Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rintik Hujan
Gala berjalan menyusuri koridor fakultas, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Wajahnya yang tanpa ekspresi, menatap lurus ke arah depan tanpa mempedulikan tatapan penuh kagum dari para mahasiswi, baik satu angkatan, maupun senior dan juniornya.
Sebagai seorang ketua BEM di fakultasnya, membuat Gala cukup dikenal oleh kalangan luas. Terlebih, dengan sifat tak peduli dunia luar yang sangat khas.
Kesan cuek yang selalu tersemat saat seseorang bertemu dengannya, dan sifat galak yang selalu Gala perlihatkan jika ia merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya.
Gala memasuki kawasan kantin, tatapannya mengedar ke seluruh penjuru kantin itu, mencari seseorang.
Sesaat tatapannya terpaku pada Rea yang berada di salah satu meja kantin, bersama Cia.
Gala segera menghampiri meja gadis itu, dan duduk di sebelahnya.
Rea dan Cia sontak menoleh, sedikit terkejut karena kedatangan Gala yang tiba-tiba.
"Ish, Bang Gala ngagetin!" kata Cia kesal.
Gala mengabaikannya, ia fokus menatap Rea yang tengah menyuapkan bulatan bakso ke dalam mulutnya.
Tampak kuah bakso itu merah kehitaman, dengan banyaknya biji cabai yang mengambang.
Gala meraih sendok di tangan Rea, dan menarik mangkuknya agar bergeser ke hadapannya.
"Ih, itu punya gue!"
Rea hendak mengambilnya kembali, namun tatapan tajam dari Gala menghentikannya.
Gala menatap lekat wajah Rea yang memerah, dengan mata yang basah dan bibir terbuka. Keringat bahkan sudah mengalir dari sela-sela rambutnya.
"Pesan yang lain," kata Gala seraya menyantap makanan Rea, membuat gadis itu membulatkan matanya tak percaya.
"Kak, itu punya gue," rengek Rea seraya menggoyangkan lengan Gala, agar berhenti menyantap makanan pedas miliknya.
"Pesan yang lain dan gak boleh pedas!" tegas Gala.
Rea mengerucutkan bibirnya, kemudian berlalu ke stand makanan dengan kaki dihentakkan.
Gala menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"PMS itu, Bang. Pasti nanti sampai rumah ngamuk-ngamuk," kata Cia yang sejak tadi hanya diam.
Gala menatap Cia dengan alis terangkat. "Tau dari mana?"
Cia mengedikkan bahunya. "Biasanya Rea suka kayak gitu kalau PMS."
Gala mengangguk singkat dan kembali menghabiskan bakso milik Rea yang super pedas, ditambah manisnya kecap yang justru membuatnya terasa aneh.
"Biru mana?"
"Ada di kelas."
Tak lama, Rea kembali dengan satu piring siomay.
"Tumben gak ngintilin lo kayak anak ayam?"
Cia menatap Gala dengan bibir bawah dimajukan. "Ngambek, Bang. Gara-gara gak dikasih jatah."
Raut wajah Gala sontak datar mendengarnya.
"Eh, maksudnya jatah main. Main sama temannya, bukan jatah yang apa-apa."
Gala menghela nafas, ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Beralih menatap Rea yang hanya diam, sambil menyuapkan bulatan berbalut saus kacang.
"Masih ada kelas?" tanyanya seraya maju untuk menyantap bulatan siomay yang hampir masuk ke dalam mulut Rea.
Rea berdecak sebal, lalu kembali mengambil siomay untuk dimasukkan ke mulutnya.
"Ada, satu lagi."
Gala mengangguk mengerti, lalu merogoh saku kemeja yang ia pakai sebagai lapisan luar kaosnya.
"Gue tunggu diperpus," katanya seraya memberikan selembar uang berwarna merah pada Rea.
"Eh, Kak!"
Langkah Gala terhenti, lalu kembali menghampiri Rea yang menatapnya.
"Ini buat apa?" tanya Rea memperlihatkan uang yang Gala berikan tadi.
"Buat bayar makan," katanya.
"Tadi pagi, kan sudah dikasih?"
Gala mengambil gelas minuman Rea untuk meneguknya, meredakan rasa pedas di lidah.
"Tadi pagi buat lo, yang itu buat bayar makan."
Gala berlalu setelahnya, tanpa menunggu Rea membalas ucapannya kembali.
Cia berdecak pelan, membuat Rea berbalik menatapnya.
"Bang Gala itu pelit, tapi royal kalau sama orang yang disayang."
***
"Kok berhenti?" tanya Rea saat Gala tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di tanah lapang pinggir jalan.
Gala tak menjawab. Dia berjalan keluar untuk membuka kap mobil, memeriksa keadaan mesinnya.
Cukup lama Gala berkutat, tak kunjung masuk kembali. Rea mulai bosan di dalam mobil dan merasa gerah.
Tampak rintik air mulai turun membasahi kaca mobil, membuat Rea segera turun dan menghampiri Gala.
"Kenapa?"
Gala menoleh. "Mogok," katanya sembari beralih mengambil ponsel untuk menghubungi montir.
"Terus pulangnya, gimana?" tanya Rea dengan bibir bawah dimajukan.
Gala memperhatikan sekitar yang tampak sepi dan hujan mulai turun dengan deras. Hari juga sudah mulai gelap karena hampir memasuki waktu magrib, ditambah dengan suasana mendung.
"Kita jalan kaki ke rumah Ibu."
Rea membulatkan matanya, seraya menatap jalan raya yang masih cukup jauh jika harus ke rumah orang tua Gala.
"Jauh, Kak," keluh Rea yang membuat Gala berdecak.
Gala kembali ke mobil untuk mengambil kunci dan dompetnya. Tak lupa ia juga mengunci mobil agar aman.
"Ayo, keburu magrib."
Rea merengek pelan, namun tak urung ia juga mengikuti langkah Gala dengan loyo.
Gala sudah jauh di depan, sedangkan Rea berjalan dengan sangat perlahan. Selain malas, ia juga lelah setelah belajar seharian di kampus.
Gala yang tidak merasakan kehadiran Rea, pun berhenti untuk kemudian berbalik badan.
Gala menatap Rea dengan hembusan nafas jengah. Ia melepas kemeja yang dipakainya menyisakan kaos putih polos, lalu berjalan mendekati gadis itu.
Gala melebarkan kemejanya di atas kepala Rea. "Pegang."
"Hah?"
Rea menatap Gala bingung, tetapi tangannya tetap bergerak memegang ujung kanan dan kiri kemeja Gala yang kini menutupi kepalanya.
Tampak Gala membelakanginya, lalu berjongkok di depan Rea.
"Naik!"
"Hah?" Lagi, Rea menjawabnya dengan ekspresi bingung bak orang bodoh.
Gala berdecak kesal, lalu menarik paha Rea agar naik ke punggungnya.
Rea berteriak kaget dan sontak memeluk leher Gala, takut jika ia terjungkal ke belakang.
"Kepalanya tutupin pakai kemeja, hujannya deras!" teriak Gala di tengah hujan lebat yang kini membasahi bumi.
Rea segera menutupi kepalanya dan kepala Gala, dengan kedua siku bertengger di pundak Gala, sebagai sanggahan.
Gala berjalan cepat tanpa beban, seolah Rea digendongannya tidaklah berarti apapun.
"Gak capek, Kak?" tanya Rea sedikit tak enak hati saat langkah Gala mulai memelan.
"Nungguin lo jalan kayak siput, keburu magrib belum sampai rumah."
Rea diam-diam tersenyum tipis, ia tidak menyangka Gala akan melakukan hal ini. Padahal, Gala bisa saja jalan tanpa harus mempedulikannya.
Rea bergerak memeluk leher Gala kembali, tanpa melepas pegangannya di kemeja Gala. Padahal, kemeja itu sama sekali tidak memberikan efek apapun, karena mereka tetap basah.
Senyum Rea menghilang seketika. Tatapannya kosong, lurus ke arah depan.
"Perasaan gue gak enak, Kak."
Langkah Gala terhenti sejenak, sebelum ia kembali melanjutkannya. "Kenapa?"
Rea menggeleng pelan, sambil menempelkan pipinya di pipi Gala. Memeluk erat leher Gala, membiarkan kemeja cowok itu tetap berada di atas kepala mereka.
"Kayak ada yang mengganjal di hati gue."
.
.
To be continue ...