingin.

"Gue nggak akan pergi, Ziv. Nggak akan pernah," bisik Rian, suaranya berat dan mutlak.

Hari itu, di depan dua nisan yang menjadi saksi bisu, status mereka yang tadinya abu-abu mendadak bergeser.

Pasca hari ulang tahun Keysha, Ziva berjalan sendirian. Cewek itu berniat mengejar Rian, merajut luka hatinya, memberikan seluruh perhatiannya secara sepihak, sementara Rian sempat menoleh ke belakang— pada Keysha yang telah membuangnya.

Namun hari ini, ego Rian hancur total. Rasa bersalah berdarah menjadi rasa takut kehilangan yang amat sangat.

Ziva adalah jangkarnya yang baru. Dan Rian bersumpah tidak akan melepaskannya.

**

Senin pagi di SMA Taruna Bakti selalu bising, tetapi bagi Ziva, atmosfernya terasa berbeda.

Langkah kakinya yang biasanya berat saat melewati koridor sekolah, kini terasa sedikit lebih ringan.

Di sampingnya, Rian berjalan dengan satu tangan menyandang tas ranselnya, sementara tangan satunya menggenggam erat jemari Ziva.

Tidak ada jarak. Rian sengaja menyamakan tempo langkahnya dengan Ziva, memastikan cewek itu tidak tertinggal walau hanya satu sentimeter di belakangnya.

"Tangan lo masih dingin," ucap Rian tiba-tiba. Cowok itu menghentikan langkah tepat di depan belokan menuju kelas mereka. Dia membawa telapak tangan Ziva ke depan dadanya, lalu menggosoknya lembut dengan kedua tangannya sendiri.

Beberapa siswi yang lewat spontan berbisik-bisik. Selama ini, satu sekolah tahu kalau Ziva itu cegil si biang rusuh pada laki-laki manapun jika ada yang mendekatinya, yang akhir-akhir ini justru menempel pada Rian seperti perangko, sementara Rian hanya menanggapi dengan sikap seadanya. Pemandangan Rian yang memperlakukan Ziva layaknya barang pecah belah yang sangat berharga tentu saja langsung memicu kasak-kusuk.

"Rian, dilihatin orang," cicit Ziva. Pipinya yang semula pucat kini merona tipis. Dia mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Rian justru mengerat.

"Biarin aja. Emang kenapa kalau gue megang tangan pacar gue?" Rian menatap langsung ke mata Ziva. Tatapannya tidak lagi dingin atau menghindar. Ada binar protektif yang sangat kentara di sana. "Nanti istirahat jangan ke kantin duluan. Tungguin gue mau ngembaliin buku di perpustakaan, paham?"

Ziva akhirnya mengangguk pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis—senyum tulus pertama yang muncul setelah badai air mata di pemakaman dua hari lalu. "Iya, Rian. Gue tungguin."

Rian mengacak rambut Ziva sekilas sebelum akhirnya melepaskan genggaman mereka, membiarkan Ziva berjalan di depan menuju tempat duduk, sementara Rian mengikutinya dari belakang.

Perubahan Rian bukan cuma taktik instan karena rasa bersalah. Zegan, abang Ziva yang terkenal dingin dan galak, bahkan sempat mencegat Rian di parkiran pagi tadi. Zegan tidak memukul Rian lagi seperti tempo hari. Cowok kuliahan itu cuma mencengkeram kerah seragam Rian dan berbisik, "Kalau sampai Ziva nangis lagi gara-gara lo atau mantan gebetan lo itu, gue nggak akan segan-segan bawa dia pindah dari kota ini nyusul bokap di semarang"

Ancaman Zegan membuat Rian sadar. Ziva terlalu rapuh di dalam, meski di luar cewek itu selalu memasang wajah ceria nan menyebalkan yang biasa dia tunjukkan di sekolah. Rian tidak boleh lengah sedikit pun.

**

Jam istirahat kedua berbunyi, memecah keheningan koridor dengan gemuruh suara perut-perut kelaparan.

Sesuai janjinya, Rian sudah mengembalikan buku dan kembali ke kelas mereka.

Ketika Ziva melangkah keluar pintu, Rian langsung meraih jemari cewek itu. Kali ini, Rian tidak peduli dengan bisikan-bisikan yang semakin meriap di sepanjang jalan menuju kantin. Dia menuntun Ziva membelah kerumunan siswa, mencarikan tempat duduk yang agak lowong di sudut kantin, lalu menyuruh Ziva duduk manis.

"Mau makan apa? Biar gue yang pesen," tanya Rian sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Ziva.

"Bakso sama es teh manis aja," jawab Ziva, menopang dagunya dengan kedua tangan. Menatap Rian yang sekarang begitu perhatian rasanya masih seperti mimpi.

Hubungan yang tadinya berjalan sepihak, kini mendadak berbalik arah. Perasaan Rian terasa begitu nyata, begitu mendesak, dan Ziva tidak berniat untuk menolaknya.

"Oke. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana," ujar Rian protektif.

Sepuluh menit kemudian, Rian kembali membawa dua mangkuk bakso dan minuman.

Mereka makan dalam diam yang nyaman. Sesekali Rian memindahkan beberapa butir bakso kecil dari mangkuknya ke mangkuk Ziva tanpa bersuara, yang dibalas Ziva dengan delikan protes namun tetap memakannya dengan lahap.

Setelah selesai makan, suasana kantin mulai agak lengang karena sebagian siswa sudah kembali ke kelas. Rian menggeser duduknya menjadi di samping Ziva, bukan lagi di depannya. Di atas meja kayu kantin yang agak kusam, Rian kembali meraih tangan kanan Ziva.

Jari-jemari Rian menyusup di antara jemari Ziva, mengunci genggaman mereka dengan erat. Ibu jari Rian bergerak perlahan, mengelus punggung tangan Ziva dengan gerakan ritmis yang menenangkan.

"Rian," panggil Ziva lirih, matanya menatap tautan tangan mereka. "Gue masih ngerasa ini semua kayak nggak nyata."

Rian menoleh, menatap samping wajah Ziva yang diterpa cahaya siang. "Apanya yang nggak nyata?"

"Lo. Sikap lo." Ziva menoleh, menatap mata cowok itu dengan sisa-sisa kerapuhan yang belum hilang sepenuhnya. "Gue takut... gue takut besok pas gue bangun, lo udah berubah jadi Rian yang dulu lagi. Rian yang selalu melirik untuk Kesyha."

Mendengar itu, hati Rian mencelos. Dia membawa tangan Ziva yang ada di genggamannya ke atas bibirnya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut di depan umum.

"Gue emang bego dulu, Ziv. Tapi sekarang gue nggak sebego itu buat lepasin cewek yang udah merajut hati gue dari titik paling bawah," kata Rian serius, suaranya terdengar begitu tulus hingga merambat masuk ke dada Ziva. "Mulai sekarang, pegang tangan gue sepuas lo. Gue nggak akan lepasin lagi."

Ziva tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca, namun kali ini karena rasa bahagia. Dia membalas genggaman tangan Rian tak kalah erat.

Di sudut kantin yang ramai itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Kehangatan tangan Rian menjalar, mengusir dinginnya trauma yang selama dua tahun ini mendekam di tubuh Ziva.

Namun, momen hangat itu mendadak terhenti oleh sebuah bayangan yang berdiri tepat di samping meja mereka.

Atmosfer di sekitar mereka langsung mendingin dalam sekejap.

Ziva merasakan genggaman tangan Rian agak menegang. Perlahan, Ziva mendongak, mengikuti arah pandang Rian yang mendadak berubah kaku.

Di sana, tidak jauh dari meja mereka, berdiri seorang cewek berambut panjang yang digerai rapi. Keysha.

Keysha berdiri mematung dengan nampan minuman di tangannya yang bergetar pelan. Matanya tidak menatap wajah Rian, melainkan tertuju lurus pada satu objek di atas meja: tangan Rian dan Ziva yang sedang saling bertautan erat.

Ada riak syok yang sangat besar di wajah cantik Keysha.

Selama ini, Keysha tahu betul seberapa gilanya Rian mengejarnya, seberapa keras Rian memohon agar mereka kembali seperti dulu. Keysha selalu berpikir bahwa Rian akan selalu ada di sana, menunggu di tempat yang sama, tak peduli seberapa sering dia mengabaikan cowok itu demi ambisinya sendiri.

Namun sekarang, pemandangan di depannya menghancurkan asumsian itu. Rian—cowok yang biasanya menatapnya penuh damba—kini bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Ziva saat melihatnya.

Napas Keysha memburu. Rahangnya mengeras saat matanya perlahan beralih dari tautan tangan itu menuju wajah Ziva, lalu berakhir pada Rian.

Ada kilat cemburu yang membakar, sangat pekat dan menuntut, yang terpancar jelas dari sepasang matanya. Rahang Keysha mengencang, menahan luapan emosi yang siap meledak di tengah kantin sekolah.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
semangat sya💪,berubah jadi baik itu emang sulit . keberanian kamu ngomong ke guru tua keren loh,
Luna
akhirnya si Keysa waras juga,,, siapa tau nanti muncul jodoh mu sya🤭,
Rofiwan: akan kukabulkan jodoh untuk keysha yang... setara🤭
total 1 replies
falea sezi
bagus
falea sezi
uda ziva jauhin pindah sekolah😕 laki. oon. g ba nrima takdir ya😓
falea sezi
jangan ampe nyesel lu rian kehilangan ziva😓 buat ziva pergi aja thor rian bego malah nyalahin ziva
Luna
udah ziva menjauh aja dari cowok yang GK bisa terima takdir , siapa juga yg mau nabrak orang ,,,egois sekali ,,jadi GK respect sama Rian ,
falea sezi
malah nyalahin Ziva🤣 oon bgt ini Riyan plin plan
falea sezi
🤣🤣 si plin plan mending pergi aja ziv laki! gk tau diri cocok sama sampah kayak. keysa
Luna
GK respect sama Rian ,,, ujung ujungnya nanti marahan lagi sama ziva,,,,apa GK ada cowok lain yg bantu Keysa ,atau emang sengaja citra pengen ngerusak hubungan orang,
Luna
makin bodoh yg seharusnya minta tolong om nya dong buat klarifikasi,,,😑
falea sezi
😒 gila ini keysa
Luna
kan itu sudah jadi pilihan kamu sya dari awal ,,, jangan menyesal,cowok idaman mu ternyata tak sempurna seperti halusinasi mu🤣🤣🤣🤣🤣 terima takdir,Marvel memang kaya tapi sifatnya kek psikopat dan kamu sendiri yg membangkitkan nya keysa🤣🤣🤣🤣🤣
Queen Aisyah
🥰🥰
falea sezi
🤣🤣 Riyan ttep. bego uda lah ziv g usa dket cowok plin plan kayak riyan🤭 gk tau diri
Luna
GK salah sih marven dapat cewek lain dia kaya duit banyak,,,kalo ada yg lebih baik dari kamu yh GK mungkin lah di lewat kan , sedangkan Rian dia udah capek banget di PHP in terus ada cewek yg ngasih dia perhatian yh GK mungkin dilewatkan Rian ,,, sekarang elu sendiri GK dapat dua duanya,
Luna
untung si Marvel atau marven sudah putus sama nih cewek,,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣 semoga ada cewek gila lain untuk mantan Keysa 🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
awas aja lu rian oleng🤣 Ziva gue suruh pindah sekolah
falea sezi
jauhin aja ziv laki gk tau diri🤣 uda ma kesya aja cocok😒 sampah sama sampah
Luna
dalam mimpi sya,,,,,🤣🤣🤣
Luna
Marvel sebelas dua belas sama si Naya yh Thor🤣🤣🤣🤣🤣🤣,agak gila ,,,,gituloh
Rofiwan: Naya versi lanang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!