NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONTRAK BARU

“Bagaimana kalau kita punya anak sekarang, Mas?”

—

Kalimat itu terucap begitu halus dari bibir Aura, melayang lembut di antara keheningan ruang kerja yang luas itu.

—

Hendra seketika mematung. Tangan tegapnya yang tadi melingkar erat di pinggang Aura mendadak kaku sejenak. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, raut wajah sang taipan yang biasanya selalu tenang dan dominan tampak menunjukkan binar terkejut yang amat nyata.

—

Aura tidak memalingkan pandangannya sedikit pun. Ia tetap menatap Hendra dengan keberanian dan ketenangan yang luar biasa. Di balik kelembutan sikapnya sebagai seorang istri, matanya memancarkan ketegasan seorang wanita cerdas yang tahu kapan harus mengambil langkah tuntas.

—

Hendra menghembuskan napas panjang, lalu mengulas senyuman tipis—sebuah senyuman penuh kehangatan dan rasa haru yang teramat dalam. Pria matang itu mengusap lembut pipi mulus Aura menggunakan punggung jemarinya.

—

“Kamu nggak perlu merasa tertekan sama gertakan Paman Danu tadi, Aura,” bisik Hendra pelan, suaranya terdengar begitu berat dan tulus. “Saya membela kamu bukan karena menuntut kamu harus segera memberi saya keturunan. Saya membela kamu karena kamu adalah istri saya. Nyonya sah di rumah ini yang nggak boleh diatur-atur sama siapa pun.”

—

Aura tersenyum manis, menyentuh tangan Hendra yang bertengger di pipinya.

—

“Aku nggak merasa tertekan, Mas,” sahut Aura jujur. “Tuntutan Paman Danu memang kejam, tapi ucapan dia ada benarnya. Kalau kita mau membungkam seluruh mulut tetua keluarga besar dan mengunci posisi kita di puncak dinasti ini secara mutlak, kita butuh penerus sah dari pernikahan kita.”

—

Hendra menatap Aura lekat-lekat. Ia meneliti setiap senti raut wajah istrinya, mencari tahu apakah ada keraguan atau ketakutan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan hati dan rasa percaya yang murni kepada dirinya.

—

Rasa cinta dan kagum di dalam dada Hendra seketika makin meluap. Wanita di hadapannya ini benar-benar bukan wanita biasa yang akan panik atau bersedih saat diintimidasi; Aura adalah sosok Ratu sejati yang menjawab setiap ancaman dengan strategi kemenangan yang lebih besar.

—

“Kamu yakin, Sayang?” tanya Hendra lembut, memastikan dengan penuh rasa hormat. “Memiliki anak adalah keputusan besar. Saya nggak mau kamu melakukan ini cuma demi kepuasan politik keluarga.”

—

Aura mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga napas hangat mereka beradu.

—

“Awalnya mungkin pernikahan kita berawal dari kesepakatan dan taktik, Mas...” bisik Aura dengan suara selembut sutra. “Tapi sekarang... aku benar-benar ingin menjadi ibu dari anak-anak kamu. Pria sejati yang selalu berdiri pasang badan buat melindungi aku.”

—

Jawaban itu menjadi pengunci sempurna bagi keraguan Hendra. Pria matang itu menyunggingkan senyuman paling menawan yang pernah ada di wajah tegasnya. Tanpa bersuara lagi, Hendra menundukkan kepala, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat dalam, hangat, dan sarat akan janji keabadian.

—

Aura memejamkan matanya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap suaminya, membalas ciuman itu dengan seluruh kehangatan jiwa dan raga.

—

—

Malam harinya di kediaman utama Fahreza.

—

Suasana kamar utama terasa sangat temaram dan intim. Pendar lampu dinding berwarna kuning keemasan memantulkan cahaya lembut di atas lantai kayu jati. Hujan gerimis yang turun di luar jendela kaca besar menciptakan irama alami yang menenangkan.

—

Aura baru saja selesai membersihkan diri usai makan malam. Ia melangkah keluar dari ruang rias mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna merah marun yang jatuh anggun membingkai lekuk tubuh jenjangnya. Rambut hitam mewahnya terurai bebas, memancarkan aroma wangi bunga mawar dan kayu manis.

—

Hendra duduk di tepi ranjang king-size, hanya mengenakan celana piyama hitam panjang dan jubah mandi kain sutra yang dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tubuh tegap dan berototnya yang sangat terawat.

—

Mata cokelat gelap sang taipan seketika terkunci pada sosok istrinya. Ada binar gairah dan kepemilikan mutlak yang tak lagi disembunyikan dari pandangannya.

—

“Sini, Sayang...” panggil Hendra dengan suara beratnya yang seksi.

—

Aura tersenyum anggun, melangkah mendekat dan mengambil posisi duduk di pangkuan kokoh suaminya. Hendra seketika melingkarkan kedua tangannya yang tegap di pinggang mulus Aura, menarik tubuh istrinya merapat ke dadanya.

—

Hendra menanamkan kecupan-kecupan hangat di leher jenjang Aura, membuat desiran hangat yang sengit menjalar di sepanjang tulang belakang wanita muda itu.

—

“Mulai besok, saya sudah perintahkan tim hukum untuk merombak total struktur perataan saham pribadi saya,” bisik Hendra pelan di dekat telinga Aura. “Sepuluh persen saham yang kamu pegang sekarang akan saya tambah menjadi dua puluh lima persen. Kamu akan memegang porsi hak suara tertinggi setelah saya di Fahreza Group.”

—

Aura memiringkan kepalanya sedikit, menatap garis rahang tegas suaminya. “Mas... dua puluh lima persen itu angka yang terlalu besar. Tetua dewan keluarga pasti bakal makin meradang kalau tahu.”

—

Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa dominan khas penguasa. “Biar saja mereka meradang. Saya pemilik tunggal kekayaan ini, bukan mereka. Saya mau seluruh dunia tahu bahwa posisi kamu nggak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun, bahkan oleh dewan keluarga besar sekalipun.”

—

Aura menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Rasa bangga dan haru melingkupi dadanya. Pria yang dulu pernah ia ragukan kini terbukti menjadi pelindung sejati yang memberikan segalanya tanpa ragu.

—

“Makasih ya, Mas Hendra...” bisik Aura tulus, mengusap rahang tegas suaminya dengan jemari lentiknya.

—

“Nggak perlu terima kasih, Ratu saya,” balas Hendra lembut. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup bibir merah Aura dengan penuh gairah dewasa yang pekat.

—

Malam itu, di dalam kamar utama yang megah dan hangat, ikatan pernikahan mereka makin menguat tanpa cela. Ancaman dari dewan keluarga besar bukannya meruntuhkan kedudukan Aura, melainkan justru makin memperkokoh dominasi mutlak yang ia genggam bersama suaminya.

—

—

Satu bulan berlalu dalam sekejap.

—

Peta kekuatan politik dan bisnis di dalam dinasti Fahreza telah berubah total. Setelah pengumuman resminya penambahan porsi saham untuk Aura menjadi dua puluh lima persen, dewan keluarga besar yang tadinya bersuara vokal mendadak bungkam seribu bahasa. Ketegasan Hendra yang siap menarik seluruh asetnya dari dinasti telah menciutkan keberanian para tetua.

—

Sementara itu, dari balik jeruji besi Pengadilan Negeri, Aris menjalani harinya dalam penderitaan yang luar biasa. Tidak ada lagi teman-teman mewahnya, tidak ada lagi perlakuan istimewa. Setiap hari ia harus menerima kenyataan pahit bahwa mantan kekasih yang pernah ia buang kini memegang kendali atas seluruh aset dan masa depan keluarganya.

—

Siang itu di Gedung Fahreza Tower.

—

Suasana di lantai eksekutif berlangsung sangat sibuk. Aura sedang berdiri di depan dinding kaca besar di ruang kerjanya, menatap lanskap gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah sana. Ia mengenakan setelan blazer berwarna krem pastel potongan tajam yang sangat elegan.

—

Tiba-tiba, rasa mual yang amat hebat mendadak menyerang perutnya.

—

Ugh...

—

Aura refleks memegang tepi meja kerjanya dengan pandangan yang sedikit berkunang-kunang. Tangannya mengusap dadanya yang terasa bergejolak hebat, menahan rasa mual yang melanda secara tiba-tiba.

—

Pintu penghubung ruang kerja terbuka. Hendra melangkah masuk hendak mengajak istrinya makan siang bersama, namun raut wajah sang taipan seketika berubah panik saat melihat Aura berdiri lemas memegang meja.

—

“Aura! Kamu kenapa, Sayang?!” seru Hendra dengan suara cemas, cepat-cepat melangkah lebar menghampiri istrinya.

—

Hendra langsung merangkul tubuh Aura, menopang berat badan istrinya dengan lengan kokohnya yang tegap. Mata cokelat gelap sang taipan memancarkan rasa khawatir yang teramat sangat saat melihat wajah Aura yang tampak agak pucat.

—

“Aku... aku nggak apa-apa, Mas... Cuma mendadak mual sama agak pusing aja,” bisik Aura pelan, mencoba tersenyum agar suaminya tidak terlalu panik.

—

“Pucat begitu bilang nggak apa-apa? Kita ke rumah sakit sekarang!” tegas Hendra tanpa kompromi. Pria itu langsung memanggil sekretarisnya lewat interkom dan menyuruh pengawal menyiapkan mobil eksekutif di bawah.

—

—

Dua jam kemudian di Rumah Sakit Siloam Kebayoran Baru.

—

Ruang pemeriksaan VIP lantai atas itu sangat tenang dan nyaman. Dokter spesialis kandungan senior berwajah ramah baru saja selesai memeriksa Aura menggunakan alat pemindai USG.

—

Hendra berdiri tegap di samping ranjang pemeriksaan, menggenggam erat jemari lentik Aura dengan raut wajah sangat tegang. Rasa cemas dan penasaran berkecamuk hebat di dalam dada sang taipan.

—

Dokter paruh baya itu melepaskan sarung tangannya, mengelap gel pemindai di perut Aura dengan lembut, lalu menatap pasangan suami istri berkelas di hadapannya dengan senyuman yang sangat lebar dan hangat.

—

“Bagaimana kondisi istri saya, Dokter? Ada masalah serius dengan kesehatannya?” cecar Hendra langsung, suaranya yang biasanya dingin kini dipenuhi kecemasan seorang suami.

—

Dokter itu terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya.

—

“Bapak Hendra, Anda tidak perlu khawatir sama sekali. Nyonya Aura sehat walafiat,” terang dokter tersebut dengan raut bahagia. “Rasa mual dan pusing yang dialami Nyonya Aura adalah gejala yang sangat wajar untuk kehamilan trimester pertama.”

—

DEG.

—

Ruangan itu seketika hening.

—

Hendra membeku di tempatnya berdiri. Jemari tegapnya yang menggenggam tangan Aura bergetar tipis. Pria matang berusia 38 tahun itu menatap dokter dengan pandangan tak percaya.

—

“Ke... Kehamilan?” beo Hendra dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

—

“Betul, Pak Hendra,” jawab dokter mantap seraya menunjuk layar monitor USG di samping ranjang. “Usia kandungan Nyonya Aura saat ini sudah memasuki minggu kelima. Janin kecil di dalam rahim Nyonya tumbuh dengan sangat baik dan sangat kuat.”

Aura menahan napasnya sejenak. Matanya berbinar haru saat menatap layar monitor kecil yang memperlihatkan titik hitam mungil di dalam rahimnya. Tangan lentiknya refleks mengusap perut ratanya yang kini menyimpan kehidupan baru—calon penerus sah dari darah daging Hendra Fahreza.

Hendra perlahan menoleh, menatap Aura yang terbaring di ranjang pemeriksaan. Binar kebahagiaan yang begitu pekat dan murni meluap dari mata cokelat gelap sang taipan. Pria yang biasanya tak tersentuh dan selalu bersikap dingin itu mendadak berlutut di samping ranjang pemeriksaan, menggenggam kedua tangan Aura lalu mengecupnya berkali-kali dengan air mata haru yang genang di sudut matanya.

“Terima kasih, Sayang... Terima kasih banyak...” bisik Hendra penuh emosi, suaranya gemetar oleh kebahagiaan yang tak tertandingi.

Aura tersenyum sangat manis, mengusap rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang. “Anak kita, Mas...”

Berita kehamilan Nyonya Aura Fahreza menyebar bagaikan kilat di seluruh jaringan keluarga besar dan bursa saham nasional sore itu juga.

Paman Danu dan seluruh dewan pembina dinasti Fahreza yang mendengar kabar tersebut seketika bungkam total dan tak berani lagi mengusik kedudukan Aura. Kehamilan ini adalah paku terakhir yang menyegel takhta Aura sebagai Ratu tak tergoyahkan di puncak dinasti Fahreza.

Sore harinya di kediaman utama Fahreza.

Hendra memperlakukan Aura bagaikan barang porselen paling berharga di dunia. Pria matang itu menuntun langkah Aura dengan sangat protektif menaiki tangga utama menuju kamar mereka, tidak membiarkan istrinya membawa barang berat sekecil apa pun.

Seluruh staf rumah tangga berdiri berjejer menunduk hormat dengan senyuman bahagia membuncah, menyambut calon pangeran baru yang akan hadir di rumah megah itu.

Saat mereka tiba di dalam kamar utama yang hangat, Hendra membimbing Aura duduk di tepi ranjang king-size, lalu berlutut di depan istrinya. Pria berjas mahal itu menempelkan telinganya di perut rata Aura, menghirup aroma harum dari tubuh istrinya.

“Mulai hari ini, kamu tidak boleh terlalu capek di kantor,” bisik Hendra lembut penuh perhatian. “Seluruh urusan lapangan biarkan tim eksekutif yang jalan. Kamu cuma boleh memantau dari rumah kalau kamu mau.”

Aura tertawa merdu, mengacak pelan rambut suaminya. “Mas... aku cuma hamil, bukan sakit. Aku tetap mau ke kantor buat dampingi kamu.”

Hendra mendongak, menyunggingkan senyuman menawan yang memancarkan rasa cinta abadi. “Iya, tapi tetap harus di bawah pengawasan ketat dari saya.”

Pria itu berdiri, merangkul tubuh Aura ke dalam dekapannya yang sangat hangat, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang manis dan penuh rasa syukur.

Tiga bulan berlalu. Usia kandungan Aura kini telah memasuki bulan keempat.

Di dalam Lapas Cipinang tempat Aris mendekam.

Siang itu, udara di dalam ruang kunjungan tahanan terasa sangat gerah dan خانق. Aris duduk di atas kursi kayu dengan pakaian tahanan oranye yang tampak agak kebesaran di tubuhnya yang makin kurus. Wajah pria muda itu kusam, matanya layu tanpa sisa gairah hidup.

Suara pintu besi terbuka dari luar.

Seorang pengawal pribadi bersetelan hitam melangkah masuk, memegang sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi dari kantor hukum Fahreza & Partners.

Pengawal itu meletakkan amplop cokelat tersebut di atas meja kayu di depan Aris.

Aris mendongak dengan pandangan hampa. “Ini... ini apa?”

Pengawal itu menatap Aris dengan pandangan datar dan dingin. “Ini adalah dokumen surat pencoretan resmi nama Anda dari seluruh struktur aset dinasti Fahreza, sekaligus salinan pengumuman resmi dari keluarga pusat.”

Aris dengan tangan gemetar membuka isi amplop cokelat tersebut. Di lembar pertama, tertera dokumen hukum yang menandakan bahwa ia secara permanen telah kehilangan seluruh hak waris atas kekayaan ayahnya.

Namun, saat Aris membalik ke lembar kedua—sebuah surat pengumuman keluarga besar berstempel resmi—matanya seketika membelalak lebar. Nafasnya tertahan di tenggorokan, dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa remuk.

Di lembar tersebut tertera foto USG terbaru beserta pengumuman resmi dari Hendra Fahreza:

‘Telah Resmi Diumumkan Acara Syukuran Kehamilan Empat Bulan Calon Pewaris Utama Dinasti Fahreza dari Nyonya Aura Fahreza.’

BUM!

Kertas di tangan Aris terlepas begitu saja, jatuh melayang ke atas lantai dingin.

Aris memegang dadanya yang sesak luar biasa. Air mata kefrustrasian, penyesalan, dan kehancuran jiwa menetes deras membasahi pipinya yang tirus.

Cewek yang dulu ia anggap 'tidak selevel', cewek yang ia buang demi wanita kaya lain... kini bukan hanya menjadi ibu tirinya, bukan hanya memegang kekayaan ayahnya... tapi juga sedang mengandung calon pewaris tunggal yang akan menggantikan seluruh posisinya di dunia ini!

Aris meraung parau di dalam ruang kunjungan yang dingin itu, memukulkan dahinya ke atas meja kayu seraya menangis histeris meratapi kebodohan masa lalunya yang telah menghancurkan hidupnya sendiri.

Malam harinya di kediaman utama Fahreza.

Acara syukuran empat bulan kehamilan digelar secara privat dan sangat elegan di ruang aula utama. Hanya dihadiri oleh kerabat terdekat, kolega bisnis papan atas, serta para pejabat tinggi yang memberikan ucapan selamat.

Aura tampak begitu memukau dalam balutan gaun malam longgar berwarna merah anggur (burgundy) dari bahan sutra halus. Perutnya sudah mulai membuncit tipis, memberikan aura keibuan yang makin memancarkan kecantikannya yang tiada tanding.

Hendra berdiri di sampingnya sepanjang malam, melingkarkan tangannya di pinggang Aura dengan sangat protektif dan penuh rasa bangga. Pria berusia 38 tahun itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri satu detik pun.

Usai acara usai dan para tamu pulang, Hendra membimbing Aura berjalan ke balkon lantai dua untuk menikmati angin malam yang sejuk.

Pendar lampu taman keemasan menyinari wajah cantik Aura. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput basah yang menenangkan.

Hendra berdiri di belakang Aura, merangkulkan kedua tangannya yang kokoh di perut membuncit istrinya, mengusap calon buah hati mereka dengan penuh kelembutan.

Aura menyandarkan punggung dan kepalanya pada dada bidang Hendra yang hangat, membalas usapan tangan suaminya.

“Mas... makasih ya buat semuanya,” bisik Aura pelan sambil tersenyum paling tulus dari hatinya.

Hendra menanamkan kecupan hangat di leher jenjang Aura, menghirup wangi mawar yang sangat ia cintai dari tubuh istrinya.

“Saya yang harusnya bilang terima kasih, Aura,” balas Hendra dengan suara beratnya yang begitu dalam dan seksi. “Kamu udah memberikan saya segalanya... kehormatan, kebahagiaan, dan keluarga yang utuh.”

Aura memutar tubuhnya di dalam dekapan Hendra, mendongak menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap suaminya. Pria terkuat ini kini sepenuhnya menjadi miliknya—menjadi pelindung, suami, dan ayah dari anak yang sedang dikandungnya.

Pembalasan dendamnya pada Aris telah usai dengan sempurna. Ia telah menang di setiap lini kehidupan.

Hendra menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, intim, dan penuh cinta abadi di bawah pendar cahaya bulan malam itu.

Namun, ketika ciuman mesra itu baru saja terlepas dan Hendra sedang mengusap lembut pipi istrinya, tiba-tiba ponsel pribadi Hendra yang berada di saku jasnya berdering nyaring dengan nada panggilan darurat dari kepala pengawal pribadi kediaman.

Hendra mengerutkan keningnya tipis, lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Ada apa, Pak Biantoro?” tanya Hendra datar.

Dari balik telepon, suara kepala pengawal terdengar begitu panik dan bergetar hebat.

“Pak Hendra! Gawat, Pak! Kerusuhan besar baru saja terjadi di Lapas Cipinang malam ini... dan Aris berhasil melarikan diri bersama kelompok tahanan kabur!”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!