Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Temaram Lampu
Meskipun baru menginjak kelas 2 SMA, Kakak tahu betul bahwa waktu tidak akan menunggunya. Persaingan memperebutkan beasiswa penuh dan satu kursi di Perguruan Tinggi Negeri impiannya sangatlah ketat.
Bagi anak dari keluarga seperti kami, tidak ada ruang untuk bersantai atau menunda-nunda hingga kelas 3. Itulah mengapa, di saat teman-teman sebayanya masih asyik bermain selepas sekolah, Kakak sudah mencuri start. Ia sengaja mengumpulkan buku-buku bekas UTBK dan modul kelas 3 dari kakak kelas yang baru lulus untuk ia pelajari secara otodidak.
Malam itu, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara jangkrik di luar rumah semakin riuh, bersahut-sahutan dengan embusan angin malam yang dingin. Namun, di sudut meja kayu yang terkelupas, lampu belajar mini yang dayanya hampir redup masih menyala. Kakak masih tegak memegang penanya, meski matanya sudah terlihat sangat mengantuk.
Kak, sudah malam sekali. Kenapa tidak dilanjut besok? tanyaku pelan, tidak tega melihat lingkaran hitam di bawah matanya yang kian jelas.
Kakak meletakkan penanya, lalu menatapku sambil tersenyum tipis. Ia meregangkan otot-otot lehernya yang pasti terasa kaku. Ris, saingan Kakak di luar sana itu ribuan anak dari seluruh Indonesia. Banyak dari mereka yang bisa ikut bimbingan belajar mahal sejak kelas 1 SMA. Kalau Kakak baru mulai belajar UTBK saat kelas 3 nanti, Kakak pasti sudah tertinggal jauh di belakang mereka.
Ia mengusap halaman buku modul yang penuh dengan coretan rumus matematika kuadrat dan catatan bahasa Inggris.
Bapak sudah bekerja keras setiap hari sampai kelelahan. Kakak tidak punya pilihan lain selain mencicil materi ini dari sekarang. Ini satu-satunya tiket Kakak untuk bisa kuliah tanpa bikin Bapak pusing memikirkan biaya, lanjutnya dengan suara rendah, seolah takut suaranya akan menembus dinding kamar Bapak dan Ibu.
Aku terdiam. hatiku terasa sesak sekaligus bangga mendengarnya. Di usia yang masih terbilang muda, Kakak sudah memikul tanggung jawab yang begitu besar di pundaknya. Ia tidak pernah mengeluh tentang keadaan ekonomi kami. Sebaliknya, keterbatasan itu justru ia jadikan bahan bakar untuk berlari lebih cepat.
Aku duduk di sampingnya, membuka buku catatanku sendiri. Kalau begitu, aku temani Kakak belajar. Aku juga mau mencicil materi kelas 8-ku supaya nanti bisa dapat peringkat paralel, ujarku mantap, mencoba memberikan suntikan semangat.
Kakak terkekeh pelan, lalu menjitak kepalaku dengan sayang. Anak kecil jangan begadang. Sana tidur, besok kesiangan sekolah!
Aku menggeleng kuat-kuat, bersikeras tetap duduk di sana. Akhirnya, Kakak hanya bisa pasrah dan kembali fokus pada barisan angka di hadapannya. Di bawah temaram lampu rumah yang sederhana ini, kami berdua merajut mimpi masing-masing, berjanji dalam hati untuk mengubah keringat Bapak dan ketulusan Ibu menjadi senyum kebanggaan di masa depan.
Semakin larut, dan heningnya rumah bapak dan ibu yang sudah tidur. hanya dipecah oleh gesekan pena Kakak di atas kertas. serta gemercik halaman buku sejarah kelas delapan yang ku balik perlahan. Rasa kantuk sempat menyerang ku beberapa kali, membuatku hampir terbentur meja Namun, setiap kali melihat punggung Kakak yang tetap tegak dan sorot matanya yang fokus menatap deretan soal rumit, rasa kantukku mendadak menguap. Tekadnya menular bersamaku, mengalir hangat lewat dinginnya angin malam yang menyelinap dari sela-sela jendela.
Sekitar pukul setengah satu dini hari, Kakak akhirnya menghela napas panjang. Ia menutup buku modul tebalnya dengan pelan, seolah selesai menyelesaikan satu babak pertempuran kecil malam itu.
"Sudah, matamu sudah merah begitu. masuk kamar tidur," bisik Kakak sambil merapikan alat tulisnya ke dalam kotak pensil usang berwarna biru.
Aku mengangguk patuh, membereskan buku sejarahku. Kami berjalan mengendap-endap menuju kamar tidur kami yang hanya dibatasi oleh sebuah lemari. Sebelum menutup mata, aku melihat Kakak menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang penuh harap. Aku tahu, di dalam kepalanya sedang tergambar masa depan cerah yang sedang ia perjuangkan mati-matian.
Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasa. Bapak sudah berjualan ke pasar sejak subuh, dan Ibu sibuk menyiapkan sarapan sederhana. Kakak berangkat sekolah dengan tas ranselnya yang tampak lebih berat dari biasanya karena penuh dengan buku-buku pinjaman. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum ramahnya kepada Ibu, ada rasa lelah luar biasa yang ia tahan akibat hanya tidur kurang dari empat jam.
Bulan demi bulan berlalu dengan ritme yang sama. Meja kayu yang terkelupas di sudut rumah menjadi saksi bisu perjuangan kami. Kakak tidak pernah berhenti. Lembar demi lembar latihan soal UTBK dilalapnya, lembar demi lembar materi kelas delapan aku selesaikan.
Lembar demi lembar materi kelas delapan aku selesaikan, tetapi suasana di sekolah ternyata tidak sehangat suasana perjuangan di sudut meja kayu kami. Di balik seragam putih-biru yang ku kenakan, aku masih saja merasa seperti anak kelas tujuh yang terasing. Aku belum juga memiliki teman yang benar-benar bisa dipercaya.
Dwi, yang dulu sering berbagi tawa denganku, kini tidak lagi akrab. Ia telah menemukan kelompok bermain yang baru, dan perlahan-lahan langkah kami saling menjauh hingga hanya menyisakan sapaan canggung saat berpapasan di koridor. Sementara itu, Dian masih seperti biasa. Sifatnya yang selalu merendahkan dan meremehkan kemampuanku terkadang masih kerap terdengar di telinga. Dulu, kata-kata tajam Dian mungkin akan membuatku pulang dengan mata berkaca-kaca. Namun sekarang, semuanya telah berubah.
Aku tidak memedulikan mereka lagi. Setiap kali Dian mulai menyindir atau Dwi membuang muka, aku hanya perlu mengingat punggung Kakak yang tetap tegak di bawah temaram lampu belajar yang redup. Aku mengingat lingkaran hitam di bawah matanya, dan keringat Bapak yang bercucuran di pasar sejak subuh berjualan. Dibandingkan dengan beban berat yang dipikul Kakak, cibiran Dian dan kesunyian tanpa teman di kelas tidak ada apa-apanya.
Fokusku kini sepenuhnya terkunci pada satu hal sekolah dan masa depan. Saat jam istirahat tiba dan riuh rendah obrolan teman-sekelas memenuhi ruangan, aku memilih tetap berada di bangkuku. Ku tajamkan pensil, kubuka buku latihan, dan mulai menenggelamkan diri dalam deretan angka serta peristiwa sejarah. Aku tidak lagi peduli apakah aku harus berjalan sendirian ke kantin atau duduk di pojok kelas tanpa teman mengobrol.
Buku-buku ini adalah teman terbaikku sekarang. Seperti Kakak yang sedang merajut tiket kuliahnya, aku juga sedang menenun jalanku sendiri untuk meraih peringkat paralel yang ku janjikan malam itu. Biarlah mereka sibuk dengan drama remaja dan kelompok bermainnya. Di atas kertas-kertas penuh coretan ini, aku sedang berlari mengejar ketertinggalan, berjanji dalam hati bahwa kesendirian ini akan berbuah manis demi senyum kebanggaan di wajah Bapak dan Ibu kelak.
pokoknya harus Sampek ending