Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Di dalam ruangan pria itu, ternyata Dalia diam-diam masuk ke dalam ruangan Anggara.
Dia berniat untuk mencari sesuatu, karena ternyata dia terus mengawasi Anggara sehingga dia mendapat informasi kalau pria itu sedang menyelidiki seorang gadis.
Segera Dalia menarik laci meja Anggara, namun tidak menemukan yang dia cari. Dia menggeledah di beberapa tempat, namun masih tak menemukan.
Saat mulai putus asa, matanya tidak sengaja tertuju ke atas meja yang di mana sepertinya berkas yang berada di atas itu memiliki tumpukan kertas di bawah.
Dia pun mengangkat berkas itu dan menemukan data yang dia cari. Dalia tersenyum senang saat menemukan yang dia inginkan.
Mengangkat dan membaca semuanya, dia sangat kaget mengetahui semua informasi yang Anggara sengaja kumpulkan. Dalia lalu mengambil satu kertas penting yang sempat Anggara ingin baca tadi, akan tetapi kedatangan prajurit yang menghentikannya dan membuatnya kembali menyimpan kertas tersebut.
Itu adalah tentang kejadian di hotel 7 tahun yang lalu. Dalia sangat kaget, dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata setelah mengetahui ternyata Anggara sudah mempunyai seorang putri dari hasil ketidak sengajaan di hotel tersebut.
Dalia buru-buru melipat dan menyimpan data itu ke dalam sakunya, lalu keluar dari ruangan Anggara.
Ternyata, sebelum masuk ke sana Dalia juga sudah memastikan kalau tidak ada kamera yang menangkapnya.
Setelah tiba di luar ruangan Anggara, wanita itu tersenyum jahat.
"Jadi, ini wanita yang kau inginkan? Baiklah, kita lihat saja akan jadi apa wanitamu ini," ujar Dalia yang benar-benar gila terobsesi pada Anggara. Dia lalu berjalan menjauhi ruangan Anggara seolah tidak terjadi apa-apa.
Dari kejauhan, Dalia melihat Anggara yang berjalan kembali ingin menuju ruangannya.
Dalia buru-buru bersembunyi agar pria itu tidak curiga padanya.
Anggara langsung masuk ke ruangannya dengan perasaan geram bercampur marah atas tindakan semena-mena atasannya itu.
Dia masih berusaha bersabar dan melirik data-data Naura, yang langsung menenangkan perasaannya. Dia lalu mengambil kembali kertas-kertas itu.
Saat membukanya, dia membaca sepertinya ada yang kurang. Anggara berulang-ulang kali memeriksa kertas-kertas itu, namun tidak menemukan yang dia cari.
Pria itu bingung, Apa ada seseorang yang sudah masuk ke dalam ruanganku? batin Anggara dalam hati.
Sementara di luar ruangan, Dalia masih menatap pintu ruangan pria itu.
Dia tahu apa yang sudah terjadi dalam sana. Bukannya mengembalikan kertas data Naura, dia justru melenggang pergi. Dan tujuannya saat ini cuma 1, dia akan mendatangi rumah sakit tempat Naura bekerja.
______
Tap.. tap.. tap..
Terdengar langkah kaki masuk ke dalam gedung pencakar langit. Orang-orang yang melihatnya langsung menoleh sembari berbisik-bisik.
"Bukannya itu Pak Anggara iya? Putra sulung pemilik perusahaan?"
"Iya, tumben dia mau datang kemari?"
"Aku juga heran, biasanya dia tidak mau menginjakkan kakinya di perusahaan keluarganya."
Terdengar bisik-bisikan dari para wanita karyawan perusahaan. Anggara tak peduli, dan terus berjalan naik ke lantai paling atas menuju ruangan direktur utama.
Tok tok tok
Dia langsung mengetuk pintu, bersamaan mendorongnya.
Cklek
Saat pintu terbuka, pria paruh baya di dalam sedikit terkejut melihat kedatangan Anggara.
"Boleh aku masuk, Paman?"
"HAHAHAHAHAH..." bukannya mempersilahkan Anggara masuk, pria paruh baya itu justru tertawa nyaring.
Tapi Anggara tampak tidak peduli.
"Hayo... ada gerangan apa ponakanku ini mau datang kemari?" sindir Aryadi saudara almarhum ayah Anggara dan Cakra, yang mengelola perusahaan tersebut.
Anggara tak menjawab, dia mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang ada di ruangan itu.
Melihat raut wajah ponakannya yang sangat tidak bersahabat, Aryadi berdiri dari kursi lalu menghampiri ponakannya.
"Kau punya masalah lagi di pekerjaanmu?"
"Tunggu, tunggu, biar aku tebak apa kau didesak lagi oleh jenderal angkuh itu?" ujar Aryadi menaik turunkan alisnya.
Ternyata, paman Anggara itu sangat humoris dan diketahui dia juga seorang duda yang istrinya sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Akan tetapi dia belum menikah sampai sekarang.
Aryadi juga mempunyai seorang putri yang saat ini belajar di luar negeri.
"Mereka menggunakan kekuasaannya untuk menekan bawahan," jawab Anggara jujur.
Aryadi menyenggol bahu ponakannya, seolah-olah itu bukan masalah besar. "Kau saja yang tidak mau, disuguhi gadis cantik yang berlatar belakang militer enggak mau. Kalau kamu nggak mau, ya sudah, kasih ke aku aja, gimana?" Aryadi masih sempat-sempatnya bercanda.
Anggara langsung menatap tajam pamannya itu. "Paman ambil saja kalau mau!"
"Buahahaha...." Aryadi kembali, tertawa terbahak-bahak.
"Ayolah, kau terlalu sensitif," Lanjutannya, menghentikan tawanya.
"Jadi, apa geranganmu datang kemari, kau ingin meminta bantuan dari pamanmu ini?" Tambah Aryadi merubah raut wajahnya sedikit lebih serius.
Anggara hanya diam tak menjawab, akan tetapi Aryadi langsung mengerti.
Pria itu mengangkat telunjuknya ke udara, kemudian menggoyangkan seolah dia tidak akan membantu.
"Maaf ponakanku, aku tidak bisa membantumu kecuali...." menggantung ucapannya.
Anggara menatap pamannya. "Kecuali apa?"
"Kecuali kau mau terjun sendiri ke perusahaan,"
Anggara terkejut, mendengar ucapan pamannya.
Pria paruh baya itu mendekatkan wajahnya ke telinga ponakannya.
"Dengan kau berada di perusahaan, kau bisa mengelola penuh dan kau punya jaringan yang jauh lebih luas. Bukan itu saja, poin keberuntungannya kau bisa mengumpulkan semua bukti-bukti kejahatan para pemegang jabatan itu, dan langsung melaporkannya ke Puspomad. Sekali dayung, dua‑tiga pulau terlampaui.." bisik Aryadi, mengajarkan ponakannya untuk bertindak licik.
Anggara menatap pamannya, kemudian perlahan salah satu sudut bibirnya terangkat.
Apa yang dibilang pamannya itu benar. Setelah bertahun-tahun keluarga Dalia sewenang-wenang, dia tidak akan membiarkan itu terus terjadi dan orang-orang yang lemah seperti dirinya di jabatan akan terus diinjak-injak jika orang-orang yang berkuasa seperti itu tidak segera dijatuhkan.
Bisa jadi, hari ini korbannya adalah dia dan pasti akan lebih banyak lagi korban berikutnya.
"Bagaimana, apa kau tertarik?" tanya Aryadi saat melihat ponakannya itu mulai luluh.
"Tapi tidak mudah untuk keluar dari Militer. lagi pula, aku sangat mencintai pekerjaanku," tutur Anggara.
"Sangat mudah jika kau hanya ingin keluar, kita tidak kekurangan uang untuk membayar biaya-biaya pendidikan yang sudah dikeluarkan oleh negara. Tapi, kalau kau bilang kau mencintai pekerjaanmu, aku rasa itu perlu kau pertimbangkan lagi. Karena setelah keluar dari Militer di usiamu yang sudah 35 tahun ini. Kau tidak akan bisa kembali lagi, karena batas usiamu sudah melebihi batas maksimal."
"Maka dari itu, kau perlu mempertimbangkannya terlebih dahulu. Keluar dari Militer dan melanjutkan karier dan usaha almarhum ayahmu, serta menyelamatkan para prajurit yang lemah. Atau tetap bertahan, diperbudak, dan tidak bisa bebas memilih masa dan waktu,"
"Pilihan ada di tanganmu!" Menepuk-nepuk bahu ponakannya.
Anggara lagi-lagi terdiam. Benar, meskipun dia sangat mencintai menjadi seorang anggota militer. Tapi resikonya itu sangat tinggi, karena banyak orang-orang yang memegang kekuasaan yang menyalahgunakan kekuasaannya.
Tapi jika dia mundur sekarang, dia harus merelakan kecintaannya kepada pekerjaannya.
Tapi jika dia terus berada di militer, maka dia akan terus di pojokkan oleh keluarga Dalia, memintanya untuk menikahi wanita itu, sampai dia mau. Jelas Anggara tak ingin, karena wanita yang sudah berhasil menggetarkan hatinya adalah Naura. Dan dia cuma mau wanita itu.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls