NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Malam yang Tak Terlupakan

Gerald mengundang Yao ke rumah pantainya di Taormina, sebuah pelarian singkat dari kekacauan bisnis keluarga yang semakin memanas akibat ancaman keluarga Russo yang mulai terang-terangan.

"Aku membutuhkan ini," katanya saat mereka tiba, menatap laut Mediterania yang membentang luas di hadapan mereka, warnanya keemasan disorot matahari terbenam. "Hanya beberapa hari tanpa beban segalanya."

Yao merasakan hatinya sakit melihat kelelahan tulus di wajah Gerald — kelelahan seorang pria yang tidak pernah punya kesempatan untuk sekadar menjadi manusia biasa. Untuk sesaat, ia lupa tentang Enzo, tentang dendam, tentang segala kebohongan yang ia bawa, dan hanya ingin memberikan pria ini momen kedamaian yang ia rindukan.

Rumah pantai itu adalah bangunan putih sederhana namun elegan, menempel di tebing yang menghadap langsung ke laut biru Ionia, jauh berbeda dari kemewahan berlebihan mansion Milan. Gerald menjelaskan bahwa tempat ini adalah satu-satunya properti keluarga yang tidak pernah ia bagikan dengan siapa pun — bahkan Enzo tidak tahu lokasi pastinya.

"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Yao, tersentuh oleh kepercayaan yang tersirat dalam gestur itu.

"Karena aku ingin ada satu tempat di dunia ini yang hanya milik kita," jawab Gerald sederhana, "jauh dari semua orang yang mengira mereka mengenal siapa aku sebenarnya."

Malam itu, mereka duduk di teras rumah pantai, ditemani sebotol wine dan cahaya lilin yang berkelap-kelip diterpa angin laut. Gerald bercerita tentang masa kecilnya yang jarang ia bagikan pada siapa pun — tentang ibunya yang gemar bernyanyi lagu-lagu opera sebelum kanker merenggutnya, tentang bagaimana ia belajar menyembunyikan setiap emosi di balik topeng kedinginan karena ayahnya menganggap perasaan sebagai kelemahan.

"Kau orang pertama dalam bertahun-tahun yang membuatku merasa tidak perlu memakai topeng," katanya, suaranya rapuh dalam cara yang tidak pernah Yao saksikan sebelumnya. Ia tidak menjelaskan lebih jauh apa artinya itu — hanya menggenggam tangan Yao lebih erat, seolah takut perasaan itu akan menghilang jika ia mencoba mendefinisikannya dengan kata-kata.

Yao merasakan air mata menggenang di matanya, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya jujur — sebagian. "Aku juga kehilangan orang tuaku dengan cara yang kejam," katanya pelan. "Aku menghabiskan bertahun-tahun membangun tembok agar tidak ada yang bisa menyakitiku lagi. Tapi kau... entah bagaimana, kau menemukan celah di tembok itu."

Gerald menatapnya lama, tangannya perlahan meraih wajah Yao, mengusap air mata yang mulai jatuh. "Apa pun tembok yang telah kita bangun," bisiknya, "mari runtuhkan malam ini. Hanya untuk malam ini, jangan jadi prajurit siapa pun. Jangan jadi senjata siapa pun. Jadilah Yao saja, bersamaku."

Mereka berciuman di bawah cahaya bulan, dan malam itu, di antara desiran ombak dan bisikan angin laut, kedua jiwa yang terluka menemukan kehangatan dalam pelukan satu sama lain — sebuah momen intim yang mereka simpan hanya untuk diri mereka sendiri, jauh dari mata dunia yang kejam, jauh dari bayang-bayang dendam dan pengkhianatan yang menunggu mereka di Milan.

Saat fajar menyingsing, Yao terbangun dalam pelukan Gerald, merasakan kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya membayangkan sebuah kehidupan lain — kehidupan di mana ia bukan Yao Conti yang haus dendam, melainkan hanya seorang wanita yang mencintai seorang pria tanpa beban masa lalu yang mengikat mereka berdua.

Tapi kedamaian itu, seperti semua hal indah dalam dunia mereka, tidak ditakdirkan untuk bertahan lama.

Mereka menghabiskan dua hari berikutnya menjelajahi kota kecil Taormina, berjalan kaki menyusuri jalan-jalan berbatu yang menghadap laut, makan gelato di kafe-kafe kecil sambil bercanda seperti pasangan biasa yang tidak memiliki beban dunia mafia di pundak mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yao membiarkan dirinya benar-benar hadir di suatu tempat, tidak menghitung jalur pelarian atau mencatat titik-titik lemah keamanan — hanya menikmati kehangatan matahari Sisilia dan tawa pria yang mulai memenuhi setiap sudut hatinya yang telah lama kosong.

Namun setiap malam, setelah Gerald tertidur, Yao tetap terjaga beberapa menit lebih lama dari yang seharusnya, menatap langit-langit kamar sambil bertanya-tanya kapan tepatnya wanita yang menghitung jalur pelarian itu berhenti menjadi dirinya yang sesungguhnya, dan wanita yang tertawa tulus pada lelucon Gerald mengambil alih. Ia tidak menemukan jawabannya. Yang ia tahu hanyalah bahwa dua hari ini terasa lebih nyata daripada tujuh belas tahun sebelumnya — dan kenyataan itu sendiri terasa seperti pengkhianatan terhadap segala yang telah ia sumpahkan pada ayahnya.

Malam terakhir mereka di sana, Gerald mengajaknya berjalan menyusuri pantai berbatu di bawah cahaya bulan purnama, air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki telanjang mereka.

"Aku ingin kau tahu sesuatu," katanya, berhenti dan menatap Yao lurus di mata. "Apa pun yang terjadi setelah ini, apa pun rahasia yang mungkin kau simpan — dua hari ini adalah dua hari paling bahagia dalam hidupku. Aku ingin kau tahu itu, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya."

Kata-kata itu terasa seperti ramalan yang tidak disengaja, dan Yao merasakan dingin yang menjalar di tulang punggungnya meski malam itu hangat.

Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Gerald, mencoba mengusir firasat buruk yang tiba-tiba muncul entah dari mana. "Aku juga tidak ingin ini berakhir," bisiknya jujur. "Aku ingin waktu berhenti di sini, di pantai ini, selamanya."

"Kalau bisa, aku akan menghentikannya untukmu," jawab Gerald lembut, memeluknya lebih erat seolah bisa melindunginya dari dunia yang menunggu mereka kembali di Milan. "Tapi kenyataan selalu menemukan cara untuk memanggil kita pulang, bukan?"

Mereka berdiri diam untuk beberapa saat, hanya ditemani suara ombak yang memecah di bebatuan dan bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu di langit malam Sisilia, berusaha menyimpan sebanyak mungkin kedamaian itu sebelum dunia nyata memanggil mereka kembali.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!