NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prologue

"... Bakar semuanya!"

Dentingan pedang berbenturan. Orang-orang berlarian meninggalkan kota di tengah kobaran api yang melahap rumah-rumah hingga menjadi abu. Di atas seekor kuda perang, Jenderal Grease menebas siapa saja yang menghalangi jalannya tanpa ampun.

"Habisi mereka semua!" teriaknya sembari mengangkat pedang tinggi-tinggi. "Orang-orang Eldros tidak boleh dibiarkan hidup!"

Diiringi teriakan "Hidup kemuliaan!", Pasukan Kekaisaran membantai para lelaki, memisahkan paksa anak-anak dari orang tua mereka, serta memperlakukan para tawanan wanita dengan keji. Di tengah kekacauan itu, aku—Lyan Clament—diseret oleh kedua orang tuaku menuju gereja terdekat lalu disembunyikan di balik patung besar Dewi Charlotte.

"Lyan!" Ayah berjongkok, mencoba menenangkan napasku yang memburu. "Dengarkan Ayah. Tolong temui Nyonya Mener, lalu katakan kepadanya Tuan Lynden memerlukan bantuan!"

Aku tidak tahu siapa Nyonya Mener, atau dukungan apa yang Ayah maksud. Namun, melihat kepanikan di mata mereka, aku hanya bisa mengangguk kaku. Saat Ayah berbalik untuk menahan pintu kayu dengan pasak, Ibu meraih tanganku—menyematkan sebuah cincin perak ke jemariku—cincin pernikahan yang paling berharga baginya.

"Lyan... Kalau kamu butuh uang untuk bertahan hidup, jual saja cincin ini, tidak apa-apa," bisik Ibu bergetar.

Senyuman terakhir dan kecupan hangat ia berikan di keningku. Sebelum aku sempat memanggilnya, Ibu dan Ayah sudah berbalik berlari menuju pintu, menyambut takdir kematian mereka.

Pasukan Kekaisaran akhirnya berhasil mendobrak pasak kayu yang menahan pintu. Seorang perwira yang memimpin mereka—ditandai oleh tiga garis merah di bahu—mengangkat satu tangan untuk menghentikan bawahannya yang hendak menghunuskan pedang. Ia melangkah maju sendirian mendekati orang tuaku, pedang berlumuran darah terseret di sampingnya.

"Kalian? Selama puluhan tahun—"

"Kami tahu! Tapi yang melakukan itu para leluhur kami!" potong Ibu nekat, langsung berlutut dan mencengkeram ujung jubah sang perwira. "Kenapa kami yang harus membayar dosa yang tidak kami perbuat?!"

"kebencian!"

Whosh... Whosh... Whosh...

"Tidak!"

Darah menyembur saat tebasan kilat perwira itu menembus dada Ayah, membuatnya jatuh tersungkur tanpa suara. Melihat suaminya tewas, mata Ibu memerah. Tanpa ragu, ia merogoh jubahnya dan menghunuskan belati berkarat ke arah sang perwira.

"Dasar penjajah, matilah bersama Kaisar Abdius!"

Sebelum bilah itu sempat menusuk, seorang prajurit dari belakang bergerak lebih cepat. Tebasan pedang melintang memutus udara, dan dalam sepersekian detik, tenggorokan Ibuku tersayat. Tubuhnya ambruk di atas genangan darah suaminya sendiri, meninggalkan napas terakhir yang tercekat di udara.

Suaraku tertahan di tenggorokan. Aku menggigit bibir hingga berdarah, mencengkeram cincin pemberian Ibu erat-erat hingga tepian logamnya menancap di kulitku. Mereka masih hidup di dalam hatiku.

"Pekerjaan kita selesai di sini."

Para prajurit mulai meninggalkan gereja. Sebelum pergi, mereka menyalakan obor dan melemparkannya ke sudut ruangan untuk membakar habis seluruh bangunan beserta jejak pembantaian. Menunggu hingga derap langkah mereka meredup, aku segera merayap keluar lewat jendela belakang yang terbuka dan melompat menuju hutan belantara.

Tak jauh dari sana, tersembunyi di balik semak belukar, sebuah gubuk tua berdiri di tepi sungai. Di galangan kecilnya, sebuah sampan kayu terikat longgar.

Aku langsung melompat masuk, melepaskan tali pengikatnya, lalu mendayung sekuat tenaga menggunakan seluruh otot kecilku. Arus sungai membawa sampanku menjauh. Di sepanjang perjalanan, pemandangan ngeri tersaji di hadapanku: kota yang dulunya damai kini berubah menjadi lautan api, dengan genangan darah yang mengalir di setiap sudut jalan.

Beberapa prajurit kekaisaran di tepi sungai sempat menyadari keberadaanku, untungnya mereka hanya mendengus sinis dan membiarkanku lewat.

"Toh… anak kecil itu tidak akan bertahan selama seminggu!" teriak salah seorang dari mereka.

"Benar! Kelaparan, wabah, dan para bandit cepat atau lambat akan menghabisinya," balas seorang pemanah sambil menyeringai, lalu mengangkat busurnya ke arahku. "Sebenarnya aku kasihan jika ia harus mati perlahan. Lebih baik kita akhiri saja sekarang…"

Anak panah itu melesat, tetapi sialnya bidikannya meleset tipis dan menancap di air dekat sampanku.

"Ha! Rupanya Dewa Astromov memang menginginkannya mati perlahan dalam penderitaan, hahahaha!"

"Kau benar, Saudaraku!"

Teriakan memenuhi cakrawala, sementara langit malam yang gulita mendadak diterjang badai. Saat aku mendongak, hujan lebat turun dengan derasnya, disusul angin kencang yang membuat arus sungai mengamuk hebat. Aku mencoba mengayuh dayung sekuat tenaga, tetapi nasib buruk menimpa—kedua dayung itu langsung patah berkeping-keping saat menghantam bebatuan tersembunyi di dalam air.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencengkeram erat sisi sampan, berusaha mempertahankannya agar tidak terbalik. Namun, amukan arus terlalu kuat. Tubuhku terhempas lepas dari sampan, digulung oleh gelombang liar yang membawaku entah ke mana. Aku mencoba bertahan dan mengapung, tetapi tubuh sudah kehilangan seluruh daya. Aku tenggelam. Perlahan tapi pasti, kesadaranku tersedot ke dalam kegelapan.

Kematian...

Cinta...

Kasih sayang...

Perjuangan...

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!