Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Bangkai di Langit Utara
Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen.
Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar.
"Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!"
Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur.
Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!"
"Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak Tua!" rutuk Rexor, mati-matian mengisi ulang tabung uap meriamnya. "Kita tidak punya jangkar baja lagi yang dilapisi sihir hitam bosmu!"
Kaelen menengadah. Ia melihat pusaran energi mematikan terkumpul di moncong-moncong meriam udara musuhnya. Inti Leviathan di dadanya bergetar hebat. Benda itu lapar, tapi Silas benar tubuh fisik Kaelen adalah batasannya. Jika ia memaksakan diri membuka pusaran untuk menelan serangan serentak dari sebelas kapal perang raksasa, jaringan pembuluh darahnya akan meledak sebelum artefak itu sempat menyaringnya.
Maka, Kaelen tidak menelan serangan mereka. Ia menelan kapal tempat ia berpijak.
Kaelen berlutut dan menancapkan kedua tangannya dalam-dalam menembus papan geladak kayu kapal utama yang hancur itu, meraih lurus ke arah jantung mekanis kapal—sebuah Kristal Badai raksasa yang menjadi sumber tenaga mana angin.
"Makan ini," geram Kaelen, membiarkan Inti Leviathan menyedot energi kristal murni itu dalam satu tarikan napas raksasa.
Kristal Badai seukuran lemari itu meredup, berderak, dan hancur menjadi pasir. Energi angin murni yang luar biasa masif membanjiri urat nadi Kaelen. Kulitnya memancarkan cahaya hijau yang dengan cepat ditelan oleh warna ungu kelam dari kutukannya. Matanya menyala, dan rasa sakit yang familiar merobek dadanya, namun kali ini ditekan oleh ketiadaan emosi yang diberikan artefak itu.
Tepat saat sebelas meriam udara di atasnya menembakkan pilar-pilar badai yang mematikan, Kaelen melepaskan energi yang baru saja ia kompres.
Ia tidak menembakkannya sebagai meriam, melainkan menciptakan Domain Vakum vertikal sebuah terowongan hampa udara dan hampa sihir yang melesat lurus ke langit.
Pilar-pilar tembakan angin dari musuh seketika terdistorsi saat memasuki jalur vakum tersebut. Tanpa udara untuk menghantarkan tekanannya dan tanpa mana untuk menjaga bentuknya, tembakan meriam itu hancur berantakan menjadi sekadar hembusan angin kencang yang menyapu rambut Kaelen, tanpa melukainya sedikit pun.
Namun, efek Domain Vakum Kaelen tidak berhenti di situ. Gelombang ketiadaan itu terus melesat naik menembus awan badai, menghantam lambung bawah sebelas Sky-Galleon yang melayang.
Rune-rune levitasi hijau di dasar kapal mereka padam seketika.
"Gravitasi," bisik Kaelen dingin. "Kalian melupakannya."
Satu detik yang terasa seperti keabadian berlalu. Kemudian, hukum alam kembali mengambil alih. Sebelas kapal perang seberat ratusan ton kayu dan besi itu jatuh dari langit bagai batu yang dilempar ke dasar jurang. Jeritan panik para ksatria Klan Angin menggema memecah langit, menenggelamkan suara badai.
Saat armada raksasa itu menukik jatuh ke jangkauan tembak senjata fisik, Komandan Kael di bawah sana melihat celah yang mustahil. Sang veteran perang tidak membuang waktu sedetik pun.
"Semua unit penembak, bidik lambung kayu mereka!" raung Komandan Kael, mengangkat pipa besinya layaknya pedang komando. "Abaikan perisai magis mereka itu sudah padam! Hujani mereka dengan timah dan api! Tembak!"
Rexor tertawa buas. "Dengar perintah si Pak Tua! Bakar burung-burung itu!"
Harmoni mematikan tercipta antara disiplin ksatria dan kebrutalan preman jalanan. Ratusan laras senapan uap, meriam mesiu, dan senapan mesin putar memuntahkan badai peluru logam. Tanpa pelindung sihir, lambung kayu kapal-kapal Klan Angin robek dengan mudah. Peluru menembus geladak, meledakkan tong-tong mesiu internal musuh, dan mencabik-cabik para ksatria yang masih kebingungan akibat jatuhnya kapal mereka.
Satu per satu, Sky-Galleon itu meledak di udara, memuntahkan bola api konvensional dan hujan serpihan kayu berdarah ke atas pelataran kastil. Beberapa jatuh menghantam tebing, sementara sisanya hancur menabrak tanah tak jauh dari pelataran, menyisakan rongsokan yang terbakar.
Pembantaian itu berlangsung kurang dari sepuluh menit. Klan Aero, klan yang mengklaim kekuasaan atas langit utara, hancur berkeping-keping oleh pasukan yang bahkan tidak merapal satu pun mantra sihir.
Sorak-sorai kemenangan yang memekakkan telinga meledak dari barisan pasukan hibrida Sektor Empat dan ksatria Ignis. Rexor berteriak kegirangan sambil menepuk punggung Komandan Kael dengan kasar, yang anehnya kali ini tidak ditepis oleh sang komandan tua. Mereka berdua menatap pemandangan mengerikan di langit dengan napas memburu kemenangan absolut dari sebuah kerja sama yang tidak masuk akal.
Kaelen melompat turun dari bangkai kapal utama. Jubahnya dipenuhi debu kayu dan percikan darah, namun posturnya tetap tegap sempurna. Ia melangkah menembus lautan prajuritnya yang kini dengan sendirinya membelah jalan, menundukkan kepala dengan rasa hormat yang lahir dari teror murni.
Lyra dan Silas sudah menunggu di ambang pintu masuk kastil. Lyra menyarungkan belatinya, menatap Kaelen dengan seringai lebar. "Pertunjukan yang lumayan untuk seorang bangsawan. Kau benar-benar meruntuhkan langit."
Namun senyum Lyra memudar saat Kaelen berjalan melewatinya. Hawa di sekitar pemuda itu terasa salah. Terlalu dingin. Terlalu kosong.
Silas menahan napas saat menatap mata Kaelen. Warna ungu kelam di pupilnya belum menghilang, padahal pertarungan sudah selesai. Inti Leviathan di baliknya terus berdengung dengan frekuensi rendah yang membuat gigi ngilu.
"Kau menelan inti Kristal Badai murni secara langsung, Kaelen," bisik Silas cemas, menarik Kaelen sedikit menjauh dari kerumunan. "Kau memaksakan batas wadahmu lagi. Berapa banyak emosi yang ia renggut darimu kali ini?"
Kaelen menatap pria tua itu. Wajahnya datar seperti pahatan marmer. "Cukup untuk membuatku tidak peduli dengan jumlah mayat di pelataran ini."
Silas bergidik. Ketakutannya terbukti. Artefak itu mulai menggerogoti sisi manusiawi Kaelen secara agresif setiap kali digunakan pada skala besar.
"Kita tidak bisa hanya bertahan, Silas," lanjut Kaelen, suaranya mekanis. "Klan Angin hanya umpan kecil. Jika Kekaisaran Pusat telah mengetahui keberadaanku, mereka tidak akan mengirim ksatria biasa. Mereka akan mengirim Inkuisitor, pembunuh dewa, atau bahkan algojo dari Garda Kekaisaran. Aku butuh dua bagian Leviathan lainnya."
Kaelen berbalik menghadap pelataran yang dipenuhi asap dan rongsokan. Ia menatap pasukannya sebuah tatanan baru yang lahir dari darah dan besi.
"Kael! Rexor!" panggil Kaelen. Suaranya memotong euforia kemenangan.
Kedua komandan lapangan itu segera berlari mendekat dan berlutut dengan satu kaki di hadapan Kaelen. Gesekan di antara mereka telah dilebur oleh kemenangan bersama.
"Klan Adiwangsa sudah mati bersama pamanku, dan Distrik Bawah hanyalah bayangan masa lalu," Kaelen mendeklarasikan titahnya, suaranya bergema memantul di dinding kastil. "Mulai hari ini, lepaskan lambang api kalian. Singkirkan warna klan lama kalian. Kita adalah Faksi Ketiadaan (The Null Faction). Kael, kau kuangkat menjadi Jenderal Militer Utama. Rexor, kau menguasai produksi senjata dan artileri. Bangun pasukan hibrida ini dalam tiga hari. Latih mereka menembak, bertahan, dan bergerak tanpa sihir."
"Siap laksanakan, Tuanku!" sahut Kael dan Rexor serentak.
Kaelen menoleh pada Lyra dan Silas. "Kalian berdua, bersiaplah. Kita akan meninggalkan kastil ini dan bergerak ke barat."
Lyra mengerutkan kening. "Ke barat? Ada apa di barat selain padang pasir dan monster radiasi?"
"Kawah Hitam," jawab Kaelen, matanya memancarkan tekad kelam yang menembus batas kegelapan. "Kita akan mengambil kembali bagian kedua dari Mesin Pemakan Dewa. Sebelum Kekaisaran Pusat datang untuk merobek jantungku."