Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Selena dan Lusy masuk ke ruangan kelas, dan seketika suasana berubah riuh.
"Selamat ya, Selena!" seu salah satu temannya, yang hampir berteriak, di susul tepuk tangan dari teman-teman nya yang lain.
"Kami semua masih tidak menyangka kalian memutuskan menikah sebelum lulus kuliah."
"Foto-foto resepsinya mana? Kok gak kamu upload di sosial media?"
Selena tersenyum kaku, mencoba menjawab seadanya sambil duduk di bangkunya.
"Nanti deh, aku share kalau sudah sempat." jawabnya berharap topik itu berlalu dengan cepat.
Tak lama Ethan pun masuk menyusul, dan sorakan yang sama langsung menyambutnya... bahkan lebih heboh.
"Woy, pengantin baru!" salah satu teman lelaki Ethan menepuk pundaknya keras, sambil tertawa. "Gimana rasanya sudah punya istri sekarang?"
Ethan hanya tersenyum singkat, seraya melirik ke arah Selena. Ia tak menyangka Selena membiarkan kesalah pahaman ini semakin meluas. Dan Ethan dengan senang hati akan berperan sebagai suaminya saat di kampus.
"Eh, kapan kalian mau traktir kami semua? Masa nikah gak di rayain sama kita-kita? Minimal nge-club lah malam ini."
Sorakan setuju langsung menggema di sluruh kelas, beberapa bahkan sudah menyebut nama club tempat mereka biasa nongkrong.
Selena melirik kearah Ethan, panik tapi berusaha tetap tenang. Bagaimana mungkin mereka pergi ke club bersama dan berpura-pura mesra di depan semua orang, padahal kenyataannya bicara pun terasa canggung untuk saat itu.
Berbeda dengan Selena, Ethan malah nampak sangat tenang. "Boleh saja," katanya santai, mengejutkan Selena yang langsung menoleh cepat ke arahnya. "Kalian atur saja. Kita akan bersenang-senang malam ini."
Kalimat itu mendapat sorakan senang dai teman-teman mereka, namun bagi Selena, itu terasa sepeti awal dari maslah baru, yang harus ia hadapi.
Sesudah jam kuliah, Selena keluar dari gedung fakultas, pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran soal rencana ke klub malam ini. Ia baru saja hendak memesan taksi ketika seseorang berdiri menghalangi jalannya.
Wanita itu berdiri dengan gaya seperti biasa, rapi, percaya diri, senyum yang terlihat ramah namun tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Dia adalah Shopia, dulu dia adalah teman dekat Selena namun saat Selena pacaran dengan Ethan. Sikap nya jadi berubah, menjauh dari Selena dan selalu saja bersikap dingin dan menganggap Selena saingnya.
"Selena," sapanya, nadanya dibuat semanis mungkin. "Lama tidak ngobrol berdua saja, ya?"
"Ada perlu apa, Sophia?" Selena menatapnya datar, tidak berniat berbasa-basi.
Sophia tersenyum lebih lebar, melangkah lebih dekat hingga jaraknya cukup untuk berbisik tanpa didengar orang lain yang lalu-lalang di sekitar mereka.
"Aku dengar kamu dan Ethan membuat rencana malam ini?" katanya pelan, "merayakan pernikahan kamu dan Ethan." Ia sengaja memberi jeda, matanya berkilat penuh kepuasan. "Padahal kita berdua tahu, kan, siapa yang sebenarnya berdiri di altar hari itu?"
Selena membeku. Jantungnya seketika berdegup kencang. "Apa maksudmu?"
"Oh, jangan pura-pura." Sophia tertawa pelan, nyaris seperti berbisik mesra, meski isinya jauh dari itu. "Aku tahu, Selena. Aku tahu kau menikah dengan Jason, bukan Ethan. Aku bahkan tahu persis kenapa itu bisa terjadi." Ia memiringkan kepala, menikmati raut wajah Selena yang berusaha keras menyembunyikan keterkejutan. "Pertanyaannya sekarang, berapa lama lagi kau sanggup menyembunyikannya dari semua orang di kampus ini?"
"Kalau kau berani menyebarkan ini..." Selena mencoba menegakkan suaranya, meski dalam hati ia panik luar biasa.
"Menyebarkan?" Sophia memotong, berpura-pura terkejut, tangannya terangkat seolah tersinggung. "Aku tidak akan melakukan itu, Selena. Percayalah." Senyumnya berubah, lebih dingin, lebih tajam. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tahu kenyataan sebenarnya. Anggap saja ini... rahasia kecil di antara kita berdua mulai sekarang."
Shopia menepuk pundak Selena, gestur yang seharusnya terasa akrab namun justru terasa seperti ancaman terselubung, lalu berbalik pergi dengan langkah anggun, meninggalkan Selena yang berdiri mematung, menyadari bahwa mulai sekarang, hidupnya sepenuhnya berada dalam genggaman seseorang yang tidak bisa ia percaya sedikit pun.