Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 30
"Apa, permaisuri dan Pangeran ada di sini? Kenapa baru memberitahu saya, Count."
Erson membulatkan matanya saat dibentak oleh Countess Elia. Bagaimana tidak, dia hanya menyampaikan apa yang dikatakan Lucien, tapi malah mendapat bentakan dan tatapan tajam.
Haaah
Erson membuang nafasnya kasar. Langkah kakinya semakin cepat, menyusul Countess Elia yang sudah jauh berada di depan.
Sesampainya di depan kamar Lucien, lebih dulu Countess Elia mengatur nafasnya. Dadanya berdegup kencang saat ini karena hendak bertemu dengan Pangeran dan calon permaisuri. Meski Countess Elia belum melihat seperti apa sosok wanita yang berhasil memikat hati sang kaisar, tapi dia yakin pasti wanita itu baik luar dalam.
tok tok tok
Countess Elia mengetuk pintu. Tak ada tanggapan dari Lucien, akan tetapi pintu kamar dibuka.
Countess Elia membulatkan matanya karena baru kali ini dia melihat sang kaisar membuka pintu kamarnya sendiri.
"Masuklah Elia," ucap Lucien.
"B-baik Baginda."
Sambil menundukkan kepala, Countess Elia melangkah masuk ke kamar. Matanya berbinar saat melihat anak kecil yang duduk di atas ranjang. Hanya dengan sekali melihat saja, Countess Elia sudah sangat yakin bahwa itu lah sang pengeran. Semua yang ada pada anak itu mirip sekali dengan Lucien saat masih seusianya.
"Ya Tuhan, apa ini Pangeran kita, baginda?" tanya Countess. Dia mendekat ke arah Leoric, namun Leoric beringsut menunjukkan sikap waspada.
"Iya benar, dia putraku. Leoric Von Kallistar. Bagaimana menurut mu, Elia."
Countess Elia tersenyum lebar, lalu menganggukkan kepalanya.
"Sangat mirip dengan Anda, Baginda. Persis seperti Anda saat kecil dulu. Saya kasihan kepada Yang Mulia Permaisuri, beliau yang mengandung 9 bulan lebih tapi semua yang ada dalam putra Anda sangat mirip dengan Anda."
Lucien terkekeh kecil. Lagi-lagi Countess Elia menemukan sisi lain dari sang kaisar. Sebelumnya tak pernah dia melihat wajah lain Lucien selian datar, dingin dan juga berhawa kejam. Tapi di depan putranya, Lucien memancarkan aura hangat yang menenangkan.
"Baiklah, aku akan serahkan Leo dibawah pengawasanmu. Pengasuh yang sebelumnya, Leo sudah nyaman dengannya. Dan Cattleya, aku serahkan padamu juga. Aku ingin kamu yang langsung melayaninya. Apa kamu keberataan?"
Countess Elia langsung membungkukkan tubuhnya dengan sangat rendah. Mana mungkin dia merasa keberataan melayani sang permaisuri. Semua menginginkan posisi ini. Dan tentu saja Countess yang memang sudah pernah melayani permaisuri sebelumnya akan merasa sangat bahagia bisa melayani permaisuri yang sekarang.
"Kalau begitu Elia, aku minta tolong bersihkan tubuh Catty dan juga gantikan bajunya."
"Baik baginda."
"Nah sayang, ayo ikut Ayah. Kamu juga harus berganti pakaian."
Leoric mengangguk cepat. Dia mengangkat kedua tangannya, minta digendong oleh Lucien.
Tentu saja Lucien tidak menolak. Bahkan jika Leoric minta digendong seharian pun dia tidak adakan menolah.
Istana matahari seketika menjadi ramai dengan kemunculan sang pangeran. Semua merasa gemas dan ingin menyentuhnya. Namun peraturan kekaisaran sangat ketat. Tak ada yang boleh menyentuh anggota keluarga kekaisaran tanpa persetujuan dari diri mereka sendiri. Maka dari itu semua yang ada di istana matahari sangat iri dengan Irin, yang merupakan pengasuh sang pangeran.
Meski demikian, mereka juga belum melihat seperti apa rupa sang permaisuri. Mereka menjadi sangat penasaran, akan tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena yang diizinkan masuk ke kamar hanyalah Countess Elia.
"Apa Permaisuri cantik, Countess Elia. Bagaiamana jika dibandingkan dengan Putri Adelle."
"Sebaiknya kalian diam, jangan sampai pedang Baginda menyabet leher kalian karena terlalu banyak bicara."
Glup!
Para dayang menelan ludah mereka dengan susah payah. Kata-kata Countess Elia tentu bukan sebuah omong kosong belaka, melainkan sebuah peringatan keras.
Tok tok tok
"Baginda, ini saya Elia."
"Masuk."
Countess Elia masuk ke ruang kerja Lucien. Leoric yang ada di pangkuan Lucien, diserahkan kepada Irin untuk diajak bermain.
"Ada apa?"
"Baginda, saya sudah membersihkan tubuh Yang Mulia. Dan saya juga sudah menggantikan baju beliau. Tapi~"
Countess Elia menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Lucien penasaran.
"S-saya menemukan sesuatu di punggung Yang Mulia. Sebuah simbol."
Lucien mengerutkan alisnya, dia masih tidak mengerti apa maksud dari Countess Elia.
"Tanda lahir?"
"Bisa dibilang seperti itu, tapi milik Yang Mulia membentuk sebuah simbol yang sangat jelas."
Lucien langsung beranjak dari duduknya, mereka bergegas menuju ke kamar untuk melihat apa yang dikatakan oleh Countess Elia.
"Sebelah sini Baginda," ucap Countess Elia.
Cattleya masih masih terlelap itu, dimiringkan. Countess Elia lalu membuka sedikit pakaian Cattleya.
Lucien menyipitkan matanya. Dia melihat apa yang dilaporkan oleh Countess.
"Ini?"
TBC