I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Fajar tidak pernah membawa kehangatan di perbatasan Kekaisaran Ortodoks. Cahaya pagi yang menembus langit merah hanya menyinari kabut tebal yang berbau amis besi dan arang magis. Di gerbang keluar *The Outer Pit*, Ren berdiri tegak. Taring besi raksasa yang tidak lagi berputar mekanis dipikulnya di atas bahu kurus yang terbalut kain goni berlapis empedu monster.
Langkah kakinya yang mantap melintasi garis perbatasan parit pembuangan langsung memicu keheningan di antara para kuli jagal yang tersisa.
"Ren... kau mau ke mana?" tanya sang mandor bertangan empat dengan suara gemetar, menatap taring raksasa di bahu Ren yang seharusnya terlalu berat untuk diangkat oleh seorang *Zero-Core*. "Di luar sana adalah wilayah perburuan monster tingkat Master. Makhluk lemah seperti kita hanya akan menjadi santapan dalam hitungan detik!"
Ren menghentikan langkahnya sejenak, namun tidak menoleh. Tatapan mata abu-abu keperakannya lurus menatap jalan setapak batu kuno yang membentang menuju Ibu Kota Kekaisaran, *Aethel-Primum*.
"Aku tidak pergi untuk berburu monster, Mandor," jawab Ren, suaranya sedatar embusan angin malam. "Aku pergi untuk menjatuhkan menara yang mereka sebut kekuasaan."
Mendengar jawaban itu, sang mandor hanya bisa mematung. Baginya, kata-kata Ren adalah kegilaan tingkat tinggi. Seorang remaja berlevel nol tanpa Qi, bertekad menantang peradaban dewa perang yang diisi oleh para *Sovereign*? Itu bukan sekadar bunuh diri, itu adalah lelucon yang melanggar seluruh logika akal sehat.
Namun, Ren tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Otaknya yang telah diretas oleh persepsi kosmik dari sang Anomali Absolut terus bekerja, memproses jutaan peta jalur militer, titik koordinat pertahanan benteng perbatasan, hingga kelemahan struktural formasi sihir pelindung Kekaisaran.
Dunia ini telah mengorbankan keluarganya demi mempertahankan statistik kasta kekuatan. Para elit Kekaisaran memeras darah rakyat jelata murni karena mereka mengagungkan hitung-hitungan tingkat dimensi kekuatan.
*‘Jika hukum dunia ini tertulis bahwa yang kuat berhak menghapus yang lemah...’* batin Ren mengepal erat gagang kawat senjatanya, *‘...maka aku akan menjadi Nol yang menghapus seluruh angka mereka.’*
Ren melanjutkan langkahnya, berjalan dengan ritme konstan yang tak tergesa-gesa. Perjalanan panjang untuk meruntuhkan tirani Kekaisaran Ortodoks resmi dimulai hari itu. Dia tidak memiliki pasukan, tidak memiliki energi Qi, dan tidak memiliki bakat bertarung tradisional. Dia berjalan murni sebagai sebuah **kartu kosong** yang bergerak di luar kalkulasi sistem semesta.
Sementara itu, jauh di puncak menara arsip rahasia Ibu Kota *Aethel-Primum*, sebuah alarm mistis mendadak berdering hebat.
*WUNGGG—WUNGGG—*
Instrumen magis berbentuk kompas raksasa yang berfungsi memetakan dan menghitung seluruh grafik tingkat kekuatan penduduk planet mendadak berputar liar. Jarum-jarum kristalnya bergetar ekstrem sebelum akhirnya mengalami *glitch* parah. Angka statistik di area *The Outer Pit* mendadak merosot drastis menembus batas bawah dan menampilkan ruang kosong—seolah-olah ada sebuah lubang hitam tak berenergi yang sedang berjalan keluar dari tempat pembuangan tersebut.
"Lapor! Ada anomali dalam grafik pemetaan kasta!" teriak seorang petugas sensor dengan wajah pucat pasi kepada komandannya. "Ada titik kosong yang bergerak di jalur perbatasan! Instrumen kita tidak bisa membaca tingkat kekuatannya, tidak bisa membaca energinya, bahkan tidak bisa menghitung keberadaannya!"
Sang komandan menatap layar kristal yang memancar buram dengan tatapan ngeri. Pola riak "ketiadaan" yang berjalan itu mengingatkannya pada laporan Valeria sebulan lalu mengenai entitas jubah sutra di Lembah Ratapan yang membuat kaisar pedang murka.
"Kirim Satuan Penjaga Perbatasan tingkat Master tingkat tinggi segera!" perintah sang komandan dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan. "Hancurkan apa pun yang berada di titik kosong itu sebelum riaknya merusak bagan kekuatan ibu kota!"
Mereka belum menyadari bahwa badai yang sebenarnya tidak datang dari luar angkasa dalam wujud cahaya perak kosmik. Badai itu sedang berjalan kaki dari parit terkotor di planet mereka, membawa sebuah taring besi mati yang siap mempreteli satu demi satu mekanisme kesombongan Kekaisaran mereka.